“Ingat, Lucas, ini bukan tempat liburan. Kamu di sini untuk belajar, melunasi kewajiban akademismu, dan, yang terpenting, belajar memanusiakan manusia. Jangan buat Papa malu lagi.”
Suara bariton di seberang telepon genggam itu terdengar datar, tanpa intonasi hangat yang biasa dinantikan seorang anak. Lucas hanya mengembuskan napas panjang, menempelkan gawai tipis itu ke telinganya sembari memandang hamparan dinding kusam yang menjulang di hadapannya.
“Ya, Pa. Lucas paham. Tidak perlu diulang sampai sepuluh kali,” jawab Lucas ketus.
Tangannya yang bebas merapatkan kerah jaket denim yang ia kenakan. Udara sore itu terasa menggigit, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa hujan yang baru saja reda.
“Bagus. Direktur panti itu adalah teman lama Papa. Beliau tahu persis apa yang harus dilakukan pada anak kepala batu sepertimu. Nikmati tiga bulanmu di sana.”
Sambungan telepon terputus sepihak. Nada statis yang monoton segera menggantikan suara dingin sang ayah. Lucas menurunkan ponselnya, menatap layarnya yang menggelap dengan decakan sinis. Ia memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana jinsnya, lalu beralih menatap gerbang besi berkarat di depannya.
Sebuah papan kayu tua yang menggantung miring di dekat pos satpam bertuliskan. Panti Wreda Kasih Senja. Huruf-hurufnya sudah mengelupas di beberapa bagian, seolah-olah menegaskan bahwa tempat ini pun, sama seperti namanya, sedang berada di ambang kegelapan malam yang tak terhindarkan.
“Kasih Senja,” gumam Lucas ironis. “Lebih mirip kuburan sebelum waktunya.”
Basi bagi Lucas, tempat ini adalah hukuman mati bagi masa mudanya. Di saat teman-teman kuliahnya menghabiskan libur semester dengan mendaki gunung, berlibur ke Bali, atau magang di perusahaan-perusahaan rintisan bergengsi di Jakarta, ia justru terdampar di pinggiran kota yang sepi. Keputusan sepihak dari ayahnya, akibat nilai akademisnya yang merosot dan sebuah insiden balap liar yang hampir merenggut nyawanya semester lalu, membawa Lucas ke tempat yang paling ia hindari di dunia, sebuah panti jompo.
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesabaran yang hampir habis, lalu melangkah mendekati pintu gerbang besi itu. Suara gesekan logam yang berkarat memekakkan telinga saat ia mendorongnya perlahan. Tidak ada satpam yang berjaga di pos. Hanya ada keheningan yang janggal, seolah-olah dunia luar dan hiruk-pikuknya telah terputus begitu seseorang menginjakkan kaki di area ini.
Halaman depan panti itu cukup luas, tampak kurang terawat. Beberapa pohon beringin besar tumbuh di sudut halaman, daun-daun keringnya berserakan di atas paving block yang mulai ditumbuhi lumut hijau. Di sudut lain, sebuah taman kecil dengan beberapa bangku besi yang catnya sudah mengelupas tampak sepi. Keheningan di tempat ini begitu pekat, jenis keheningan yang membuat detak jantung sendiri terdengar terlalu keras.
Lucas menyeret koper hitam besarnya, menghasilkan bunyi gerit roda yang beradu dengan semen kasar. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah-olah bumi di bawah kakinya menolak kehadirannya. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda kehidupan. Di teras depan bangunan utama yang bergaya kolonial Belanda itu, ia melihat beberapa bayangan bergerak lambat.
Ada seorang wanita tua yang duduk di kursi goyang, tatapannya kosong mengarah ke langit sore yang mulai memerah. Di sudut lain, seorang pria tua bertubuh kurus tampak sibuk membersihkan kacamata tebalnya dengan ujung kaus yang sudah longgar. Mereka tampak seperti patung-patung bernyawa, terperangkap dalam lingkaran waktu yang bergerak lambat, sangat kontras dengan dunia Lucas yang biasa berjalan dengan kecepatan penuh.
“Anak muda, kamu mencari siapa?”
Suara serak, tegas itu mengejutkan Lucas. Ia menoleh dan mendapati seorang pria paruh baya dengan pakaian safari berwarna krem berjalan ke arahnya. Pria itu memiliki rambut yang sebagian besar sudah memutih, tatapan matanya tajam dan penuh wibawa. Di dadanya tersemat papan nama berbahan kuningan. Hartono, Kepala Panti.
“Saya Lucas. Lucas Aditya,” jawab Lucas, mencoba terdengar sopan meskipun nada bicaranya tidak bisa menyembunyikan rasa enggan. “Saya mahasiswa magang yang dikirim oleh Pak Baskoro.”
***
Pak Hartono menghentikan langkahnya tepat di depan Lucas. Ia memandang Lucas dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan anting kecil di telinga kiri Lucas, jaket denim yang sengaja tidak dikancingkan, dan ekspresi wajah yang tampak acuh tak acuh. Sebuah senyum tipis, hampir tidak terlihat, tersungging di bibir pria paruh baya itu.
“Ah, putra Baskoro,” ujar Pak Hartono dengan nada yang sulit diartikan. “Ayahmu sudah bercerita banyak tentangmu. Dia bilang kamu butuh sedikit ruang untuk merenung.”
“Saya di sini untuk memenuhi tugas pengabdian masyarakat, Pak. Bukan untuk merenung,” sahut Lucas cepat, mencoba menegaskan batasan.
Pak Hartono terkekeh pelan. “Apapun sebutannya, Lucas. Di tempat ini, batas antara tugas dan perenungan sering kali kabur. Mari, ikut saya ke dalam. Saya akan tunjukkan kamarmu sebelum hari benar-benar gelap.”
Lucas mengikuti langkah Pak Hartono melewati pintu kayu jati besar yang menjadi akses utama ke dalam gedung. Begitu melintasi ambang pintu, hidung Lucas langsung disambut oleh aroma khas yang langsung membuatnya tidak nyaman, campuran bau minyak kayu putih, obat-obatan, disinfektan, dan sesuatu yang pekat yang hanya bisa ia definisikan sebagai bau “masa lalu”.
Interior bangunan itu tampak kuno, bersih. Dinding-dindingnya dicat dengan warna krem pucat, dihiasi oleh beberapa foto hitam-putih yang menunjukkan masa kejayaan panti ini puluhan tahun silam. Lantainya yang terbuat dari ubin tegel tua terasa dingin, bahkan menembus sol sepatu kets yang dikenakan Lucas.
Saat berjalan menyusuri koridor panjang, Lucas merasakan beberapa pasang mata memperhatikan dirinya dari balik pintu-pintu kamar yang terbuka sedikit. Tatapan-tatapan itu terasa asing bagi Lucas, ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang kosong tanpa ekspresi, dan ada pula yang tampak sinis, seolah-olah kehadiran seorang anak muda di tempat ini adalah sebuah anomali yang mengganggu ketenangan mereka.
“Di sini ada sekitar tiga puluh penghuni,” jelas Pak Hartono sambil terus berjalan. “Sebagian besar dari mereka ditempatkan di sini oleh keluarga mereka yang sibuk, sebagian lagi memang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Tugasmu nanti adalah membantu staf harian, menemani mereka mengobrol, dan memastikan mereka tidak merasa terlupakan.”
***
“Menemani mengobrol?” Lucas mendengkus pelan, hampir tidak terdengar.
“Saya tidak terlalu pintar berbicara dengan orang tua, Pak.”
“Kamu tidak perlu pintar berbicara, Lucas. Kamu hanya perlu belajar mendengar,” balas Pak Hartono tanpa menoleh. “Hal yang paling mahal di dunia ini bagi mereka bukan lagi uang atau materi, melainkan telinga yang mau mendengar tanpa menghakimi.”