"Reuni?"
Suamiku, Anggara, mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. "Kami udah lama nggak kumpul bareng lho, Sayang. Hampir lima tahun, baru ada kesempatan sekarang," ucapnya antusias.
Aku tanpa sadar mendesah. Reuni. Apa, ya? Ada yang bergejolak di hatiku. Antara aku ingin membahagiakan suamiku, di samping itu aku juga resah. Pasti Mas Anggara bakal ketemu mantan kekasihnya semasa sekolah, kan? Bagaimana kalau mereka CLBK? Hih!
"Ya, mbok dikasi toh, Kar! Jarang-jarang lho anakku ini kumpul bareng teman seangkatannya," sela ibu mertuaku, Mama Sekar. Dia muncul begitu saja seperti jelangkung. Datang tak diundang, pulangnya minta oleh-oleh. Banyak!
"Mama! Kapan sampai?" sapa suamiku sumringah sambil salim, terus cipika-cipiki. Maklum, anak semata wayang yang dimanja emaknya.
"Barusan. Mama habis dari tetangga sebelah, ke rumahnya Bu Atma, sambil nyapa anaknya si Teguh. Itu lho, yang jadi adik kelasnya Karina waktu SD," celetuk mertuaku sambil melirik sinis.
Aku teringat Teguh. Ya, adik kelasku sewaktu SD. Dia kelas satu, sedangkan aku kelas enam. Bocah bawel yang selalu ngintil ke mana pun aku pergi. Aku senyam-senyum sendiri mengingat tingkahnya. Bocah pecicilan! Ih, gemas!
"Heleh! Malah cengar-cengir sendiri. Buruan bikinin mama es teh! Haus!" hardik mertuaku.
Aku gelagapan berjalan ke dapur sampai tanpa sengaja menyandung kelingking Mas Anggara.
"Aduh, Kar!" teriak Mas Anggara kesakitan.
"Eh, maaf, Mas!" ucapku penuh penyesalan.
Mas Anggara meringis sambil buru-buru menarik kakinya. "Nggak apa-apa, Kar. Untung bukan kaki Mama yang keinjek, bisa panjang urusannya," bisiknya sambil terkekeh pelan.
Aku nyengir kuda, lalu kabur ke dapur. Baru saja tanganku menyendok gula, suara Mama Sekar sudah menggema lagi dari ruang tamu. "Karina! Es tehnya jangan encer-encer kayak kemarin, ya! Mama nggak suka yang hambar!"
"Siap, Ma!" jawabku sambil dalam hati membatin. “Kemarin kan Mama sendiri yang menambahkan air soalnya bilang kemanisan, tapi ya sudahlah, aku manut saja. Capek kalau harus ngotot sama mertua yang lidahnya berubah-ubah kayak cuaca! Gak bisa diprediksi BMKG!”
Aku pun meracik es teh, sengaja kutambah gula dua sendok lebih banyak dari biasanya. Bukan untuk menyenangkan Mama Sekar, tapi aku ingin melihat reaksinya. Diam-diam aku memang usil kalau sedang kesal. Salah sendiri, siapa suruh galak!
Kubawa nampan berisi tiga gelas ke ruang tamu. Mama Sekar langsung menyeruput es tehnya, matanya menyipit sebentar. "Ini manis banget, Kar! Mama kan diabetes, gimana sih!"
"Lho, Mama kemarin bilang hambar, Ma. Karina jadi bingung takarannya," jawabku dengan wajah sepolos mungkin, padahal dalam hati tertawa terbahak-bahak.
Mas Anggara terburu-buru menyela sebelum mamanya meledak. "Udah, udah, sini Mas yang bikinin ulang buat Mama." Dia melirikku sekilas, matanya menyipit, kode khas suami yang bilang, "Kamu ini emang bandel banget deh, Kar!"
Aku cuma nyengir sambil duduk di sofa, pura-pura sibuk main ponsel.
"Kar," panggil Mama Sekar lagi, kali ini nadanya berubah manis-manis mencurigakan. "Ngomong-ngomong soal reuni, kamu nggak usah ikut, ya! Kasian kalau kamu nanti minder, di sana kan pasti banyak yang dandanannya necis-necis. Biar Angga pergi sendiri aja, biar bisa leluasa ngobrol sama teman-temannya."
Aku menoleh, alisku mengkerut sampai keriting. "Lho, kenapa harus minder, Ma? Karina kan istrinya Mas Angga, wajar dong ikut!"
"Ih, kamu ini! Mama cuma nggak enak kalau kamu di sana cuma diem aja nggak kenal siapa-siapa. Ntar malah bikin Angga nggak nyaman," balas Mama Sekar sambil membuang muka, seolah keputusan sudah final.
Aku menghela napas panjang. Sudah biasa. Kalau bukan disuruh diam, ya disuruh mengalah. Namun, kali ini entah kenapa ada dorongan di dadaku untuk tidak mengikuti kemauan Mama Sekar.
"Karina ikut, Ma," ucapku pelan, tapi mantap. "Sekalian temu kangen sama teman-teman Mas Angga juga."
Mama Sekar mendelik, tapi tak sempat membalas karena Mas Anggara sudah kembali membawa es teh baru. "Nih, Ma! Karina emang boleh ikut kok! Lagian aku juga pengen dia kenalan sama teman-teman lama," katanya sambil tersenyum ke arahku.
Aku membalas senyum itu, meski di dalam hati masih ada secuil rasa was-was yang tak bisa kujelaskan.
Malam harinya, setelah rumah kembali sepi, dan Mama Sekar pulang ke rumahnya sendiri, aku berbaring di kasur sambil menunggu Mas Anggara selesai mandi. Ponselnya tergeletak di meja nakas, layar menyala berkali-kali dengan notifikasi WhatsApp yang tak ada hentinya.
Aku bukan tipe istri yang suka mengintip ponsel suami. Namun, entah kenapa malam ini rasa penasaran itu menang. Kulirik sekilas. Grup "Alumni SMA 3 Angkatan 2010". Nama-nama yang tak kukenal berlalu lalang, sampai satu nama membuat jantungku berdegup aneh.
Dinda Ayu Pratiwi mengirim pesan. "Angga! Masih inget aku nggak? Hahaha, udah lama banget ya kita nggak ketemu. Kabarnya gimana? Katanya udah nikah?"
Aku menatap layar itu lama. Ada rasa curiga yang menjalar di dadaku, bukan cemburu yang meledak-ledak, tapi semacam firasat kecil yang menusuk pelan-pelan. Seperti lecet kecil yang belum berdarah, tapi sudah cukup bikin ngilu.
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, Mas Anggara keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut. "Ngapain, Kar? Kok diem?"
Aku buru-buru meletakkan ponselnya kembali ke tempat semula. "Nggak. Ngantuk aja," jawabku, berusaha terdengar biasa.
Akhirnya, malam itu aku tidur dengan pikiran yang berkecamuk. Reuni yang katanya cuma sekedar acara kumpul dengan teman lama, kenapa rasanya seperti awal dari sesuatu yang jauh lebih besar?