Kana berteriak dengan suara keras dari ambang pintu. Wanita itu berlari sambil berteriak seolah ingin segera tiba di meja rekan kerja sekaligus sahabatnya.
Sedangkan Yasmin yang awalnya fokus ke layar komputer lantas menggelengkan kepalanya, kaget dengan tingkah Kana. Di sisi lain, Kana terlihat sedang terburu-buru dan hampir menabrak beberapa karyawan lain yang sedang berjalan di sekitar ruangan.
"Ada apa, Kana? Kayak dikejar setan aja," sindir Yasmin dengan wajah datar.
Di saat Yasmin sibuk mengoceh karena ulah temannya, Kana malah menarik kursi kosong milik rekannya yang lain dan duduk dengan mata tertuju pada Yasmin.
"Ck! Kamu ini terlalu fokus sama komputer, sampai cuek sama gosip di perusahaan," cetus Kana yang lantas membuat Yasmin menghentikan aktivitasnya.
Yasmin pun perlahan menarik napas dalam-dalam saat dia memalingkan muka dari layar komputer dan kemudian menatap Kana dengan fokus. Dia juga penasaran dengan berita yang dibawa rekannya.
"Oke, ada apa?" Yasmin bertanya perlahan.
Melihat reaksi Yasmin yang datar dan tidak terkejut sedikitpun, membuat Kana begitu gemas tapi tetap berusaha mengendalikannya.
"Astaga, Yasmin! Bagaimana mungkin kamu gak dengar gosip tentang pacarmu-"
"Sssst! Bisakah kamu mengecilkan suaramu!?" kata Yasmin sambil menutup mulut Kana lalu memeriksa keadaan di sekitar ruangan, "bagaimana kalau ada yang dengar?" Dia terus berbisik.
Kana dengan cepat melepaskan tangan Yasmin dari mulutnya dan kemudian berkata, "Itu maksudku, kenapa kamu masih merahasiakan hubunganmu dengan CEO!? Lihat saja hasilnya ... CEO kita akan bertunangan dengan wanita lain."
"Apa!? M-mas Haris bertunangan dengan wanita lain!?" Yasmin terkesiap dengan mata terbelalak dengan masih berusaha berbisik.
Kana mengangguk tegas lagi, membenarkan ucapan Yasmin. Sejenak Yasmin tampak terkejut, alisnya berkerut diikuti perasaan aneh yang menyelimuti dirinya.
"Kamu kaget, kan? Aku juga," kata Kana lalu menyilangkan tangannya sambil bersandar di bahu kursi seolah tak bisa berhenti memikirkan gosip yang beredar.
Sementara Yasmin masih tenggelam dalam lamunannya, pikirannya tiba-tiba kalut, panik mencoba menepisnya dan tidak ingin mempercayai kata-kata yang baru saja didengarnya. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong.
"Tidak mungkin ... Mas Haris tidak akan melakukan itu. Dia tidak mungkin menyakitiku," gumam Yasmin begitu rendah dan dalam.
Kini Yasmin semakin tenggelam dalam lamunannya, tampak tidak percaya dengan rumor yang beredar, tapi ia juga tidak bisa menjamin karena kekasihnya belum berbicara apa pun padanya. Seketika itu saja, pikiran yang mulanya dipenuhi rentetan urusan pekerjaan kini bertambah dengan kebenaran rumor tersebut.
Yasmin lalu menatap rekan kerja yang paling dekat dengannya selama ini, ia menggelengkan kepalanya perlahan dan mulai berkata, "Kamu tahu sendiri kan kalau Mas Haris tidak mungkin seperti itu, Kana."
"Apa kamu yakin?" Kana menaikkan kedua alisnya, "coba kamu tanya langsung sama pacar kamu itu," kata Kana yang tiba-tiba bangkit dari duduknya.
Tanpa berlama-lama lagi, Yasmin langsung merogoh saku blazernya dan mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya kemudian sibuk mencari kontak telepon bernama 'Love' dengan emotikon kecup yang terpasang. Namun, belum sempat menghubungi Haris, gerakannya tiba-tiba terhenti saat Kana mencoba berbisik sambil meraih tangan Yasmin.
"T-tunggu, Yasmin."
"Apa lagi, Kana? Aku sedang berusaha untuk-" Kata-kata Yasmin berhenti tiba-tiba ketika dia mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria bertubuh tegap dengan pakaian rapi dan rambut rapi yang mulai memutih.
Dengan kedua matanya membulat sempurna, Yasmin kemudian bergumam, "P-Pak Handoko??"
Ya. Handoko, pimpinan perusahaan itu dikenal tegas dan tidak pernah menunjukkan senyum ramah kepada bawahannya. Pria itu muncul dari balik pintu diikuti beberapa pengawalnya yang berjas hitam hingga menarik perhatian seisi ruangan.
Handoko terus berjalan dengan tatapan tajamnya mengikuti setiap meja pegawai hingga ia berhenti tepat di meja bertulisan 'sekretaris' yang terpampang di atasnya. Tatapannya menajam saat melihat seorang wanita cantik berambut coklat yang sedang memegang ponselnya.
"Ah ... jadi kamu sekretarisnya?" Handoko bertanya singkat.
Yasmin kemudian meletakkan kembali ponselnya dan bangkit dari kursinya dan segera membungkukkan badannya, tanpa lupa mengajak Kana untuk memberi hormat kepada pria yang berdiri di depannya.
"Selamat pagi, Pak!"
Handoko tidak menjawab, dia hanya mengangguk pelan. Tatapannya terus mengamati penampilan wanita yang selama ini bekerja dengan putranya, Haris.
Hingga pada akhirnya, pria paruh baya itu hanya menunjukkan senyum sinis pada dua wanita di depannya.
Kemudian sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, Handoko berkata lagi, "Ikut ke ruangan saya, ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
Pernyataan itu tentu kembali mengejutkan Yasmin, karena baru pertama kali sang pimpinan ingin bertemu langsung dengannya.
"B-baik, Pak!" kata Yasmin, sedikit terbata-bata.
Handoko mengangguk puas. Tanpa berkata apa-apa lagi, pria itu langsung membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari ruangan tersebut sementara Yasmin masih berdiri dan memandangi punggung pria itu, ayah dari kekasihnya.
Setelah Handoko pergi, ruangan kembali ramai. Para karyawan tampak menghela napas lega. Namun, berbeda dengan Kana yang khawatir dengan reaksi Yasmin yang terus diam dan menatap kosong ke arah pintu ruangan.
"Yasmin?"
Satu panggilan itu tidak serta merta membuat Yasmin menoleh, sehingga Kana harus meninggikan nadanya sedikit sambil melambaikan telapak tangannya tepat di depan wajah rekan kerjanya.
"Yasmin Andara??"
"Ah! Ya!?" Yasmin mengerjap lalu berdeham mencoba untuk menguasai diri.
"Astaga ... aku ingin tahu untuk apa Pimpinan memanggilmu?"
Yasmin menggelengkan kepalanya dengan menggerakkan bahunya ke atas dan ke bawah. "Entahlah, tapi lebih baik aku ke sana dan memastikannya."
Tanpa berlama-lama lagi, Yasmin segera membereskan mejanya lalu pamit pada Kana dan buru-buru meninggalkan ruangan dengan langkah tergesa-gesa dan pikiran yang tak berhenti menebak-nebak apa yang akan dibicarakannya dengan sang pimpinan.
Melihat tingkah Yasmin yang seperti itu lantas membuat Kana heran sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Punya pacar orang kaya ternyata bikin pusing juga, ya!"
Sesaat kemudian, Yasmin tiba di sebuah ruangan luas dengan beberapa perabot mewah di dalamnya. Ia berhadapan langsung dengan sosok pria yang sangat disegani oleh seluruh staf dan karyawan perusahaan ternama ini.
Sedangkan saat ini Handoko tidak ada henti-hentinya menatap sinis pada wanita yang berdiri di hadapannya, membuat Yasmin merasa sangat berdebar hingga tubuhnya gemetar tidak tertahankan.
"Ehem .…”
Handoko kemudian membetulkan posisi duduknya dan berkata lagi, “Kamu tahu kenapa saya memanggilmu ke sini?”
Yasmin yang terkejut mendengar pertanyaan itu kemudian menjawab, "Maaf, Pak. Saya tidak tahu."
Situasi macam apa ini? Yasmin memang sudah sedikit terbiasa saat menghadap sang pimpinan perusahaan tempat ia bekerja, akan tetapi kali ini suasananya terasa berbeda dengan sebelum-sebelumnya bahkan membuat detak jantungnya bedebar tidak karuan. Juga dengan rasa gugup yang mulai menjalari tubuhnya.
"Apa ini ada hubungannya sama berita itu?" Yasmin bertanya dalam hati.
Tidak dapat dipungkiri bahwa berita itu cukup membuatnya terkejut, ia juga belum bisa berpikir jernih karenanya.
Sementara Handoko yang sejak tadi memperhatikan wanita di hadapannyapun tentu menyadari gelagat aneh yang ditunjukkan wanita itu, sampai membuat lelaki paruh baya itu berdecih perlahan. "Tch! Menyebalkan," batinnya sedikit mengumpat.
"Baiklah, mari langsung pada intinya, apa yang kamu inginkan dari putraku Haris?"