"Cukup tidak cukup, ya harus cukup. Makanya jadi istri itu jangan cuma bisa bersolek dan menghabiskan uang suami. Putar otakmu."
Suara bariton milik Prasetyo memecah keheningan ruang makan yang remang-remang pagi itu. Pria bertubuh tegap dengan kemeja necis yang sudah disetrika rapi tersebut meletakkan selembar uang berwarna hijau di atas meja kayu. Lembaran kertas itu tampak kontras di atas permukaan meja yang mulai mengelupas permukaannya.
Hana menatap nanar benda tipis di hadapannya. Jemarinya yang agak kasar karena terlalu sering bersentuhan dengan sabun cuci piring bergetar kecil. Di atas lembaran uang dua puluh ribu rupiah itu, terdapat secarik kertas kecil berisi tulisan tangan Pras yang rapi, tapi terasa bagai mata pisau bagi Hana.
Daftar Belanja.
1. Beras 1 kg (kualitas bagus, jangan yang banyak kutunya)
2. Ayam potong 1/2 kg
3. Sayur sup lengkap (wortel, kentang, buncis, daun bawang)
4. Minyak goreng 1/2 liter
5. Bumbu dapur dan cabai
Catatan. Kembaliannya disimpan untuk tabungan masa depan.
Hana menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan gemuruh di dadanya agar tidak meledak menjadi tangisan yang akan dianggap Pras sebagai drama perempuan lemah. Ia mendongak, menatap mata suaminya yang sedang membenarkan letak jam tangan bermerek di pergelangan tangannya.
“Mas Pras, uang dua puluh ribu ini jangankan untuk beli ayam setengah kilo dan beras sekilo yang bagus, untuk beli minyak goreng dan sayur sup saja sudah habis di pasar sekarang,” kata Hana, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang dan berwibawa, sesuai dengan kaidah bahasa yang baik, bukan sekadar rengekan.
Pras mendengkus remeh. Ia merapikan kerah kemejanya di depan cermin kecil dekat pintu masuk, lalu berbalik menatap Hana dengan pandangan merendahkan yang sudah menjadi menu harian Hana selama dua tahun pernikahan mereka.
"Itu karena kamu tidak becus mengurus rumah tangga, Hana," cetus Pras dengan nada dingin tanpa beban.
"Ibuku dulu, dengan uang segitu, bisa memberi makan satu keluarga besar. Kamu saja yang manja, terlalu banyak mengeluh, dan tidak bisa mengatur keuangan. Zaman sekarang itu yang penting pintar menawar di pasar. Kamu punya mulut, kan? Gunakan untuk menawar, bukan untuk membantah suamimu."
"Mas, ini tahun dua ribu dua puluh enam. Harga barang pokok sudah naik berkali-kali lipat sejak zaman Ibu dulu," sanggah Hana lagi, dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak menguap.
"Sudah, aku tidak mau dengar alasan apa pun," potong Pras tegas sembari meraih tas kerja kulitnya.
“Tugas suami itu mencari nafkah, dan aku sudah menunaikan tugasku. Tugas istri adalah mengelola apa yang diberikan suami dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai nanti sore saat aku pulang kerja, aku melihat meja makan ini kosong atau lauknya tidak sesuai dengan permintaanku. Ingat, Hana, di luar sana banyak perempuan yang mengemis ingin berada di posisimu, menjadi istri seorang kepala seksi di perusahaan multinasional."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Hana, Pras melangkah lebar keluar dari rumah kontrakan sederhana mereka. Suara deru mobil barunya yang harganya ratusan juta rupiah terdengar menderu di halaman depan, lalu perlahan menjauh meninggalkan keheningan yang mencekam bagi Hana.
Hana terduduk lemas di kursi makan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh satu demi satu, membasahi pipinya yang polos tanpa riasan. Ia mengambil selembar uang dua puluh ribu rupiah itu dengan tangan yang gemetar hebat. Rasanya seperti sebuah penghinaan yang teramat sangat.
Bagaimana mungkin seorang pria yang setiap hari berpenampilan parlente, mengendarai mobil mewah, dan selalu memamerkan kesuksesannya di hadapan rekan kerja, tega memberikan uang nafkah harian yang bahkan tidak cukup untuk membeli segelas kopi kekinian di mal?
***
Selama ini, Hana selalu mencoba bersabar. Ia memotong semua kebutuhan pribadinya. Ia tidak pernah lagi membeli pakaian baru, tidak pernah membeli kosmetik, bahkan untuk sekadar membeli pembalut wanita pun ia harus memutar otak dan menyisihkan uang dari sisa-sisa kembalian yang sangat jarang ada.
Setiap kali Hana mencoba membicarakan masalah inflasi dan harga kebutuhan pokok yang kian melambung, Pras selalu menuduhnya sebagai istri yang kufur nikmat dan tidak tahu cara bersyukur.
“Mengapa kamu menjadi sekejam ini, Mas?” bisik Hana pada kesunyian rumah.
Hana bangkit berdiri, melangkah menuju dapur kecilnya yang bersih, tampak lengang. Di dalam lemari penyimpanan, stok bahan makanan memang sudah benar-benar menipis.
Beras hanya tersisa beberapa genggam di dasar wadah plastik, sementara minyak goreng hanya tersisa beberapa tetes yang menempel di dinding botol.
Dengan perasaan campur aduk antara sedih, marah, dan tak berdaya, Hana mengambil sebuah dompet kain usang yang disimpannya di laci meja dapur. Di dalam dompet itu, tidak ada lembaran uang lain. Hanya ada beberapa keping koin ratusan perak yang sengaja ia kumpulkan dari kembalian membeli garam beberapa minggu lalu.
Hana tahu, hari ini akan menjadi hari yang sangat berat. Ia harus berjalan kaki menuju pasar tradisional yang jaraknya hampir satu kilometer dari rumah demi menghemat ongkos angkutan umum yang tarifnya sudah mencapai lima ribu rupiah sekali jalan.
Jika ia naik angkutan umum pergi-pulang, maka uang belanjaannya hanya akan tersisa sepuluh ribu rupiah. Keadaan itu tentu saja akan membuat daftar belanjaan dari Pras semakin mustahil untuk dipenuhi.
Hana mengusap air matanya dengan ujung jilbab instan yang dikenakannya. Ia mencoba menegakkan bahu, menatap bayangan dirinya di kaca lemari dapur. Wajahnya tampak pucat dan matanya sembap, ada sepercik api kecil yang mulai tersulut di dalam dadanya.
Rasa bersalah karena merasa tidak berguna sebagai istri perlahan-lahan mulai terkikis, digantikan oleh rasa ketidakadilan yang menuntut sebuah jawaban.
Ia memasukkan lembaran uang dua puluh ribu rupiah itu ke dalam saku bajunya beserta secarik kertas daftar belanjaan dari suaminya.
Dengan langkah yang terasa berat, dipaksakan untuk tetap tegap, Hana membuka pintu depan rumahnya. Sinar matahari pagi yang mulai terik langsung menyengat kulitnya, seolah ikut menyaksikan awal dari sebuah badai yang akan mengubah jalan hidupnya.