Suara bel masuk menggema di seluruh area sekolah. Para siswa yang masih berada di koridor segera berhamburan menuju kelas masing-masing.
Di tengah keramaian itu, Nara berjalan cepat sambil memeluk beberapa buku di dadanya. Rambut hitamnya yang diikat ekor kuda bergoyang mengikuti langkah tergesa-gesanya.
"Hari pertama masuk setelah libur malah hampir terlambat," gumamnya pelan.
Ia mempercepat langkah.
Sekolah tempatnya belajar bukan sekolah biasa. SMA Pratama Bangsa dikenal sebagai sekolah elit dengan fasilitas mewah dan biaya pendidikan yang tidak murah.
Nara bisa bersekolah di sana karena mendapatkan beasiswa penuh. Karena itu, ia selalu berusaha menjaga nilai dan tidak membuat masalah.
Sayangnya, sejak tiga bulan terakhir, hidupnya justru dipenuhi masalah yang bernama Arka Mahendra.
Putra tunggal pemilik yayasan. Sang tuan muda sekolah.
"Nara!"
Seorang gadis berlari menghampirinya.
Nara menoleh. "Luna?"
"Sungguh, kamu jalan cepat sekali." Luna mengatur napasnya. "Aku dari tadi manggil."
"Ada apa?"
Luna menatapnya dengan ekspresi aneh. "Kamu lihat Arka hari ini?"
Pertanyaan itu langsung membuat wajah Nara berubah.
"Tidak."
"Bohong."
"Aku serius."
Luna menyipitkan mata. "Kalau begitu kenapa wajahmu langsung tegang begitu?"
Nara mendesah. Karena memang hanya mendengar nama cowok itu saja sudah cukup membuatnya gelisah.
Bukan tanpa alasan.
Arka Mahendra terlalu sering muncul dalam hidupnya.
Terlalu sering.
Seolah ada mata tak terlihat yang selalu mengawasi ke mana pun ia pergi.
"Aku masuk dulu."
"Nara."
"Apa lagi?"
Luna mendekat lalu berbisik.
"Katanya Arka mencarimu sejak pagi."
Jantung Nara langsung berdegup lebih cepat.
"Mencariku?"
"Iya."
"Untuk apa?"
Luna mengangkat bahu.
"Kalau itu aku tidak tahu."
Nara menggigit bibir bawahnya.
Ia tahu satu hal.
Jika Arka mencarinya, biasanya tidak akan ada sesuatu yang sederhana.
Jam istirahat pertama tiba.
Nara sengaja berdiam di perpustakaan.
Ia memilih duduk di sudut ruangan sambil membaca buku ekonomi.
Atau setidaknya berpura-pura membaca.
Pikirannya tidak fokus.
Matanya terus melirik ke arah pintu.
Jangan datang.
Jangan datang.
Jangan datang.
Pintu perpustakaan terbuka.
Nara spontan menegakkan badan. Namun, yang masuk hanya petugas perpustakaan.
Ia mengembuskan napas lega.
"Aku terlalu berlebihan," gumamnya.
"Apa yang terlalu berlebihan?"
Nara hampir meloncat dari kursinya.
Ia menoleh cepat, dan seketika wajahnya memucat.
Arka berdiri tepat di samping rak buku.
Cowok itu mengenakan seragam sekolah yang rapi.
Posturnya tinggi.
Tatapannya tenang. Namun, justru ketenangan itu yang membuat Nara merasa gugup.
"Kamu ...."
"Aku."
"Kapan datang?"
"Tadi."
"Kok aku tidak lihat?"
Arka mengangkat sebelah alis.
"Kamu terlalu sibuk melamun."
Nara langsung menutup bukunya.
"Aku mau kembali ke kelas."
Saat ia berdiri, Arka ikut melangkah.
"Nara."
"Apa?"
"Kamu menghindariku?"
"Tidak."
"Bohong."
"Aku tidak bohong."
"Kamu bahkan tidak berani melihat mataku."
Nara langsung menatapnya.
"Nah. Sekarang lihat."
Nara menyesal telah menurut.
Tatapan Arka terlalu dalam.
Terlalu fokus.
Seolah seluruh dunia di perpustakaan itu hanya berisi mereka berdua.
Nara buru-buru mengalihkan pandangan.
"Aku pergi."
Ia melangkah cepat meninggalkan perpustakaan.
Arka tidak mengejarnya. Namun, entah kenapa, justru itu membuatnya semakin gelisah.
Jam pelajaran berakhir pukul tiga sore.
Nara membereskan buku-bukunya lalu berjalan menuju area loker.
Koridor sekolah terlihat jauh lebih sepi dibandingkan pagi tadi.
Sebagian siswa sudah pulang.
Sebagian lagi mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
Nara membuka pintu lokernya.
Ia mengambil beberapa buku yang akan dibawa pulang. Namun, sesuatu menarik perhatiannya.
Selembar kertas putih tertempel di bagian dalam loker.
Dahinya berkerut.
Ia mengambil kertas itu.
Tulisan hitam yang tercetak rapi memenuhi bagian tengah.
I'm obsessed with you.
Nara membeku.
Jantungnya berdegup keras.
Apa ini?
Siapa yang menempelkan pesan seperti ini?
Tangannya mulai dingin.
Ia buru-buru melipat kertas itu.
"Nara."
Suara rendah tiba-tiba terdengar.
Nara terkejut.
Ia menoleh, dan mendapati Arka berdiri beberapa langkah darinya.
Seolah sudah ada di sana sejak lama.
"Kenapa?" tanya Arka.
Nara menyembunyikan kertas itu di belakang punggung.
"Tidak apa-apa."
"Kamu terlihat kaget."
"Aku baik-baik saja."
Arka menatapnya beberapa detik.
Lalu matanya turun ke tangan Nara.
"Apa yang kamu sembunyikan?"
"Tidak ada."
"Boleh lihat?"
"Tidak."
Arka melangkah maju.
Nara spontan mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Sampai akhirnya punggungnya menyentuh deretan loker di belakang, dan Arka kini berdiri sangat dekat.
Sangat dekat.
Napas Nara tertahan.
"Arka."
"Hm?"
"Mundur."
"Kenapa?"
"Kamu terlalu dekat."
Tatapan Arka tidak bergeser sedikit pun.
"Aku hanya ingin melihat sesuatu."
"Tidak perlu."
"Nara."
"Apa?"
"Kamu gemetar."
"Aku tidak gemetar."
"Kamu gemetar."
Nara langsung mengepalkan tangannya.
Cowok ini sungguh menyebalkan.
Arka mengulurkan tangan. Namun, bukan mengambil kertas itu.
Melainkan menyentuh loker di samping kepala Nara.
Kini Nara benar-benar terkurung.
Tidak bisa ke kanan.
Tidak bisa ke kiri.
"Arka!"
Cowok itu menunduk sedikit.
"Aku tidak suka saat kamu menghindar."
Nara terdiam.
"Aku tidak menghindar."
"Kamu melakukannya."
"Tidak."
"Kamu bahkan kabur setiap kali melihatku."
Nara tidak langsung menjawab.
Karena itu memang benar.
Arka menghela napas.
"Aku seseram itu?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Kamu membuatku tidak nyaman."
Kalimat itu akhirnya keluar.
Jujur.
Terang-terangan.
Untuk sesaat, ekspresi Arka berubah.
Nara mengira cowok itu akan marah. Namun, dugaannya salah.
Arka justru mundur satu langkah.
Ruang di sekitar Nara kembali terasa lega.
"Aku membuatmu tidak nyaman?"
"Iya."
Arka mengangguk pelan.
"Oke."
Nara berkedip.
Hanya itu?
"Oke?"
"Iya."
"Kamu tidak marah?"
"Aku memang terlihat marah?"
Nara menggeleng.
Arka memasukkan kedua tangannya ke saku.
"Kalau begitu aku akan berusaha."
"Berusaha apa?"
"Supaya kamu nyaman."
Nara justru semakin bingung.
Sebelum ia sempat menjawab, Arka kembali berbicara.
"Aku tidak akan berhenti mendekatimu."
"Apa?"
"Aku sudah bilang."
Tatapan Arka kembali terkunci pada wajahnya, dan untuk pertama kalinya, Nara melihat sesuatu yang berbeda di sana.
Kesungguhan.
Bukan candaan.
Bukan permainan.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
"Aku tidak mudah menyerah."
Jantung Nara kembali berdebar.
Arka berbalik lalu berjalan pergi.
Meninggalkan Nara yang masih berdiri mematung di depan loker.
Koridor kembali sunyi. Namun, kepalanya justru semakin ramai.
Nara menatap kertas yang masih berada dalam genggamannya.
Tulisan itu kembali terlihat jelas.
I'm obsessed with you.
Entah kenapa, kalimat itu membuat bulu kuduknya meremang.
Ia segera memasukkan kertas tersebut ke dalam tas.
Lalu bergegas meninggalkan sekolah.
Tanpa menyadari bahwa dari lantai dua gedung utama, sepasang mata sedang memperhatikannya, dan orang itu tersenyum tipis.
"Menarik," gumam suara tersebut.
"Sangat menarik."
Sementara itu, Nara sama sekali tidak tahu bahwa pesan misterius tadi hanyalah awal.
Awal dari serangkaian rahasia yang akan mengubah hidupnya, dan yang paling berbahaya yaitu rahasia itu berkaitan langsung dengan Arka Mahendra.