“AAAAA.”
Orang-orang berlarian dari suatu tempat ke tempat lain. Jeritan demi jeritan terdengar di seluruh sudut kota. Ada yang menangis, ada terdiam, dan ada pula yang berdoa demi keselamatan. Namun, semua itu tak akan mampu membuat mereka selamat dari serangan makhluk mengerikan.
Darah.
Gigitan.
Teriakan keras dan menggema.
Semuanya kacau balau. Seluruh kota lumpuh. Listrik padam. Jalanan padat dengan mobil-mobil dan manusia. Bukan hanya itu saja, ada segerombolan makhluk pengejar yang membuat siapa pun menjerit ketakutan dan melarikan diri darinya.
Salah satu dari mereka meraih seorang wanita muda. Menarik tubuhnya dengan kasar, lalu membenamkan wajahnya di leher. Wanita tersebut berteriak keras. Teriakan itu justru mengundang makhluk yang lain untuk berdatangan. Kini dia dikerumuni oleh mereka, tubuhnya dicengkeram dan ditarik dari segala arah.
Lama kelamaan suara teriakan dari wanita itu melemah. Dia tidak sadarkan diri. Para makhluk tersebut pun menjauhinya.
Beberapa saat kemudian, dia membuka mata. Seketika tubuhnya bergerak tak wajar. Napasnya berat. Wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya—terdapat urat-urat timbul di sana dengan mata kemerahan.
Wanita itu telah berubah. Dia berteriak seraya berlari ke sembarang arah, lalu menangkap seseorang dan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi kepadanya sebelumnya.
Hal tersebut terus menerus dilakukan dari satu orang ke orang lain, yang berhasil diubah oleh para makhluk itu.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan ....
Zombie.
***
Kedai kopi di sudut jalan itu tampak ramai. Pengunjung datang silih berganti, menikmati beragam menu kopi. Beberapa dari mereka mengobrol, sebagian melamun, ada pula yang tengah memainkan gadget atau tenggelam dalam bacaan. Pemandangan ini tampak biasa bagi seorang barista yang setiap harinya meracik kopi untuk pengunjung.
Seorang wanita berambut merah jahe masuk ke dalam kedai. Di saat yang sama, suara bel di atas pintu terdengar menggema ke seluruh ruangan. Beberapa pasang mata melihat sejenak ke arahnya.
Wanita tersebut duduk di kursi kosong dekat jendela. Dia melihat menu yang ada di atas meja. Tak lama, pelayan kedai menanyakan apa yang ingin dipesannya.
“Caramel Macchiato satu,” katanya. Pelayan itu pun berlalu begitu saja, memberi tahu barista apa yang dipesan pengunjung tersebut.
Dengan cekatan, barista membuatkan Caramel Macchiato. Tangannya bergerak cepat, seolah semua sudah terekam di luar kepala. Sesekali matanya melirik wanita itu.
Tak butuh waktu lama, kopi sudah selesai dibuat. Tanpa menunggu pelayan mengambilnya, dia mengantarkan langsung cangkir kopi itu ke meja wanita tadi.
Dia meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.
“Tidak biasanya kamu datang lebih awal, Revi Athea,” ucap sang barista.
Revi mendongak. Bibirnya membentuk senyum manis. “Aku kangen kamu, Zevan Virlian. Makanya, aku datang jam segini.”
Zevan terkekeh pelan mendengar ucapan Revi. Dia pun duduk di depan wanita itu. Dia berkata, “Aku juga, apalagi seminggu penuh ini kamu jarang datang ke kedai. Ada masalah?”
Revi mengangguk seraya mengambil cangkir kopi itu. “Editor memintaku untuk merevisi ulang naskah yang aku kirim minggu lalu, katanya ada beberapa hal yang kurang untuk diterbitkan. Ditambah dia hanya memberiku waktu lima hari. Mau tidak mau, aku harus fokus dengan pekerjaanku.”
“Pantas saja,” balas Zevan, dia tampak kecewa, tapi tak mau menunjukkannya di depan Revi.
Wanita tersebut mengangguk, dia menyesap kopi pesanannya. “Dan bagusnya, setelah kemarin aku kirim naskah itu, editor langsung setuju. Sekarang aku hanya perlu menunggu kabar selanjutnya dari dia.”
“Syukurlah. Sekarang kamu bisa santai, Revi. Nikmati kopimu dan jangan terburu-buru,” balasnya.
“Tentu saja, apalagi kopi buatanmu enak sekali.”
Mendengar pujian itu membuat Zevan tersenyum. Dia memperhatikan wanita di depannya itu yang tampak menikmati kopi buatannya.
“Oh iya, Zevan,” kata Revi. Wanita itu menaruh cangkir kopi di atas meja. “Kamu sudah menemukan jenis kopi yang kamu inginkan itu?”
Zevan mendengkus. Pria itu menyandar seraya melipatkan kedua tangan di dada. “Menurut informasi yang kudapatkan, katanya ada toko yang menjual banyak jenis kopi langka, sayangnya di luar Amsterdam.”
“Lalu kenapa kamu tidak mencarinya ke sana?”
“Belum ada waktu. Ditambah aku perlu uang banyak untuk perjalanan ke sana. Kamu tahu sendiri, uangku mulai menipis.”
“Kamu benar. Hidup di sini tidak semurah yang kita kira.”
Pria itu mengangguk menyetujui. “Tapi, aku tidak menyesal pindah ke sini. Karena di sini kita akan memulai hidup baru dan melupakan masa lalu kita.”
Senyum Revi langsung menghilang mendengar ucapan Zevan. Dia bertanya, “Kamu ... masih ingat, ya?”
“Tentu saja. Aku masih tidak terima dikhianati temanku sendiri. Ditambah dia pembohong besar. Aku tidak akan melupakan apa yang sudah dilakukannya kepada mantanku.”
Mendengar balasan Zevan membuat Revi teringat kembali dengan kejadian kala itu. Dia masih ingat betul bagaimana sebuah kebenaran menghantamnya. Hal ini menyakitkan meski kejadiannya sudah berlalu.
Melihat Revi hanya diam saja dan melamun, Zevan pun meminta wanita tersebut untuk tidak membahasnya lebih lanjut. Dia memperingati agar mereka tidak perlu mengingat-ingat masa lalu. Revi hanya mengangguk menyetujui.
Setelah itu, Zevan kembali membuat kopi untuk pengunjung, sedangkan Revi menikmati Caramel Macchiato-nya seraya melihat ke arah televisi yang menayangkan sebuah berita. Terlihat di sana seorang reporter memberitakan tentang kekacauan yang ada di salah satu pangkalan militer. Tampak video amatir ditayangkan.
Di dalam video itu, terlihat darah berceceran di tanah. Si perekam tampak berbicara cepat seraya berlari ke sana kemari.
“Pasti sesama militer saling bertengkar,” komentar seorang pria yang duduk tak jauh dari meja Revi.
“Ya, orang-orang seperti itu mudah terbawa emosi,” balas teman yang ada di depannya.
Revi melirik ke arah mereka. Dua pria itu saling membicarakan berita yang ditayangkan. Menduga-duga kalau sesama anggota militer berkelahi hebat sampai berdarah. Entah apa yang sebenarnya terjadi, kelihatannya kekacauan di sana cukup serius.
“Lokasinya dekat, ya?”
Revi menoleh saat Zevan kembali menghampiri dan duduk di depannya.
“Oh ya? Aku tidak tahu kalau ada pangkalan militer di sekitar sini.”
“Ya. Aku pernah melewatinya saat mencari kopi beberapa hari lalu. Sayangnya, aku tak bisa melihatnya langsung karena kawasan itu sangat tertutup.”
“Tentu saja. Mereka melarang warga sipil untuk melihat kegiatan mereka.”
Zevan mengangguk membenarkan. Dia dan Revi kembali melihat ke arah televisi. Rekaman itu diputar ulang, menampilkan bagaimana kekacauan terjadi di sana. Meski sekilas, hal ini membuat Revi keheranan. Keningnya tampak mengerut.
Ada yang aneh, pikirnya.
Dia memberi tahu Zevan tentang obrolan pengunjung di meja sebelah. Namun, pendapat Revi berbeda dari mereka. Dia mengira kalau bukan itu yang terjadi, tapi sesuatu yang lain dan berbeda. Revi menjelaskan bagaimana keanehan terjadi pada video yang ditayangkan.
Suara si perekam terdengar memburu dan orang itu berlari ke sana kemari, seperti sedang menghindari sesuatu. Jika memang terjadi perkelahian, seharusnya yang direkam adegan berkelahinya atau setidaknya ada orang yang mengerumuni suatu tempat untuk melihat siapa saja yang sedang bertengkar. Namun, yang terlihat di video tersebut, si perekam tidak berhenti di satu tempat, melainkan berlari seraya berteriak kencang.
“Bisa jadi dia ketakutan karena khawatir dipukul, kan? Apalagi kelihatannya sudah kacau sekali. Ada kemungkinan mereka saling serang dan mengenai yang lain,” balas Zevan.
Apa yang disampaikan Zevan juga ada benarnya. Perkelahian mungkin menyebar sampai memukul orang-orang sekitar sana. Maka dari itu, si perekam berlarian untuk menghindari konflik yang terjadi.
“Mungkin saja.” Revi kembali menyeruput kopinya. “Tapi, masih banyak kemungkinan. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bukan?”
Zevan mengangguk. “Kau benar.”
Baru saja Revi hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja terdengar suara deru beberapa mobil di luar sana. Terlihat di jalanan yang ada di depan kedai, banyak kendaraan lapis baja melewati tempat ini.
“Kelihatannya benar-benar serius di sana,” komentar Zevan.
Revi mengangguk. “Kalau cuma perkelahian ...,” katanya tertahan.
Wanita itu beralih menatap pria itu. Dia melanjutkan, “Mereka tidak akan meninggalkan pangkalan militer dengan pasukan sebanyak itu.”
Bersambung.