Akademi Militer Brawijaya, Pendaftaran Hari Pertama
"Lebih baik kamu jadi preman pasar ketimbang masuk sini."
Kalimat itu meluncur dari mulut pria tambun berkumis tebal. Seragamnya lusuh, topi pet dinodai bekas keringat yang mengering berlapis-lapis. Dia duduk di balik meja kayu yang sudah dimakan rayap, di depan tenda lusuh yang katanya pos pendaftaran akhir.
Jalu menyeringai. "Saya sudah jadi preman pasar, Pak. Cuma saya yang lebih sering dikejar."
Pria itu mengernyit. "Apaan?"
"Maksudnya, saya orang yang dikejar-kejar rentenir, Pak. Jadi ya, korban preman." Jalu menyandarkan tubuhnya ke tiang tenda. Ransel compang-camping di bahunya. Isinya satu stel baju, tiga bungkus mi instan, dan foto ibunya yang sudah meninggal dua tahun lalu.
Pria tambun itu, nama di papan meja bertuliskan Sersan Dullah, menggeleng pelan. "Anak desa macam kamu sudah puluhan yang mendaftar. Ujung-ujungnya menyerah di minggu pertama. Atau malah dihajar senior sampai menangis."
"Pak Sersan." Jalu mendekat, menyikut meja kayu itu. "Saya ini orang desa yang tidak punya pilihan. Kalau saya pulang, kampung saya tidak ada. Rumah saya sudah disita rentenir. Satu-satunya yang saya punya cuma KTP, ijazah SMA, dan modal nekat. Jadi tolong, kasih saya formulir."
Sersan Dullah mengamati Jalu. Anak laki-laki di depannya mungkin baru berumur sembilan belas tahun. Tinggi, bahu bidang, kulit sawo matang hasil terik matahari di sawah. Matanya cerdas, terlalu cerdas untuk ukuran anak desa biasa. Ada kecerdikan di sana. Ada juga keputusasaan yang disembunyikan di balik senyum manisnya.
"Kamu tahu." Sersan Dullah menarik napas. "Akademi ini bukan untuk orang kayak kamu. Ini untuk anak-anak jenderal, anak-anak konglomerat, orang-orang punya nama. Kamu masuk sini, kamu bakal jadi onta. Dibanting, dihina, ditendang. Dan kalau kamu protes, kamu dikeluarkan. Mengerti?"
Jalu mengangguk. "Saya tahu."
"Tidak cuma itu. Senior di sini sadis. Bukan sadis biasa. Sadis tentara. Mereka bisa membuat kamu hampir mati, tapi kamu tidak akan mati. Tersiksa, tapi tidak cukup bukti buat lapor polisi."
"Pak Sersan." Jalu merogoh saku belakang celananya yang robek di bagian lutut. Dikeluarkannya selembar uang lima puluh ribu, semua uang yang tersisa di dunia. Diletakkannya di atas meja. "Saya tidak butuh peringatan. Saya butuh formulir."
Sersan Dullah melihat uang itu. Untuk sesaat, matanya melembut.
"Simpan uang kamu, Nak." Dia mendorong kembali uang itu. Lalu dari laci meja, dikeluarkannya setumpuk formulir berwarna krem, agak kusut di pinggirannya. "Isi. Cepat. Pendaftaran tutup satu jam lagi."
Jalu tidak membuang waktu. Pena pinjaman dari Sersan Dullah bergerak di atas kertas. Nama: Jalu Waskita. Tempat lahir: Desa Ngrambe, Ngawi. Tanggal lahir: 17 Agustus. Pendidikan terakhir: SMA Negeri 1 Ngawi, nilai rata-rata 89,5.
Sersan Dullah yang mengintip dari samping bersiul kecil. "Nilai kamu bagus."
"Saya miskin, Pak, bukan bodoh."
"Kalau kamu masuk sini, kecerdasan kamu tidak berguna. Di sini yang dihargai ketahanan fisik dan mental. Kamu bakal dididik. Diubah jadi mesin. Kalau kamu terlalu pintar, kamu malah jadi ancaman buat senior."
Jalu terus menulis. Kolom alasan memilih Akademi Militer. Dia berhenti sejenak. Pena di tangannya menggantung di udara. Lalu dia menulis satu kalimat pendek.
Karena saya tidak punya rumah lagi, dan setidaknya di sini saya diberi tempat tidur.
Dia menyerahkan formulir itu.
Sersan Dullah membacanya. Diam. Lalu dia menghela napas panjang, membubuhkan stempel merah BERPANGKALAN, dan menyerahkan secarik kertas kecil.
"Ini kartu ujian kamu. Tes fisik dua hari lagi. Tes intelegensi sehari setelahnya. Jangan telat."
Jalu mengambil kartu itu. Tangannya sedikit gemetar, tapi senyumnya tetap lebar. "Pak Sersan, satu pertanyaan serius."
"Apa?"
"Di asramanya, tempat tidurnya pakai kasur atau cuma alas karet?"
Sersan Dullah menatapnya lama. Entah karena kasihan atau geli, akhirnya dia tertawa kecil. "Dasar bajingan. Masih memikirkan kenyamanan. Kamu tidak bakal tidur dua minggu pertama, nak."
"Tapi kan ada alasnya?"
"Ada. Karet. Tebal lima sentimeter."
"Ya sudahlah." Jalu melipat kartu ujian itu dan menyelipkannya di saku dalam, satu-satunya saku yang tidak bolong. "Karet lebih empuk daripada tanah. Saya pernah tidur di tanah selama tiga bulan. Itu setelah rumah disita. Sebelumnya saya tidur di emperan toko. Karet itu mewah, Pak. Kemewahan tertinggi dalam hidup saya."
Dia membungkuk sedikit, entah itu tanda hormat atau sekadar meregangkan punggung yang memang selalu sakit, lalu berbalik.
"Jalu."
Dia berhenti. Menoleh.
Sersan Dullah berdiri dari kursinya. Pria itu mengambil sesuatu dari balik meja, satu nasi bungkus daun pisang. Diberikannya kepada Jalu.
"Makan dulu. Perjalanan kamu ke asrama calon taruna masih jauh."
Jalu menerima bungkusan itu. Tercium aroma nasi, tempe, dan sambal terasi yang gurih. Perutnya langsung berbunyi. Dia belum makan sejak tiga hari lalu, hanya mi instan yang direbus dengan air keran umum di stasiun.
"Pak Sersan." Jalu berkata dengan mulut setengah tersenyum. "Kalau semua sersan di sini sebaik Bapak, mungkin saya tidak perlu jadi bajingan."
"Kamu bakal tetap jadi bajingan, Nak. Itu satu-satunya cara buat bertahan di tempat sialan ini."
Mereka tertawa. Lalu Jalu pergi, meninggalkan tenda lusuh di bawah pohon trembesi yang rindang.
Di emperan toko seberang akademi, tiga jam kemudian, Jalu duduk bersandar di dinding. Ransel menjadi bantal. Kertas kardus bekas menjadi alas. Di tangannya, kartu ujian dengan nomor AK-47/2024. Dia membaca nomor itu berulang-ulang.
Seorang pengamen tua duduk di sampingnya. Wajahnya berkeriput, gitar butut di pangkuan.
"Mas calon tentara?" tanya pengamen itu.
"Calon babi," jawab Jalu tanpa menoleh.
Pengamen itu tertawa. "Sama. Dulu aku juga mau daftar, tapi gagal tes fisik."
"Kenapa gagal?"
"Buta warna. Katanya bahaya kalau salah bedain peluru sama permen."
Jalu terkekeh. Dia membuka bungkusan nasi dari Sersan Dullah. Disantapnya perlahan, kali ini dia tidak terburu-buru. Di kampung dulu, ibunya mengajarkan bahwa nasi harus dikunyah tiga puluh dua kali. Jalu tidak pernah tahu apakah itu mitos atau fakta, tapi malam ini dia melakukannya. Untuk mengenang.
"Kalau lulus, jangan lupa orang kecil, ya," kata pengamen itu.
"Aku sendiri orang kecil." Jalu mengunyah. "Orang kecil lupa orang kecil itu namanya bunuh diri."
Matahari terbenam. Lampu-lampu akademi mulai menyala satu per satu. Jalu memejamkan mata. Di balik kelopaknya, dia melihat bayangan Ibu. Wanita kurus dengan tangan kapalan bekas menanam padi.
"Nak, jangan jadi orang miskin selamanya."
"Maaf, Bu." Jalu berbisik pada langit malam. "Doakan aku jadi bajingan yang sukses. Karena katanya, di dunia ini, orang jujur mati konyol. Orang miskin mati terlantar. Satu-satunya yang selamat ya bajingan, tapi bajingan yang pintar."
Dia tertawa kecil. Lalu dia tidur.
Di lantai dua gedung akademi, seseorang berdiri di balik jendela. Seorang perempuan muda berpakaian dokter militer. Jas putih, stetoskop di leher. Dia memperhatikan pemuda yang tidur di emperan toko itu.
"Baru pertama kali aku lihat calon taruna tidur di jalan," kata seorang perawat di sampingnya.
"Aku juga." Perempuan itu, namanya Alya. Dokter muda yang baru sebulan bertugas, tidak melepas pandangannya. "Tapi ada yang aneh dari dia."
"Aneh bagaimana?"
"Orang yang tidur di emperan toko biasanya meringkuk, takut dirampok. Tapi dia tidur telentang. Tangan di dada. Seperti, seperti orang yang sudah pasrah."
Alya menyesuaikan stetoskopnya.
"Atau seperti orang yang sudah terbiasa dengan kekejaman dunia."
Malam tiba. Dan besok adalah hari pertama dari seribu hari yang akan menentukan apakah Jalu, pemuda desa tanpa nama, tanpa uang, tanpa masa depan. Akan menjadi perwira, atau pulang menjadi mayat.
Atau mungkin, menjadi bajingan.
Karena di Akademi Militer Brawijaya, hanya dua jenis orang yang bertahan ... yang kuat, dan yang licik.