"Bagaimana ujianmu? Apa kamu bisa masuk SMA terbaik? Di sana banyak bangsawan, siswa berprestasi, dan anak orang kaya juga. Kamu harus menjalin relasi dengan mereka," ucap seorang wanita duduk di sofa berwarna kuning keemasan.
"Baik, Mami."
Seorang gadis sedang membuka laptop, mencari daftar nama, tetapi di balik itu semua. Ada keyakinan kalau ia akan diterima karena semua soal ujian sudah dijawab dengan mudah. Benar saja, namanya ada dalam daftar dengan nilai tertinggi. Nilai sempurna tanpa adanya kecurangan, senyuman tipis terukir di wajah gadis cantik itu. Laptop itu diarahkan ke ibunya, senyuman bahagia terlihat.
"Bagus, Aleksandra. Kamu tidak pernah mengecewakan Mami," puji Victoria Elodie mengelus rambut putrinya dengan manis.
Aleksandra Elodie Azalea bukan sekadar nama biasa, di balik nama panjangnya ada tuntutan besar yang harus dipenuhi. Sebagai satu-satunya pewaris dari dua keluarga terkaya, gadis itu dipaksa dewasa oleh keadaan, dipaksa patuh tanpa harus mengeluarkan suara. Uang, harta, dan kekuasaan tak perlu diragukan.
Semua seolah menyatu dalam penampilannya, tetapi Aleksandra juga manusia biasa. Gadis itu lelah berpura-pura seperti, ratu drama.
"Mami, Papi di mana?" tanya Isabella, suaranya terdengar lembut.
"Tentu saja, mengurus perusahaannya atau bermain-main dengan selingkuhan," jawab Victoria Elodie, nadanya datar. Tak ada rasa sakit atau cemburu karena ia tak peduli dengan urusan suaminya. Selama hal itu tidak diketahui oleh publik, Victoria akan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Begitulah pernikahan tanpa cinta seperti, rumah tanpa pilarnya. Belasan tahun, Victoria Elodie mengetahui suaminya gemar selingkuh dengan wanita lain. Ia memilih tutup mata dan bungkam demi mempertahankan posisi sebagai istri.
"Papi selingkuh lagi? Kenapa Mami tidak menceraikannya?" kesal Aleksandra dengan wajah serius, tangannya menutup laptop dengan cepat.
"Aleksandra! Jadilah wanita yang tidak hanya bertindak memakai perasaan, gunakan logikamu juga. Ayahmu adalah raja bisnis, wanita pintar tidak akan meninggalkannya," tegas Victoria, tubuhnya beranjak dari sofa kemudian pergi meninggalkan Aleksandra sendirian. Saat hendak membuka pintu, putrinya kembali bertanya.
"Bukankah aku ada karena cinta kalian? Mami, apa Papi bisa berubah?"
"Entahlah, oh iya. Minggu depan, Mami akan mendaftarkanmu untuk les piano."
"Apa? Jadwalku semakin padat!"
"Diam! Mami hanya mau kamu menjadi wanita hebat, wanita sempurna. Jangan seperti Mami yang bergantung pada laki-laki!" bentak Victoria Elodie menunjuk dada Aleksandra, suasana menjadi tegang. Bukan karena sebuah bentakan atau nada yang meninggi, tetapi ini pertama kalinya ibunya memarahi Aleksandra.
Perlahan emosi Victoria mulai stabil, ia meminta maaf kepada putrinya dan keluar sembari membanting pintu.
Aleksandra terdiam, kepalanya menunduk mendengar ucapan ibunya. Ia meyakini, setiap perempuan selalu memiliki titik terlemahnya sendiri. Ada kalanya, wanita membutuhkan laki-laki.
Gadis itu beranjak keluar dari ruang belajar, semua pelayan menundukkan kepala ketika Aleksandra melewati mereka semua. Pikirannya masih bertanya-tanya, 'apakah dunia hanya tentang uang dan harta? Jika uang membawa kebahagiaan. Lantas, apa itu kebahagiaan?'
Dalam lamunan, Aleksandra pernah bermimpi untuk bebas dari segala tekanan dan aturan di rumah ini. Namun, sampai sekarang mimpi itu tak bisa diwujudkan. Seorang pria datang, bukan ayahnya atau keluarganya. Melainkan, guru les yang dipanggil untuk mengajari Aleksandra. Gadis itu pun menghela napas panjang, pergi belajar dengan segudang pertanyaan yang masih terperangkap dalam bayang-bayang.
Jadwal terlalu padat, bahkan hampir tak ada waktu untuk dirinya sendiri. Banyak piala terpajang di ruang belajarnya, deretan sertifikat penghargaan nyaris tak terhitung jumlahnya. Semua bakat dan lomba selalu mendapatkan juara, tapi entah mengapa ia tidak bahagia.
"Nona, apa Anda mengerti macam-macam hakikat ilmu kimia?" tanya pria itu sembari menunjuk papan tulis. Meskipun tahu jawabannya, Aleksandra tetap diam. Rasa malas dan bosan benar-benar menguasai dirinya, setidaknya hanya untuk hari ini.
"Nona? Oh, saya tahu! Pasti Anda sedang kesal pada ayah Anda karena beliau sudah lima hari tidak pulang," duga pria itu, wajahnya tersenyum ramah.
"Pak, boleh saya bertanya di luar pelajaran ini?"
"Boleh."
"Menurut bapak, apa itu rumah?"
"Hah? Rumah itu bangunan beratap, tempat berteduh dan pulang. Ya seperti rumah ini, megah seperti—" belum selesai bicara, Aleksandra langsung memotongnya.
"Tidak! Bukan rumah ini, maksudku rumah yang lain. Bagaimana aku bisa menjelaskannya, ya?"
Guru itu tersenyum memahami maksud Aleksandra, ia pun duduk di sofa berhadapan dengan gadis yang diajarinya. "Nona, rumah itu seperti keluarga yang lengkap, yang selalu ada saat dunia meninggalkan Anda."
"Jika ayahku melakukan sesuatu yang melanggar janji pernikahan? Apa itu masih layak disebut rumah?" cecarnya mengingat ayahnya yang suka selingkuh, bahkan sering tidak pulang.
Guru itu tak menjawab, kepalanya menunduk seakan ada jawaban menyakitkan, tapi enggan melontarkan pendapat. Hal itu memicu rasa penasaran dalam diri gadis itu, untuk kedua kalinya Aleksandra kembali bertanya, suaranya lebih keras dari sebelumya. Gurunya pun terkejut, akhirnya menjawab.
"Berarti dia hanya gagal menjadi suami yang baik, asal Anda tahu di dunia ini tidak ada yang benar-benar sempurna. Eits! Kecuali, nilai seratus. Soalnya mentoknya hanya segitu hahaha," canda pria itu diikuti Aleksandra, mereka berdua belajar diselingi candaan.
Beberapa jam kemudian, guru itu pamit pulang. Seorang pelayan memanggilnya, ia diminta pergi ke ruang pribadi Victoria Elodie. Aleksandra mengira panggilan itu untuk membahas pembayaran atau gaji dari guru tersebut. Jadi, gadis itu tak memikirkan hal negatif atau memiliki kecurigaan kepada ibunya.
Setelah pria itu melewati lorong, pelayan yang mengajak guru tersebut berhenti di sebuah ruangan. Pintu diketuk, terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.
Ceklek!
Sebuah ruangan luas dengan dekorasi mewah, warna putih mendominasi seisi ruangan, ada meja berbentuk persegi panjang, dan lampu kristal indah berukuran besar.
"Aleksandra berhasil mendapatkan nilai sempurna, terima kasih sudah mengajarinya. Celis," ucap Victoria Elodie berdiri di dekat jendela, pandangannya tertuju di taman belakang rumah.
"Ya, itu tanggung jawabku. Tenang saja, aku akan menjaganya di sekolah. Aku janji tidak akan terjadi sesuatu padanya."
Suara ketukan pintu menghentikan ucapan pria itu, mereka berdua segera duduk di sofa. Berprilaku seolah tak terjadi apa-apa, gaya bicara pun terdengar formal.
"Masuk!"
"Mami, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Aleksandra menundukkan kepala.
Celis Alfred, guru les Aleksandra meminta izin untuk pamit. Victoria Elodie tersenyum manis, sorot matanya terlihat berbeda dan di saat yang sama pula Aleksandra menangkap sesuatu dari tatapan aneh itu.
Victoria dan Celis saling berjabat tangan kemudian pria itu pergi. Tak lupa pintu pun ditutupnya, suasana menjadi hening, gadis itu duduk di sofa.
"Mami, kenapa mendaftarkan aku les tari? Ini harus setiap hari?" tanya Aleksandra, nada suaranya terdengar keberatan.
"Kita berasal dari Keluarga Elodie, semua generasi ahli dalam hal menari. Jika kau tidak bisa menguasainya, lantas mau ditaruh di mana muka Mami di hadapan keluarga lain?" debat Victoria membuat anaknya terdiam.