Anak laki-laki dalam balutan sweater tebal itu, menatap penuh harap pada ibunya yang masih setia menemani. Ia berharap, jika sang ibu mengizinkannya bermain bersama adik dan saudara lainnya yang datang berkunjung. Jujur saja, Kukuh ingin sekali ikut bergabung sejak tadi dan menikmati waktu bermain bersama. Sayangnya, sang ibu justru melarangnya dengan alasan kondisi Kukuh yang tidak memungkinkan. Alasan yang selalu saja sama. Kapanpun itu.
"Sebentar saja, Ma," sambung Kukuh ketika melihat Sedayu hanya menatapnya dengan tatapan sedih. "Kukuh janji, kok, nggak bakalan kenapa-napa."
Sedayu melayangkan tangannya dengan sangat lembut di puncak kepala Kukuh. "Kukuh yakin mau ikut main? Nanti kalau dadanya sakit lagi gimana, Sayang?" ucap Sedayu dengan sangat lembut. Ia tidak ingin, jika Kukuh harus merasakan kembali sakit yang tak pernah kenal ampun itu. Sungguh menyakitkan hati Sedayu, tatkala ia melihat putra sulungnya harus merintih hampir setiap harinya.
Kukuh mengulum senyum lebar di balik bibir pucat pasinya. "Nggak, kok, Ma. Mama percaya, deh. Kukuh akan baik-baik saja, kok," jawab Kukuh dengan cepat dan sangat meyakinkan. Sungguh, Kukuh ingin merasakan kebebasan seperti yang dirasakan sepasang adik kembarnya—Teguh dan Perkasa. Ia ingin bermain sesuka hati seperti teman-temannya yang lain.
Sedayu masih menatap wajah Kukuh yang diselimuti aura penuh harap. Ia dilema. Banyak pertimbangan di dalam kepala. Namun, melihat keinginan Kukuh untuk bermain, yg membuat Sedayu kasihan. "Tapi, nggak boleh capek-capek, ya, Nak."
Kukuh langsung menganggukkan kepala dengan cepat. "Iya, Ma. Kalau Kukuh capek, Kukuh langsung berhenti mainnya. Tenang saja."
Sedayu hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan yang tercetak di wajah Kukuh yang seringkali kehilangan rona. "Ya, sudah. Hati-hati, ya."
Tanpa berpikir panjang, Kukuh langsung beranjak dari tempat duduk dan mendekati kedua adiknya yang sedang asyik bermain dengan yang lain. Sedangkan Sedayu, memilih untuk bergabung bersama suami dan keluarga lainnya. Namun, tatapannya tetap awas untuk selalu memastikan Kukuh baik-baik saja.
Teguh dan Kasa menatap Kukuh dengan kening mengkerut. Lalu, mereka saling melempar tatap.
"Kalian kenapa lihatnya kayak gitu?" Kukuh menatap bergantian sepasang adik kembarnya. "Kalian nggak suka kalau Mas Kukuh ikut main?"
"Nggak gitu, Mas. Tapi—" Kasa melempar pandangan ke arah ibunya dan diikuti oleh Teguh dan Kukuh.
Kini, Kukuh paham. Ia pun tersenyum. "Nggak apa-apa. Sudah diizinin Mama, kok," ucap Kukuh.
Sontak, ucapan Kukuh membuat kedua adiknya tertawa girang. Kapan lagi mereka bisa bermain bersama seperti ini?
Tampak Teguh dan Kasa begitu menikmati waktu bersama kakak satu-satunya itu. Mereka terlihat seperti mendapatkan waktu emas. Begitu juga dengan Kukuh. Sekarang, ia merasa tumbuh seperti manusia normal lainnya. Bisa menginjakkan kaki tanpa alas di atas rerumputan hijau taman belakang rumahnya. Bisa menendang bola, meski ia sering gagal karena tidak ahli seperti adik kembarnya. Namun, sekali lagi Kukuh sangat menikmatinya.
Akan tetapi, siapa yang tahu hari sial itu kapan datangnya? Belum juga Kukuh merasa cukup bermain tanpa merasakan sakit. Sebuah kejadian yang tak diinginkan terjadi. Ranting pohon di sekitarnya bermain tiba-tiba ambruk begitu saja dan nyaris mengenai tubuh Kukuh, jika tak ada manusia lain yang mendorongnya hingga terjungkal ke belakang.
"Kasa!"
Semua orang meneriakkan nama Kasa. Sedangkan Kukuh, masih sibuk mencerna dengan baik apa yang terjadi. Ia masih terdiam dalam posisinya berbaring. Hingga sepasang lengan membantunya bangkit. Setelah itu, ia rasakan bagaimana degup jantungnya berdetak sangat cepat dan menyakitkan.
Kukuh masih tidak peduli. Pandangannya masih jatuh pada segerombolan orang yang menangis terduduk di antara ranting pohon yang patah itu. Dengan tubuh bergetar, ia bangkit sendiri dan mendekat.
Jantungnya yang berdetak hebat mendadak berhenti. Bumi yang ia pijaki juga seakan ikut berhenti berotasi. Tidak ada pergerakan. Begitu juga dengan waktu yang ikut beristirahat. Tatapannya jatuh pada seonggok tubuh yang sudah basah dengan darah dalam pelukan Sedayu. Tubuh Kasa yang baru saja menyelamatkannya dari maut yang seringkali menghantui.
"Kasa sudah pergi," ucap seorang pria yang Kukuh panggil Om Satria, yang berprofesi sebagai seorang dokter.
Kukuh runtuh dalam sesaat. Ia menggelengkan kepala. Tidak terima, bahwa semesta sudah membawa pergi adiknya. Padahal, baru saja ia masih melihat bagaimana gelak tawa Kasa yang menertawakan kebodohannya menendang bola. Baru saja ia bisa menyaksikan kelincahan Kasa mengajarinya melempar bola dengan baik. Lalu, sekarang ... Kasa-nya sudah memejamkan mata hanya karena menyelamatkannya dari maut yang kerap mengintai. Tidak! Ini hanya sebuah lelucon semesta, bukan?
Tatapan tajam dari sepasang bola mata basah menghujamnya. Kukuh melihat itu begitu jelas. Tatapan yang sebelumnya selalu penuh cinta. Kini, berubah seperti tatapan singa yang melihat santapan lezat di depan mata.
"Dasar pembunuh!"
Suara itu menggema di ceruk telinga Kukuh. Benarkah ia sudah membunuh adiknya sendiri? Benarkah ia sudah sejahat itu pada seorang anak laki-laki yang mengalir darah yang sama dengannya?
"Kamu sudah membunuh anakku. Kamu penjahat! Pembunuh! Pembawa sial!"
Kukuh memeluk tubuhnya sendiri ketika suara Sedayu terus menerus menggema. Tubuhnya bergetar. Kepalanya terus menggeleng menolak tuduhan yang diteriakkan Sedayu padanya.
Sedangkan, yang lain hanya bisa menenangkan Sedayu yang menggila dan ingin menyerbu Kukuh.
"Kukuh nggak bunuh Kasa," lirih Kukuh dengan air mata yang menganak sungai di pipi tirusnya. "Kukuh bukan pembunuh."
Kalimat itu terus terucap dari bibir pucat pasinya. Ia beranjak perlahan—mendekati tubuh Kasa yang sudah kehilangan nyawa. Meski tangan Sedayu terus menariknya untuk menyingkir. Kukuh tetap bergerak dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Kasa bercanda, 'kan? Kasa mau jailin Mas Kukuh, 'kan, Dek?" Kukuh terus memaksa tubuh dingin Kasa untuk bicara. Namun, sia-sia. Tubuh dingin itu bergeming. Mata itu terus terpejam dengan begitu damai.
"Kukuh, sudah cukup, Nak. Adikmu sudah pergi." Farhat menyentuh kedua pundak putra sulungnya yang rapuh. Bahkan, mungkin lebih rapuh dari kerapuhannya saat ini.
Kukuh menoleh—menatap ayahnya yang mungkin saja sedang mencoba tegar. "Nggak, Yah. Kasa lagi bercandain Kukuh." Kukuh masih tetap menolak kenyataan yang terjadi. Ia tidak percaya jika kepergian Kasa akan secepat ini terjadi. Tuhan, ini kejutan paling menyakitkan dari apa pun juga.
"Dasar pembunuh! Pembawa sial! Anak cacat!"
Suara itu bersama rasa sakit yang tak hanya menghujam jantungnya, tetapi juga hatinya, mengantarkan Kukuh menuju kegelapan yang tak bisa dirasakan orang lain selain dirinya. Meruntuhkan pertahanan tubuh yang ia pertahankan kuat untuk menolak kenyataan, bahwa Kasa sudah pergi demi menyelamatkannya dari maut. Dan Kukuh berharap, ia akan ikut pergi bersama Kasa.
Dan, hari ini ceritanya dimulai. Tentang Kukuh yang diberi gelar "Pembunuh" oleh ibu kandungnya. Tentang Kukuh, laki-laki dengan jutaan rasa sakit tak terperi yang tak bisa ia ceritakan pada siapapun juga.