Hujan turun deras di atas Hutan Arvendel, membuat pepohonan tua bergoyang seolah sedang berbisik tentang sesuatu yang tidak ingin diketahui manusia. Kabut tebal menyelimuti jalan setapak yang bahkan para pemburu berpengalaman pun enggan melewatinya.
Di tengah hutan itu, seorang pemuda berjalan sendirian dengan langkah hati-hati. Jubah lusuhnya basah terkena air hujan, sementara pedang pendek yang tergantung di pinggangnya berulang kali tersentuh tangannya.
Namanya Riki.
Seorang pengembara yang tidak mengingat masa lalunya.
"Tempat ini semakin aneh," gumam Riki sambil menatap pepohonan tinggi di sekelilingnya.
Ia berhenti ketika melihat tanda ukiran di batang pohon besar. Simbol berbentuk lingkaran dengan garis menyerupai sayap.
Riki mendekat.
"Aku pernah melihat lambang ini," bisiknya. Namun, pikirannya kosong.
Setiap kali ia mencoba mengingat sesuatu dari masa lalu, yang muncul hanya suara samar seseorang.
"Jangan biarkan mereka menemukan Rumah Cokelat."
Riki menggelengkan kepala.
"Siapa yang mengatakan itu?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan.
Ia melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah pondok tua yang hampir tertutup tanaman liar. Pintu kayunya terbuka sedikit, bergerak perlahan tertiup angin.
Riki mengangkat pedangnya.
"Jika ada seseorang di dalam, tunjukkan diri."
Tidak ada suara.
Dengan perlahan ia masuk.
Bagian dalam pondok itu penuh debu, tetapi anehnya terdapat satu meja yang terlihat masih baru. Di atas meja tersebut ada sebuah kotak kayu kecil dengan lambang yang sama seperti ukiran pohon tadi.
Riki mendekati kotak itu.
"Ini terlalu mudah."
Ia menyentuh kotak tersebut.
Klik.
Sebuah mekanisme terdengar.
Dinding pondok tiba-tiba bergetar.
Riki mundur satu langkah.
"Apa yang terjadi?"
Lantai di bawahnya terbuka dan memperlihatkan ruang rahasia.
Sebuah tangga batu turun menuju kegelapan.
Riki menatap ke bawah.
"Jelas sekali ini jebakan."
Ia diam beberapa saat.
"Kalau aku pergi sekarang, aku tidak akan pernah tahu jawabannya."
Dengan tekad kuat, Riki turun.
Di bawah pondok terdapat ruangan kecil penuh gulungan tua dan buku yang telah menguning. Di tengah ruangan berdiri patung seorang prajurit kuno yang memegang sesuatu berbentuk kristal.
Riki mengambil sebuah buku di meja.
Sampulnya bertuliskan: ‘Catatan Penjaga Rumah Cokelat.’
Jantung Riki berdetak lebih cepat.
"Rumah Cokelat."
Nama itu terdengar asing, tetapi entah mengapa terasa dekat.
Ia membuka halaman pertama.
"Jika seseorang menemukan catatan ini, berarti Rumah Cokelat telah kembali memanggil seseorang. Jangan percaya kepada siapa pun. Bahkan kepada mereka yang datang membawa bantuan."
Riki mengernyitkan dahi.
"Pesan macam apa ini?"
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari atas.
Riki menutup buku.
Seseorang memasuki pondok.
"Keluar sekarang!" teriak suara perempuan.
Riki mengangkat pedangnya.
"Aku bisa mengatakan hal yang sama."
Sesosok perempuan turun melalui tangga rahasia. Rambut hitamnya basah karena hujan, dan busur panah berada di tangannya.
"Aku tidak punya waktu untuk bertarung," katanya.
"Sayangnya aku tidak mengenalmu."
Perempuan itu menghela napas.
"Namaku Luna. Aku mencari tempat ini selama tiga tahun."
Riki tetap waspada.
"Kenapa aku harus percaya?"
Luna menatap simbol di dinding.
"Karena kau juga melihat lambang itu, bukan?"
Riki diam.
Luna berjalan mendekat.
"Kau tahu apa arti Rumah Cokelat?"
"Tidak."
"Rumah itu bukan rumah biasa. Tempat itu adalah benteng terakhir dari perang kuno. Banyak kerajaan jatuh karena mencoba mengambil rahasia di dalamnya."
Riki melihat buku di tangannya.
"Kalau begitu, kenapa kau mencarinya?"
Luna terdiam.
"Ada seseorang yang harus aku temukan di sana."
"Siapa?"
Luna menatapnya tajam.
"Itu bukan urusanmu."
Riki tersenyum kecil.
"Kalau begitu, jangan bertanya tentang urusanku juga."
Untuk pertama kalinya Luna terlihat sedikit kesal.
"Kau selalu berbicara seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seperti seseorang yang tidak takut mati."
Riki menatap kosong ke arah lantai.
"Aku bahkan tidak tahu siapa diriku. Mungkin takut mati lebih mudah daripada takut tidak tahu alasan hidup."
Luna terdiam.
Sebelum ia menjawab, suara teriakan terdengar dari luar.
"Temukan mereka! Jangan biarkan mereka kabur!"
Wajah Luna berubah.
"Mereka sudah menemukan kita."
"Siapa?"
"Pasukan Kerajaan Vareth."
Riki mengambil pedangnya.
"Kenapa mereka mengejar kita?"
Luna menarik busurnya.
"Karena mereka percaya siapa pun yang menemukan petunjuk Rumah Cokelat akan menemukan kekuatan terbesar di dunia."
Pintu pondok hancur.
Beberapa prajurit masuk dengan baju zirah hitam.
"Serahkan buku itu!" teriak pemimpin pasukan.
Riki berdiri di depan Luna.
"Aku baru menemukannya. Tidak ada alasan menyerahkannya."
Prajurit itu tertawa.
"Kau tidak tahu apa yang kau pegang."
"Kalau begitu jelaskan."
"Itu adalah kunci menuju kehancuran dunia."
Ruangan menjadi sunyi.
Riki menatap buku di tangannya.
"Kunci?"
Luna berbisik.
"Jangan dengarkan dia."
"Kenapa?"
"Karena pasukan Vareth bukan mencari cara menyelamatkan dunia."
Mata Luna menyipit.
"Mereka mencari cara menguasainya."
Pertarungan pun dimulai.
Riki bergerak cepat menghindari serangan pedang prajurit pertama. Ia belum ahli menggunakan pedang, tetapi tubuhnya bergerak seperti seseorang yang pernah berlatih bertahun-tahun.
"GeRikinmu." Luna terkejut.
"Apa?"
"Kau bilang tidak ingat masa lalumu?"
Riki menahan serangan lawan.
"Aku memang tidak ingat."
"Lalu kenapa kau bertarung seperti prajurit?"
Riki sendiri tidak tahu jawabannya.
Dalam hati ia bertanya:
"Siapa sebenarnya aku?"
Luna melepaskan panah yang menjatuhkan dua prajurit sekaligus.
"Kita harus pergi!"
Riki mengambil buku itu.
Mereka berlari keluar dari pondok menuju hutan gelap. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, Riki melihat sesuatu di balik pohon.
Seseorang berdiri mengawasi mereka.
Seorang pria berjubah cokelat dengan mata penuh rahasia.
Pria itu tersenyum.
"Jadi akhirnya pewaris Rumah Cokelat kembali."
Riki berhenti.
"Pewaris?"
Ketika ia berkedip, pria itu sudah menghilang.
Hanya tersisa satu kalimat yang tertulis di batang pohon.
"Datanglah ke Rumah Cokelat, Riki. Jawaban tentang dirimu menunggumu di sana."
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Riki merasa masa lalunya mulai mengejarnya, dan perjalanan menuju Rumah Cokelat pun dimulai.