“Jangan pernah menoleh ke belakang jika punggung itu tidak pernah berniat untuk berbalik ke arahmu, Diana.”
Suara sahabat masa SMA-nya, Rasti, bergema kembali di kepala Diana, seolah-olah peringatan itu diucapkan baru saja di detik ini. Namun, nasihat itu telat bertahun-tahun. Nasihat itu masuk melalui telinga kiri dan menguap begitu saja, dikalahkan oleh debar jantung Diana setiap kali punggung tegap berbalut seragam putih abu-abu itu melintas di koridor sekolah.
Diana mengerjap. Lamunannya buyar ketika jarum jam dinding di kamar kontrakannya menunjukkan pukul tujuh malam. Cahaya lampu pijar kuning temaram menerangi separuh ruang tamu yang sunyi. Di atas meja kayu kecil, sebuah album foto tua dengan sampul kulit sintetis yang mulai mengelupas tergeletak terbuka. Jari telunjuk Diana yang lentik menyentuh permukaan kertas foto yang sudah sedikit menguning dimakan usia.
Di dalam foto berukuran 3R itu, tampak sesosok pemuda berdiri di barisan paling belakang lapangan upacara sekolah. Pemuda itu tidak melihat ke arah kamera. Punggungnya setengah berbalik, bahunya bidang, dan posturnya begitu kokoh.
Dirgantara Wiratama. Nama itu seperti mantra sakral yang dihafalkan Diana di luar kepala setiap malam sebelum tidur. Selama tiga tahun masa putih abu-abu, Diana tidak pernah benar-benar menjadi teman Dirga. Ia tidak pernah memiliki keberanian untuk sekadar menyapa, menanyakan PR matematika, atau berdiri di samping pemuda itu tanpa merasa dadanya sesak oleh debar ketakutan.
Bagi sebagian orang, masa remaja adalah lembaran cerita tentang cinta monyet yang manis, surat-surat cinta beraroma melati, atau cokelat Valentine yang diselipkan di dalam laci meja. Bagi Diana, masa remaja adalah sebuah latihan kesabaran yang menyakitkan.
Ia adalah pengagum rahasia yang berdiri paling ujung. Ia adalah bayangan dari bayangan Dirga. Setiap langkah kaki Dirga menjauh, mata Diana selalu setia menghafal arahnya. Cara pemuda itu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abunya, cara kepalanya sedikit menoleh ke kiri ketika mendengarkan seseorang berbicara, hingga cara punggung itu menjauh meninggalkan lapangan upacara, semuanya terekam sempurna di dalam memori Diana tanpa pernah sedikit pun terhapus.
Waktu bergulir kejam. Roda nasib berputar dengan cara yang tidak pernah disangka oleh Diana. Setelah kelulusan, mereka menempuh jalan hidup yang berbeda. Dirga melanjutkan kuliah di universitas impiannya di ibu kota, sementara Diana bergelut dengan kuliah malam sambil bekerja paruh waktu di sebuah toko buku demi menyambung hidup. Diana mengira, jarak dan waktu akan mengikis habis rasa kagum kekanak-kanakan itu. Ia mengira, seiring bertambahnya usia, bayang-bayang punggung Dirga akan memudar digantikan oleh realitas hidup yang keras.
Takdir rupanya memiliki skenario lain yang jauh lebih rumit, bahkan cenderung kejam.
Pertemuan kembali mereka terjadi di sebuah kafe sederhana tempat Diana biasa menghabiskan jam istirahat kerjanya, lima tahun setelah kelulusan SMA. Dirga tidak lagi mengenakan seragam abu-abu. Ia tampil begitu matang dalam balutan kemeja kerja rapi, tetapi sorot matanya tetap sama, dingin, datar, dan menyimpan jarak yang tidak tersentuh. Entah bagaimana, melalui sebuah lingkaran pertemanan yang tidak sengaja bersinggungan, mereka mulai berada di dalam ruangan yang sama.
Diana ingat betul bagaimana jantungnya kembali berdegup dengan ritme yang sama seperti saat ia masih remaja belia, dan yang lebih mengejutkan lagi, Dirga, pria yang selama ini seolah hidup di dimensi lain yang tak terjangkau, memulai percakapan lebih dulu. Pertemuan-pertemuan itu berlanjut menjadi obrolan singkat, lalu pertukaran pesan, hingga sebuah lamaran yang datang begitu cepat bagaikan sambaran petir di siang bolong.
***
Lamaran itu tidak datang dengan sebuket mawar merah atau kalimat romantis yang memabukkan. Dirga datang kepada ayah Diana dengan wajah kaku, menyatakan niat untuk mempersunting Diana.
Saat itu, Diana merasa dirinya adalah wanita paling beruntung di muka bumi. Ia mengira pemujaan bertahun-tahunnya selama masa remaja telah membuahkan hasil. Ia mengira kesabarannya menanti di ujung koridor sekolah telah dibayar lunas oleh semesta.
Diana menerima pinangan itu tanpa butuh waktu lama untuk berpikir, menulikan telinganya dari bisikan logika bahwa ada sorot mata yang kosong di balik kesediaan Dirga untuk menikahinya.
Kini, kenangan itu terasa bagai duri yang menghujam ulu hati.
Diana menutup album foto tersebut dengan gerakan pelan, seolah takut suara deritnya akan memecah keheningan apartemen mewah milik Dirga, tempat di mana ia seharusnya merasa menjadi ratu, justru merasa seperti seorang tahanan rumah yang tak kasat mata. Pernikahan yang telah berjalan selama tiga bulan ini sama sekali tidak menyerupai pernikahan pada umumnya.
Tidak ada gelak tawa di meja makan. Tidak ada cerita tentang hari yang melelahkan di kantor. Yang ada hanyalah aturan-aturan tak tertulis, batasan-batasan dingin, dan dinding raksasa yang dibangun oleh Dirga di antara mereka berdua.
Diana beranjak dari sofa, melangkah menuju dapur untuk segelas air putih. Kakinya terasa berat, seolah membawa beban tak kasat mata. Setiap sudut apartemen ini memantulkan aroma kemewahan yang hampa. Dirga jarang pulang sebelum larut malam, dan ketika pria itu akhirnya membuka pintu dengan kunci cadangannya, ekspresi yang pertama kali ditunjukkannya bukanlah kelegaan karena pulang ke rumah, melainkan kelelahan yang bercampur dengan ketidaksukaan yang amat sangat setiap kali pandangannya bersiborok dengan Diana.
Selama ini, Diana selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanya masalah waktu. Ia berpikir, pernikahan adalah proses penyesuaian yang panjang. Ia telaten menyiapkan kemeja kerja Dirga setiap subuh, memastikan kopi hitam suaminya tersaji dengan takaran gula yang pas, serta merapikan jas pria itu tanpa pernah mengeluh sedikit pun meskipun Dirga tidak pernah mengucapkan terima kasih.
Bagi Dirga, kehadiran Diana di rumah ini tampaknya tidak lebih dari sebuah fungsi dekoratif, seorang pengisi ruangan agar apartemen besar ini tidak terlihat kosong, atau lebih buruk lagi, sebuah pelarian sementara dari sesuatu yang jauh lebih besar di luar sana.
Penyadaran itu datang merayap perlahan-lahan, merusak kewarasan Diana sedikit demi sedikit setiap harinya. Diana bukan wanita bodoh. Ia bisa merasakan bagaimana Dirga memperlakukannya bukan sebagai seorang istri, melainkan sebagai orang asing yang menumpang sementara waktu di ruang hidupnya. Setiap kali Dirga menatapnya, ada sorot mata yang seolah berkata bahwa Diana sedang menempati posisi yang bukan haknya.
Puncak dari segala kepedihan itu mulai terendus ketika Diana tidak sengaja menemukan kejanggalan-kejanggalan kecil dalam barang-barang pribadi suaminya beberapa hari yang lalu. Sebuah dompet kulit lama di dalam laci meja kerja Dirga yang tidak sengaja terbuka saat Diana membersihkan debu.