


oleh Naye Nayera · 30 Bab
"Darah ini ... adalah kutukan yang tak bisa kulepaskan." Bagi Tomic Afanasiy Harolfd, keabadian adalah penjara. Terjebak dalam tubuh yang menolak mati, ia mengasingkan diri di kastil sunyi kota Yakutsk demi menghindari obsesi gelap ayahnya. Namun, ketenangan itu hancur saat seorang wanita asing muncul menembus badai salju. Wanita itu memanggilnya dengan sebutan yang paling ia benci. Vampire. Membawa rahasia masa lalu dan permintaan putus asa, kehadiran sang wanita menawarkan satu-satunya jalan menuju kematian yang Tomic dambakan. Di tengah intrik kejam organisasi Inovam, sanggupkah Tomic mengakhiri penderitaannya, ataukah ia akan selamanya terkubur dalam salju yang tak pernah mencair?
Suara isak tangis yang parau memecah kesunyian ruangan luas itu. Seorang anak laki-laki kecil bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, bahunya berguncang hebat. Di tengah remang cahaya yang temaram, suara itu terdengar memilukan.
"Hiks, hiks, hiks. Aku haus. Aku sangat haus," rintihnya dengan suara serak. Tenggorokannya terasa seperti terbakar, kering hingga ke pangkal.
Seorang laki-laki paruh baya muncul dari balik bayang-bayang pilar besar. Langkah kakinya tak terdengar, seolah dia melayang di atas lantai. Pria itu memiliki perawakan yang sangat tampan, bahkan terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa. Dia tampak seperti sebuah figur yang tidak nyata, seolah keluar dari kanvas lukisan kuno yang mahal.
"Kamu haus? Bapak tidak punya setetes air pun di sini," ucap laki-laki itu dengan nada suara yang rendah namun menghanyutkan. Dia mengulurkan sebuah gelas kristal yang berisi cairan kental. "Bagaimana dengan ini saja?"
Anak kecil itu mendongak, matanya yang sembap menatap isi gelas tersebut dengan ragu. "Ini kenapa warnanya merah? Apa ini darah? Aku mau air. Aku tidak mau darah, hiks."
Laki-laki itu berlutut agar sejajar dengan sang anak. Rambut hitamnya jatuh dengan rapi, membingkai wajahnya yang pucat. Matanya yang merah menyala seperti batu delima menambah kesan istimewa sekaligus misterius pada dirinya. Siapa pun yang menatap mata itu akan merasa terhipnotis.
"Ini bisa melepaskan dahagamu. Tidak perlu kamu tahu ini apa, tetapi kamu haus, bukan? Cobalah meminumnya. Keluarga bapak juga meminum ini," bujuknya lembut.
"Tetapi—tapi—"
"Kamu sangat haus, kan? Ayo, diminum saja."
Anak laki-laki itu memandang cairan merah yang berkilau di bawah cahaya lilin. Rasa haus yang menyiksa akhirnya mengalahkan ketakutannya. Dia menerima gelas itu dengan tangan gemetar.
"Ya sudah. Bayangkan saja ini jus," gumamnya menghibur diri sendiri.
"Haha, kamu pintar," puji laki-laki tampan itu dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
Anak laki-laki yang sedang tersesat itu pun akhirnya meminum segelas cairan merah tersebut. Rasanya aneh—manis, kental, dan memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, menghilangkan rasa kering di tenggorokannya seketika. Setelah selesai, dia terpana menatap sosok di hadapannya. Dia mengagumi keindahan laki-laki itu, seolah melihat malaikat yang turun ke bumi.
Hingga saat mata mereka bertemu tatap, anak itu mengerjap. Dia mendadak merasa rikuh di bawah tatapan mata merah yang intens itu. Dia segera memalingkan wajahnya. Semburat merah menjalar di kedua pipinya; dia menahan malu hingga pipinya terasa panas. Laki-laki paruh baya itu hanya tersenyum kecil melihat tingkah imut anak kecil di hadapannya. Akan tetapi, raut wajahnya kemudian berubah menjadi sedikit lebih serius.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa ada di sini? Ini adalah hutan yang sangat jarang dikunjungi orang. Bapak terkejut melihat kedatangan anak kecil sepertimu di tempat ini."
"Aku tersesat," jawab anak itu pelan. "Aku sedang bermain bersama adik laki-lakiku, tetapi tiba-tiba aku melihat seekor kupu-kupu yang terbang sangat indah. Aku tidak ingin kehilangan makhluk indah itu dan mencoba mengejarnya. Tanpa sadar, aku tersesat dan setelah berjalan cukup jauh, aku menemukan tempat yang megah ini. Wah, aku sungguh tidak menyangka ada tempat seperti ini di tengah hutan."
"Wah, sungguh kasihan kau. Namamu siapa?"
Anak itu baru saja hendak membuka mulut. "Aku T—"
"Tomic! Di mana kamu?!"
Ucapan anak itu terpotong oleh panggilan lantang dari arah luar. Suara itu bergema di koridor kastil yang sepi.
"Itu pasti Ayah! Aku pergi dulu ya, Pak!" teriak anak bernama Tomic itu. Dengan senyum manis, dia melambaikan tangannya kepada laki-laki tampan tersebut. Dia segera berlari menuju pintu besar, keluar dari ruangan yang dingin dan temaram itu.
Di luar, dia mendapati ayahnya beserta adiknya berdiri di sana dengan wajah cemas.
"Mika!" panggil Tomic dengan nada lega. "Kamu tidak apa-apa? Maaf ya, Kakak tadi meninggalkanmu. Kakak tersesat," ucap Tomic sembari menghampiri adiknya yang masih kecil.
"Tidak apa-apa, Kak. Lagian tadi Ayah segera menyusul kok," jawab Mika polos.
Tomic terus mengajak adiknya berbicara, seolah berusaha menghilangkan rasa bersalahnya. Dia mengabaikan ayahnya yang berdiri di belakang mereka dengan napas terengah dan tatapan yang mulai menajam.
"Tomic!" panggil sang ayah dengan nada berat yang seketika membuat Tomic terkejut dan menghentikan pembicaraannya. "Kamu ke mana saja? Kamu tidak tahu kalau hutan ini sangat berbahaya? Tempat ini tidak boleh dimasuki oleh sembarang manusia! Kamu membuat Ayah dan Mika khawatir!"
Tomic menunduk, memainkan ujung bajunya. "Hehe, maaf, Ayah. Tomic salah. Tetapi Ayah, coba lihat, ada tempat megah di sini. Bukankah luar biasa?" Tomic berbalik dan menunjuk ke arah bangunan besar tempat dia baru saja keluar.
Ayahnya mengerutkan kening, menatap arah yang ditunjuk Tomic dengan bingung. "Kamu bicara apa? Sudah jelas kalau kamu tadi duduk di atas rumput seorang diri seperti seorang gembel."
Wajah Tomic memucat. "Apa maksud Ayah?"
Tomic terkejut bukan main. Kastil mewah dengan pilar-pilar tinggi yang dia lihat sebelumnya telah menghilang tanpa bekas. Tidak ada pintu besar, tidak ada marmer dingin. Hanya lahan luas yang dipenuhi rumput liar dan pepohonan rimbun yang ada di sana. Tomic menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa heran dengan apa yang dia lihat. Dunianya seolah baru saja berputar balik.
"Benar kok, Ayah. Tadi memang ada tempat megah di sini. Mika, kamu percaya Kakak, kan?"
Mika menatap kakaknya dengan iba, lalu menggeleng pelan. "Tetapi Kak, di sana memang tidak ada apa-apa. Kakak mungkin salah lihat karena kelelahan."
"Tetapi—"
"Sudahlah! Kita harus segera pulang sebelum hari semakin gelap," ucap sang ayah dengan tegas, memotong perdebatan itu. Tomic hanya bisa mengangguk pasrah. Mereka bertiga berjalan pulang meninggalkan hutan itu, namun pikiran Tomic tertinggal di sana.
Dalam hati Tomic, dia masih tidak bisa melupakan kejadian aneh yang baru saja dialaminya. Sosok laki-laki yang sangat tampan, rasa cairan merah yang unik, serta udara dingin dan senyap dari ruangan megah tadi .... Semuanya terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Apa hanya halusinasiku saja? gumamnya dalam hati. Dia tidak tahu bahwa hari itu adalah awal dari kutukan panjang yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Naye Nayera
4 Pengikut · 1 Novel