Kosan Melati selalu ribut, tapi seminggu sebelum Ramadan, ributnya naik level nasional.
“Aku nyatain ya, ramadan kali ini aku mau berubah!”
Suara Maya menggema dari dapur sempit yang cuma muat dua orang kalau berdempetan. Tangannya menunjuk papan tulis kecil yang ditempel di dinding, penuh coretan spidol warna-warni.
Zifa yang sedang duduk di lantai sambil melipat baju cuma melirik sekilas. “Berubah dalam hal apa?” tanyanya datar.
“Dalam hal semua!” Maya menjawab dramatis. “Bangun sahur tepat waktu. Nggak bolong puasa. Ngaji tiap hari. Terus nggak marah-marah kalau lapar.”
Zifa mengangguk pelan. “Yang terakhir itu paling susah.”
Maya mendecih. “Hei! Aku nggak segitu emosian, ya.”
Dari kamar paling ujung, Dewi keluar sambil membawa sapu. Rambutnya diikat asal, kausnya kebesaran. “Ngomong apa lagi kalian?” tanyanya sambil menguap.
“Ini, aku lagi deklarasi perubahan hidup,” jawab Maya.
Dewi langsung senyum lebar. “Bagus! Aku dukung! Mulai besok aku yang bangunin sahur, ya!”
Maya langsung panik. “E-eh maksudnya bangunin itu pelan-pelan aja, Wi. Jangan kayak tahun lalu.”
Zifa berhenti melipat. “Yang pakai panci?”
Dewi terkekeh. “Itu efektif.”
“Efektif bikin jantung copot!” Maya mengeluh.
Kosan Melati memang cuma rumah tua dua lantai yang disekat jadi enam kamar. Penghuninya sekarang tinggal mereka bertiga. Entah kenapa, sejak awal mereka langsung cocok atau lebih tepatnya, langsung ribut bareng. Maya si paling heboh. Kalau cerita, bisa pakai tangan, kaki, dan ekspresi wajah sekaligus. Zifa kebalikannya. Pendiam, lebih sering jadi penonton, sedangkan Dewi, dia itu tipe orang yang selalu semangat bahkan untuk hal-hal yang tidak perlu disemangati.
Meskipun Dewi berbeda keyakinan, dia justru yang paling rajin mengingatkan soal sahur, buka, dan rencana Ramadan. “Aku udah bikin jadwal,” kata Dewi sambil mengangkat selembar kertas. “Ini jadwal bangun sahur, jadwal masak, sama jadwal berburu takjil.”
Mata Maya langsung berbinar. “BERBURU TAKJIL?!”
Zifa menutup bukunya. “Itu yang bikin kamu semangat?”
“JELAS!” Maya melonjak dari kursi. “Ramadan itu bukan cuma soal puasa, tapi juga soal takjil. Kolak, es buah, gorengan, cendol—”
“Stop,” potong Zifa. “Aku lapar.”
Dewi tertawa. “Makanya kita harus rencana dari sekarang. Tahun lalu kita chaos. Hari ketiga udah bingung mau buka pakai apa.”
Maya mengangguk serius. “Benar. Ramadan itu harus terstruktur. Harus ada strategi.”
Zifa memandang papan tulis kecil itu. Di sana tertulis besar-besar.
PROYEK RAMADAN KOSAN MELATI
Di bawahnya ada poin-poin:
Sahur bareng
Buka bareng
Berburu takjil keliling kampung
Tidak ada yang buka sendirian
Tidak ada yang pura-pura tidur pas disuruh bangun sahur
Zifa menunjuk poin kelima. “Ini ditujukan ke siapa?”
Maya langsung pura-pura batuk. “Itu umum.”
Dewi berdiri di tengah ruangan. “Oke, rapat persiapan Ramadan aku buka.”
Maya dan Zifa refleks duduk rapi di lantai.
“Agenda pertama,” kata Dewi serius. “Bersih-bersih kosan.”
Maya langsung jatuh telentang. “Aku mending puasa tujuh hari tanpa buka.”
Zifa berkomentar, “Kamar kamu emang butuh tobat.”
“Hai!” Dewi menepuk tangan. “Nggak ada alasan. Kita mulai sekarang. Ramadan itu harus disambut dengan bersih. Hati bersih, kamar juga bersih.”
Maya menggerutu, tapi tetap berdiri. Mereka mulai membagi tugas. Zifa menyapu, Dewi mengepel, dan Maya lebih banyak komentar daripada kerja.
“Ini kaus kaki siapa sih? Baunya kayak trauma masa lalu.”
“Itu punya kamu,” jawab Zifa.
Maya terdiam. “Oh.”
Setelah satu jam, kosan itu memang terlihat sedikit lebih layak huni. Mereka duduk di lantai ruang tengah, berkeringat, sambil minum air dingin.
“Aneh ya,” kata Maya tiba-tiba. “Rasanya kayak mau ada sesuatu yang berubah.”
Zifa meliriknya. “Karena Ramadan datang.”
“Bukan cuma itu,” lanjut Maya. “Kayak kita bakal punya kebiasaan baru.”
Dewi tersenyum. “Itu bagus, May. Ramadan kan memang tentang kebiasaan baru.”
Zifa menatap jendela. Di luar, langit sore mulai menguning. Seminggu lagi, mereka akan bangun lebih pagi, pulang lebih cepat, dan menunggu magrib dengan perut kosong, tapi hati entah kenapa selalu penuh.
“Aku pengin Ramadan kali ini nggak sepi,” ucap Maya pelan.
Dewi langsung memeluknya dari samping. “Mana mungkin sepi, ada aku.”
Zifa ikut mendekat. “Aku.”
Maya mendengkus. “Kalian lebay.” Dia tersenyum.
Malamnya, Maya berdiri di depan papan tulis lagi. Menambahkan satu poin baru.
Tidak boleh merasa sendirian.
Dewi membacanya sambil sikat gigi. “Itu maksudnya apa?”
Maya mengangkat bahu. “Entahlah. Kayak pengingat.”
Zifa mematikan lampu ruang tengah. “Pengingat yang bagus.”
Seminggu sebelum Ramadan, mereka belum tahu apa yang akan berubah. Belum tahu bahwa rencana berburu takjil itu akan membawa seseorang baru ke dalam hidup mereka. Belum tahu bahwa kebiasaan sederhana akan berubah jadi cerita. Yang mereka tahu cuma satu, Ramadan kali ini akan mereka jalani bersama, dan di kosan kecil bernama Melati itu, sebuah kisah pelan-pelan mulai bergerak.
Maya mematikan lampu ruang tengah. Zifa sudah masuk kamar. Dewi masih sibuk menyusun alarm sahur di ponselnya. “Pokoknya besok kita latihan bangun sahur lagi,” teriak Dewi.
“Besok itu masih seminggu lagi,” balas Maya dari balik pintu kamar.
“Biar nggak kaget!” ucap Dewi.
Maya tertawa kecil, lalu merebahkan diri di kasur. Di luar, suara motor lewat pelan. Seminggu lagi Ramadan datang. Entah kenapa, Maya merasa hari-hari ke depan tidak akan sama seperti biasanya, Ramadan tahun ini berbeda.