Misha Safwana, namanya memang secantik orangnya. Rambutnya panjang dan hitam legam, dia begitu cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Orang-orang yang baru pertama kali melihatnya pasti akan berdecak kagum dengan kecantikannya yang begitu natural.
Meskipun begitu banyak orang yang sebenarnya merasa kasihan dengan gadis itu karena hidupnya tidak seindah lekuk wajahnya yang nyaris sempurna.
Desiran angin yang menerpa lembut ke wajahnya membuat Misha sesekali memejamkan mata dan mengulas senyum. Sementara kedua kakinya dengan tenang mengayuh sepeda jengki berwarna biru peninggalan neneknya yang telah meninggal beberapa Minggu yang lalu.
Lalu lalang kendaraan yang berulang kali menyalipnya, membuat Misha merasa oleng karena tenaganya sudah terkuras setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari sekolah. Sepeda yang dia kendarai sejak SMP itu juga sudah tua sehingga terkadang keseimbangannya tidak terjaga.
Bahkan seharusnya sudah tidak layak untuk dipakai lagi. Namun, Misha tetap bersyukur karena setidaknya dengan sepeda itu dia bisa berangkat sekolah dan menuntut ilmu.
Tidak masalah jika saat ini dia harus merasakan susah, karena Misha yakin, suatu saat nanti kesuksesan pasti akan menjemputnya. Dia berjanji akan meraih kebahagian yang selama ini dia impikan.
Kayuhan kaki jenjangnya telah berhenti ketika Misha sampai di depan sebuah rumah bergaya klasik zaman dahulu. Misha kemudian berjalan ke teras dan memarkirkan sepedanya di sana. Misha tidak perlu khawatir jika ada maling
Karena hal itu tidak mungkin terjadi di rumahnya. Sudah jelas karena barang-barang tidak berharga yang bisa dijual di dalamnya.
Prang! Suara pecahan kaca tiba-tiba masuk ke indra pendengaran Misha. Seolah memekakkan, embusan napas panjang hanya menjadi respon Misha karena sudah terbiasa. Tidak hanya satu kali, Misha sudah berulang kali mendapati sambutan seperti ini.
“Lagi dan lagi, suara menyebalkan ini rasanya sudah menjadi musik sehari-hari,” gumam Misha yang disusul dengan tawa kecil yang terdengar miris setelahnya.
Misha sesaat melihat ke sebuah motor matic yang terparkir di depan rumahnya. Dia tidak perlu menebak, karena Misha sudah tahu motor itu pasti milik ayahnya. Ah, ralat. Misha tidak bisa menyebut ‘ayah’ karena pria itu tidak menganggapnya seorang anak.
“Jika bukan karena dia, mungkin aku tidak perlu merasakan kejamnya dunia ini,” kata Misha lagi. Kali ini dengan helaan napas pelan yang menandakan betapa bencinya dia kepada pria si pemilik motor itu.
Misha mengangkat tangannya untuk menarik gagang pintu. Setelah terbuka, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Misha mengabaikan dua orang lawan jenis yang kini tengah beradu mulut di ruang tamu. Langkah Misha terus berjalan tenang meskipun dadanya terasa sesak dan hatinya tercabik-cabik.
“Masih sekolah juga, ya, kamu? Kenapa tidak kerja saja, sih? Sekolah itu hanya buang-buang uang! Tidak ada gunanya!”
Kendati sudah ingin segera masuk ke kamar dan mengurung diri, tapi suara bentakan dari seorang pria terpaksa menghentikan langkah Misha. Matanya terpejam sesaat untuk menahan emosi dan tangis, Misha kemudian membalikkan badan untuk melihat pria yang dia benci itu.
“Siapa? Siapa kamu yang dengan mudahnya mengatakan hal itu? Aku bahkan tidak peduli dengan berapa pun uang yang aku habiskan asal aku bisa menjadi orang yang berilmu,” balas Misha, tanpa ragu dan gugup sedikit pun.
Pria bernama Wahyu Nugroho itu menaikkan sebelah alisnya, mendecih, kemudian menunjuk. Nunjuk ke wajah Misha. “Hei? Lancang sekali kamu berbicara seperti itu. Kamu pikir aku bodoh, hah?”
“Lihat, bahkan kamu sendiri yang mengatakannya,” kekeh Misha dengan nada mengejek dan puas.
Wahyu seketika membelalakkan mata. Dia murka, napasnya reflek memburu dan buku-buku di punggung tangannya menjadi kentara. Pria dengan penuh emosi itu lalu mengambil sebuah vas kecil di atas meja dan melemparnya tepat ke depan kaki Misha.
“Kurang ajar! Aku tidak habis pikir kenapa ibumu mau melahirkanmu ke dunia ini! Dasar tidak berguna! Hanya bisa menambah beban hidupku saja!” hardik Wahyu.
Seorang wanita di depannya itu spontan mengumpat karena perkataan Wahyu yang seolah menyudutkan dirinya. “Kamu pikir aku tidak menyesal setelah melahirkan dia, hah?! Jika bukan karena ibu, aku juga tidak sudi mempertahankan dia waktu itu! Tidak ada yang menginginkan dia untuk hidup di dunia ini!”
Pertengkaran kemudian dimulai lagi. Misha menatap kosong ke beberapa pecahan keramik di bawahnya. Benar-benar hancur berkeping-keping rasanya sungguh sakit, air matanya mengalir begitu saja ketika Misha sudah tidak dianggap berharga lagi di mata kedua orang tuanya.
“Kenapa harus aku yang merasakan sakit ini? Kenapa bukan orang lain saja yang jauh lebih kuat? Aku lemah, aku hanya bisa menangis.”
Isakan kecilnya mulai terdengar. Misha masih berdiri mematung dengan menundukkan kepala. Rasa sakitnya tidak hanya di fisik, tapi juga hatinya yang sudah terluka hebat.
Seharusnya takdir tidak sekejam terhadapnya. Seharusnya Tuhan tahu jika Misha bukan gadis kuat yang bisa menahan semuanya.
Seharusnya semesta juga membantunya dengan tidak mengambil nenek yang sejak kecil merawatnya. Namun, seharusnya Misha juga mengerti mengapa Tuhan memberikan takdir yang sekejam ini ke dunianya.
Seharusnya Misha menjadi gadis yang kuat seperti didikan neneknya. Seharusnya pula, Misha bisa bertahan karena dia yakin kebahagiaan kelak akan dia dapatkan.
“Apa benar, aku bisa bahagia suatu hari nanti? Bagaimana dengan rumah yang seharusnya menjadi tempat berpulang? Seperti apa pula, kepingan dalam hidupku yang telah lama hilang?” lirih Misha, membiarkan bulir-bulir air dari kelopak matanya itu jatuh dengan sendirinya. Tidak peduli seberapa dia terlihat lemah di depan mereka.
Plak! Dan yang kali ini, yang terakhir kali sebelum suara derap langkah kaki berlalu pergi dan menutup pintu dengan keras, suara tamparan yang terdengar menyakitkan itu menyeruak masuk ke telinga Misha. Detik berikutnya, tergantikan oleh teriakan nyaring yang keluar dari mulut ibunya.
“Pria gila! Sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
Dia Dinda Kirana, seorang wanita yang katanya terpaksa melahirkan Misha. Umurnya masih terbilang muda, begitu pula dengan tingkahnya yang belum bisa dewasa. Setidaknya hal itulah yang membuat Misha tidak sanggup memanggilnya seorang ibu, alih-alih membencinya.
Wanita kasar yang bernama Dinda itu berjalan ke depan Misha, dengan raut yang masih marah, dia mendorong dahi anaknya tanpa permisi.
“Cepat bersihkan lantainya! Jangan jadi gadis pemalas!”
Setelah itu, langkah kaki yang terbungkus sepatu high heels itu berjalan pergi meninggalkan Misha.
Di ruang tamu, kini Misha menjadi seorang diri dengan keheningan yang menyelimuti. Misha kemudian mengusap air matanya pelan dan mendongakkan kepalanya dengan perlahan
“Jika rumah bukan lagi tempat ternyaman, lalu ke mana aku harus pulang?” lirih Misha sendu. Rasa sesak menyeruak ke dadanya seperti ditusuk beberapa jarum tajam.