


oleh Bulan Rindu · 14 Bab
Trauma pada masa lalunya karena dipisahkan secara paksa oleh orang yang dicintainya, membuat seorang wanita bernama Marwah terluka selama bertahun-tahun. Namun, siapa sangka dirinya yang ingin memulai hidup baru tanpa bayang-bayang sang suami, malah dipertemukan kembali. Akan tetapi suaminya malah tidak ingat sama sekali dengan dirinya. Apa yang terjadi? Yang penasaran kisahnya, yuk simak ceritanya!
Seorang wanita sedang duduk termenung di sebuah teras rumahnya. Bayangan dua tahun silam membuat perasaannya hancur berkeping-keping saat mengingatnya.
Terkadang ia berpikir, tak sepantas itukah ia bersanding dengan orang yang derajatnya lebih dari segalanya? Apakah dia hanya serpihan kaca di antara berlian yang berkilauan?
Padahal jodoh sudah ada yang mengatur, lalu kenapa para manusia seolah berkuasa untuk ikut andil di dalamnya?
Di setiap ibadah di dalam sujudnya, dia selalu bermunajat kepada-Nya, meminta agar rasa sabarnya diluaskan, serta tak gampang termakan isu miring di luaran sana tentang suaminya.
Ia mengusap wajahnya yang sudah banjir dengan air mata, air mata yang lolos tanpa permisi.
Tanpa ia sadari, seorang wanita paruh baya yang sepertinya sedang menggendong balita berusia sekitar satu tahun, memperhatikannya dari ambang pintu.
Ia sedih melihat sang anak yang terlihat selalu murung setiap harinya. Sungguh hati ibu mana yang tahan melihat penderitaan anaknya.
Wanita itu lantas menghampiri putrinya. Menepuk pundaknya dengan lembut, sekedar memberi tahu bahwa ia ada di belakang.
"Marwah!"
Sontak yang dipanggil menoleh, menatap sang ibu lalu tersenyum. Namun, dengan senyum yang tersirat kesedihan di dalamnya.
Ibu Marwah, Bu Pur pun ikut duduk di kursi samping Marwah. Marwah dengan sigap langsung mengambil alih anaknya yang bernama Muhammad Fadhil itu dari sang ibu.
"Nak, mau sampai kapan kamu seperti ini? Temui dia! Minta kejelasan!"
Marwah mendesah panjang. Tak hanya satu kali sang ibu mengingatkannya tentang itu. Rasanya setiap kali mendengarnya, hati Marwah selalu merasa sakit.
Marwah hampir merasa putus asa dengan rumah tangganya. Ia tak ingin terlalu berharap untuk saat ini.
Selama bertahun-tahun ia berharap suaminya akan mengerti dan segera memperjuangkan rumah tangga mereka, menemui ia dan putranya, lalu membawa kembali pulang ke rumah mereka. Tapi apa? Sepertinya suaminya pun tak lagi mengharapkan dirinya dan sang putra. Terbukti selama dua tahun mereka sudah hilang kontak.
Pernah Marwah mencoba menghubungi Saga beberapa kali, tapi beberapa kali juga Saga selalu mematikan ponselnya tanpa alasan yang jelas. Marwah jadi berpikir, mungkin Saga telah melupakannya dan mendapat pengganti lain di sana, yang lebih sempurna dan seimbang dengannya, entahlah.
"Marwah capek, Bu. Rasanya Marwah pengen menyerah saja," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca, menatap sang ibu dengan sedih. Mata itu terlihat sangat lelah, lelah dengan semua keadaan yang ada.
Bu Pur menatap putrinya dengan sendu, lalu perlahan menarik putrinya itu ke dalam pelukannya.
***
Dua tahun kemudian, wanita cantik yang bernama lengkap Marwah Izza Hilyah Nafisah yang dulunya hanya seorang gadis biasa, kini menjelma menjadi dokter cantik disalah satu rumah sakit di Jakarta.
Dan hari ini pun ia terlihat rapi dengan pakaian kerjanya.
"Bu, hari ini Marwah titip Fadhil lagi ya, soalnya hari ini Marwah lembur.
Banyak pasien yang harus Marwah tangani."
Marwah bersiap hendak meraih tasnya.
"Kalau Ibu capek, nanti gantian sama Safa aja," ujarnya seraya tersenyum.
"Iya, Nak. Kamu kerjalah! Ibu akan jagain Fadhil kok."
Sekali lagi Marwah tersenyum sebelum akhirnya benar-benar pergi dengan mobil pribadinya menuju rumah sakit tempat ia dan Hasan bekerja.
Selama ini memang hanya Hasan yang selalu ada untuk keluarganya. Pria itu menolong tanpa pamrih.
Meskipun sebenarnya ia berharap Marwah mau meninggalkan Saga dan menikah dengannya, tapi ia tak melakukan itu.
Bahkan ia tak pernah mengutarakan perasaannya lagi karena masih menghargai perasaan Marwah yang memang belum sepenuhnya bercerai dengan Saga.
Tapi ia pernah berjanji, jika suatu saat Saga menyakiti Marwah lagi, maka ia pun tak segan merebut Marwah dari pria itu.
Hasan merasa kasihan. Bertahun-tahun Marwah menahan sakitnya sendiri demi pria yang kini tak diketahui lagi bagaimana kabarnya.
Marwah pernah berucap, bahwa suatu saat ia ingin menemui suaminya itu untuk sekedar mengetahui kabar pria itu. Tapi pekerjaannya belum mengizinkannya untuk meninggalkan Indonesia.
FLASH BACK 2 TAHUN SILAM.
Marwah sudah begitu senang mendengar kabar bahwa Saga telah sadar. Ia pun berlari ingin cepat menemui suaminya itu untuk melepas rindu.
Namun, tiba-tiba di depan pintu ruang rawat, dua orang berpakaian serba hitam menghadang langkahnya yang hendak masuk, sebab mama Mina, papa Alex, Ji Syu serta Jhon sudah lebih dulu masuk.
"Ada apa ini? Saya ingin masuk untuk menemui suami saya," kata Marwah yang merasa heran.
"Maaf, Anda tidak diperbolehkan masuk. silakan Anda pergi dari sini, dan jangan pernah menemui tuan Saga lagi!"
Tak membentak, tapi terdengar tegas. Akan tetapi tak sedikitpun membuat nyali Marwah menciut. Dia masih terus berusaha untuk masuk dan bertemu suaminya.
"Tidak bisa begitu, Paman! Katakan alasannya kenapa saya tidak boleh masuk? Tadi saya melihat tuan Red dan seorang wanita masuk ke sana, sedangkan saya sebagai istrinya tidak boleh."
Kali ini Marwah memberanikan diri menyatakan keberatannya atas ketidakadilan ini.
Sayangnya mereka tak menjawab. Mereka malah mengangguk dengan satu sama lain, seperti sedang berkomunikasi melalui isyarat.
Tiba-tiba mereka menarik paksa Marwah, menyeretnya keluar dari rumah sakit itu. Tentu Marwah berusaha memberontak. Hatinya sungguh sakit mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang-orang Saga.
"Silakan pergi dari sini!"
Mereka lantas meninggalkan Marwah yang masih terpaku di tempat. Dan ternyata di luar rumah sakit itu, ibu dan Safa, serta dokter Hasan sudah menunggunya.
Marwah lantas menghampiri mereka dengan gerakan sedikit berlari ke arah sang ibu sambil memasang raut wajah yang begitu menyedihkan.
Marwah langsung menghambur ke dalam pelukan sang ibu dan menangis sejadi-jadinya di sana.
Begitu pun Bu Pur yang juga tak kuasa menahan air matanya melihat sang putri diperlakukan tak adil seperti ini.
"Kenapa, Bu, kenapa?!" tanyanya sambil terisak.
Bu Pur mengusap lembut kepala Marwah yang terbalut hijab itu. Dadanya terasa sesak ketika menyaksikan sendiri sang putri disingkirkan dari keluarga suaminya sendiri. Apa karena mereka orang rendahan, hingga seakan tak pantas jika bersanding dengan seorang yang derajatnya jauh diatas mereka?
"Sudah ya! Kita pulang saja sekarang!"
Ucapan sang ibu membuat Marwah mendongak lalu menggeleng.
"Enggak, Bu, Marwah nggak mau pulang. Marwah mau ketemu Mas Saga. Marwah mau melahirkan anak ini di sini, dia butuh ayahnya, Bu."
Marwah terisak tersedu-sedu sambil mengelus perutnya yang masih rata. Membayangkan anaknya lahir tanpa sosok seorang ayah di sisinya, membuat hati Marwah terasa nyeri.
Mengapa cobaan begitu berat untuk rumah tangganya? Rasanya baru saja ia mereguk kebahagiaan bersama orang yang dicintainya, sekarang ia harus dipisahkan oleh alasan yang tidak jelas.
Marwah sampai memegangi dadanya yang terasa berat karena terhimpit beban yang rasanya tak sanggup ia pukul sendiri. Ia butuh Saga, ia butuh suaminya sekarang.
Mengapa takdir seolah ingin sekali memisahkan dia dan Saga? Apakah dosa di dalam dirinya begitu banyak, hingga ia seolah tak berhak bahagia.
"Marwah, dengarkan kata ibu kamu! Lagi pula, kamu di sini sudah tak diterima lagi," kata Hasan menasehati.
"Iya Kak Marwah, Safa nggak mau liat Kakak disakiti lagi. Kita semua sayang sama Kakak, makanya kita peduli," lanjut Safa.
Marwah tertunduk lesu sambil mengangguk.
"Iya, Marwah mau pulang dengan kalian," ucap Marwah pada akhirnya, meskipun masih terasa begitu berat.
***
“Marwah, Mas mau mengatakan sesuatu padamu,” ujar Hasan, ketika mereka sama-sama berada di rumah sakit tempat mereka bekerja.
“Apa itu, Mas?”
“Mas mau menyampaikan bahwa kamu terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa ke Korea.”
“Korea?”
Wanita itu terdiam mendengar nama negara yang disebut Hasan. Namun akhirnya mengangguk setuju.

Bulan Rindu
3 Pengikut · 1 Novel