


oleh hanyaengkau16 · 5 Bab
Dari kerumunan yang ada di pekarangan rumah yang sederhana, terdengar suara sirine ambulans meraung-raung. Matahari kini sudah ditutup oleh awan hitam, tidak ada cahaya lagi di dalam kehidupan seorang gadis bernama Nadya. Seketika muncul seorang laki-laki yang mengusik kehidupan Nadya, bernama Damar. Dia adalah sosok yang misterius dan tenang. Dapat menghanyutkan Nadya hingga kehilangan kendali dirinya. Rasa penasaran terhadap sosok tenang itu membawa Nadya ke dalam hidup Damar. Bagai sungai yang tenang, Damar mampu menghanyutkan Nadya ke dalam kebahagiaan dengan senyumannya. Nadya tenggelam dalam senyuman Damar, yang tak disangka senyuman Damar menyimpan rahasia gelap yang perlahan terkuak.
Ini adalah hari terakhirku ujian untuk naik ke kelas 12. Ketika guruku membagi kertas ujian, aku langsung mengisinya dengan terburu-buru. Perasaanku tidak tenang, aku gelisah.
Tiba-tiba jantungku berdetak kencang dan tidak teratur. Keringat melewati pipiku secara bergantian dengan sangat cepat. Aku tidak merasa soal itu sulit, tapi ada sesuatu yang berbeda, yang kurasakan saat ini. Begitu menyelesaikan ujian, aku langsung mengumpulkannya dengan tergesa-gesa, tanpa memeriksanya.
“Nadya Pramesti, kamu belum mengisi namamu Nak, ada apa denganmu!” tegur guru kepadaku.
“Maaf Ibu, saya tidak teliti, saya terlalu terburu-buru,” jawabku kepada guru sambil menuliskan namaku di atas lembar ujianku.
Begitu selesai, aku langsung izin pulang kepada guru dan keluar dari sekolah. Aku langsung menaiki bus yang selalu kutumpangi, yang telah berhenti tepat di depanku.
Di perjalananku, aku tetap merasa cemas, aku memegangi jariku-jariku yang gemetaran. Tak terasa bus yang kutumpangi telah berhenti, dan sampai di depan halte bus dekat rumahku. Aku bergegas berlari menuju rumah di mana suara sirine ambulans menggema di sana. Kerumunan orang memenuhi pekarangan, menambah kepanikanku.
Jantungku berdetak semakin kencang, aku berlari memasuki rumah. Aku membeku ketika melihat ibuku terbaring lemah di depanku. Wajahnya sangat pucat dengan mata yang tertutup. Saat aku memegang tubuhnya, terasa sangat dingin. Aku terbungkam, jantungku terasa berhenti berdetak. Tanpa kusadari, air mataku telah membanjiri wajahku. Aku pun langsung bertanya kepada ayahku, yang berdiri diam seperti patung sambil menatap ibuku. “Ayah, Ibu kenapa?” Lirihku kepada Ayah, tetapi ayahku hanya diam.
“Ayah, Ibu kenapa!” Seruku kepada ayahku.
“Ibumu telah meninggalkan kita Nak, dia sekarang tidak merasakan sakit lagi di jantungnya,” jawab ayahku dengan kepedihan yang terdengar dari suaranya.
Kami pun melakukan acara pemakaman ibuku. Saat kembali ke rumah, rasanya rumah bukan lagi rumah. Aku merasa tak nyaman berada di rumahku lagi, tak ada tempat bercerita. Tak ada lagi yang akan membangunkanku setiap pagi.
Aku hanya berdiam di sudut kamarku, dengan air mata yang mengungkapkan kepedihan yang kurasakan dalam hatiku. Aku merasa sangat lelah dan aku pun tiba-tiba terlelap. Namun, tiba-tiba ibuku muncul lalu dengan suara yang gemetar aku berkata, “Ibu, jangan tinggalkan aku .…”
Ibuku menghampiriku dan membelaiku dengan tangannya yang selembut sutra. “Ibu tidak pernah meninggalkanmu, Ibu akan selalu di hatimu. Ibu akan selalu datang dalam mimpimu.”
Lalu ibuku pergi menuju cahaya putih yang sangat silau, dan menghilang. Aku pun tidak ingin ibuku pergi dariku. Aku berteriak dengan sangat lantang.
“Ibu, jangan tinggalkan aku!”
Dan seketika tidak ada warna yang terlihat dan berubah menjadi gelap. Kicauan burung terdengar memanggilku untuk segera bangun.
Aku pun terbangun dari tidurku. Semenjak aku bermimpi dan bertemu dengan ibuku, aku sangat suka tidur, karena dalam tidur aku bisa bertemu dengan ibuku yang telah tiada.
Namun, aku tidak bisa berlama-lama tidur. Dulu ibuku pernah berkata, “Nak, jika sudah mendengar kicauan burung, artinya kamu harus bangun. Anggaplah suara kicauan burung itu seperti ibu yang akan membangunkanmu setiap hari, setelah ibu pergi nanti ….” Meskipun ibuku telah tiada, tapi aku tak pernah melupakan ucapan-ucapannya.
Tidak dengan ayahku, semenjak ibuku tiada, dia selalu terlambat bangun, maka dari itu aku harus membangunkannya agar ia tidak terlambat bekerja. Dengan suara yang lantang, aku membangunkannya. “Ayah, burung telah berkicau. Ayah harus bangun!”
Ayah pun langsung bangun tanpa mengatakan apa pun, dan langsung berberes-beres untuk berangkat kerja. Ayahku dulu adalah seseorang yang sangat hangat, tapi semenjak ibuku tiada, ia menjadi sangat dingin.
Meskipun begitu, ayahku tetap mencurahkan kasih sayangnya kepadaku. Tidak melalui perkataan, tapi dari perlakuannya.
Dia akan selalu membelikanku kanvas dan alat lukis tanpa aku memintanya, karena dia tahu aku sangat suka melukis.
Dulunya aku memang sangat tidak suka melukis, tapi ibuku adalah seorang pelukis. Dia selalu mendidikku untuk belajar melukis, dan aku akan mengeluh ketika diajari olehnya.
Aku sangat sulit untuk membedakan warna dan menyeimbangkan warna yang tepat dalam melukis. Namun, ibuku tidak pernah menyerah untuk mengajariku, karena dia sangat ingin aku menjadi seorang pelukis seperti dirinya. Ibuku selalu menyemangatiku dengan penuh ketulusan, yang akhirnya membuatku sangat senang melukis.
Suatu hari ibuku mendaftarkan aku untuk mengikuti lomba melukis. Di tempat itu kakiku bergoyang sendiri dan tanganku banjir dengan keringat, aku merasa sangat gugup. Namun, ibuku meyakinkan aku untuk percaya diri.
“Nadya Primesti, putriku yang akan selalu menjadi kebanggaan Ibu, apa pun hasilnya, kegagalan adalah kunci keberhasilan. Tapi, kamu harus fokus dalam mengikuti perlombaan ini. Hilangkan semua rasa cemas, ingat ibu telah mengajari kamu untuk menjadi gadis yang tenang dan percaya diri.” Setelah mendengar perkataan ibuku itu, aku merasa tenang dan percaya diri.
“Sosok Ibu sangat berperan dalam hidupku. Namun, ibuku telah meninggalkan aku sendiri, kini aku harus berjuang sendiri melawan semua rasa cemasku,” gumamku dengan rasa sesak yang menyelimuti perasaanku.
Hari ini rasa cemasku kembali lagi. Di perjalanan menuju ke sekolah, aku duduk di mobil di samping ayahku dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
Aku memang bukan anak-anak lagi. Usiaku kini 17 tahun, tapi entah mengapa aku merasa gugup ke sekolah. Aku sudah biasa berangkat ke sekolah, dan ini adalah sekolah yang sama. Tapi aku tetap gugup, karena hari ini adalah hari pertamaku menduduki kelas 12 SMA.
Di sekolahku, SMA Bintang Teguh, setiap kenaikan kelas akan melakukan pertukaran kelas. Maka, aku harus memulai lagi beradaptasi dengan lingkungan kelas yang baru, teman-teman kelas yang baru.
Aku sangat sulit untuk berkenalan dengan orang baru. Namun, aku memiliki obat penenang untuk semua rasa ini. Melukis adalah obat penenangku. Ketika aku merasa cemas, aku akan melukis. Di saat aku melukis, aku merasa Ibu ada di sampingku dan menenangkanku.
Ayahku tahu perasaanku, dia tahu bahwa aku sedang cemas. Ia langsung memberhentikan mobilnya ketika melewati gereja.
“Ayah tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Berdoalah, ceritakan semuanya kepada Tuhan. Kamu belum terlambat, begitu juga dengan ayah. Kita masih punya waktu 30 menit lagi,” ujar Ayah kepadaku.
Aku pun langsung memasuki gedung yang sangat tenang itu, aku merasakan kedamaian di sana.
“Tuhan, terima kasih Engkau masih memberikan Ayah di kehidupanku, meskipun Engkau telah menjemput ibuku. Tanpa sosok Ibu ….” Doaku terhenti, air mataku telah membanjiri seluruh wajahku, aku merasa tak mampu melanjutkan doaku.
Aku segera menghapus air mataku dan menenangkan diriku, aku melanjutkan doaku dengan suara yang gemetar.
“Tanpa sosok Ibu, aku merasa sepi, Tuhan, tapi tidak apa-apa deh, yang penting ibuku tidak merasa sakit lagi, sudah senang bersama Tuhan. Aku tahu Tuhan akan selalu ada untukku. Tuhan, selalu genggam tanganku ya. Hanya ini doa anakMu ya Tuhan, di dalam nama-Mu, aku berdoa dan mengucap syukur. Amin.”
Aku pun segera ke kamar mandi gereja, dan membasuh wajahku dengan air keran yang sangat segar rasanya. Setelah merasa tenang dan segar, aku pun kembali masuk ke dalam mobil. Dan melanjutkan perjalananku ke sekolah.

hanyaengkau16
4 Pengikut · 2 Novel