Pagi itu, matahari terbit dengan kejam, menyinari Randi yang sedang berdiri kaku di depan cermin kosan. Ia mengenakan kemeja putih polos yang sudah disetrika hingga selicin perosotan anak-anak, dipadu celana kain hitam yang sedikit menggantung di atas mata kaki.
Randi mematut diri. "Hari ini, dunia kerja akan bertekuk lutut di hadapanku," bisiknya optimis.
"Randi! Itu ayam Bu Kos jangan dipelototi terus, nanti dia bertelur di atas sepatumu!" seru Doni dari balik pintu kamar mandi yang terbuat dari seng.
"Ini namanya membangun aura kepemimpinan, Don!" balas Randi seraya membusungkan dada.
Ia memegang map merah berisi dokumen berharga: ijazah sarjana ilmu komunikasi dengan predikat cumlaude, transkrip nilai tanpa cela, dan pasfoto berukuran 4x6 dengan senyum paling menawan yang bisa ia usahakan.
Ia melangkah keluar kosan dengan dagu terangkat. Dunia menyambutnya dengan embusan angin pagi yang segar, ditambah kepakan sayap seekor ayam jago bertubuh gemuk milik pemilik kos. Ayam itu bernama Supri.
Supri menatap Randi dengan mata bulatnya yang dingin.
"Jangan macam-macam, Pri. Hari ini aku ada wawancara kerja," ancam Randi pelan.
Supri hanya merespons dengan kokok singkat yang terdengar seperti ejekan, lalu melompat ke atas pagar.
Randi menatap jam tangannya. Pukul 07.45. Wawancara kerja pertamanya di PT Sentosa Maju Bersama dijadwalkan pukul 08.30. Jarak dari kosan hanya sepuluh menit naik sepeda motor.
Semuanya sudah diperhitungkan secara matang. Randi tersenyum puas, merasa jalan kariernya akan selurus jalan tol yang baru diresmikan. Namun, nasib mempunyai selera humor yang agak jahat.
Baru saja Randi hendak menaiki sepeda motor matiknya yang bernada mesin mirip mesin parut kelapa, sebuah suara keras mengejutkannya.
BLETAK!
Supri melompat turun dari pagar, mendarat tepat di atas stang motor Randi, lalu melepas kotoran berwarna putih kekuningan tepat di atas map merah berharganya.
Randi melotot. "Supri!" jeritnya histris. "Itu map ijazahku, Ayam Lucu!"
Kukukuruyuk!
Supri mengepakkan sayap, lalu kabur melompati selokan dengan santai, meninggalkan Randi yang mematung dengan mulut menganga.
"Tenang, Randi, tenang. Ini hanya ujian kecil menuju kesuksesan," gumam Randi pada dirinya sendiri. Tangannya gemetaran saat mengambil selembar tisu dari saku celana untuk membersihkan noda tersebut. “Masa lalu boleh ternoda, tapi masa depan tetap harus bersih,” batinnya menghibur diri.
Setelah aksi pembersihan darurat selesai, Randi segera memacu motornya. Roda berputar, angin membelai wajah, dan harapan kembali melambung. Sampai akhirnya, ia tiba di depan sebuah gedung perkantoran megah berlantai lima.
Randi memarkir motornya dengan gaya elegan, lalu berjalan mantap memasuki lobi. Lantai marmer yang mengilap membuat Randi bisa melihat bayangan wajahnya sendiri yang penuh percaya diri.
"Selamat pagi, Pak," sapa Randi anggun kepada petugas keamanan di depan pintu.
Petugas keamanan bertubuh kekar itu menatap Randi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tangannya memegang papan jalan kayu. "Pagi. Mau antar paket apa, Mas?"
Seketika senyum Randi membeku.
"Maaf?" Randi mengedipkan mata beberapa kali. "Saya bukan kurir, Pak. Saya pelamar kerja. Posisi Management Trainee."
Petugas itu menggaruk dagunya yang tidak gatal. "Oh, pelamar kerja? Tapi kok kostumnya mirip Mas-Mas pengantar paket kilat yang biasa ke sini?"
Randi menarik napas panjang, menahan agar jantungnya tidak melompat keluar dari tenggorokan. Sabar, Randi. Orang sukses selalu diuji dari hal-hal sepele.
"Ini kemeja putih standar wawancara kerja, Pak. Bukan seragam ekspedisi," jelas Randi, berusaha tetap tersenyum meski bibirnya mulai berkedut.
"Oalah, begitu. Ya sudah, naik ke lantai tiga. Ruang wawancara di ujung lorong sebelah kiri," ujar petugas itu seraya menunjuk ke arah lift.
"Terima kasih, Pak," kata Randi lega. Ia membalikkan badan, siap melangkah menuju lift.
"Eh, Mas!" panggil petugas itu lagi.
Randi menoleh. "Ya, Pak?"
"Topinya jangan lupa dilepas."
Randi refleks meraba kepalanya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari helm bogo berwarna merah muda milik adik kosnya masih menempel erat di kepalanya. Ia lupa melepas helm gara-gara panik memikirkan kelakuan Supri tadi.
“Tuhan, cabut saja nyawaku sekarang,” batin Randi menjerit.
Dengan wajah seseram kepiting rebus, Randi melepas helm itu secepat kilat dan menyembunyikannya di balik punggung. "Terima kasih pengingatnya, Pak. Ini aksesoris pelindung kepala dari radiasi," alibinya asal-asalan sebelum berlari kecil menuju lift.
Di dalam lift, Randi mengelus dadanya berulang kali. "Tidak apa-apa. Itu cuma salah paham kecil. Yang penting di ruang wawancara nanti aku harus tampil sempurna."
Lantai tiga disambut dengan lorong yang sepi dan dingin. Di ujung kiri, terdapat sebuah pintu kayu tebal dengan papan nama akrilik bertuliskan: Ruang Wawancara Utama.
Randi merapikan rambutnya menggunakan pantulan pintu kaca, menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu tiga kali dengan irama yang terukur.
Ketuk. Ketuk. Ketuk.
"Masuk!" Suara berat dari dalam ruangan terdengar.
Randi memutar gagang pintu dan melangkah masuk dengan senyum paling profesional yang ia miliki. Di balik meja kayu besar, duduk seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan wibawa yang luar biasa memancar.
"Selamat pagi, Pak. Saya Randi, pelamar untuk ...."
Kalimat Randi terhenti secara mendadak. Kakinya menyandung ujung karpet tebal yang sedikit terlipat.
Dunia seolah berputar lambat. Randi kehilangan keseimbangan. Map merah di tangannya terlepas, terbang ke udara bak burung merpati yang terbebas dari sangkar. Lembaran ijazah, transkrip nilai, dan pasfoto melayang-layang dengan indahnya sebelum akhirnya mendarat tepat di atas meja sang pewawancara.
Sementara itu, tubuh Randi sendiri meluncur deras ke depan dan mendarat dalam posisi tengkurap sempurna di lantai, tepat di depan sepatu mengilap milik pria berkacamata tersebut.
Hening.
Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar mendengung pelan.
Pria berkacamata itu perlahan menunduk, menatap Randi yang masih terkapar di lantai melalui celah bawah kacamatanya.
Randi mendongak perlahan. Matanya bertemu dengan mata sang pewawancara. Dalam situasi serba salah itu, otak Randi bekerja cepat mencari cara untuk menyelamatkan harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Randi lalu merubah posisinya menjadi telentang, meletakkan tangan di belakang kepala, lalu tersenyum manis.
"Selamat pagi, Pak. Selain siap bekerja di bawah tekanan, saya juga ahli dalam melakukan atraksi masuk ruangan secara dramatis," ucap Randi dengan suara seramah mungkin.
Pria berkacamata itu menarik napas panjang, merapikan letak kacamatanya, lalu mengambil lembaran ijazah Randi yang mendarat di mejanya.
"Muda, berprestasi, dan tidak punya urat malu," gumam pria itu pelan. "Menarik. Silakan duduk, Saudara Randi. Mari kita bicarakan posisi manajer peternakan lele ini."
Randi yang baru saja berdiri dan merapikan kemejanya langsung tersedak ludahnya sendiri. "Maaf, Pak posisi apa?"