


oleh Yanshi1605 · 100 Bab
Sera terus melangkah, melintasi batas demi batas yang tak pernah ia pahami. Setiap dunia yang ia temui terasa asing, juga seolah memanggilnya. Ia mencari, bukan tempat, tapi jawaban tentang dirinya sendiri. Di balik perjalanan itu, semakin banyak hal yang tak bisa ia mengerti. Tentang dunia, tentang orang-orang di sekitarnya, dan tentang dirinya. Namun, ia tetap berjalan. Karena hanya dengan terus melangkah, ia mungkin akan menemukan satu hal yang selama ini ia cari. Siapa dirinya sebenarnya. Akankah ia menemukannya?
Dua hari kemudian. Gosip menyebar dengan sangat cepat ke seluruh pelosok Asqimiruci.
"Mungkinkah, itu anak tidak sah dari Pemimpin Muda bersama bocah pendatang itu?" bisik seorang wanita.
"Bisa jadi," jawab wanita di sebelahnya.
"Jika begitu, pemimpin muda tidaklah pantas lagi memimpin."
"Dia memberi contoh yang buruk!" sahut pedagang tiba-tiba, suaranya keras, seraya memberikan bungkusan.
"Sudah saya katakan, anak itu terlalu dimanja orang tuanya," ujar wanita pertama lagi, sembari menyambut bungkusan dari pedagang.
"Jika begitu, kita seharusnya mencari pemimpin lain."
"Tak perlu dari garis keturunan, yang penting bisa menjadi panutan!" sahut pedagang, kesal, sambil membanting salah satu jualannya.
Di antara kerumunan itu, berdiri sesosok pria Asqi, usianya sekitar tiga puluh tahunan, bertubuh kurus dengan rambut keritingnya. Ia adalah Asgn Xius. Orang yang kerap berada di tengah keramaian saat terjadi keributan.
"Bagaimana jika kita menanyakan hal ini langsung kepada Pemimpin Muda itu besok?" usulnya.
"Benar!"
"Setuju!" sahut para warga, mengangguk-angguk, menyetujui usulannya.
———
Hari kelima sejak Sera di kastil. Sekelompok besar warga berkumpul di luar gerbang utama, menuntut penjelasan. Suara mereka bergemuruh, bercampur antara amarah karena kelaparan yang tidak kunjung selesai dan rasa curiga yang sudah membumbung tinggi.
Salah seorang pelayan bergegas masuk ke dalam kamar Asena. Saat itu, ia sedang bermain bersama Sera di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat lelah. Namun, matanya masih menatap lembut ke arah bayi kecil itu.
"Nona, di luar banyak sekali warga yang berkumpul. Mereka mengatakan ingin bertemu langsung dengan Nona," ujar sang pelayan, terlihat sangat cemas, walau wajahnya tetap ia paksakan terlihat biasa saja.
"Bi, bukannya hal seperti ini sudah biasa? Kenapa Bibi masih begitu panik?" tanya Asena. Ia berusaha bersikap tenang, meskipun sebenarnya hatinya juga merasakan ada sesuatu yang salah.
"Kali ini mereka menuntut penjelasan anak Nona, soal Nona Sera," tambah sang pelayan.
Asena menghela napas panjang, dadanya seketika mulai terasa sesak. "Baiklah ..., jagalah Sera baik-baik."
"Baik, Nona."
Asena keluar dari kamarnya, melangkah dengan tegap, meskipun kakinya terasa berat. Begitu ia muncul di atas teras kastil, suara warga bergemuruh lebih keras.
"Itu dia! Jelaskan, anak siapa itu? Di mana ayahnya?" teriak salah seorang wanita.
"Benar! Apakah benar ayah anak itu adalah adik angkatmu sendiri?!" tambah seorang pria, ikut berteriak.
"Dengar kalian semua! Dia juga seorang Asqi, ia berhak hidup. Tak semua hal harus kalian ketahui secara rinci!" tegas Asena, masih berusaha menahan amarah.
"Jika memang tidak ada yang disembunyikan, kenapa tak mau menjelaskan semuanya?"
"Katakan saja itu anak haram!" tuduh wanita lain, di tengah kerumunan, suaranya melengking.
"Kalian bicara sembarangan!" bentak Asena, wajahnya mulai memerah menahan amarah dan rasa sedih yang bercampur jadi satu.
"Jika memang kau tidak bersalah, kenapa marah?"
Warga tidak mau berhenti menyalahkannya.
Di tengah kerumunan yang padat, Asgn Xius bergumam pelan, "Jangan-jangan musibah kelaparan ini ada hubungannya dengan kelakuannya."
"Iya, benar juga! Jangan-jangan memang karena perbuatannya, musibah ini menimpa kita!" seru salah seorang warga yang mendengar gumaman itu, lalu langsung terbawa emosi dan meneriakkan tuduhan tersebut ke arah Asena.
"Ini tak ada hubungannya sama sekali dengan kelaparan! Kalian seenaknya saja menyimpulkan hal yang belum tentu benar!"
Asena hampir kehilangan kendali atas emosinya, tangannya mengepal lebih erat di sisi tubuhnya.
"Lebih baik kau jujur saja!" teriak warga, lagi dan lagi.
"Aku menemukannya di belakang kastil, di tengah kabut tebal," ujar Asena akhirnya, sambil membuang muka, suaranya memelan, sedikit ragu, tetapi tetap dengan nada tegas.
"Penjelasan apa itu?! Jangan berputar-putar!"
"Itulah kenyataannya!" bentak Asena kembali nyaring, kemudian menghela napas panjang. "Tapi aku tahu kalian takkan mudah percaya."
"Maka, berikanlah penjelasan yang bisa kami mengerti!"
Warga tetap tidak bersedia memercayainya.
Asena mengepalkan tangannya lebih erat, rasanya ingin sekali meledak. Akan tetapi, bayangan wajah ibunya melintas di benaknya.
Ia teringat bagaimana orang tuanya dulu mencintai dan mengabdi pada rakyatnya dengan penuh kesabaran. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sekuat tenaga.
"Aku sudah menjelaskan apa yang terjadi. Jika kalian tak percaya, itu bukan lagi urusanku. Silakan kalian kembali."
Asena berbalik badan, meninggalkan mereka dan hendak masuk kembali ke dalam kastil. Dari arah belakang, sebuah suara yang lebih lantang terdengar dari tengah kerumunan, suara Asgn Xius yang berusaha terdengar wajar.
"Jelas sekali dia menyembunyikan sesuatu."
"Bagaimana jika kita gunakan saja Rantai Keabadian!" serunya tiba-tiba, membuat semua orang yang ada di sana menoleh dan memerhatikannya.
"Rantai apa itu?" tanya salah seorang warga dengan bingung.
"Itu adalah ilmu kuno yang ada di Asqimiruci. Saya mengetahuinya dari buku peninggalan kakek saya," jawab Asgn Xius dengan nada pelan, tapi tegas. "Ilmu itu berfungsi untuk mengurung jiwa seorang pemimpin yang gagal dalam ruang waktu yang abadi, tanpa teman, tanpa makanan, hanya ada kesepian. Ia akan merenungi segala kesalahannya selamanya."
"Itu sama saja dengan penyiksaan," protes seorang warga.
"Tidak. Jika dia memang pemimpin yang tulus, dia akan menerima penderitaan itu sebagai jalan penebusan dosa. Bukankah itu justru akan menolongnya?" jawab Asgn Xius, memanipulasi kata-kata agar terdengar benar dan mulia di telinga mereka.
Warga saling berpandangan satu sama lain. Mereka terdiam dan ragu, tapi rasa lapar yang menyiksa dan amarah yang memuncak, membuat mereka tidak ingin terlihat lemah. Kata-kata itu terdengar masuk akal di telinga mereka yang sedang kalut.
"Bagaimana cara mengaktifkannya?" tanya seseorang.
"Dengan kekuatan kita bersama. Ilmu ini hanya bisa dilakukan oleh rakyat—terhadap pemimpin yang telah gagal menjalankan tugasnya."
"Itu ide yang bagus, ayo kita lakukan!" seru warga lain, yang sudah terbawa emosi sepenuhnya.
Mereka mendobrak masuk ke dalam kamar Asena, meskipun para pelayan sudah berusaha melarang dan menghalangi mereka sekuat tenaga. Asena mundur ke belakang, terkejut dan kewalahan menghadapi gelombang warga yang menyerbu masuk.
"Mau apa kalian?! Kalian tidak sopan!" bentak Asena.
"Ikut kami!"
Mereka menyeret Asena menuju ruang aula, tempat rapat-rapat penting biasa diadakan. Di bawah arahan Asgn Xius dan petunjuk dari buku kuno yang ia bawa, mereka mengikat Asena dengan rantai khusus yang terasa dingin menusuk sampai ke tulang. Warga mengelilinginya, bersiap melafalkan mantra untuk mengurungnya.
Rasa dingin yang menusuk kulit, di tengah gemuruh suara warga, berbagai pertanyaan terasa menggantung di udara.
Tentang asal mula dunia ini.
Nasib Asena sebagai pemimpin terakhir.
Siapakah anak itu?
Apakah tuduhan mereka benar?
Apakah Asena benar-benar bersalah?
Dari mana sebenarnya semua ini bermula?
Kisah yang dimulai jauh sebelum Asena lahir, jauh sebelum kastil ini berdiri, dan jauh sebelum keributan ini terjadi.
Bersambung ....

Yanshi1605
0 Pengikut · 1 Novel