


oleh Mommy Abi · 13 Bab
Rosaline harus mengalami kejadian tragis akibat keserakahan dan kekejaman yang dilakukan oleh bapak kandungnya sendiri. Dia menuntut balas terhadap perbuatan bapaknya dan orang yang terlibat untuk memperoleh keadilan atas kematiannya. Satu persatu pelaku mendapatkan gilirannya. Bagaimana dengan sang bapak? Apakah masih tega Rosaline menuntut balas padanya?
Hosh hosh hosh
Seorang gadis remaja berlari menembus lebatnya hutan. Napasnya tersengal, keringat membasahi wajahnya, tetapi ia tak peduli.
Semak berduri mencakar kulitnya, meninggalkan luka-luka kecil yang menggores lengan dan kakinya. Namun, tak peduli seberapa jauh ia berlari, kebebasan tetap terasa mustahil.
"Lepaskan aku!" teriak gadis itu, suaranya penuh kepanikan dan kemarahan.
"Diam! Ikuti saja kami!" bentak salah satu pria yang menangkapnya.
Gadis itu bernama Rosaline. Remaja berusia sembilan belas tahun dengan wajah cantik, hidung mancung, kulit kuning langsat, dan bulu mata lentik yang mempertegas pesonanya.
Malam ini adalah malam Rabu Kliwon, malam di mana tepat pukul dua belas nanti, usianya akan bertambah satu tahun.
Namun, alih-alih mendapatkan kejutan yang menyenangkan, ia justru menghadapi nasib yang mengerikan.
Di sebuah gubuk tua yang tersembunyi di dalam hutan, beberapa orang berdiri mengelilingi sebuah ranjang yang telah ditaburi bunga tujuh rupa.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau ikut dalam kesesatan kalian!" Rosaline berteriak lantang, sorot matanya tajam memancarkan kemarahan dan kekecewaan. Tak ada rasa takut di dalam dirinya.
"Diam! Sudah cukup kami memberimu tumpangan selama ini, dan itu tidak gratis! Sekarang saatnya kau membalas budi!" sahut seorang pria dengan nada dingin.
Gubuk itu bergema oleh suara tawa mereka yang terdengar menyeramkan.
Rosaline meludah ke tanah, wajahnya penuh kebencian. "Cih! Kalau saja aku bisa memilih, aku tidak sudi terlahir dari orang tua sekeji kalian! Bahkan, kalian tidak pantas disebut orang tua!"
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipinya, meninggalkan jejak merah yang membakar.
"Kamu tidak pantas berkata seperti itu pada orang tuamu!" bentak seorang wanita yang mengaku sebagai ibunya.
Rosaline menatapnya tajam, matanya berkilat penuh luka. "Orang tua? Ibu bilang kecewa padaku? Lalu bagaimana dengan aku?! Ayah hendak menjadikanku tumbal, dan Ibu hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa!"
Tak ada setetes pun air mata di mata wanita itu. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada luka yang ia sembunyikan.
"Sudah! Baringkan dia sekarang!" perintah pria itu.
Beberapa orang segera membaringkan Rosaline di atas ranjang dan mengikat kaki serta tangannya erat-erat.
Mereka juga menutup matanya dengan kain hitam. Lingkaran ritual pun terbentuk, dan suara mantra mulai bergema di udara.
"Aku tidak akan mengikhlaskan tubuh ini! Jiwa ini! Raga ini! Bahkan jasad ini untuk junjungan kalian!" teriak Rosaline. "Ingat sumpahku ini! Aku akan menuntut balas, dan neraka adalah tempat kalian semua!"
Jleb!
Sret!
Teriakannya terhenti. Darah segar mengalir deras, membasahi ranjang dan memenuhi ruangan dengan bau anyir.
Tepat tengah malam, ketika usianya genap dua puluh tahun, ritual itu selesai. Rosaline, gadis muda yang malang, kini hanya jasad tak bernyawa yang dibiarkan begitu saja di dalam gubuk. Para pelaku keji, termasuk kedua orang tuanya, pergi tanpa menoleh ke belakang.
Tak lama setelah mereka menghilang ke dalam kegelapan, seorang wanita tua dengan tubuh ringkih memasuki gubuk dengan langkah tergesa.
Wajahnya dipenuhi gurat kesedihan. Dengan tangan gemetar, ia membelai rambut gadis yang kini terbaring tak bernyawa. Perlahan, ia menyeka wajahnya, memastikan mata Rosaline tertutup dengan damai.
Air matanya jatuh.
Dengan suara lirih, ia mulai mendendangkan sebuah kidung.
"Ana kidung, rumeksa ing wengi ...."
Suara serak wanita tua itu menggema di antara desir angin yang tiba-tiba bertiup kencang. Daun-daun bergesekan, atap gubuk berderak, dan suara binatang malam bersahutan, seakan merespons nyanyiannya. Namun, ia tak tergoyahkan.
Kidung terus mengalun, mengusir kegelapan yang merayap. Hingga akhirnya, saat bait terakhir selesai dinyanyikan, angin berhenti, dan keheningan menyelimuti hutan.
Wanita itu mengusap tubuh Rosaline dengan lembut, mulai dari kepala hingga kaki. Jemarinya bergetar, menahan duka yang begitu dalam.
"Nduk Cah Ayu maafkan aku," bisiknya dengan suara parau. "Aku tak bisa melindungimu. Aku tak berdaya menghadapi kebengisan orang tuamu."
Tiba-tiba, udara di dalam gubuk berubah. Suhu menjadi dingin. Dan dalam keheningan itu, kelopak mata Rosaline perlahan terbuka.
Senyum haru mengembang di wajah wanita tua itu. Usahanya membangkitkan sang cucu—meski hanya sementara—tidak sia-sia.
"Mbok." Suara lirih Rosaline terdengar.
Dengan penuh kasih sayang, wanita tua itu membelai rambutnya dan mengecup keningnya yang dingin. Air matanya kembali jatuh.
"Maafkan Mbok, Nduk ... Mbok gagal melindungimu,” isaknya.
Rosaline tersenyum tipis. Meski tubuhnya kini bukan lagi milik manusia seutuhnya, kehangatan Mbok Mar masih bisa ia rasakan. Ia lalu menatap mboknya dalam-dalam.
"Jangan salahkan dirimu, Mbok. Ini sudah terjadi. Tapi aku telah bersumpah. Aku akan menuntut keadilan."
Mbok Mar mengusap air matanya, lalu menggenggam wajah Rosaline dengan penuh kasih.
"Lakukanlah, Nduk." Suaranya bergetar, dan tegas. "Ambil kembali apa yang memang milikmu. Keserakahan telah membutakan mereka. Balaslah, jika itu yang membuatmu tenang. Tapi ingat, jika kau butuh bantuan, Mbok akan selalu ada, bahkan jika itu salah."
Rosaline menggeleng. "Tidak, Mbok. Jangan kotorinya tanganmu. Aku sendiri yang akan menyelesaikan ini. Aku akan menumpas semuanya."
Mbok Mar mengangguk, lalu mengambil setangkai mawar merah yang masih segar. "Ini, bawalah. Mawar kesayanganmu akan Mbok tanam dan rawat. Pergilah dan jangan risaukan Mbok."
Rosaline tersenyum, lalu perlahan tubuhnya mulai menghilang.
Mbok Mar menatap kepergiannya dengan air mata berlinang.
"Pergilah, cucuku," bisiknya lirih.
***
Angin kembali berhembus lirih di antara pepohonan yang menjulang. Malam semakin pekat, menyisakan kesunyian yang mencekam.
Mbok Mar masih duduk di sisi ranjang, menatap tempat di mana tubuh cucunya tadi berada. Sisa kehangatan Rosaline masih terasa, seolah gadis itu belum benar-benar pergi.
Dengan tangan gemetar, Mbok Mar meraih bunga mawar yang tadi ia berikan. Jemarinya yang keriput membelai kelopaknya yang lembut. Hatinya bergetar, ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
"Leluhur, lindungi cucuku meski ia kini berjalan di jalan yang berbeda," gumamnya lirih.
Di kejauhan, di dalam kegelapan hutan, sesuatu mulai bergerak. Suara gemerisik daun terdengar samar, disusul oleh suara langkah kaki yang nyaris tak terdengar.
Ada kehadiran yang bangkit malam ini, sesuatu yang tidak seharusnya kembali.
Sementara itu, di sebuah rumah tua di tepi desa, pasangan suami istri yang telah menyerahkan putrinya sebagai tumbal kini tengah duduk dalam kegelisahan.
Seharusnya mereka merasakan kemenangan, karena dengan pengorbanan ini, mereka percaya keberuntungan akan berpihak kepada mereka.
Namun, justru perasaan tak nyaman menyelimuti hati mereka.
"Kamu yakin semua sudah beres?" tanya sang istri, suaranya bergetar.
Sang suami hanya mengangguk, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia sudah mati. Kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan," jawabnya mantap.
Namun, saat ia hendak melanjutkan ucapannya, terdengar suara ketukan di pintu.
Tuk tuk tuk
Suara itu lirih, hampir seperti tiupan angin. Namun, di tengah kesunyian malam, suara itu terdengar begitu menusuk.

Mommy Abi
5 Pengikut · 1 Novel