


oleh Hanshen · 25 Bab
Rena adalah seorang gadis tomboi yang telah salah mengambil jalan hidup. Hingga akhirnya dia ingin bisa hidup dengan damai ketika kedua orang tuanya meninggal, tapi hal itu tak dapat didapatkannya karena dia tewas dikeroyok oleh lawan-lawannya saat menjadi gangster. Namun, dia terbangun di dunia lain dan memiliki sebuah kemampuan penyembuh yang kuat tanpa dia sadari. Di dunia baru itu, dia berusaha keras untuk tidak mengulang kesalahannya dan mencoba untuk tak terjatuh di dalam lubang yang sama saat masih hidup sebagai Rena di bumi. Dapatkan ia bertahan dia dunia yang tak dikenalinya?
Hidup adalah sebuah jalan pilihan, entah baik atau buruk. Begitulah apa yang dikatakan oleh ayah dan ibunya saat Rena masih kecil. Namun, dari pilihan itu, Rena telah salah memilih jalan hidupnya.
Hidup yang dijalani oleh Rena, tak lebih dari serangkaian keputusan bodoh yang diambilnya saat masih remaja dan duduk di bangku SMA.
Pada akhirnya dia terjerumus ke dalam pergaulan yang tak sehat dan hanya membuatnya menjadi gadis berandalan.
Ketika masih menjadi anak sekolah, Rena sering kali membolos dan ikut andil dalam tawuran antar sekolah walau dia adalah seorang perempuan.
Seperti itulah kehidupannya selama beberapa tahun hingga akhirnya suatu hari dia mendapat kabar yang tak sedap.
Tiga tahun setelah lulus dari SMA, orang tuanya meninggal akibat tabrak lari. Pada waktu itu dia masih berusia 21 tahun tetapi sudah menjadi salah satu gangster terkuat di kota.
Setelahnya, dia bertekad untuk membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya. Namun, suatu hari ia secara tak sengaja menemukan sebuah catatan lama yang ditulis oleh ibu dan ayahnya ketika masih hidup.
Ketika Rena membaca catatan itu, akhirnya dia mencoba untuk mengubah hidupnya.
Di dalam catatan dari orang tuanya tertulis, bahwa ayah dan ibunya sudah membuat tabungan untuk masa depan Rena jika ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.
Tetapi, pada kenyataannya, kini hidupnya tak lebih dari seorang berandalan yang selalu bertarung di sana-sini untuk menjadi yang terkuat dari yang terkuat di kota.
Sebenarnya, untuk apa dia menjadi seperti itu? Bahkan, kedua orang tuanya pun tak menginginkannya untuk menjadi seperti dirinya yang sekarang.
Penyesalan pun akhirnya dirasakan oleh Rena ketika hidup kedua orang tuanya telah tiada.
Pada akhirnya, Rena pun berhenti dari jalan hidupnya yang tak jelas sebagai gangster dan berandalan setelah membaca catatan orang tuanya.
Masa muda yang dilaluinya, hanya menjadikan dia sebagai orang yang gagal dan tak berguna di saat usianya telah mencapai 22 tahun.
Dan pulang malam karena lembur di sebuah minimarket kecil, bukanlah pekerjaan yang diimpikan oleh kedua orang tuanya saat mereka masih hidup.
Itulah kenyataannya sekarang.
Bahkan, hal tersebut jauh lebih baik daripada masa lalunya yang seorang gangster dan berandalan. Paling tidak, kini Rena telah hidup di jalan yang benar dengan rutinitas yang sebelumnya belum pernah dialaminya.
Saat Rena hendak membuka pintu ruang istirahat pegawai, salah satu rekan kerja wanitanya melihatnya.
“Astaga, Rena. Kau itu perempuan tapi selalu pulang larut malam setiap hari? Apa kau tidak takut dan lelah karena setiap hari lembur?”
Rena tersenyum. “Aku harus bagaimana lagi? Aku juga tidak mau, tapi di sisi lain aku juga butuh uang tambahan. Kurasa itu adalah risiko pekerjaan kita.”
“Ya, sudah. Hati-hati di jalan, sampai berjumpa besok!”
Rena mengangguk. Dia sebenarnya tidak pandai untuk berbasa-basi dengan orang lain, terlebih lagi jika itu adalah seorang gadis cantik seumuran dengannya.
Tapi, bukan itu saja alasannya. Karena dia hari ini lembur, matanya sudah sangat berat karena dia sudah sangat mengantuk dan kelelahan.
Ketika Rena membuka pintu utama minimarket, langit malam yang gelap dan tanpa bintang terpampang di atasnya. Di sana, hanya lampu jalanan redup dan temaram saja yang menjadi satu-satunya penerang baginya di sepanjang jalanan.
Sepeda motornya yang terparkir di depan minimarket, menjadi satu-satunya teman di dalam hidupnya meski suara knalpotnya yang bising sering kali mengganggu tetangganya.
Motor miliknya, itu bukanlah motor yang masih bagus ataupun baru, melainkan hanya motor tua peninggalan ayahnya saja.
Rena mulai berjalan ke arah motor tuanya, mengambil helm lalu memakainya. Ia menyalakan motor tua itu dengan starter kaki, starter elektriknya sudah lagi tak berfungsi karena Rena cukup malas untuk membawanya ke bengkel untuk diperbaiki.
Dengan sekali hentakkan, motor tuanya seketika menyala. Rena mengunci helm yang dikenakannya lalu mulai melajukan motornya dengan perlahan ke arah rumahnya yang berjarak cukup jauh dari sana.
Jalanan sudah sangat sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 11:00 malam. Dalam perjalanan pulang, hanya suara motornya saja yang menemani dirinya di kesunyian malam.
“Sialan, aku sebenarnya tidak sudi untuk mengambil lembur! Tetapi sialnya juga aku butuh uang tambahan untuk keperluan hidup! Aku tak bisa terus menerus hidup dengan mengandalkan uang simpanan milik orang tuaku!”
Sepanjang perjalanannya, Rena tak henti-hentinya menggerutu. Dan herannya, dia selalu menggerutu hal yang sama setiap harinya.
Di saat dia sedang asyik menggerutu, motornya tiba-tiba saja mati.
“Sial, susah benar sekarang hidupku. Apa ini azab karena aku durhaka pada orang tuaku? Semoga saja bukan itu alasannya.”
Sambil menggerutu, Rendra mencoba untuk menstarterkan motornya kembali. Akan tetapi, di saat yang sama, tiga sosok laki-laki seusianya muncul secara tiba-tiba dari tikungan yang gelap.
Mereka bertiga seakan telah mengetahui apa yang akan terjadi dengan motor milik Rena yang selalu mogok.
Mereka kini telah berdiri di depan Rena seperti kawanan anjing liar yang telah menemukan mangsanya malam ini.
“Yo, Rena! Sudah lama kita tidak bertemu, kira-kira ini sudah setahun kita tidak berjumpa, ya? Bagaimana kabarmu? Ah, aku lupa. Kabarmu hari ini sangat sial, ‘kan?”
Rena menghentikan aktivitasnya. Insting dan naluri lamanya sebagai seorang gangster langsung aktif.
Dia mengenali dengan jelas ketiga orang yang ada di depannya. Mereka semua adalah mantan musuhnya saat Rena masih aktif sebagai seorang gangster.
Mereka bertiga merupakan musuh dari geng yang diikutinya dulu, mereka bertiga juga sempat dibuatnya dirawat di rumah sakit selama satu bulan akibat koma setelah bertarung dengannya.
“Ada apa kalian datang ke sini? Malam-malam seperti ini harusnya kalian sudah tidur ditemani ibu kalian, kalian bertiga memangnya ingin nongkrong sambil minum di jalanan dekat sini? Jika seperti itu, jangan mengajakku, aku sudah bertobat dan berhenti melakukan hal tak berguna tersebut.”
Rena terlihat santai menanggapi ketiga orang itu, walau dia tahu jika ketiga orang tersebut akan membalaskan dendamnya.
Mata Rena tertuju pada masing-masing tangan ketiganya yang telah membawa berbagai macam senjata.
“Hah? Kau kenapa menjadi lemah seperti ini?! Kita bertiga sengaja menunggumu untuk pulang kerja karena ingin nostalgia saja, lho! Sudah, ikut saja bersama kami untuk bersenang-senang malam ini,” jawab salah satu dari mereka sambil mengangkat balok kayu ditangannya.
Rena telah benar-benar paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia turun dari motornya dengan tangan yang mengepal, meski dia sudah bertobat, hal ini tak bisa dihindarinya lagi.
Tetapi, sialnya dia akan melawan tiga orang sekaligus dengan tubuh yang sudah kelelahan akibat bekerja. Tiga melawan satu saja sudah sangat tidak adil, ditambah dengan tubuh yang kelelahan pasti Rena akan kalah.
Namun, Rena tidak memiliki pilihan lain selain menghadapi ketiganya.
Di saat dia melepas helmnya, satu hantaman balok kayu yang sangat keras mendarat di kepalanya, membuat dunia yang dilihatnya berputar seketika.
Rena, dia sebisa mungkin untuk mempertahankan kesadarannya, tapi ketiga orang itu tentu saja tidak akan membiarkannya.
Sebuah tendangan keras mendarat di perutnya, diikuti dengan serangkaian serangan lainnya secara bertubi-tubi.
Di sana, Rena mencoba untuk melawan dengan sekuat tenaganya. Akan tetapi, tenaga dan kekuatan fisik mereka yang bugar tak bisa dilawan oleh Rena yang kelelahan.
Darah segar mulai mengalir dari sudut bibir, kepala, dan bagian tubuh lainnya yang terus-menerus mendapat serangan dari ketiga orang itu.
Pandangan Rena mulai buram, dan kesadarannya sudah tak mampu lagi ia pertahankan.
Ia akhirnya terjatuh ke aspal, merasakan dinginnya jalanan itu dengan tubuhnya.
“Sialan ... padahal aku hanya ingin hidup dengan normal saja, apa aku tidak boleh hidup dengan normal seperti orang lain?” gumamnya, suaranya sangat kecil dan hampir tak terdengar.
Pandangannya makin buram.
Pikirannya tiba-tiba saja melayang ke masa lalunya saat dia hidup bersama orang tuanya yang selalu ia lawan dan ia tentang.
Dan pada akhirnya, semuanya menjadi gelap dan hening bagi Rena.

Hanshen
20 Pengikut · 3 Novel