"Arghhh."
Bola mata seorang pria bergulir ke atas, bersamaan dengan cairannya yang keluar cukup banyak di bawah sana. Napasnya terputus-putus, perutnya kembang kempis.
Peluh keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Tidak bisa dipungkiri, aktivitas yang dia lakukan tadi cukup membuatnya ngos-ngosan.
"Aku bener-bener gila karena kamu, Villy!"
Avilda Vilmalie Winter, pujaan hatinya sekaligus sahabatnya yang sangat ia cintai.
Selama bertahun-tahun lamanya pria itu menyukai Avilda dalam diam, tidak ada niat dalam waktu dekat mendekati Avilda sebab hubungan rumit yang mereka jalani. Yang bisa pria itu lakukan selama ini adalah memantaunya dari jarak jauh.
Cup!
Pria itu mengecup basah foto Avilda yang dia jadikan wallpaper di ponselnya, hingga layar itu basah.
"F*ck Villy!" desah pria itu. "Aku bisa pastiin kalau kamu bakal jadi milik aku selamanya."
Suara bel berbunyi nyaring, menandai jam istirahat.
Seorang gadis cantik tampak sedikit kelelahan. Siapa lagi kalau bukan Avilda Vilmalie Winter, princess Winter dengan sejuta pesona. Dia menghela napas, melipat bukunya yang penuh coretan rumus kimia, lalu bangkit dari bangku, tapi baru melangkah dua langkah, sebuah tangan langsung menggandeng pergelangan tangannya.
"Lagi-lagi kamu ninggalin aku." Seorang pria bersuara rendah, malas, tapi manja. "Gak boleh, tahu."
"Demar ...." Vi menoleh malas. "Kamu udah punya pacar, ingat kan?"
"Dan?" Valdemar menaikkan alis, matanya mengamati Avilda, gadis cantik yang tumbuh dengannya sejak kecil dengan enggan membahas hal itu seolah ucapan Avilda barusan nggak relevan sama sekali.
Ya, dia adalah Valdemar Auren Vinter. Sahabat Avilda.
"Kamu tuh gila ya," gerutu Avilda.
"Gila sama kamu, iya."
Avilda mendecak, tapi ia tetap membiarkan tangan Valdemar menggendongnya keluar kelas. Seisi koridor SMA Elite Jakarta sudah biasa melihat pemandangan itu. Valdemar dan Avilda, si duo tak terpisahkan. Yang satu cuek dan cerah, yang satu dingin dan cenderung sinis.
"Rasanya mau deh jadi Avilda sehari aja," bisik-bisik dari salah satu gadis yang berseragam sama itu sembari melihat duo tak terpisahkan dengan iri.
"Yeeeh kamu harus secantik Avilda kalau mau jadi Avilda," celetuk gadis lainnya.
"Ck, mana bisa. Perawatan wajah si Avilda aja keknya melebihi tarif aku ngekos selama setahun dah," gerutu gadis itu.
Avilda dan Valdemar jelas mendengar bisikan mereka karena yah, itu bahkan tak seperti bisikan, tapi mereka abaikan. Sudah terbiasa.
"Pacar kamu yang sekarang namanya siapa?" tanya Avilda saat mereka berjalan.
"Kaila," jawab Valdemar acuh tak acuh.
"Yang kemarin itu namanya Amira, kan?"
"Yup. Dua hari lalu putus."
"Besok kamu cari pacar lagi?" Avilda menatapnya heran, seperti sudah lelah dengan drama Valdemar yang terasa nggak pernah selesai.
"Mungkin," jawab Valdemar santai, lalu memandang Avilda dengan pandangan lembut yang anehnya cuma ia tunjukkan pada gadis ini.
Avilda mendecak. "Kamu tuh kenapa sih, pacaran gak pernah tahan lama?"
"Bosen. Mereka tuh gampangan, gampang baper. Tinggal bilang 'aku sayang kamu' aja mereka udah luluh."
"Huh?" Avilda mengerutkan dahi.
"Nggak ada yang kayak kamu."
Avilda menoleh cepat, tapi Valdemar sudah menatap lurus ke depan.
"Kenapa gak pacaran sama aku aja?" celetuk Avilda setengah bercanda dan setengahnya lagi berharap tipis-tipis, pasalnya lelaki di sampingnya ini terlalu manis untuk sekadar seorang sahabat.
Valdemar menoleh pelan. Ada jeda. Senyumnya hilang.
"Kamu itu terlalu berharga buat dijadikan mainan. Aku ga mau mainin kamu kayak cewek lainnya. Kamu beda."
Avilda terdiam. Ucapan Valdemar barusan terdengar ringan, tapi terasa berat di dada.
"Kamu udah mainin hati aku, Demar," batin Avilda memekik tertahan.
Gadis itu tak tahu harus merasa lega karena Valdemar menganggapnya terlalu berharga atau sedih karena rasa cintanya yang diam-diam faktanya tak pernah dilirik meski seuprit. Di kantin, Kaila melambai. Valdemar melihat, tapi tidak menyambut. Genggamannya di tangan Avilda justru menguat.
Jika ditanya tentang Valdemar, ia merasa tidak pernah memberi kepastian pada Avilda, tapi ia juga tidak pernah benar-benar membiarkan Avilda pergi. Bukan milik siapa-siapa, tapi milik Valdemar.
Kaila masih melambai dari meja paling pojok kantin, senyumnya manis, tapi mulai terlihat dipaksakan kala melihat sang kekasih bergelayut manja pada sahabatnya. Ya, semua tahu siapa Avilda bagi Valdemar. Terlalu berharga, dan itulah yang membuatnya merasa cemburu.
Avilda bisa merasakannya. Pandangan cewek itu tertuju padanya dengan tajam, seperti sedang bertanya-tanya kenapa pacarnya lebih memilih menggandeng sahabat perempuan ketimbang duduk bersama pacarnya sendiri.
"Demar, itu Kaila nungguin kamu," gumam Avilda sambil berusaha melepaskan tangannya. "Lepasin, cepet."
"Ngapain? Aku duduk sama kamu aja," jawab Valdemar santai, tanpa sedikit pun berniat beranjak.
"Demar, dia pacarmu!" bisik Avilda, berusaha melepaskan diri.
Valdemar hanya melirik sebentar, lalu menarik Avilda duduk di kursi biasa mereka. "Biarin. Dia ngerti kok aku tiap istirahat sama kamu."
"Ngerti apanya? Kamu pacarnya, Demar. Bukan aku."
"Ya, tapi kamu sahabatku, dan Kaila tahu itu."
Avilda menghela napas. "Sahabat yang kamu gandeng ke mana-mana dan kamu peluk?"
Valdemar tak langsung menjawab. Dia berdiri dan pergi ke stan yang ada di kantin sekolah itu, tak perlu bertanya pada Avilda apa yang ingin dipesan karena lelaki itu terlalu manis. Ingat itu, dia terlalu manis hingga mengingat apapun tentang Avilda. Meski hal kecil. Harusnya.
Valdemar kembali membawa nampan berisi dua mangkuk mie ayam bakso, tanpa taburan daun bawang. Sebenarnya hanya Valdemar yang tak suka daun bawang, dan Avilda yang bersahabat sejak kecil dengan Valdemar terbawa-bawa terbiasa makan mie ayam bakso tanpa daun bawang, dan juga ada dua gelas es alpukat yaaa itu punya mereka.
Valdemar selalu menyamakan apa yang ia makan seperti milik Avilda. Valdemar menyeringai, menaruh dua mangkuk mie ayam bakso itu di meja, dan dua gelas. Nampannya ia taruh di bawah meja.
"Iya dong. Emang kamu pikir aku bisa gitu ke orang lain?" Valdemar menjawab ucapan Avilda sebelumnya.
Avilda menatapnya lama. "Kamu tuh nyebelin banget ya."
"Kamu gak pernah pergi ninggalin orang nyebelin ini kan?" jawab Valdemar enteng.
Itu benar. Sebal apa pun Avilda, dia selalu ada. Karena sejak kecil, Valdemar memang tidak pernah jauh darinya. Seakan ada benang yang selalu menariknya kembali, tapi tangan Valdemar dengan cepat menarik tas Avilda agar ia tak pergi.
"Enggak. Duduk aja," kata Valdemar. "Kaila mau ngomong, ya ngomong aja di sini."
Kaila menatap Avilda dan Valdemar bergantian. "Kak Valdemar sering banget ya sama Kak Avilda."
Valdemar mengangguk tanpa ragu. "Dia sahabatku."
Kaila tersenyum tipis, tapi Avilda tahu, itu bukan senyum yang membuat siapa pun nyaman, dan ini sudah sering terjadi, Avilda selalu merasa mungkin persahabatan mereka mulai mengganggu dunia orang lain. Yaitu cewek-cewek yang pernah menjadi pacar Valdemar seperti Kaila sekarang.
"Kak, aku kan pacar Kakak," ucap Kaila dengan nada masih lembut.
Valdemar menatap gadis di depannya ini dengan mengangkat satu alisnya. Kaila itu adik kelas mereka dan kebetulan sekali Valdemar jadikan target sebagai pacarnya.
"Lah terus kenapa?" ujar Valdemar dengan nada sewot merasa tak suka dengan ucapan Kaila yang seolah-olah ia tak bebas dengan sahabatnya saat gadis di depannya ini berstatus pacarnya.