


oleh Alveandra · 96 Bab
Dia hidup kembali sebagai manusia biasa dengan ingatan masa lalunya yang begitu penuh penderitaan. Seorang panglima perang yang sudah membunuh ribuan orang, ditakuti pada masanya. Namun, sayangnya dia tiba-tiba menghilang tanpa ada satu orang pun yang tahu. Awalnya dia tidak ingin membalas dendam, tetapi ketika cinta pertamanya, ternyata ikut bereinkarnasi dan kehidupannya mulai terungkap oleh para dewa. Amarah di masa lalu perlahan tumbuh, demi melindungi kekasihnya dia rela menentang para dewa dengan kekuatan luar biasa yang dia dapatkan setelah bereinkarnasi.
Beberapa ribu tahun sebelum abad ke-20.
Suara genderang perang mengguncang langit dan bumi.
Di hamparan medan tempur yang luas, pasukan Kerajaan Barat Austronesia maju bagaikan gelombang badai. Ribuan prajurit mengacungkan tombak dan pedang mereka ke udara, meneriakkan pekik perang yang menggetarkan jiwa sebelum berlari menerjang musuh.
Di sisi lain, pasukan Kerajaan Timur Austronesia menyambut serangan itu tanpa rasa takut.
Pertempuran besar pun pecah.
Darah membasahi tanah. Pedang beradu dengan pedang. Tombak menembus daging. Jeritan kematian dan raungan kemenangan saling bersahutan di tengah kekacauan.
Di antara lautan manusia yang saling membunuh, seorang panglima perang dari Kerajaan Barat bergerak seperti dewa pembantai di medan perang.
Pedangnya menari tanpa henti, setiap ayunan merenggut nyawa, setiap langkahnya membuat musuh mundur ketakutan.
Dia bertarung siang dan malam tanpa mengenal lelah, hingga akhirnya Kerajaan Timur tak mampu lagi bertahan dan terpaksa bertekuk lutut di hadapan Kerajaan Barat.
Kemenangan besar itu mengakhiri perang yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Untuk mencegah pertumpahan darah kembali terjadi, para raja dari berbagai kerajaan besar di dunia berkumpul dan menyepakati sebuah perjanjian perdamaian dan di tengah perjanjian bersejarah tersebut, sang panglima perang menjadi simbol perdamaian dunia.
Bukan karena kebijaksanaannya, melainkan karena kekuatannya. Pada masa itu, tidak ada satu pun manusia yang lebih ditakuti dan disegani dibanding dirinya.
---
Hari demi hari berlalu, tahun berganti tahun. Hingga suatu hari, saat ajalnya semakin dekat, seorang Dewa Agung turun dari langit dan menemuinya.
Sang Dewa membawa kabar yang mengejutkan. Karena jasa dan pengorbanannya selama hidup, ia dipilih untuk naik ke kayangan dan diangkat sebagai Dewa Perang yang baru.
Namun, tidak semua dewa menyambut keputusan tersebut. Beberapa dewa yang merasa iri dan tidak setuju mulai merencanakan sesuatu dalam bayang-bayang.
Sebuah konspirasi, pengkhianatan dan pembunuhan. Sebelum sang panglima sempat menginjakkan kaki di kayangan, dia tewas secara mengenaskan.
Hari itu, seluruh kerajaan di dunia berkabung, rakyat menangis, para raja menundukkan kepala dan prajurit kehilangan panutan mereka.
Meski demikian, ada pula segelintir orang yang diam-diam merayakan kematiannya. Mereka adalah manusia-manusia tamak yang takut terhadap keadilan yang dibawanya dan merekalah cikal bakal manusia-manusia kotor yang akan memenuhi dunia pada era modern.
---
Sepuluh ribu tahun kemudian.
Bug-bug-bug.
"Ampun! Tolong ... ampun!"
Di sebuah gang sempit yang kumuh, suara pukulan dan teriakan memohon belas kasihan bergema tanpa henti, seorang mahasiswa terkapar di atas aspal.
Wajahnya babak belur, darah mengalir dari sudut bibirnya, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit saat beberapa preman terus menghajarnya tanpa ampun.
"Berhenti!" Pemimpin para preman mengangkat tangannya.
Anak buahnya segera mundur. Pria bertubuh kekar itu menjambak rambut sang mahasiswa dan memaksanya mendongak.
Mahasiswa itu menangis ketakutan, matanya sembab, tubuhnya bahkan tak mampu lagi berdiri.
"Tolong ... ampuni aku," rengeknya sambil terisak.
Senyuman dingin muncul di wajah sang pemimpin preman.
"Mengampunimu?" tanyanya sinis. "Apa kau tahu kesalahanmu?"
Mahasiswa itu buru-buru menggeleng. "A-aku tidak tahu. Apa pun kesalahanku, aku minta maaf."
Pemimpin preman tertawa kecil. "Kesalahanmu sangat fatal." Dia menepuk pipi mahasiswa itu beberapa kali. "Kau berani mendekati wanita milik tuanku."
Wajah mahasiswa itu langsung pucat.
"Nah, sekarang kau sudah mengerti, kan?" Tanpa menunggu jawaban, pria itu melempar tubuh mahasiswa tersebut ke tanah, kemudian memberikan perintah. "Patahkan tangan dan kakinya!"
"Baik, Bos!"
Beberapa preman segera bergerak, mereka mencengkeram tangan dan kaki mahasiswa itu dengan paksa.
Mahasiswa malang tersebut langsung berteriak histeris, "Tolong! Jangan! Jangan lakukan ini!"
Air matanya bercucuran. Bahkan karena terlalu ketakutan, celananya sampai basah, tapi tidak ada satu pun dari para preman itu yang peduli.
Tepat ketika mereka hendak mematahkan kakinya—
"Hei." Sebuah suara tenang tiba-tiba terdengar dari ujung gang. "Apa kalian tidak malu mengeroyok orang yang jauh lebih lemah?"
Semua orang menoleh secara bersamaan. Di sana berdiri seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh tahun.
Dia mengenakan pakaian rapi dan sederhana, satu tangannya berada di dalam saku celana. Sementara tangan lainnya memegang sebuah buku tebal. Ekspresinya santai, seolah ia sedang berjalan-jalan sore, bukan memasuki sarang para preman.
Pemimpin preman mengernyit, tatapannya mengamati pemuda itu dari ujung kepala hingga kaki. Dari pakaian dan sikapnya, ia bisa menebak bahwa pemuda tersebut berasal dari keluarga berada.
"Pergilah," katanya dingin. "Ini bukan urusanmu."
Pemuda itu memutar bola mata malas. "Kenapa harus mencari mangsa yang lemah?" Dia tersenyum tipis, sebelum melanjutkan, "Kalau ada orang yang lebih kuat di sini."
Ucapan itu membuat wajah pemimpin preman langsung mengeras. Sesaat kemudian ia malah tertawa. "Hahaha! Bocah kaya sepertimu lebih baik pulang dan belajar agar bisa mewarisi perusahaan keluargamu.
Swuzz!
Tiba-tiba buku di tangan pemuda itu melesat ke udara, kecepatannya begitu mengerikan.
Ujung sampul buku itu menyayat pipi sang pemimpin preman hingga mengeluarkan darah sebelum terus meluncur ke belakangnya.
Duaaak!
Buku tersebut menancap di dinding di ujung gang. Retakan-retakan besar langsung menyebar ke segala arah.
Keheningan seketika menyelimuti tempat itu. Pemimpin preman menelan ludah, tubuhnya gemetar, kedua lututnya bahkan hampir lemas.
"Bos!" Para anak buahnya buru-buru menghampiri.Namun, rasa malu segera mengalahkan ketakutannya, wajahnya memerah karena marah.
"Hajar dia!" teriaknya.
"Serang!" Belasan preman berlari bersamaan menuju pemuda tersebut.
Mereka mengangkat tinju dan senjata seadanya, tapi pemuda itu tetap berdiri santai.
Swut!
Bug-bug-bug!
Jeritan kesakitan langsung terdengar, bukan dari sang pemuda, melainkan dari para preman.
Satu demi satu tubuh mereka terlempar ke udara seperti karung pasir, ada yang terkena pukulan, tendangan dan ada pula yang tumbang hanya karena satu sentuhan.
"Uuugh!"
"Aaargh!"
"Bos! Tolong!"
Dalam hitungan detik, gang itu berubah menjadi lautan manusia yang berguling kesakitan.
"Ups." Pemuda itu mengangkat kedua tangannya. "Maaf."
Salah satu tendangannya barusan ternyata mengenai bagian paling sakral seorang pria. Preman itu langsung pingsan sambil memegang selangkangannya.
Sementara itu, seorang preman lain diam-diam mengambil balok kayu dan menyerang dari belakang.
"Hiaaa!"
Duaaak!
Pemuda tersebut bahkan tidak menoleh, dia hanya mengayunkan kaki ke belakang.
Balok kayu itu langsung patah menjadi dua, preman yang memegangnya membeku di tempat, wajahnya pucat, tangannya gemetar.
Swut!
Sebuah tendangan berputar meluncur ke arah kepalanya, tapi berhenti tepat beberapa sentimeter dari wajahnya. Angin kencang dari tendangan itu membuat rambutnya berantakan.
Bruk!
Preman tersebut langsung pingsan karena ketakutan.
Tak lama kemudian, seluruh preman telah tumbang, yang tersisa hanyalah sang pemimpin. Dengan wajah pucat, ia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya, matanya dipenuhi kebencian.
Saat pemuda itu membelakanginya, ia langsung menerjang.
"Awas!" teriak mahasiswa yang diselamatkan.

Alveandra
0 Pengikut · 1 Novel