Kabut tipis turun lebih cepat dari biasanya di kaki pegunungan itu. Cahaya pagi seharusnya hangat, tetapi bagi keenam pendaki yang berdiri di depan papan kayu tua bertuliskan “Akses Ditutup”, udara justru terasa menekan, seakan menahan mereka agar tak melangkah lebih jauh.
Ozi Kurnia Aji berdiri paling depan. Napasnya teratur, dan matanya memantul gelisah. Ia menatap barisan pohon yang menjulang seperti dinding gelap.
Inilah awalnya, batinnya. Rimba Tanpa Nama, tempat yang tak ingin ditemukan siapa pun.
“Jadi, kita benar-benar masuk?” tanya Aditya Pratama, menyilangkan tangan. Nada logisnya terdengar lebih keras dibanding keberaniannya saat itu.
“Kalau ragu, masih bisa mundur,” sahut Ozi tanpa menoleh.
Ihsan Lubis menggerakkan kakinya gugup. “Aku tidak ragu. Hanya hutan ini seperti memandang kita.”
“Jangan bicara begitu, San.” Maulidya menarik ransel ke pundaknya. “Aku sudah takut duluan.”
Di samping mereka, Muhammad Ihsan memeriksa kompas dan ponselnya. “Sinyal hilang. Kompas pun sempat bergerak sendiri. Ini aneh.”
Sementara itu, Tia Adelia mengangkat kamera ke matanya. “Lihat, kabutnya bagus sekali untuk foto pembuka.” Ia menekan tombol. Klik.
Semua suara alami seperti mereda seketika.
Mereka saling bertukar pandang.
“Kalian dengar?” tanya Tia lirih.
“Tidak ada apa-apa,” jawab Aditya cepat, meski ia sendiri memutar tubuh, memastikan tidak ada yang mengintai.
Ozi menguatkan diri dan memberi aba-aba. “Baik, kita mulai. Formasi seperti biasa. Aku di depan, Aditya di belakang. Kita tetap saling terlihat.”
Mereka melangkah memasuki rimba.
Pohon-pohon raksasa menaungi jalan sempit yang dipenuhi lumut basah. Udara semakin dingin. Sesekali terdengar suara burung, dan terdengar terlalu jauh seolah berasal dari tempat yang bukan bagian hutan itu.
“Kenapa jalan setapaknya terasa seperti baru dilalui?” gumam Maulidya.
Ihsan memeriksa jejak tanah. “Benar. Ada bekas langkah manusia atau mungkin—”
“Apa pun itu, jangan menyelesaikan kalimat itu,” sela Aditya cepat.
Ozi menunduk dan menyentuh tanah. “Jejaknya tidak menuju keluar. Semuanya mengarah ke dalam.”
Ketika ia berdiri, angin tiba-tiba berembus. Daun-daun gemerisik, tetapi di tengah suara itu ada bisikan samar.
Tia memegang lengan Ozi. “Kau dengar itu?”
“Aku dengar,” sahut Ozi datar. “Tidak jelas.”
Kembali.
Jangan masuk.
Bisikan itu seperti berasal dari perut hutan, bukan dari udara.
“Aku pikir ini hanya mitos,” ujar Muhammad pelan. “Aku tidak suka ini.”
Mereka melanjutkan perjalanan, dan semakin jauh mereka melangkah, semakin aneh suasananya. Cahaya matahari tidak benar-benar menembus kanopi pohon, seperti tertahan di atas sana.
Lima belas menit berlalu sebelum Aditya berseru, “Ozi, lihat!”
Di antara dua pohon besar, ada tumpukan batu kecil yang tersusun rapi membentuk lingkaran. Di tengahnya, ada kain merah kusam yang terikat pada sebilah ranting.
“Semacam tanda,” ujar Ozi.
Maulidya menelan ludah. “Tanda apa?”
“Entah, tapi ini sengaja diletakkan.” Ozi membungkuk, memeriksa dari dekat. “Hati-hati, jangan sentuh.”
“Kenapa?” tanya Ihsan.
“Sesuatu seperti ini biasanya dipakai sebagai penanda jalur atau larangan, dan kita tidak tahu mana yang benar.”
Tia mengangkat kamera. “Aku perlu dokumentasikan—”
“Jangan.” Ozi menghentikannya. “Biarkan benda ini seperti apa adanya.”
“Aku setuju,” kata Aditya. “Aku punya firasat tidak baik tentang benda ini.”
Baru beberapa langkah mereka tinggalkan lingkaran batu itu, suara ranting patah terdengar jelas di belakang.
“Siapa di sana?” seru Aditya spontan.
Tidak ada jawaban.
Hanya sepasang mata samar yang terlihat di antara dedaunan atau mereka mengira begitu.
Semua diam. Bahkan angin berhenti.
Ozi meraba gagang pisau lipatnya di pinggang. “Keluar,” katanya pelan dan tegas.
Daun bergeser, dan sosok berambut panjang muncul. Seorang perempuan. Kulitnya pucat, matanya tajam, dan senyumnya nyaris tidak terlihat.
“Siapa itu?” bisik Maulidya ketakutan.
Perempuan itu berdiri tenang, seakan ia yang memiliki tempat itu. “Kalian tidak seharusnya berada di sini.”
Suara itu dingin, tapi indah.
Tia bergerak mundur. “Siapa kamu?”
Perempuan itu menoleh sedikit, seakan ia mendengar sesuatu dari arah lain. “Keputusan kalian untuk melangkah masuk adalah awal dari sesuatu yang tidak bisa dibalikkan.”
“Apa maksudmu?” tanya Ozi.
Perempuan itu memandang langsung ke mata Ozi, membuat bulu kuduknya berdiri. “Namamu Ozi, bukan?”
Ozi menegang. “Bagaimana kamu tahu namaku?”
“Aku tahu lebih dari itu.” Ia tersenyum samar. “Kalian tidak sendirian.”
Tiba-tiba, suara langkah lain terdengar.
Sosok kedua muncul dari arah berlawanan. Perempuan juga. Wajahnya menyeramkan karena tatapannya datar, tanpa ekspresi.
“Gabryela,” ujar sosok pertama tanpa menoleh.
Gabryela berdiri sejajar dengannya. “Keisya, mereka masuk terlalu cepat. Rimba belum memilih apakah mereka layak.”
“Rimba?”
Aditya memegang bahu Ozi. “Kita harus pergi dari sini.”
“Kita tidak akan melakukan apa pun yang kalian katakan,” ujar Ozi pada dua perempuan itu.
Keisya menatap mereka satu per satu. “Kalian mencari jawaban, bukan? Tentang orang-orang yang hilang?”
Mereka semua tersentak.
“Kami mendengar cerita itu,” kata Muhammad hati-hati. “Apakah kalian tahu di mana mereka?”
Gabryela menjawab dingin, “Mereka tidak hilang. Mereka ditelan rimba karena tidak memahami tanda-tanda.”
“Tanda-tanda apa?” tanya Maulidya.
“Tanda bahwa tempat ini bukan dibuat untuk semua orang,” balas Keisya.
Ozi maju satu langkah, menatap mereka dengan keberanian yang dibuat-buat. “Kalau kalian tahu sesuatu, jelaskan.”
Keisya menggeleng perlahan. “Tidak. Kalian harus menemukannya sendiri.”
“Tunggu—” seru Tia.
Kedua perempuan itu menghilang di antara pohon seperti bayangan yang larut dalam kabut. Tidak ada suara langkah, tidak ada daun yang bergerak.
Seolah mereka tidak pernah ada.
Aditya menarik napas panjang. “Baik. Itu—itu jelas bukan hal normal.”
“Kita harus putuskan,” ujar Ozi tenang dan sorot matanya tegang. “Lanjut atau kembali?”
Mereka saling memandang. Sunyi.
Kemudian, Ihsan berkata, “Kalau kita kembali sekarang, semua pencarian kita selama ini sia-sia.”
“Kalau kita lanjut, kita mungkin terjebak,” balas Maulidya.
“Tidak,” sahut Tia, meski suaranya gemetar. “Aku tidak ingin ada yang hilang lagi. Kita harus menemukan jawabannya.”
Muhammad menutup kompasnya dan berkata mantap, “Aku ikut Ozi.”
Aditya mendecak pelan. “Baiklah. Kita jalan terus, tapi setelah ini, kita lebih berhati-hati.”
Ozi mengangguk. “Kita tetap bersama. Apa pun yang terjadi.”
Lalu, ia melangkah lebih dalam ke rimba, memimpin timnya menembus kabut yang semakin tebal.
Di belakang mereka, dua suara perempuan berbisik samar dari kejauhan terdengar seperti gemericik angin.
“Keisya,” bisik Gabryela. “Kau yakin mereka layak?”
“Saat rimba memutuskan,” jawab Keisya. “Mereka akan tahu alasannya.”
Hutan kembali menelan segalanya.