Langit Jakarta diselimuti mendung tipis ketika iring-iringan mobil mewah berhenti di depan sebuah hotel bintang lima.
Karpet putih membentang dari pintu utama hingga pelaminan yang dipenuhi rangkaian bunga mawar dan lily berwarna krem.
Cahaya lampu kristal memantulkan kilau lembut ke seluruh ruangan, menghadirkan suasana yang megah sekaligus hangat.
Hari itu, seluruh media membicarakan satu peristiwa yang sama. Athar Wijaya menikah lagi.
Nama pria itu sudah lama dikenal sebagai salah satu pengusaha muda paling sukses di negeri ini. Wajahnya berkali-kali menghiasi sampul majalah bisnis.
Perusahaannya berkembang pesat, sementara kekayaannya terus bertambah setiap tahun. Namun, bukan keberhasilannya yang membuat namanya ramai diperbincangkan, melainkan perceraian yang terjadi dua tahun lalu.
Perceraian yang masih dianggap sebagai salah satu kasus paling menghebohkan karena keputusan pengadilan yang mewajibkan Athar memberikan nafkah dalam jumlah fantastis kepada mantan istrinya, Naretta. Banyak orang mencibir, banyak pula yang berspekulasi. Hari ini, cibiran itu kembali bermunculan.
"Kasihan juga istri barunya."
"Iya, benar."
"Punya suami, tapi tiap bulan uangnya tetep ngalir ke mantan."
"Kalau aku sih mending nggak jadi nikah."
"Setuju, daripada harus berbagi ekonomi."
"Suaminya juga kayaknya kurang tegas, masih aja peduli sama mantannya."
"Harusnya kalau udah jadi mantan ya udah, nggak perlu nanggung jatah lagi."
Bisik-bisik itu terdengar bahkan sebelum acara dimulai. Samaira berusaha mengabaikannya. Dengan gaun putih sederhana yang membalut tubuhnya, ia berdiri di samping Athar sambil menggenggam bunga tangan. Senyumnya tetap mengembang meski dadanya terasa sesak mendengar komentar para tamu yang tak sedikit pun berusaha mengecilkan suara.
Athar melirik Samaira sekilas. "Kamu nggak apa-apa?"
Samaira tersenyum tipis. "Aku nggak apa-apa."
"Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman, bilang aja."
"Aku beneran nggak apa-apa." Padahal, Samaira berbohong.
Tidak ada perempuan yang benar-benar nyaman ketika hari pernikahannya justru dipenuhi pembicaraan tentang mantan istri suaminya. Namun, Samaira memilih diam, ia yakin semua itu hanya masa lalu yang seharusnya memang ditinggalkan.
Prosesi akad berlangsung lancar. Ketika penghulu menyatakan mereka resmi menjadi suami istri, tepuk tangan memenuhi ruangan. Athar menatap Samaira cukup lama. Tatapan itu teduh, dan hangat. Tidak terlihat sedikit pun keraguan.
"Makasih udah mau percaya sama aku," ucap Athar pelan ketika mereka duduk berdampingan.
Samaira menggenggam tangan suaminya. "Aku nikah sama laki-laki yang kupilih sendiri."
"Aku mungkin punya masa lalu yang rumit."
"Semua orang pasti punya masa lalu."
Athar menghela napas panjang. "Masa laluku mungkin bakal terus ganggu hidupmu."
Samaira tersenyum. "Selama kamu milih hidup sama aku, aku nggak takut."
Kalimat itu membuat Athar terdiam. Untuk sesaat, sorot matanya berubah sendu seolah ada sesuatu yang ingin diucapkannya. Namun, akhirnya ia hanya mengangguk pelan. "Makasih."
**
Dua hari kemudian, bulan madu singkat mereka di Bali berakhir. Athar langsung kembali bekerja karena beberapa rapat penting sudah menunggunya sejak pagi.
Samaira memahami kesibukan suaminya. Ia menghabiskan pagi dengan menata rumah baru mereka. Rumah bergaya modern itu begitu luas.
Masih banyak kardus yang belum dibuka. Foto-foto pernikahan pun belum sempat dipajang.
Samaira tersenyum sendiri ketika menemukan bingkai foto kecil berisi potret mereka saat lamaran.
"Akhirnya aku jadi istrinya juga," gumamnya pelan.
Ponselnya tiba-tiba berdering, ada panggilan dari ibunya. "Gimana rumah barunya?"
"Nyaman, kok, Bu," jawab Samaira.
"Athar baik?"
"Baik banget."
"Syukurlah." Ibunya terdiam sejenak sebelum kembali berbicara. "Kamu jangan terlalu memikirkan omongan orang."
Samaira tersenyum pahit. "Ternyata Ibu juga baca berita itu?"
"Hampir semua tivi bahas pernikahan kalian."
"Aku sudah biasa."
"Kalau ada apa-apa, cerita sama Ibu."
"Iya, Bu."
Setelah sambungan telepon berakhir, Samaira menarik napas panjang. Ia tahu ibunya khawatir. Sejak awal hubungan mereka memang tidak mudah. Banyak orang mempertanyakan keputusan Samaira menikahi pria yang membawa bayangan perceraian besar di belakangnya, tetapi, Samaira percaya pada Athar.
Setidaknya, sampai hari ini. Menjelang sore, Athar pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya terlihat lelah. Dasi yang melingkar di leher langsung ia longgarkan begitu memasuki rumah.
"Kamu pasti capek, ya?" tanya Samaira sambil membawa segelas air hangat.
Athar menerima gelas itu. "Namanya kerja, wajar kalau capek."
"Mau makan sekarang? Aku siapin."
"Nanti aja."
Samaira duduk di samping Athar. "Aku seneng akhirnya kita bisa tinggal di rumah ini."
Athar mengangguk pelan. "Maaf kalau aku terlalu sibuk kerja."
"Nggak masalah, aku ngerti, kok."
"Aku bakal berusaha lebih banyak punya waktu buat kamu."
Samaira menyandarkan kepala di bahu suaminya.
"Yang penting kamu pulang."
Athar tersenyum kecil. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa semakin berat. Ia menatap wajah istrinya cukup lama, ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh. Namun, lagi-lagi ia memilih menyimpannya sendiri.
Malam itu, setelah makan bersama, Athar menerima telepon dari asistennya. "Aku ke ruang kerja bentar," katanya kepada Samaira.
"Oke." Samaira membereskan meja makan sendirian.
Tak lama kemudian, suara notifikasi terdengar dari ruang tamu. Ponsel Athar yang tertinggal di atas meja menyala. Samaira tidak berniat membukanya. Namun, layar ponsel itu menampilkan notifikasi bank yang terlihat jelas.
Transfer berhasil, nominalnya begitu besar hingga membuat Samaira spontan mematung. Tangannya yang sedang membawa gelas perlahan berhenti bergerak, netranya terpaku pada layar yang masih menyala. Nama penerimanya hanya terdiri dari satu kata.
Naretta. Namun, Samaira mencoba menahan semuanya. "Wajar kalau suamiku masih kasih jatah ke mantan istrinya, mungkin mantannya emang bener-bener lagi butuh," batinny