Pagi di halaman SD Nusantara 01 selalu berbau tanah basah dan gorengan hangat dari warung Bik Surti. Bau yang biasanya membangkin semangat belajar, atau setidaknya semangat membolos pelajaran Matematika. Namun, bagi Maya, pagi ini berbau petaka.
Maya menatap ujung sepatu kain hitamnya yang kini tak lagi berbentuk. Lumpur cokelat pekat menempel tebal, merusak kaos kaki putih bersih yang baru tadi pagi disetrika ibunya.
"Gara-gara kamu, ya!" Maya menudingkan telunjuknya tepat ke wajah seorang anak laki-laki berpakaian seragam putih-merah yang berdiri di hadapannya.
"Kok aku?" Leo membelalakkan mata, tidak terima. Tangan kanan anak laki-laki itu masih memegang dahan kayu basah. "Kan aku cuma niat dorong kamu biar melompati genangan itu, May!"
"Dorong apanya?! Kamu dorongnya kegedean, Bego!" pekik Maya. Suaranya melengking menembus riuh anak-anak lain yang sedang kejar-kejaran di lapangan. "Lihat ini! Kaos kaki aku basah semua! Asu emang kamu, Leo!"
Leo melangkah mundur setengah tindak, kaget mendengar umpatan keluar dari mulut mungil Maya. Namun, alih-alih merasa bersalah, wajahnya justru memerah menahan kekeh. "Lagian, badan kamu ringan banget kayak kerupuk melempem. Aku cuma nyenggol dikit!"
"Bukan nyenggol, Sialan! Kamu sengaja, kan?!" Maya mengepalkan tangan. Gigi susunya berkerut ketat. “Awas saja kamu, Leo. Nanti di kelas tak sembunyiin tempat pensil Gambarnya,” batin Maya berapi-api.
"Yaelah, jangan marah-marah gitu, May," bujuk Leo. Ia lalu berlutut di tanah yang lembap, sama sekali tidak peduli pada celana merah barunya yang ikut terancam kotor. Ia merogoh saku celana, mengeluarkan selembar tisu kumal yang sudah terlipat-lipat. "Nih, tak lap-in."
"Enggak usah! Nanti makin kotor tisu kamu jorok!"
"Iya-iya, galak amat. Kayak nenek sihir," gumam Leo pelan, tetapi tangannya tetap mengusap pinggiran sepatu Maya dengan hati-hati.
Maya mendengkus keras, memalingkan wajahnya ke arah pohon beringin di pojok lapangan. “Dasar Leo idiot,” gerutu Maya dalam hati. Namun, ia tidak menggeser kakinya. Ia membiarkan anak laki-laki itu sibuk membersihkan sisa-sisa lumpur di sepatunya dengan telaten.
Keduanya sudah bertetangga sejak masih belepotan bubur beras. Rumah mereka hanya terpisah satu gang kecil. Jika Maya berteriak dari jendela kamarnya di lantai dua, Leo bisa mendengarnya dari teras rumah. Kedekatan yang terjalin tanpa disengaja itu membuat mereka seperti sepasang sepatu dan ke mana pun pergi, selalu terlihat berdua, meski sering kali saling menjatuhkan.
"Nah, beres," kata Leo seraya berdiri dan menepuk-nepuk tangannya yang kotor. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan gingsul di gigi atasnya yang baru tumbuh separuh. "Masih mending, kan?"
Maya melirik ke bawah. Sepatunya memang tidak lagi seberat tadi, tetapi noda cokelatnya tetap berbekas. "Masih jelek. Ibu pasti marah."
"Nanti aku yang ngomong sama Tante Heni," sahut Leo enteng. "Aku bilang aja tadi ada anjing galak ngejar kamu, terus kamu melompat ke got."
Maya memukul bahu Leo kuat-kuat. Bukannya nolongin malah ngarang cerita aneh-aneh. "Gila kamu! Biar aku dimarahin lagi gara-gara mainan dekat got!”
"Ya daripada disalahin ke aku?" Leo tertawa menyebalkan.
Keduanya melangkah menyusuri koridor sekolah menuju kelas 4B. Bel masuk baru saja berbunyi sekali, menandakan guru piket sedang bersiap keliling. Di sepanjang koridor, beberapa teman sekelas menyapa mereka, tetapi Leo hanya melambaikan tangan sepintas. Perhatiannya masih tertuju pada Maya yang berjalan agak pincang menghindari basah di kaos kakinya.
"May," panggil Leo seraya menggeser bangkunya saat mereka sampai di dalam kelas. Mereka duduk berderet di barisan ketiga dari depan.
"Apa?" sahut Maya jutek. Ia sibuk mengeluarkan buku tulis bersampul cokelat dari dalam tas backpack-nya.
"Sakit, ya, kakinya?"
Maya menghentikan gerakannya sebentar. Ia menatap Leo yang kini menatapnya dengan raut khawatir yang polos dan raut wajah yang selalu Leo perlihatkan tiap kali menyadari candaannya sudah kelewatan. Rasa jengkel Maya perlahan menguap, digantikan perasaan hangat yang asing di dadanya.
"Sedikit," jawab Maya pelan. "Dingin kaos kakinya."
Leo menyengir, lalu membungkuk ke bawah meja. Tanpa aba-aba, ia melepas sepatu ketsnya sendiri, dilanjutkan dengan mencopot kaos kaki putihnya yang masih bersih dan kering.
"Nih, pakai punya aku," sodor Leo sambil menyodorkan kaos kaki itu ke pangkuan Maya.
"Ih, bekas kamu!" Maya mengernyitkan hidung.
"Bersih, May! Kan tadi pagi baru dipakai!" tegas Leo. "Daripada kamu masuk angin? Kalau kamu sakit, siapa yang nemenin aku beli es lilin di Pak Somad?"
Maya memandangi kaos kaki di pangkuannya, lalu beralih menatap kaki telanjang Leo yang kini hanya beralaskan sepatu tanpa kaos kaki. Ada rasa iba sekaligus lucu yang berbaur di dalam benaknya. Dasar anak aneh, tapi kok baik banget, ya?
"Kamu gimana? Nanti dicariin Bu Endang kalau nggak pakai kaos kaki."
"Gampang," sahut Leo cepat. "Nanti aku bilang kaos kakiku dimakan genderuwo pohon beringin."
"Bisa gila kamu lama-lama," cetus Maya, dan akhirnya ia meraih kaos kaki itu dan memakainya. Terlalu longgar untuk kakinya yang kecil, tetapi rasanya jauh lebih hangat daripada kaos kakinya yang basah tadi.
Pelajaran pertama dimulai dengan tenang. Pak Hendra, guru Matematika yang berkacamata tebal, mulai menuliskan rumus-rumus pecahan di papan tulis hitam menggunakan kapur.
Suara ketukan kapur dan gesekan penghapus papan menjadi latar belakang yang monoton, membuat setengah anak di kelas mulai mengantuk. Namun, di barisan ketiga, sebuah kertas lipat kecil berwarna kuning perlahan digeser dari meja Leo ke meja Maya. Maya melirik Pak Hendra yang sedang menghadap papan tulis, lalu dengan cepat menyambar kertas itu. Ia membukanya di balik buku cetak.
Nanti pulang sekolah beli es krim dung-dung, yuk? Aku yang bayar.
Maya mengambil pensil 2B-nya, menuliskan balasan di bawah tulisan tangan Leo yang berantakan seperti cakar ayam. Enggak mau. Kamu belum minta maaf gara-gara sepatu aku.
Kertas itu digeser kembali. Tak sampai semenit, balasan dari Leo datang lagi. Ya udah, maaf ya Maya yang galak kayak nenek sihir. Nanti tak beliin es krim dua scoop deh. Rasa cokelat sama stroberi.
Maya menahan senyumnya agar tidak pecah di depan kelas. Ia menoleh sedikit ke arah kiri. Leo sedang memperhatikannya dengan cengiran khas yang membuat matanya menyipit.
“Awas kalau bohong!” balas Maya singkat sebelum mengembalikan kertas itu untuk terakhir kalinya.
Jam istirahat tiba dengan suara bel yang melengking nyaring. Anak-anak berhamburan keluar kelas seperti kawanan burung yang lepas dari sangkar. Leo langsung menarik tangan Maya, membawanya lari menuju pojok lapangan dekat kantin tempat Pak Somad mangkal dengan gerobak es krimnya.
"Pak! Es krim dung-dung dua, ya! Pakai roti!" teriak Leo antusias sambil menepuk gerobak kayu itu.
"Siap, Mas Leo!" sahut Pak Somad ramah. Tangannya yang lihai mulai menyendok es krim berwarna merah muda dan cokelat ke dalam tangkupan roti tawar.
Setelah menerima dua porsi es krim, mereka duduk di bangku semen di bawah naungan pohon kamboja. Angin siang bertiup sepoi-sepoi, membawa rasa sejuk di tengah teriknya matahari kota.
"May," panggil Leo di sela-sela gigitan rotinya.
"Hmm?" Maya menyahut tanpa berpaling dari es krim stroberinya yang mulai meleleh di pinggir roti.