


oleh Langit Jingga · 10 Bab
"Di antara kenangan dan kehilangan" Hana, selalu hidup dalam bayang-bayang cinta pertamanya, bahkan setelah menikahi Albert sebagai pelarian, pria yang ditemuinya di Zurich. Namun, perasaan Hana yang tak pernah usai membuat pernikahan itu retak. Hana memilih melepaskan Albert demi kebaikan mereka berdua. Ia kembali ke Jakarta, membawa luka yang ia sembunyikan di balik kesibukan menulis. Behitupun Arga, memilih memendam dan melanjutkan hidup dengan wanita yang perlahan belajar ia cintai, rania. Meski mustahil untuk mempertahankan persahabatan mereka berdua, keduanya harus tetap menjalani takdirnya dengan baik. Mungkinkah mereka mampu menemukan arti kebahagiaan di antara kenangan yang tak pernah benar-benar hilang?
Matahari pagi menembus kaca jendela ruang tamu rumah kecil itu. Hana sedang duduk di sofa, membaca email yang baru saja masuk. Matanya takjub membaca kata-kata yang melompat dari layar.
“Selamat, Anda diterima sebagai penerima beasiswa penuh untuk melanjutkan studi magister di ETH Zurich, Swiss.”
“Aku diterima, Ma!” serunya dengan suara gemetar. Ibunya, yang sedang memasak di dapur, berlari menghampiri, menatap layar ponsel, lalu memeluk putrinya erat-erat.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Hana teringat pada Arga, sahabatnya sejak SMA. Dialah orang yang paling tahu perjuangannya mengumpulkan berkas beasiswa, begadang mengisi formulir, dan menghafal jawaban untuk wawancara. Tapi ada sesuatu yang membuat hati Hana sedikit berat untuk memberitahunya.
Arga sedang duduk di kursi kayu taman kota, di tempat mereka biasa menghabiskan sore. Ia membawa novel favoritnya, tapi pikirannya melayang ke Hana. Mereka baru saja lulus kuliah, dan Hana menjadi bagian terbesar dalam hidupnya selama lima tahun terakhir. Namun, ada satu hal yang selalu ia simpan dalam hati: perasaannya pada gadis itu.
Hana datang dengan langkah tergesa, senyum lebar menghiasi wajahnya. “Aku diterima di Swiss, Ga! Aku dapat beasiswa itu!”
Arga tercekat. Ia ingin bahagia untuknya, tapi rasa takut kehilangan mendominasi.
“Wah, hebat banget! Aku bangga sama kamu, Na,” katanya, memaksakan senyum.
Namun, di balik senyum itu, hatinya mulai berbisik: Bagaimana jika ini akhir dari semuanya?
Malam itu, mereka berbicara di telepon, membahas rencana keberangkatan Hana. Hana bersemangat menceritakan kehidupan di Swiss yang ia bayangkan. Arga mendengarkan dengan sabar, tapi ada jeda panjang di setiap tanggapannya.
“Hana, kamu tahu, aku bakal selalu mendukung apa pun yang terbaik buat kamu, kan?” katanya pelan.
“Iya, aku tahu. Makasih ya, Ga.”
Mereka terdiam beberapa saat. Kata-kata lain tidak keluar, karena masing-masing takut mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya.
Waktu berlalu cepat. Dalam hitungan minggu, Hana sudah berada di bandara, siap berangkat ke Zurich. Arga datang mengantar, membawa koper kecil Hana sambil terus mencoba menyembunyikan emosi.
Di gerbang keberangkatan, mereka berdiri berhadap-hadapan.
“Aku nggak tahu kapan kita bisa ketemu lagi, Ga,” kata Hana dengan mata berkaca-kaca.
Arga tersenyum kecil. “Nggak usah khawatir. Dunia makin kecil dengan teknologi. Kamu tinggal kabari aku kapan aja.”
Hana ingin memeluknya lebih lama, tapi ia takut rasa itu akan semakin dalam. Akhirnya, ia hanya berkata, “Terima kasih buat semuanya, Arga.”
Arga mengangguk. Tapi di dalam hatinya, ia ingin mengatakan: Aku cinta kamu, Hana.
Hana memulai kehidupan barunya di Zurich. Kota itu indah, dengan bangunan klasik dan pemandangan Pegunungan Alpen yang memukau. Tapi di setiap sudut kota, ada bagian dari dirinya yang terasa kosong. Malam-malamnya sering dihabiskan dengan menelepon Arga, berbagi cerita tentang kelas, teman baru, dan keajaiban salju pertama.
Arga, di sisi lain, semakin larut dalam kesendiriannya. Pekerjaan kantornya yang monoton hanya menjadi pelarian dari rasa rindu yang tak tertahankan. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan hobi baru, tetapi semuanya kembali pada Hana.
Waktu berlalu, dan jarak mereka terasa semakin jauh. Hana mulai sibuk dengan proyek-proyek akademis, sementara Arga sibuk dengan kariernya di Jakarta. Percakapan mereka semakin jarang, hingga akhirnya hanya ada pesan singkat sesekali.
Suatu hari, Hana mendapat undangan untuk menghadiri konferensi internasional di Malaysia. Ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta selama beberapa hari sebelum berangkat ke negara lain.
Ketika mereka bertemu lagi di taman kota itu, ada perasaan canggung yang tak pernah ada sebelumnya. Hana duduk di bangku kayu yang sama, tapi kali ini semuanya terasa berbeda.
“Kamu kelihatan lebih dewasa sekarang,” kata Arga, mencoba mencairkan suasana.
“Kamu juga. Tapi tetap aja pendiam,” jawab Hana, tersenyum.
Namun, di balik tawa kecil mereka, ada rasa sakit yang sulit disembunyikan. Keduanya tahu bahwa waktu telah mengubah mereka.
Di penghujung pertemuan itu, saat senja mulai turun, Hana akhirnya berkata, “Arga, aku harus jujur. Selama ini, aku… selalu menyimpan rasa untuk kamu.”
Arga tertegun. Hatinya melompat-lompat, tetapi ia juga tahu kenyataan yang menanti mereka.
“Aku juga, Hana. Tapi aku nggak pernah berani bilang karena takut merusak persahabatan kita.”
Mata mereka bertemu, dan selama beberapa detik, dunia terasa berhenti. Namun, saat bayangan malam mulai menyelimuti taman, Hana menarik napas panjang.
“Tapi, Ga, aku harus jujur lagi. Aku sudah menerima tawaran kerja di Swiss setelah lulus. Aku nggak tahu kapan, atau bahkan apakah aku akan kembali.”
Arga tersenyum kecil, meski hatinya hancur. “Aku ngerti, Na. Kamu harus ngejar impian kamu. Aku akan selalu mendukung kamu, dari jauh.”
Di bawah langit senja, mereka saling berpelukan untuk terakhir kalinya, tanpa kata-kata. Mereka tahu bahwa cinta itu nyata, tetapi juga tahu bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk bersatu.
Hana kembali ke Swiss dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa keputusan ini adalah yang terbaik untuk masa depannya, tetapi ia juga tahu bahwa ia telah meninggalkan sebagian dari hatinya di Jakarta.
Arga, di sisi lain, berusaha merelakan. Ia menyimpan kenangan itu sebagai bagian dari dirinya, tapi ia tahu bahwa hidup harus terus berjalan.
Di sebuah dunia yang jauh terpisah, mereka terus menjalani kehidupan masing-masing, membawa cinta yang tidak pernah terucap sepenuhnya, tetapi akan selalu ada di hati mereka.
Dan di langit Zurich, saat salju pertama turun di tahun itu, Hana menatap jendela kamarnya, membayangkan Arga. Jauh di Jakarta, Arga memandang hujan, membayangkan Hana. Keduanya tersenyum, meski air mata menggenang.
Waktu terus berjalan, membawa Hana dan Arga semakin jauh satu sama lain. Komunikasi mereka yang semula hangat perlahan memudar menjadi pesan-pesan singkat yang terkirim hanya pada hari-hari istimewa seperti ulang tahun atau hari raya.
Di Zurich, Hana larut dalam pekerjaannya di sebuah perusahaan riset terkenal. Ia mulai terbiasa dengan kesibukan, tetapi ada malam-malam di mana rasa sepi menyergap. Dalam kesunyian kamarnya, Hana sering duduk di dekat jendela, menulis surat-surat yang tak pernah ia kirimkan kepada Arga.
Dear Arga ....
Bagaimana kabarmu di Jakarta? Hari ini aku melihat salju pertama turun, dan aku langsung teringat kamu. Aku masih ingat bagaimana kita pernah bercanda soal betapa lucunya kamu kalau melihat salju pertama kali. Aku rindu kamu, Ga. Tapi aku tahu, aku nggak punya hak untuk bilang itu.
Hana menutup surat itu dengan perasaan berat. Ia tahu bahwa surat-surat itu hanya akan menjadi arsip pribadinya. Mengirimkannya kepada Arga hanya akan membuka luka lama yang telah ia coba sembuhkan.
Di sisi lain, Arga juga berusaha melanjutkan hidupnya. Ia dipromosikan untuk jabatan yang lebih tinggi dan kini memimpin tim kecil di sebuah perusahaan teknologi. Namun, tidak ada pencapaian yang benar-benar membuatnya merasa utuh.
Satu malam, saat ia membuka laci meja kerjanya, ia menemukan selembar foto lama: ia dan Hana sedang tertawa di sebuah taman. Foto itu membuatnya terhanyut dalam nostalgia. Tanpa sadar, ia menulis sesuatu di balik foto itu.
'Hana, aku masih ingat semuanya. Aku harap kamu bahagia di sana'
Ia ingin mengirimkan foto itu ke Hana, tetapi urung melakukannya. Sama seperti Hana, ia takut mengganggu kehidupan yang mungkin sudah berubah.

Langit Jingga
2 Pengikut · 1 Novel