Transilvania, musim dingin tahun 1571.
Angin dari Pegunungan Carpathia meraung, menerpa dinding batu Kastil Ecsed. Elizabeth Báthory, usia sebelas tahun, menempelkan keningnya ke kaca jendela kamar. Napasnya memburamkan pandangan, berulang-ulang, seperti irama doa yang sembrono.
Dari halaman dalam, terdengar suara membelah dengungan angin. Suara itu bukan teriakan, tapi perintah yang kejam.
"Berlutut!" perintah ayahnya.
György Báthory, ayahnya, berdiri tegak dengan mantel bulu hitam. Ia dikelilingi prajurit yang kaku karena kedinginan. Di depannya, di atas hamparan salju yang masih bersih, seorang lelaki mengenakan seragam compang-camping sedang berlutut. Ia mengangkat tinggi tangannya yang gemetar.
"Tuan, tolonglah! Anak-anak saya, istri saya, mereka belum makan tiga hari."
"Kau kabur dari barisan!" ucap György tegas. Nada suaranya tanpa amarah. Namun, justru itu yang membuatnya lebih mengerikan. "Setiap orang di sini menahan lapar, Kapitan Vencel. Yang membedakanmu dari mereka adalah kau memilih hidupmu di atas sumpahmu."
"Tuan, kumohon!" pinta Kapitan Vencel.
"Algojo! Lakukan!"
Dari atas Elizabeth menyaksikan. Ia menahan napas. Dua prajurit menahan tubuh lelaki itu. Seorang algojo dengan wajah tanpa ekspresi mendekat. Di tangannya ia memegang sesuatu yang besar, dan berkilau di bawah cahaya kelabu.
Kapitan Vencel masih memohon ketika lengan algojo bergerak. Satu kali potongan halus dari kejauhan, dan kalimatnya terputus di tengah jalan, digantikan oleh suara yang mentah, tercekik, seperti kayu tua yang patah. Kepala Kapitan Vencel terempas ke belakang, dan dari sisi lehernya ada semburan warna merah yang menyebar ke atas salju yang putih.
Merah pekat. Begitu merona, lebih merah dari permata di leher ibunya, lebih hidup dari lukisan permadani di aula besar. Merah itu memancar, bukan mengalir. Tetesan pertama menghujam salju, membakar lubang-lubang kecil yang mengukir. Alirannya menjadi sungai miniatur, bercabang, merembes, menciptakan pola liar di atas putih yang polos.
Tubuh Kapitan Vencel terhuyung, tangannya mencengkeram lehernya yang kini kosong. Darah mengalir deras melalui sela-sela jarinya, menetes dengan irama yang semakin lambat.
Elizabeth merasakan tendangan aneh di bawah tulang rusuknya. Rasa mual, ya! Namun, segera tenggelam oleh sesuatu yang membuatnya membeku di tempat. Ia tak bisa memalingkan wajah. Ngeri? Tidak! Justru terlihat indah baginya. Salju itu pasif, mati. Darah itu seperti cat kehidupan yang meledak-ledak, sekarat, tetapi sangat mengagumkan dari cara kematian Kapitan Vencel.
Tanpa sadar, ia menempelkan telapak tangannya ke kaca, seolah ingin menyentuh warna itu dari kejauhan.
"Elizabeth."
Suara itu dingin, dan bening seperti es yang pecah, membuatnya tersentak, melepas pegangannya pada kaca. Ibunya, Anna Báthory, berdiri di ambang pintu dengan wajahnya yang seperti pahatan marmer tanpa ekspresi.
"Ibu, mereka membunuhnya. Aku melihat!"
"Aku tahu apa yang kau lihat," ucap Anna. Ia melangkah masuk diiringi bau kamper dan lavender yang mengikutinya. "Pertanyaannya adalah, apa yang kau rasakan?"
Elizabeth membeku. Ini bukan pertanyaan yang diajarkan oleh guru budi pekertinya untuk dijawab.
"Aku takut," jawab Elizabeth, meski ia sedikit berbohong.
Anna menatapnya seolah membaca sesuatu di balik jawaban Elizabeth. "Hanya takut?"
Keheningan pun menjawab lebih jujur daripada jawaban yang dilontarkan Elizabeth. Sesuatu di mata ibunya bergeser. Bukan kekecewaan, melainkan pemahaman akan sesuatu.
"Duduk!" perintah Anna akhirnya. Ia menarik Elizabeth dari jendela ke bangku dekat perapian. "Kau tahu siapa Vencel?"
"Seorang kapitan."
Anna tersenyum. "Ya. Seorang kapitan yang lari saat pasukan sedang membutuhkannya. Desersi adalah kanker, Elizabeth. Sedangkan kanker jika dibiarkan akan menyebar sampai seluruh tubuh membusuk."
Anna kemudian mengambil tangan putrinya. "Ayahmu tidak menikmati apa yang baru saja terjadi di halaman. Namun, ia juga tidak menutup mata dari perbuatan yang salah. Itu bedanya antara seorang penguasa, dan seorang pengecut."
"Apakah aku harus belajar untuk tidak menutup mata?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Elizabeth sempat menahannya. Untuk sesaat, sesuatu yang hampir seperti senyum melintas di wajah Anna. Senyum yang singkat, cepat, lalu menghilang.
Sesaat sebelum Anna meninggalkan Elizabeth, ia berkata, "Seorang putri bangsawan tidak mengintip dari jendela seperti pelayan yang penasaran," sindir Anna. "Kau akan belajar untuk tidak menutup mata. Harus kau lakukan, atau dunia ini akan menutupnya untukmu!"
Malam itu di ruang tenun, satu-satunya tempat di kastil yang masih menyisakan kehangatan setelah senja, Elizabeth duduk di antara para dayang tanpa benar-benar hadir. Salah satu dari mereka, namanya Ilona, seorang perempuan tua yang melayani keluarga mereka sejak sebelum kelahiran Elizabeth, mencuri pandang ke arahnya sambil terus menganyam benang merah.
"Nona muda melihat semuanya, ya?" bisik Ilona, hampir tanpa menggerakkan bibir.
Elizabeth tidak menjawab.
"Darah Báthory," lanjut Ilona, lebih pelan lagi, "mengalir kental sejak berabad silam. Raja-raja, pangeran-pangeran, dan juga, kata orang, sesuatu yang lain. Mereka bilang darah yang terlalu murni menjadi darah yang gelisah."
Jari Ilona berhenti sejenak di atas alat tenun. "Nona, jangan dengarkan perkataan pelayan tua yang banyak bicara ini."
"Ilona, aku sudah mendengarkannya," bisik Elizabeth pelan. Entah kenapa malam itu sesuatu seperti rasa ingin tahu mengalahkan rasa mualnya.
Ia sudah hapal silsilah keluarganya seperti nyanyian anak-anak. Nama demi nama, aliansi demi aliansi. Ia fasih berbahasa Latin, Jerman, dan Hongaria. Ia membaca filosofi, dan memahami dasar ilmu alam sebelum kebanyakan anak lelaki seusianya bisa mengeja namanya sendiri.
Sayangnya, setiap kali pikirannya melompat terlalu jauh, terlalu cepat, ia merasakan sangkar itu. Sangkar tak terlihat, tapi selalu ada untuk menariknya kembali. Pengetahuannya adalah hiasan. Kecerdasannya, keanehan yang menarik perhatian, bukan kekuasaan yang nyata. Nasibnya sudah ditulis sebagai sekutu strategis melalui pernikahan. Namanya suatu saat nanti akan disatukan ke nama keluarga lain.
Malam itu, entah mengapa Elizabeth menginginkan sesuatu yang bukan dirinya segera menjelma menjadi nyata.