


oleh Yulita Lestari · 42 Bab
Sebenarnya kehidupan Clara normal, ia punya keluarga lengkap dan harmonis. Namun, setelah ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun, kehidupannya berubah. Orang tuanya meninggal dan seluruh hartanya tersita. Di kontrakan, ia mengalami banyak kejanggalan yang berhubungan dengan dirinya, hingga satu persatu rahasia terkuak.
PROLOG
Hari ini adalah hari ulang tahun Clara Sabila yang ke tujuh belas tahun. Tiga orang kesayangannya sudah memberikan hadiah padanya.
Ayahnya, ibunya dan kakaknya. Semua memberikan hadiah istimewa. Kue ulang tahun juga sudah disiapkan. Namun, berbeda dari sebelumnya, Clara punya permintaan khusus di hari ulang tahunnya.
"Ayah, Ibu, aku sudah dewasa. Izinkan aku berpacaran," ungkap Clara.
Permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuanya. Bahkan Emil juga mendukung perkataan kedua orang tuanya.
Alih-alih ulang tahun yang cukup manis dan berkesan, justru dia sangat kesal karena permintaannya tidak dituruti. Padahal dia sudah janji kepada Erwan jika setelah ulang tahun dia akan menerima cintanya.
Tapi semua itu pupus. Ia tidak tahu kenapa orang tuanya tidak memperbolehkannya berpacaran. Padahal dia sudah besar dan bisa menjaga diri. Meski ada alasan di balik itu semua, Clara sangat marah. Dia mengunci diri di kamarnya dan saat berangkat sekolah dia tidak menyapa semua orang bahkan tidak makan sama sekali.
"Yah, bagaimana kalau kita katakan saja yang sebenarnya pada putri kita," ucap Dinda lirih. Ia tidak mau kekesalan putrinya terjadi berlarut-larut. Setidaknya Clara harus tahu alasan kenapa dia tidak boleh berpacaran.
"Nanti malam. Emil juga biar tahu," putus Arma setuju.
Malam itu kedua orang tuanya belum juga pulang. Tidak biasanya mereka pulang terlambat.
"Kak Emil, di mana Ayah dan Ibu?" tanya Clara.
"Mereka belum sampai? Tadi sudah pulang duluan."
Perasaan keduanya mendadak tidak enak.
Malam itu takdir memisahkan mereka dengan orang tuanya. Mereka mengalami kecelakaan dan meninggal. Tidak hanya itu, ternyata kedua orang tuanya baru saja tertipu dengan rekan kerja sehingga seluruh asetnya disita.
Saat berita beredar, di sekolah teman-teman dekat Clara meninggalkannya karena dirinya yang telah jatuh miskin. Bahkan Erwan yang katanya mencintainya juga langsung berubah tidak peduli.
Tidak sanggup membiayai sekolah Clara yang mahal, Emil putuskan untuk memindahkan adiknya di sekolah biasa.
***
(POV CLARA)
Namaku Clara Sabila, saat ini aku tidak begitu bersemangat akan tinggal di rumah baru, justru ada perasaan tidak rela meninggalkan rumah lama yang penuh dengan kenangan ini.
Andai saja rumah ini tidak disita karena orang tuaku masih punya sangkutan hutang, maka aku dan kakakku, Emil tidak akan mencari tempat tinggal baru.
Kupandangi sekali lagi rumah yang akan ditinggali orang lain tersebut sampai akhirnya menyusul Kak Emil yang sudah menunggu di kursi kemudi mobil L300 yang digunakan membawa barang-barang kami.
“Maafkan Kakak, ya.”
Berulang kali Kak Emil mengatakan hal itu, tapi responsku masih saja cuek.
Aku hanya mengangguk perlahan. Selain menerima keputusan Kak Emil, aku harus apa lagi. Hanya Kak Emil satu-satunya keluarga yang kupunya.
Sejak kepergian kedua orang tua kami 2 bulan yang lalu, pemikiran Kak Emil menjadi lebih dewasa, apalagi umurnya sudah 31 tahun. Dia tidak berpikir untuk segera menikahi pacarnya hanya karena fokus untuk menyekolahkanku.
Di sepanjang perjalanan Kak Emil berbicara tentang rumah kontrakan tempat tinggal kami cukup nyaman karena fasilitasnya yang lengkap sehingga dia tidak akan khawatir kalau meninggalkanku ke luar kota.
Ya, Kak Emil sangat bekerja keras membangun usahanya karena kedua orang tua kami telah bangkrut dan kami memulai semuanya dari nol. Seperti tempat baru kami saat ini. Kupandangi sebuah rumah asing di hadapanku ini dengan perasaan tidak percaya. Bagaimana mungkin rumah kontrakan besar seperti ini ditempati dengan harga yang murah tiap bulannya.
“Kak, ini beneran tiap bulan kita cukup bayar empat ratus ribu?” tanyaku.
Di tempat yang strategis apalagi jarak ke sekolahnya juga tidak begitu ramai tersebut bisa semurah ini. Belum lagi pot-pot bunga yang berbaris di depan rumah menambah kesan yang indah lebih indah dari rumah lama kami.
Aku mengikuti langkah Kak Emil yang membawakan koperku ke dalam.
“Kita bahkan mendapat potongan karena sudah membayar satu tahun. Jadi jangan khawatir akan menunggak,” seloroh Kak Emil.
Aku agak protes. “Bagaimana kalau ternyata kita tidak betah berada di rumah ini?” Kulihat semua tampak bersih terawat, seolah ada orang yang pernah tinggal di sini.
“Apa pun yang terjadi kita harus betah. Bukankah rumah ini nyaman.” Ia meletakan koper lalu menghidupkan AC karena suhu luar cukup panas. “Pemilik rumah ini cukup baik, bukan? Bahkan rumahnya sudah dibersihkan.”
Meski kedengarannya agak aneh menurutku, tapi yang diucapkan Kak Emil ada benarnya juga, pemilik rumah ini cukup baik.
Aku hanya membuang napas kasar kemudian berjalan ke arah tangga yang posisinya menempel dengan tembok. Seketika terhenti melihat sebuah lukisan besar dengan gambar seorang pria bertopeng yang cukup misterius.
“Lukisan ini pasti sangat mahal. Kenapa orang yang pernah tinggal di sini meninggalkannya?”
Kak Emil membuatku sedikit terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.
Ia seperti mengagumi lukisan tersebut. Berbanding terbalik denganku yang entah kenapa bagiku lukisan itu tampak seram.
“Aku tidak suka lukisan itu,” ungkapku seraya melanjutkan perjalanan ke atas.
Kak Emil menunjukkan kamar milikku di mana kamar itu lebih lebar dari pada miliknya Kak Emil karena barang-barangku lebih banyak dari pada milik Kak Emil yang kebutuhannya hanya ada lemari pakaian, ranjang dan nanti ditambahkan dengan peralatan kerjanya seperti laptop, komputer dan lain sebagainya.
Sementara milikku tentu tidak terhitung jumlahnya, selain ada lemari, ranjang dan peralatan sekolah juga koleksi boneka yang tidak bisa ketinggalan. Mereka harus selalu kubawa karena banyak sekali kenangan dengan boneka-boneka itu.
Huft ... meski rumah ini sudah bersih tanpa berdebu, menata barang-barang dari mobil sampai tertata ke dalam juga cukup melelahkan. Hingga tanpa terasa aku ketiduran dan bangun karena Kak Emil mengetuk pintu kamar.

Yulita Lestari
13 Pengikut · 5 Novel