


oleh @Lady_Nching · 6 Bab
Dengan karier yang cemerlang sebagai tentara wanita terbaik di pasukan khusus perdamaian PBB, tidak membuat kehidupan seorang Yurin Lee hidup dengan tenang. Di saat tawaran kenaikan jabatan yang harus dilakukan, Yurin mendapat kabar atas kematian adiknya yang misterius. Sebagai seorang kakak yang sangat mencintai adiknya sekaligus keluarga satu-satunya, ia bertekad mengungkap misteri kematian adiknya. Hal ini melibatkan konspirasi antara orang-orang penting di pemerintahan dengan kartel narkoba terbesar di Korea. Walaupun harus mengorbankan nyawa dan jabatannya sebagai tentara, Yurin Lee mulai mengungkap satu persatu fakta-fakta yang sengaja ditutupi. Dengan kemampuan dan keahlian yang didapat dari kemiliteran, Yurin Lee berjuang dan bertahan mengungkap semua itu.
“Ah! Tuan tolong lepaskan aku! Aku mohon lepaskan aku!”
Suara teriakan seorang wanita yang terduduk dengan tangan dan kakinya yang terikat. Wanita itu terus saja memohon untuk dilepaskan, tampak rasa ketakutan yang sangat terlihat di wajah cantiknya.
Di sampingnya juga ada lima orang sandera yang kedua tangan dan kakinya ikut diikat.
Posisi sandera dikumpulkan di depan wanita yang terikat di kursi. Wajah Mereka benar-benar menyuratkan sebuah ketakutan dan kegelisahan.
“Ayo, katakan di mana kalian menyembunyikan formula itu?!” ancam salah satu pria yang terlihat sebagai pemimpin pemberontak itu, dengan tangan kanan menodongkan pistol ke pelipis wanita yang terikat di kursi.
“Sekali lagi aku bertanya, Dokter! Di mana kau menyembunyikan formula itu? Kalau kau hanya diam dan tidak memberitahu di mana kau menyembunyikan formula itu, aku akan membunuh kelima orang itu!” ancam Ian Davis, pemimpin gerombolan pemberontak.
“Sudah aku katakan, aku tidak tahu apa itu formula yang kau maksud, memang aku datang bersama dengan Profesor Nurdin, tapi aku tidak tahu yang kau tanyakan itu. Tugasku hanya di klinik kampung untuk membantu Profesor Nurdin untuk memberi pelayanan bagi penduduk di kampung.”
Caroline Costa adalah dokter wanita yang diculik pemberontak. Jati dirinya telah diketahui oleh Ian Davis, kemudian Ian merencanakan penculikan ini.
Dokter Caroline sedang menjalankan misi perdamaian dengan menjadi dokter sukarela di Mali, Afrika Barat, dan dipimpin oleh Profesor Nurdin.
Tapi nahas, Profesor Nurdin tertembak ketika terjadi aksi baku tembak saat penculikan terjadi. Dokter Caroline menjadi satu-satunya dokter yang masih hidup saat terjadi penyerangan di sebuah desa di Mali.
Dan fakta sebenarnya Dokter Caroline Costa adalah putri salah satu jenderal besar dari negara Mexico.
Dor!
Suara tembakan memekakkan telinga, suasana di tempat itu terjadi kegaduhan karena teriakan para sandera.
Para sandera itu berasal dari penduduk sipil di kampung yang ikut tertangkap bersama Dokter Caroline.
Para penduduk di kampung sudah dibantai sampai habis, demikian pula rumah-rumah di kampung ludes terbakar. Mereka menuntut penggulingan kekuasaan di pemerintahan, dengan melakukan kudeta antar kelompok.
Ian Davis mengetahui bahwa ada proyek pengembangan senjata biologis yang dipimpin oleh Profesor Nurdin. Dengan misinya untuk merebut senjata biologis, Ian akan menjual ke pasar gelap dan mendapatkan dana untuk pemberontakan.
Ian Davis mengarahkan dan menembakkan senjatanya ke salah satu sandera, seketika sandera itu mati terkapar. Teriakan dan jeritan memenuhi ruangan itu.
Mereka sungguh kejam!
Saat ini, aku bersembunyi di atas pohon tinggi besar yang sangat rimbun. Dari kejauhan aku memantau aktivitas pergerakan sekelompok pemberontak yang menculik Dokter Caroline.
Aku terus mengamati dengan teropong yang aku pegang. Berapa orang yang ada di sana, di mana gudang penyimpanan persenjataan itu berada, serta tempat di mana para sandera disekap.
“Jo, ada sekitar lima puluh orang penjaga di setiap titik. Pintu gerbang utama sebelah barat dijaga empat orang, di samping kanan dan kiri terdiri empat orang, gudang persenjataan ada di sebelah barat daya dijaga dua orang. Dan ada satu gedung yang dijaga ketat terdapat lima orang penjaga bersenjata lengkap. Lalu, ada satu gedung yang dijaga lebih ketat, yang aku yakin itu ada tempat di mana sandera itu berada,” kataku sambil memberikan laporan.
“Baik, laporan diterima,” jawab Jonathan di seberang sana. “Dan apa yang akan Jenderal rencanakan?” tanya Jonathan sambil terkekeh geli.
“Hei, jangan mengejekku, Jonathan.”
“Yurin, jangan berlagak sok tidak tahu, jika misi ini berhasil maka kau akan dipromosikan menjadi brigadir jenderal,” ujar Jonathan.
“Hei! Kau ada-ada saja, aku akan menebus hadiahku untuk kembali ke Korea saja. Aku ingin hidup dilayani seperti nyonya,” jawabku.
“Maka dari itu menikahlah dengan jenderal tua yang akan mati. Setelah suamimu mati, ia akan meninggalkan harta yang berlimpah, jadi kau bisa hidup dan dilayani seperti nyonya,” tawa Jonathan.
“Dasar pembual,” ucapku menimpali perkataan Jonathan.
“Oke, mari kita selesaikan semua ini dan aku ingin segera tidur. Apa tim sniper sudah siap di posisi?” tanyaku.
“Oke, siap!” jawab Jonathan.
“Aku akan menyusup masuk dan melumpuhkan penjaga di gedung sandera berada. Lindungi aku!”
“Tim Alfa, bersiaplah di posisi dan kunci target!” perintahku.
“Siap, Perwira,” jawab mereka dengan kompak.
Aku pun mulai turun dari pohon yang rindang, melompat melalui dahan ranting yang masih basah karena embun pagi, susah payah aku memasuki area itu.
Dengan penjagaan ketat, aku mulai menyusup masuk ke area itu. Berapa kali aku bersembunyi agar tidak ketahuan.
Aku melumpuhkan penjaga satu per satu.
Dan akhirnya aku sampai pada targetku. Sebelum aku masuk, aku mengintip dari celah jendela bagian luar. Setelah dirasa aman, aku masuk melewati jendela yang kosong dari pengawasan penjaga.
Di luar, timku sudah memulai melumpuhkan penjaga yang menjadi titik vital akses masuk ke markas. Dari laporan timku, sebagian target sudah mereka lumpuhkan. Dan fokusku sekarang tertuju pada salah satu gedung yang dijaga sekitar enam penjaga.
Aku mulai mencari jalan masuk ke gedung itu tanpa ketahuan. Dan aku lihat di sebelah atap gedung yang berlubang, ada sebuah celah ruang udara di bagian atas langit-langit, yang bisa aku gunakan untuk jalan masuk tanpa diketahui.
Aku berusaha untuk naik ke lubang atap yang berlubang itu tanpa ketahuan penjaga.
Dengan merangkak pelan, aku mencari posisi di mana ruangan para sandera itu disekap.
Setelah lama aku menyusuri lorong udara dengan merangkak, akhirnya aku menemukan tempat di mana para sandera itu disekap.
Setelah sampai di bawah ruangan tempat para sandera itu berada, aku mengintip dan memeriksa ada lima orang penjaga yang aku yakin salah satu dari mereka adalah pemimpinnya.
Sungguh biadab, Ian Davis saat ini sedang melecehkan dokter wanita itu. Rasanya sungguh tidak sabar untuk membunuhnya.
Saat ini aku sudah mendapat laporan dari timku yang berada di luar, bahwa semua penjaga sudah berhasil dilumpuhkan. Dan tim yang dipimpin Jonathan mulai bergerak mendekati ruangan sandera ini.
Aku meminta kepada tim Jonathan yang berada di luar untuk memberikan serangan dadakan dari arah luar.
Aku merencanakan untuk melakukan serangan pengalihan dari luar ruangan ini, sehingga aku bisa bergerak turun untuk melumpuhkan musuh dari bagian dalam.
Aku mengambil napas pelan, saat aku memberi arahan kepada tim yang ada di luar memberi serangan.
Duaarr duaarr
Dua ledakan bom menghancurkan pintu depan. Di saat arah fokus perhatian pemberontak itu teralihkah ke arah luar, aku bersiap dan melompat ke bawah dengan kedua tanganku memegang pistol SIG Sauer P226.
Salah satu pistol mematikan di dunia yang digunakan di dalam kemiliteran. Aku menembak para pemberontak tepat sasaran.
“Satu ... dua ... tiga ... empat!” gumamku sambil menarik pelatuk dan mengarahkan tembakanku ke arah para pemberontak. Targetku tinggal satu, yaitu Ian Davis.
Sialnya saat ini dia menyandera Dokter Caroline.
Ian menodongkan pistolnya ke arah Dokter Caroline. Aku pun tak kalah sengit dengan mendongakkan pistolku ke arah Ian Davis.
“Wah wah wah, ternyata malaikat mautku seorang wanita juga, hahaha,” tawa Ian Davis menggema di ruangan ini.
Tim Jonathan sudah mulai masuk dan menguasai area ini dengan menodongkan senjata apinya ke arah Dokter Caroline.
Dokter Caroline kelihatan ketakutan, dan keadaannya sangat kacau. Yang aku lihat tadi sempat dilecehkan Ian.
Aku sudah jenuh dan muak dengan Ian Davis. Aku pun berusaha pengalihan, dan aku menunggu kesempatan untuk menembak satu kali saja. Saat kesempatan itu datang, aku langsung melesatkan tembakanku.
Duaarr!
Peluruku melesat mengenai kepala Ian Davis. Tubuhnya langsung ambruk ke belakang.
Bersambung

@Lady_Nching
2 Pengikut · 3 Novel