“Dokter, apakah tidak ada cara lain? Saya hanya ingin hasil yang instan, yang sempurna dalam semalam. Mengapa Dokter mempersulit sesuatu yang sederhana?”
Dr. Arini Kirana menghela napas panjang, pelan cukup dalam untuk meredam desah frustrasi yang mulai merayap di dadanya. Ia meletakkan penlight di atas meja kaca yang tertata rapi, lalu menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang teduh, tidak tergoyahkan.
Di ruang konsultasi klinik estetika yang tenang itu, aroma essential oil beraroma lavender samar-samar tercium, kontras dengan tensi yang tiba-tiba mengeras di antara mereka.
“Ibu Sarah,” ucap Arini dengan nada rendah dan tenang. “Tugas saya bukan sekadar mengubah bentuk wajah atau menghaluskan kerutan. Tugas saya, di atas segalanya, adalah menjaga kesehatan dan keselamatan pasien. Prosedur yang Ibu minta, penyuntikan filler dalam dosis ekstrem di area yang sangat vaskular, memiliki risiko komplikasi yang sangat tinggi. Nekrosis jaringan, kebutaan, hingga sumbatan pembuluh darah utama adalah ancaman nyata yang tidak bisa saya abaikan hanya demi hasil instan.”
Wanita itu, Sarah, mendengkus. Ia menyilangkan kaki dengan angkuh, jemarinya yang terawat mengetuk-ngetuk tas bermerek yang diletakkan di pangkuan.
“Saya sudah mendengar banyak dokter lain yang sanggup melakukan ini tanpa banyak bicara. Mereka mengutamakan kepuasan pelanggan. Kenapa Dokter malah seperti sedang menceramahi saya tentang anatomi?”
Arini tersenyum tipis. Sebuah senyum yang bukan bentuk keraguan, melainkan bentuk kesabaran seorang tenaga medis yang telah memegang teguh sumpahnya selama belasan tahun. Ia teringat masa-masa kuliah dulu, saat tangan gemetar ketika pertama kali melakukan tindakan minor, hingga janji yang ia ucapkan di hadapan saksi dan Tuhan untuk tidak pernah mencelakai pasiennya.
“Setiap dokter memiliki pertimbangan etisnya masing-masing, Ibu. Saya menghargai pilihan Ibu untuk mencari penyedia jasa lain, saya tidak bisa memenuhi permintaan yang, bagi saya, melanggar standar keselamatan medis yang saya pegang,” jawab Arini tegas.
Setelah sesi konsultasi yang berakhir buntu itu, Arini terdiam cukup lama setelah pintu ruang praktek tertutup rapat. Ia memutar kursi kerjanya, menatap keluar jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang mulai dipadati lampu-lampu kendaraan saat senja tiba.
Klinik estetika miliknya, ‘Kirana Aesthetics’, adalah buah dari kerja keras dan mimpinya untuk memberikan perawatan yang jujur dan beretika. Tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk menukar integritas dengan lembaran uang yang datang dari tindakan yang tidak semestinya.
Ia membuka buku catatan kecil di atas meja. Di sana, tertulis kutipan dari mentornya, Dokter Maharani. Integritas adalah satu-satunya barang yang tidak bisa dibeli dengan kekuasaan, bisa dihancurkan oleh ketakutan.
Arini sering bertanya pada diri sendiri, apakah ia terlalu kaku? Di dunia estetika yang serba cepat dan menuntut kesempurnaan visual, mungkin pendekatan yang ia ambil terasa kuno bagi sebagian orang. Namun, baginya, wajah adalah kanvas yang tidak boleh dirusak. Setiap garis, setiap struktur, memiliki fungsinya.
Ponsel di atas meja bergetar. Sebuah pesan dari resepsionis masuk, memberitahukan bahwa pasien terakhir telah selesai.
Arini bangkit, merapikan jas putihnya, dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang mantap. Ia merasa lelah, ada kepuasan batin yang mendalam setiap kali ia berhasil berkata ‘tidak’ pada sesuatu yang memang seharusnya tidak dilakukan.
Ketenangan itu tidak berlangsung lama. Keesokan paginya, ketika ia baru saja menyesap kopi pertama di ruang kantornya, pintu ruangan diketuk dengan tidak sopan. Sebelum ia sempat memberikan izin masuk, pintu terbuka lebar.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat formal, didampingi oleh dua orang pria berjas gelap dengan ekspresi wajah yang datar dan mengintimidasi, melangkah masuk tanpa diundang.
Wanita itu memiliki sorot mata yang tajam, jenis tatapan yang seolah-olah terbiasa membuat orang lain gemetar di hadapannya. Arini mengenalinya dari berita-berita di televisi.
Ia adalah Dewi Sartika, seorang politisi daerah yang namanya sering menghiasi tajuk utama karena pengaruhnya yang luas.
Dewi Sartika duduk di kursi di hadapan Arini, tidak menunggu dipersilakan. Ia meletakkan selembar dokumen di atas meja Arini dengan kasar.
“Dokter Arini, saya sudah mendengar tentang penolakan Anda kemarin terhadap kolega saya,” ucap Dewi dingin, sarat dengan nada otoriter yang tak terbantahkan.
“Saya tidak suka membuang waktu. Saya datang ke sini bukan untuk berkonsultasi, melainkan untuk memberikan penawaran. Anda akan melakukan prosedur yang saya inginkan besok, atau Anda akan melihat klinik ini tidak akan pernah bisa dibuka kembali lusa.”
Arini terpaku. Jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran akan ancaman yang nyata di depan mata. Ia menatap Dewi Sartika, lalu melirik dokumen yang baru saja diletakkan di mejanya, sebuah surat peringatan audit mendadak dari instansi yang memiliki wewenang untuk menutup klinik.
Pintu klinik yang baru saja dibuka untuk melayani pasien, kini terasa seperti pintu jebakan yang perlahan-lahan mulai terkunci rapat, menjebaknya di antara pilihan yang mustahil.
***
“Dokter Arini, jangan membuat saya harus mengulang kalimat saya untuk kedua kalinya. Waktu saya jauh lebih berharga daripada biaya operasional klinik kecil yang sudah berdiri di ujung tanduk ini.”
Suara Dewi Sartika yang tajam memecah kesunyian ruang kantor Arini. Ruangan yang tadinya terasa hangat kini berubah mencekam, seolah oksigen di dalamnya tersedot habis oleh kehadiran sang politisi.
Arini masih terpaku, matanya menatap surat peringatan audit yang tergeletak di atas meja. Logo instansi pemerintah yang tertera di sana tampak nyata, bukan sekadar gertakan kosong.
Arini menarik napas dalam, berusaha menstabilkan detak jantung yang berpacu liar. Ia menatap lurus ke arah mata Dewi, mencoba mencari celah empati di balik tatapan dingin wanita itu.
“Ibu Dewi, saya sangat menghormati posisi Ibu sebagai pejabat publik. Namun, permintaan prosedur yang Ibu ajukan ini, melakukan fat transfer dosis besar ke area wajah dengan kondisi kulit yang tidak mendukung, bukanlah tindakan medis yang bisa saya pertanggungjawabkan. Ini berisiko tinggi menyebabkan emboli lemak. Saya tidak bisa melakukan tindakan yang membahayakan nyawa pasien, apa pun risikonya bagi saya.”
Dewi Sartika tertawa sinis. Suara tawanya terdengar kering dan merendahkan. Ia berdiri dari kursinya, kemudian berjalan perlahan mengelilingi meja Arini seperti pemangsa yang sedang mengitari mangsanya.
“Tanggung jawab? Integritas? Kata-kata itu terdengar manis di buku teks kedokteran, Dokter, tapi di dunia nyata, integritas adalah kemewahan bagi mereka yang tidak punya ambisi. Anda tahu berapa banyak dokter yang mengantre untuk bisa mengerjakan proyek saya? Mereka akan melakukan apa pun, bahkan jika saya meminta mereka untuk menyuntikkan semen cair ke wajah saya sekali pun.”