Langit sore itu tampak biasa saja, sedikit jingga, sedikit lelah seperti hari-hari yang dilalui Alena. Ia duduk di bangku panjang dekat halte, menggoyangkan kakinya pelan sambil menatap jalanan yang mulai ramai. Rambutnya tergerai, sedikit berantakan karena angin, tapi ia tidak peduli.
“Aneh ya,” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Padahal hari ini nggak terjadi apa-apa, tapi capek banget.”
Ia tersenyum kecil, senyum yang sering ia pakai untuk menyembunyikan sesuatu. Bukan karena ia ingin berpura-pura, tapi karena ia tidak tahu harus menunjukkan apa lagi.
Beberapa orang berlalu-lalang di depannya. Ada yang tertawa, ada yang sibuk dengan ponsel, ada juga yang terlihat benar-benar tidak peduli dengan dunia sekitar. Alena memperhatikan semuanya sekilas, lalu kembali menunduk.
Dalam kepalanya, suara-suara lama mulai muncul.
Jangan terlalu dekat sama siapa pun.
Nanti kamu yang sakit sendiri.
Alena menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir pikiran itu.
“Udah, ah. Nggak usah dipikirin,” bisiknya cepat, seperti sedang menegur dirinya sendiri.
“Kalau ngomong sendiri, orang bisa mikir kamu aneh.” Suara itu tiba-tiba muncul dari sampingnya.
Alena terkejut dan refleks menoleh. Seorang laki-laki berdiri tidak jauh darinya, membawa tas ransel hitam, wajahnya datar, matanya tajam, tapi tidak menusuk.
Alena mengernyit. “Kamu dari tadi di situ?”
Laki-laki itu mengangguk sedikit. “Lumayan.”
“Terus kamu denger aku ngomong?”
“Sebagian.”
Alena langsung memalingkan wajah, sedikit malu. “Ya udah, anggap aja kamu nggak denger.”
“Kalau aku bilang aku denger semuanya?”
Ia kembali menoleh cepat. “Kamu serius?”
Laki-laki itu mengangkat bahu. “Enggak juga. Kamu kelihatan panik, jadi aku cuma mau lihat reaksi kamu.”
Alena menatapnya beberapa detik, lalu tanpa sadar terkekeh pelan. “Kamu aneh juga, ya.”
“Bisa jadi.”
Jawaban itu singkat. Terlalu singkat, malah.
Hening sejenak di antara mereka, tapi anehnya, hening itu tidak terasa canggung seperti biasanya. Setidaknya, tidak sepenuhnya.
Alena menggeser sedikit posisinya, memberi ruang tanpa diminta. Laki-laki itu duduk di ujung bangku, menjaga jarak.
“Namaku Alena,” katanya tiba-tiba, sambil menatap ke depan lagi.
Laki-laki itu tidak langsung menjawab.
Alena melirik. “Kamu nggak mau kenalan balik?”
“Rendra.”
“Cuma itu?”
“Harusnya cukup.”
Alena menghela napas kecil. “Kamu tipe orang yang hemat kata, ya.”
“Lebih ke nggak suka basa-basi.”
“Padahal basa-basi itu penting, tahu,” balas Alena cepat. “Biar nggak kaku.”
Rendra tidak menoleh. “Kamu kelihatannya nggak punya masalah soal itu.”
Alena tersenyum lagi. “Iya dong. Aku kan ramah.”
Dalam hati, ia menambahkan kalimat yang tidak diucapkan.
Atau setidaknya terlihat ramah.
Rendra menoleh sebentar, memperhatikan ekspresi Alena yang masih tersenyum, tapi entah kenapa, senyum itu terasa tipis. Seperti ada sesuatu yang tidak sampai.
“Kamu nunggu siapa?” tanya Rendra.
“Bus.”
“Maksudku kamu nunggu orang?”
“Oh.” Alena tertawa kecil. “Enggak. Sendiri aja.”
Rendra mengangguk pelan. Tidak bertanya lagi.
Alena sebenarnya ingin melanjutkan percakapan, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana. Biasanya ia tidak kesulitan bicara dengan orang baru, tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Mungkin karena Rendra tidak bereaksi seperti orang lain.
Tidak terlalu tertarik, tapi juga tidak benar-benar acuh.
“Aku sering lihat kamu di sekolah,” kata Alena tiba-tiba.
Rendra menoleh lagi. “Di mana?”
“Lapangan. Kadang di kantin juga. Kamu selalu sendirian.”
“Kamu selalu memperhatikan?”
Alena sedikit tersedak dengan kata-katanya sendiri. “Eh—enggak maksudnya bukan gitu.”
Rendra menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan. “Santai. Aku cuma nanya.”
Alena mengembuskan napas lega. “Kamu bikin orang gampang salah paham, tahu nggak.”
“Bukan aku. Cara kamu nanggepin aja yang terlalu cepat.”
Alena terdiam sejenak.
Ada benarnya.
Ia memang sering bereaksi lebih cepat dari yang seharusnya. Seolah-olah selalu siap untuk sesuatu yang buruk.
“Kalau kamu sering lihat aku,” lanjut Rendra, “berarti kamu juga sering sendirian.”
Alena tersenyum lagi, kali ini lebih pelan. “Nggak juga. Kadang sama teman.”
“Kadang.”
“Iya, kadang.”
Kata itu menggantung di udara.
Rendra tidak mengejar penjelasan. Ia hanya mengangguk, seolah mengerti tanpa perlu detail, dan itu aneh.
Biasanya orang akan bertanya lebih jauh. Kenapa kadang? Kenapa sendirian? Ada apa? Tapi Rendra tidak.
Alena menatapnya sekilas. Dalam hati, ia merasa sedikit lega.
Dia nggak maksa.
Angin kembali berembus, membawa suara kendaraan dan percakapan orang-orang di sekitar. Matahari mulai turun, meninggalkan warna yang semakin redup.
“Kamu naik bus yang mana?” tanya Rendra.
“Yang ke arah selatan.”
Rendra mengangguk. “Sama.”
Alena meliriknya lagi. “Serius?”
“Iya.”
“Berarti kita searah?”
“Sepertinya.”
Alena tersenyum kecil, kali ini tanpa dipaksa. “Kebetulan banget, ya.”
Rendra tidak langsung menjawab, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat, hampir tidak terlihat.
Beberapa menit berlalu tanpa banyak kata, tapi kali ini, Alena tidak merasa perlu mengisi keheningan itu.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, ia merasa cukup tenang.
Tanpa harus berpura-pura terlalu ceria.
Tanpa harus menyembunyikan semuanya terlalu rapat.
Tiba-tiba, suara rem bus terdengar mendekat. Kendaraan besar itu berhenti tepat di depan mereka.
“Itu busnya,” kata Alena, berdiri sambil merapikan tasnya.
Rendra ikut berdiri. “Iya.”
Mereka naik bersama, masih dengan jarak yang sama seperti sebelumnya.
Di dalam bus, kursi hampir penuh. Alena menemukan satu kursi kosong di dekat jendela.
“Kamu duduk aja,” katanya pada Rendra.
“Kamu?”
“Aku berdiri nggak apa-apa.”
Rendra menggeleng. “Duduk aja. Aku biasa berdiri.”
Alena ragu sejenak. “Yakin?”
“Iya.”
Alena akhirnya duduk, memegang tasnya erat. Rendra berdiri di sampingnya, satu tangan berpegangan pada tiang.
Bus mulai berjalan.
Alena menatap keluar jendela, melihat bayangan kota yang bergerak pelan. Dalam kaca, ia bisa melihat refleksi dirinya dan sedikit bayangan Rendra di belakangnya.
“Aneh,” gumamnya pelan.
“Kenapa?” tanya Rendra.
Alena menoleh sedikit. “Baru kenal, tapi rasanya nggak terlalu canggung.”
Rendra diam sejenak sebelum menjawab. “Mungkin karena kita nggak banyak tanya.”
Alena tertawa kecil. “Atau karena kamu yang nggak banyak tanya.”
“Bisa jadi.”
Alena kembali menatap ke depan.
Atau mungkin karena kamu nggak bikin aku merasa harus jadi orang lain, pikirnya.
Ia tidak mengatakannya keras-keras.
Belum.
Bus terus melaju, membawa mereka ke arah yang sama meski entah sampai di mana perjalanan itu akan berakhir, dan tanpa mereka sadari, pertemuan sederhana di halte sore itu bukan sekadar kebetulan.
Ada sesuatu yang mulai bergerak pelan.
Halus, hampir tidak terasa.
Seperti retakan kecil yang suatu hari bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Atau mungkin, justru menjadi awal dari penyembuhan.