


oleh sweetchocosin · 88 Bab
Eloise dan Alana bagaikan fajar dan senja, sepasang kembar identik dengan kehidupan bertolak belakang, terperangkap dalam drama pengkhianatan. Eloise hidup tenang dalam keluarga kaya, sementara Alana bergelut dengan kemiskinan dan dendam. Namun, segalanya berubah ketika Alana menjebak Eloise untuk menikahi Nicholas, seorang mafia kejam demi melunasi hutang-hutangnya. Dalam sekejap, hidup Eloise jungkir balik. Bisakah Eloise bertahan dalam bayangan kegelapan Nicholas? Akankah Alana berhasil menipu semua orang, termasuk keluarga angkat Eloise? Sanggupkah fajar bertahan dari pengkhianatan senja? Jangan lewatkan kisah penuh misteri ini!
Di tengah hamparan kebun yang luas dan indah, sebuah vila berdiri megah di bawah sinar mentari sore yang hangat. Bangunan putih yang anggun menantang langit biru yang tak terbatas, menciptakan gambaran indah tentang keanggunan dan kemewahan. Tak banyak saudagar yang memiliki vila belakangan ini.
Di teras vila yang luas, sebuah meja bulat berwarna krem tersaji rapi, dikelilingi oleh kursi-kursi nyaman yang serasi. Pemandangan perkebunan hijau dan bunga-bunga bermekaran, menjadi latar belakang sempurna bagi sosok gadis yang tengah membaca sebuah buku romansa klasik, yang membuat jantungnya berdebar-debar.
Gadis itu baru berusia awal dua puluhan, dan masih punya banyak pertanyaan terkait kehidupan. Ia setiap hari sibuk memikirkan harus memulai kisahnya dari mana, mengingat petualangan setiap tokoh dalam novel-novel favoritnya selalu seru untuk diikuti. Sedangkan gadis itu, selalu apatis dan pengecut untuk memulai ceritanya sendiri. Segala pertimbangan dan pemikiran payah tentang kesombongan, keangkuhan, dan kebengisan manusia, membuat nyalinya ciut.
Cinta, adalah bagian favorit gadis itu. Ia, sama seperti para gadis seusianya, selalu membayangkan pertemuan romantis nan indah dengan sesosok pangeran berkuda putih yang menyelamatkannya dari kastil penderitaan. Mereka bisa tanpa kenal waktu berpetualangan melintasi parit, demi menemukan arti dari sebuah cinta senjati.
Tentu saja itu hanyalah sebuah metafora. Gadis itu menyayangi keluarganya, melebihi kesukaannya pada Duke dan Baron khayalan. Jikalau memang benar ada pangeran berkuda putih yang tiba-tiba mengajaknya kawin lari, pasti akan dimakinya karena tidak beradab.
Gadis itu bernama Eloise. Gadis cantik berambut cokelat terang dan mata biru memesona dan sedang duduk dengan anggun pada salah satu kursi. Di sebelahnya, Luke, pria tampan berambut hitam dan mata selegam arang, duduk dengan santainya menikmati secangkir teh bunga yang baru dipetik pagi ini. Sudah jutaan kali mereka menghabiskan waktu bersama menonton kebun, namun mereka tak pernah bosan melakukannya.
“Dunia begitu indah, bukan?” Eloise berkata dengan suaranya yang lembut. Ia menutup bukunya setelah terpesona dengan siluet jingga yang menyeruak di balik pepohonan. “Aku selalu menantikan momen ini.”
“Apa? Senja?”
Eloise mengangguk. “Seandainya kita tidur lama tanpa tahu jam, mungkin kita juga tak bisa membedakan antara senja dan fajar. Dua hal yang tampak serupa, namun berbeda. Seolah menunjukkan bahwa setiap akhir perjalanan, akan selalu disambut oleh petualangan baru yang lain. Kau tahu maksudku?”
“Yah, meskipun bukan seorang kutu buku, aku paham maksudnya.”
Eloise tertawa.
Luke tersenyum memperhatikan kawannya yang mudah terkesima akan hal kecil yang sering terjadi dalam kehidupan. “Kau juga salah satu keindahan alam bagi Paman Robert dan Bibi Ellis. Dan bagi keluarga ini secara keseluruhan, kau menyerupai fajar yang mengawali kehidupan baru mereka.”
Eloise tersipu, merasa hangat dengan pujian yang mengalir dari bibir sahabat kecilnya. Meskipun gadis itu tahu kalau Luke memang pandai bermain kata.
“Aku bersyukur memilikinya sebagai ayahku.” kata Eloise, bersungguh-sungguh.
“Kau tidak perlu berlebihan, El. Gadis baik hati dan secantik dirimu memang berhak mendapatkan yang terbaik.”
“Tolong koreksi, apa aku pernah menyebutkan kalau kau ini penyair ulung yang konyol, Luke? Kalimat manis yang kau ucapkan tak mempan untukku.”
“Oh, dasar kutu buku manis sok pintar. Untung kau cantik.”
Eloise tertawa lepas, disambut sahutan humor bergaya Luke yang membuat perut gadis itu nyeri karena terlalu banyak tertawa.
Hari-hari Eloise dilewati demikian indahnya. Di tengah gemerlap kemewahan dan kedamaian hidupnya, gadis itu tak pernah melupakan tempat di mana ia berasal. Di dalam ingatan Eloise, masih terpatri dengan jelas bayangan masa lalu yang menyentuh hatinya. Ia tak pernah lahir sendirian. Ia memiliki kemelekatan dengan saudaranya yang lain, oleh tali yang tak terpisahkan sejak lahir. Kembarannya itu, bernama Alana.
Sebagai obat rindu terhadap Alana, Eloise selalu menikmati senja dan fajar. Ibu panti tempat ia menghabiskan masa kecilnya dulu sempat mengibaratkan mereka seperti dua hal indah berwarna jingga itu.
Kisah hidup mereka cukup sengsara, dan Eloise tak pernah melupakan saat-saat menyedihkan dalam hidupnya itu sebagai bentuk rasa syukur atas segala kemewahan dan kenikmatan yang ia miliki hari ini. Meskipun ia masih merasa bersalah atas apa yang menimpa Alana.
“Menurutmu, mengapa Papa lebih memilihku daripada Alana?” Eloise bertanya-tanya. Ditatapnya mata Luke menuntut jawaban. “Mengapa pula Papa memisahkan kami? Aku bukanlah bocah paling cantik dan paling pintar saat itu, Luke.”
“El, Pamanku orangnya teliti. Tak mungkin memilihmu tanpa pertimbangan dan asal-asalan. Lagipula, bagi keluarga yang tidak pernah punya anak seperti Paman Robert dan istrinya, akan kesulitan kalau diharuskan merawat kalian berdua. Tolong, jangan membenci mereka.”
“Tidak.” tukas Eloise. “Sekalipun aku tidak pernah membenci keluarga Papa, termasuk kau, Luke. Aku hanya bertanya-tanya, mengapa keberuntungan itu hanya menjadi milikku. Dan aku masih sangat penasaran bagaimana Alana melewati masa kecilnya setelah aku tidak ada. Dulu, kami tak pernah terpisahkan.”
“El, kalau kau memang merindukan saudaramu, kenapa tidak kau cari saja?”
Usulan Luke membuat Eloise tersentak. Ia serta merta menjadi bersemangat. “Apa aku boleh melakukannya?”
“Tentu. Kau sudah berusia dua puluh dua tahun sejak dua bulan yang lalu.” Luke berkelakar. “Aku yakin Paman Robert tidak keberatan kau menikmati reuni bersama saudara kembarmu.”
Eloise menyesap tehnya. Tak pernah ia merasa segar hanya dengan secangkir teh sebelumnya. Entah mengapa, apa yang dikatakan Luke membuat tubuhnya terasa ringan.
Namun, gadis itu tampak lesu. “Tapi, aku payah dalam mencari seseorang. Kau ingat saat dulu masih SMA, aku pernah tersesat saat hendak berkunjung ke rumah Bianca?”
Luke menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia tersenyum simpul. “Oh, Eloise. Kau benar-benar diciptakan sebagai seorang puteri. Bahkan membaca peta pun, kau tak bisa.”
Pipi Eloise merona. Ia merasa malu dan jengkel dalam satu waktu. Bukan salahnya ia tak becus membaca peta.
“Aku bukannya salah membaca peta. Kau yang memberikan alamat yang salah.”
“Seingatku, tidak begitu..”
“Sudahlah.” potong Eloise. “Aku minta tolong Joe saja.”
Luke mengusap kepala sahabatnya itu dengan kencang, membuat pita rambut Eloise berjatuhan.
“Kau menyebalkan, Luke. Aduhh..”
“Aku penasaran, kenapa kau berdandan sebegitu hebohnya hanya untuk minum the dan menonton senja? Apa karena kau..” Luke berdeham. “..kau sedang menggodaku?”
Mata Eloise membulat. Ditepisnya kesimpulan Luke yang mengada-ada.
“Kau sudah kuanggap sepupuku, Luke. Yang benar saja.”
“Tapi memang aku sepupumu, nona manis.”
“Kalau begitu, enyahkan pikiran kotor dan tercelamu barusan.”
Luke makin terpingkal-pingkal. Mengerjai gadis lugu dan naif seperti Eloise adalah hiburan tersendiri baginya.
“Baik-baiklah..” katanya setelah menarik nafas dan menstabilkan nada bicaranya. “Aku akan membantumu.”
“Benarkah?” Rona musim semi tampak menghiasi wajah Eloise yang mungil. Sorot matanya menari-nari bersemangat mendengar jawaban Luke.
“Ya, nona manis. Akan kulakukan apapun untukmu.”

sweetchocosin
106 Pengikut · 13 Novel