Lampu gantung tua menyinari rak-rak penuh buku, memantulkan cahaya hangat di lantai. Aku duduk di kursi dekat jendela, jemari membalik halaman, padahal pikiran tak tertuju pada tulisan sama sekali.
“Masih di sini?” Suara Juno memecah hening.
Aku mendongak. Dia berdiri tak jauh dariku, wajahnya jelas menunjukkan lelah. “Aku, belum ingin pulang,” jawabku pelan, menutup buku yang tak sempat dibaca.
Juno mendekat. Ia menarik kursi dan duduk di sampingku, tak ada kata, hanya denting jam tua yang terdengar di dinding. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya, terlalu dekat hingga jantung berdetak tak terkendali.
“Dina?” Suara Juno rendah, seakan menahan sesuatu. “Apa kamu tahu, betapa sulitnya aku menahan diri saat bersamamu?”
Mataku melebar, pipi merona. Aku ingin berkata sesuatu, tapi bibir terasa kelu. Yang bisa kulakukan hanya menunduk, meremas ujung rok.
Juno mengangkat tangannya, lalu menyentuh pipiku. Sentuhan itu lembut, membuatku memejamkan mata sebentar. “Aku tidak tahu harus bagaimana,” bisiknya, hampir tak terdengar.
“Kenapa kamu menatapku begitu?” Suaraku terasa berat.
Juno semakin mendekat, jari-jarinya menyusuri tepi buku yang kupegang, sebelum akhirnya meletakkannya begitu saja di meja.
“Karena kamu membuatku kehilangan kendali,” katanya. Suara bergetar, mata tak bergeser sedikit pun.
Juno menghela napas, tapi tubuhnya juga tak mundur. Jarak kami kian merapat, sampai aku bisa mencium samar wangi kopi dari napas pria itu. Hatiku berdebar, bukan hanya karena keberanian, tapi juga rasa takut pada batas yang akan kami langgar.
Satu tarikan napas kemudian, Juno meraih leherku. Tarikannya lembut, membuat ikat rambutku terlepas perlahan. Aku tidak menahan. Jemarinya kini menyentuh lenganku, lalu merayap naik ke bahu, menggenggam cardigan tipis yang kukenakan.
Dengan satu gerakan, cardigan itu melorot jatuh ke lantai. Mataku terpejam sejenak. Ada rasa bersalah menusuk, tapi hasrat yang mendesak lebih keras. Bibir kami bertemu.
“Juno, kita tak seharusnya–” bisikku di sela napas, tetapi tangannya justru menahan pinggangku lebih erat.
“Katakan itu sekali lagi, kalau kamu benar-benar mau berhenti.” Suaranya parau, menantang, meski aku sendiri gemetar.
Kancing demi kancing terlepas, menimbulkan suara kecil yang terdengar nyaring di kesunyian. Juno menunduk, keningnya menempel di dahiku, seakan mencari alasan untuk berhenti.
Aku meneteskan air mata. “Kita gila,” bisikku.
Juno mengusap wajahnya, ragu antara menyesal atau menginginkan lebih. “Hanya untuk malam ini. Anggap saja, kita tak pernah saling mengenal.”
Tak ada jawaban. Hanya kecanggungan yang berubah jadi keberanian singkat. Bibir kami bersentuhan lagi, getir sekaligus manis, seolah menantang seluruh dunia untuk tahu.
Sekejap, perpustakaan malam itu menjadi ruang terlarang bagi dua jiwa yang tak seharusnya bersatu. Aku menutup mata, membiarkan kehangatan itu mencuri logika. Meski tahu Ayla sahabatku, di momen itu, kata sahabat seolah tak punya arti.
Tanganku gemetar saat meraih dadanya. Kemeja Juno terbuka separuh, membuatku bisa merasakan hangat kulitnya. Aku hampir menarik tanganku kembali, takut menyentuh terlalu jauh, tetapi Juno lebih dulu menggenggam jemariku, menempelkan di dadanya yang berdebar cepat.
“Dengar itu?” bisiknya, “aku sama takutnya denganmu.”
Napasku tercekat. Di ruang perpustakaan begitu sunyi, debaran jantungnya seolah memenuhi telingaku. Tubuhku kaku, tapi ada bagian lain dari diriku yang perlahan menyerah.
Kemejaku sendiri mulai terasa longgar, kancing-kancingnya sebagian sudah terbuka karena tangan Juno bergerak begitu cepat. Aku ingin menghentikannya, tapi tubuhku justru lebih dulu condong, mencari kehangatan itu lagi.
“Juno?” Suaraku pecah. “Kalau Ayla tahu–”
Dia mendekapku erat, seakan tak ingin mendengar nama itu. “Jangan sebut dia sekarang.”
Bibirnya kembali menyapu bibirku, kali ini lebih dalam, dan menuntut. Tanganku tanpa sadar melingkari lehernya, menariknya mendekat, meski air mataku jatuh satu per satu.
Cardigan yang sudah jatuh kini terinjak kursi. Rambutku berantakan menutupi wajah, tapi Juno menyibakkannya, menatapku dengan sorot mata penuh gejolak.
“Kita tak bisa kembali setelah ini,” katanya pelan, hampir seperti peringatan.
Aku terdiam lama, lalu mengangguk, meski seluruh tubuhku bergetar. “Aku tidak peduli, aku memang menyukaimu sejak lama.”
Suasana jadi makin sunyi. Hanya deru napas kami yang saling berburu, dan suara kain bergesekan ketika tubuh kami terlalu dekat. Aku merasa setiap lapisan penghalang jatuh satu per satu.
Aku menutup mata rapat-rapat, mencoba melupakan Ayla, dunia, dan rasa bersalah yang menjerit dalam diriku. Malam itu, hanya ada aku dan Juno. Dua jiwa rapuh yang saling menelan satu sama lain, dalam kesalahan manis sekaligus pahit.
Ketika akhirnya aku bersandar di dadanya, napasku masih terengah. Aku tahu, kami baru saja mengikat diri pada rahasia yang tak akan pernah bisa benar-benar terkubur.
**
Namaku Dina Lestari. Aku lahir di kawasan terpencil Solo, tumbuh sebagai gadis pendiam yang lebih sering menunduk daripada menatap mata orang lain. Entah sejak kapan aku sadar, kacamata tebal di wajahku dan kebiasaan membaca buku menjadikanku sasaran empuk untuk bahan ejekan.
“Eh, kutu buku jalan!” teriak salah satu teman sekelasku ketika aku masuk kelas dengan buku menempel di dada.
Aku menelan ludah, pura-pura tidak dengar. Kursi kayu berderit saat aku duduk di pojok, tapi tawa mereka masih menggema.
Yang lain menimpali, “Dina, jangan-jangan kamu makan buku ya? Makanya kurus kayak gitu!”
Aku tersenyum hambar, padahal dalam hati rasanya seperti disayat.
Aku sering bertanya-tanya, salahku apa? Aku hanya ingin belajar, dan punya nilai bagus supaya bisa meringankan beban ibuku. Namun, dunia sekolah tak pernah ramah pada anak sepertiku.
Keluargaku miskin. Ibuku menjual gorengan di pinggir jalan, sementara ayah dulunya buruh kasar. Aku ingat, saat SD, teman-teman menutup hidung saat mencium bau minyak dari seragamku.
“Uh, bau gorengan! Dina, jangan dekat-dekat, nanti bajuku ikut apek!”
Aku ingin membela diri, berkata kalau ibuku banting tulang hanya demi anaknya bisa sekolah. Lidahku kelu. Yang bisa kulakukan hanya menunduk dan menggenggam erat tali tas agar air mata tak jatuh di depan mereka.
Rumahku pun bukan tempat aman. Ayah sering pulang dengan wajah merah dan suara keras. Kadang hanya karena uang belanja kurang, atau gorengan Ibu tak laku.
“Dasar perempuan nggak becus! Gara-gara kamu, kita selalu kekurangan!” Bentakan itu disertai suara benda pecah.
Aku akan bersembunyi di kamar, memeluk lutut sambil menahan napas.
“Ibu nggak apa-apa kok Din,” bisiknya, tapi esok pasti ada lebam baru di tubuh Ibu.
Sampai akhirnya mereka menyerah, memilih bercerai ketika aku masih SMP. Aku ikut Ibu, tinggal di kontrakan kecil gang sempit. Sejak itu, kami lebih baik hidup susah daripada hidup dalam teror.
Kesusahan itu bukan berarti tanpa luka. Aku masih ingat saat pertama kali membawa bekal nasi tempe ke sekolah. Teman sebangkuku ikut makan dengan santai, seakan itu bukan hal memalukan.
Dari bangku lain, terdengar suara ketus. “Halah, makan tempe tiap hari. Makanya kamu kurus, Dina.”
Aku meremas sendok. Suara tawa mereka menusuk telinga. Akan kubalas semuanya suatu hari nanti.