Dara menyingkap tirai kamarnya saat truk tua berhenti di depan rumah kosong R27. Waktu sudah lewat tengah malam, tapi dua pria berseragam hitam menurunkan kardus besar dengan hati-hati. Sinta, yang baru keluar dari kamar mandi, ikut menatap dengan dahi berkerut.
“Kenapa harus pindahan jam segini?” bisiknya.
Dara hanya diam, matanya menyorot curiga, lalu mencatat plat nomor truk itu di buku kecil. Ia selalu punya kebiasaan mencatat hal-hal yang menurutnya janggal.
Rumah R27 sudah bertahun-tahun kosong sejak pemilik lamanya pindah entah ke mana. Cat dindingnya sudah memudar, jendela kusam penuh debu, dan pagar besinya berderit bila disentuh angin malam. Tidak ada tanda-tanda akan direnovasi atau dihuni kembali, sampai malam ini.
Sinta menarik napas panjang. “Ah, mungkin cuma orang kaya aneh yang suka pindahan tengah malam. Jangan terlalu dipikirin.” Ia menutup tirai dengan cepat, seakan tidak ingin terlalu lama menatap kegelapan.
Dara tetap berdiri, menempelkan wajah di kaca. Truk tua itu masih di sana, mesin menyala, sementara dua pria itu bolak-balik mengangkut barang. Anehnya, kardus-kardus yang mereka bawa terlihat sangat berat, padahal ukurannya tidak terlalu besar. Setiap kali satu kardus diturunkan, terdengar dentuman logam, seperti ada sesuatu di dalamnya yang beradu.
Saat sebuah lampu sorot dari truk menyorot ke arah teras rumah, Dara sempat melihat seorang perempuan berdiri di balik pintu. Tubuhnya tinggi, rambut panjangnya terurai sampai punggung, wajahnya samar-samar tampak pucat. Ia hanya berdiri tanpa bergerak, seolah mengawasi seluruh proses itu.
Dara bergidik. Ia menutup tirai perlahan, lalu melirik ke arah Sinta yang sudah rebahan di kasur sambil memainkan ponsel. “Kamu nggak lihat ada orang tadi di dalam rumah?”
“Orang? Maksudmu yang bantu angkut barang?”
“Bukan. Seorang perempuan. Dia berdiri di pintu, ngelihatin semuanya.”
Sinta menghela napas, malas menanggapi, “Dara, otakmu memang selalu kebanyakan curiga. Jangan-jangan cuma bayanganmu sendiri. Udah ah, aku capek.”
Dara ingin membantah, tapi ia tahu percuma. Sinta selalu menganggapnya berlebihan. Padahal, sejak kecil, naluri Dara sering terbukti.
***
Keesokan paginya, Dara bergegas keluar rumah lebih cepat dari biasanya. Ia pura-pura hendak membeli roti di warung ujung jalan, padahal ingin memastikan apa yang ia lihat semalam bukan mimpi.
Rumah R27 kini terlihat lebih hidup. Ada mobil hitam mengilap terparkir di garasi, dan tirai jendela lantai dua tertutup rapat. Tidak ada papan nama keluarga terpasang, tidak juga tanda-tanda kesibukan pindahan lanjutan. Seakan semua sudah beres dalam satu malam saja.
Dara berdiri agak lama di depan pagar, berpura-pura merapikan tali sepatunya. Ia memperhatikan detail rumah itu. catnya yang semula pudar kini seperti baru dicat ulang, padahal semalam jelas-jelas lusuh. Bahkan rumput halaman yang kemarin kering, pagi ini tampak rapi dipangkas.
“Cepet amat berubahnya,” gumam Dara pelan.
“Dara!” Suara Sinta memanggil dari belakang. Ia menyusul dengan rambut masih acak-acakan. “Kamu ngapain di sini?”
“Lihat-lihat aja. Kamu nggak aneh, ya? Rumah kosong bertahun-tahun, terus dalam semalam langsung jadi kayak gini?”
Sinta melirik sekilas, lalu menguap. “Mungkin mereka udah renovasi diam-diam sebelum pindahan. Bisa aja, kan?”
Dara tidak menjawab. Matanya menangkap bayangan bergerak cepat di balik tirai lantai dua. Sesuatu, atau seseorang, sedang mengintip mereka. Ia bisa merasakan tatapan itu menusuk, meski hanya sepersekian detik.
***
Hari-hari berikutnya, rumah R27 tetap menutup diri. Tidak ada suara musik, tidak ada teriakan anak kecil, bahkan tidak ada tamu yang datang. Para tetangga mulai bertanya-tanya, tapi tidak ada yang tahu siapa sebenarnya penghuni baru itu.
Yang lebih mengganggu bagi Dara, setiap kali ia lewat di depan rumah itu, ia merasa sedang diperhatikan. Tirai selalu bergerak sedikit, seperti ada yang sengaja mengintip dari dalam.
Suatu sore, saat Dara sedang menyiram bunga di halaman, ia mendengar bunyi aneh dari arah R27. Suara besi bergesekan, lalu disusul ketukan pelan, teratur, seperti kode.
Tok, tok, tok. Berhenti sebentar. Lalu terdengar lagi.
Dara menegakkan tubuhnya, menajamkan pendengaran. Suara itu jelas berasal dari balik dinding rumah R27, seolah ada yang mengetuk dari dalam ruang bawah tanah.
Dara merinding. Ia mencoba menghitung iramanya, seperti pola sandi. Namun, sebelum ia sempat memastikan, suara itu berhenti mendadak.
Tiba-tiba, pintu depan rumah R27 terbuka.
Seorang pria keluar. Tingginya menjulang, tubuh tegap, wajahnya sebagian tertutup masker hitam. Ia hanya berdiri di teras, memandang lurus ke arah Dara. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan. Hanya tatapan dingin yang membuat Dara buru-buru berpura-pura sibuk merapikan bunga.
Saat ia kembali melirik, pria itu sudah tidak ada. Pintu rumah kembali tertutup rapat, seolah tidak pernah terbuka.
***
Malamnya, Dara menulis semua kejadian di buku catatannya.
Truk tua.
Pindahan tengah malam.
Kardus berat, bunyi logam.
Perempuan pucat di pintu.
Rumah berubah dalam semalam.
Tirai selalu bergerak.
Suara ketukan aneh.
Pria misterius di teras.
Tangannya bergetar sedikit saat menulis. Ia merasa seperti sedang mengumpulkan potongan puzzle dari sesuatu yang jauh lebih besar dan gelap.
Sinta masuk ke kamar tanpa mengetuk. “Masih juga nyatet? Dara, tolonglah, kita nggak hidup di film detektif. Itu cuma tetangga baru.”
Dara menutup bukunya. “Kalau cuma tetangga baru, kenapa mereka selalu sembunyi? Kenapa nggak pernah kenalan sama warga sini?”
Sinta mengangkat bahu. “Mungkin mereka orang penting, nggak mau privasinya terganggu.”
“Kamu nggak dengar suara ketukan itu tadi sore? Dari rumah mereka?”
Sinta menghela napas kesal. “Yang aku dengar cuma suara kamu ngomel.” Ia lalu meraih bantal dan rebahan di kasur Dara. “Besok aku ada ujian. Tolong jangan bikin aku tambah stres dengan teori konspirasi kamu.”
Dara tidak membalas. Ia menatap kembali ke arah jendela. Dari celah tirai, rumah R27 terlihat gelap, tapi entah kenapa, ia yakin sekali ada mata yang menatap balik ke arahnya dari sana.
Pukul dua dini hari, Dara terbangun. Suara ketukan itu kembali terdengar, lebih keras kali ini.
Ia duduk di tepi ranjang, menahan napas. Suara itu datang lagi, berulang-ulang, seperti panggilan.
Dara menoleh ke arah Sinta yang tertidur pulas. Ia ragu sejenak, lalu berdiri pelan-pelan, melangkah ke jendela.
Saat menyingkap tirai, jantungnya hampir melompat keluar.
Di depan rumah R27, di balik pagar besinya, seorang perempuan berdiri kaku. Wajahnya pucat seperti yang ia lihat malam pertama. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, gaun putih lusuh menempel di tubuhnya.
Perempuan itu menatap langsung ke arah jendela Dara. Bibirnya bergerak, seperti membisikkan sesuatu.
Tidak ada suara keluar, kecuali ketukan aneh yang masih berulang-ulang dari dalam rumah.
Mata Dara membesar. Bibir perempuan itu akhirnya membentuk kata yang bisa ia baca jelas meski tanpa suara.
“Tolong.”
Dara mundur selangkah, tubuhnya gemetar. Tirai jatuh menutup kembali, tapi bayangan perempuan itu masih terpatri di benaknya.
Ia tahu, rumah R27 tidak sekadar rumah pindahan biasa. Ada rahasia besar yang bersembunyi di balik dindingnya dan rahasia itu kini sudah mengetuk pintu hidupnya.