Di dalam ruang autopsi, seorang wanita dengan setelan medis berdiri di samping ranjang yang di atasnya terbujur mayat. Ia meneliti dari ujung rambut hingga kaki, diterangi oleh lampu besar dari atas.
Alea, dokter forensik yang mendapat tugas pertamanya setelah pindah ke Kota Jakarta untuk meneliti mayat korban penyiksaan dari kasus Eclips. Sebelumnya, mayat yang terbaring di depannya masih hidup, tapi korban memutuskan untuk bunuh diri beberapa hari setelah melakukan pengobatan.
Tidak ada yang tahu apa alasannya memilih mati, sangat mendadak dan tidak meninggalkan tanda atau apa pun yang bisa dijadikan untuk rujukan.
Tangan Alea dengan lincah menggunakan pisau bedah untuk membuka tubuh korban, lalu memeriksa organnya satu-persatu.
Di tengah pekerjaannya, pintu terbuka dan menampakkan seorang pria yang berdiri di ambang pintu.
“Maaf, aku terlambat. Sudah dimulai rupanya.”
“Masuklah, Aditya. Tutup pintu, pakai sarung tangan dan masker. Aku sedang memeriksa luka luar lebih dulu,” ucap Alea tanpa menoleh.
Setelah melakukan instruksi Alea, ia mendekat dan berdiri di samping wanita itu sembari memperhatikan dengan cermat.
Alea menunjuk pergelangan tangan.
“Kau lihat bagian ini? Sayatannya sangat rapi dan kedalamannya konsisten. Pelaku tahu persis batas subkutan dan tidak mengenai arteri utama.”
Aditya menyipitkan mata. “Lalu?”
Alea menunduk lebih dekat memperhatikan bagian tersebut. “Saat meneliti lukanya, aku menemukan ini.” Ia mengambil pinset dan menyentuh garis lain yang sangat tipis di dekat sayatan. “Awalnya aku mengira ini hanya goresan dari kesalahan pelaku saat menyiksa korban, ternyata tidak. Ini bekas dari tekanan benda halus seperti tali sintetis atau kabel nilon.”
“Apa tujuannya melakukan itu? Bukankah sayatan yang dia buat sudah cukup kejam? Apa dia berencana membunuh korban?” Aditya belum memahami ke mana arahnya.
“Selain itu, ada iritasi jaringan aneh di area sayatan. Warnanya kemerahan dan ini tidak normal.” Alea mengambil sampel jaringan dengan hati-hati. “Sepertinya ada zat yang masuk ke sini. Sesuatu yang membuat jaringannya meradang. Mungkin karena itu, korban merasakan nyeri selama berjam-jam. Untuk detailnya, kita perlu uji laboratorium lebih dulu.”
“Apa itu alasannya korban terus membenturkan tubuh ke dinding? Untuk mengurangi rasa sakitnya?” tanya Aditya mulai kritis.
“Ya, bisa jadi.” Alea berhenti sejenak. “Secara teknis ini bunuh diri, tapi kalau diperhatikan lagi, bukankah pembunuhan?”
“Jika iya, kenapa hanya korban ini yang bunuh diri? Beberapa korban lainnya masih tetap hidup dan tidak menunjukkan gejala aneh, mereka bahkan mengikuti terapi dengan rutin.” Aditya mengernyitkan dahinya.
“Kau benar, ini yang harus kita dalami lagi.” Alea mengambil beberapa sampel lagi untuk diuji.
Aditya menegakkan badannya. Ia menatap Alea dengan penuh harapan. “Kira-kira, berapa lama hasil laboratorium akan keluar?”
“Kau harus menunggu. Aku butuh tiga pemeriksaan untuk menentukan hasilnya,” balas Alea.
“Apa saja?” Aditya sebenarnya tidak sabar dan ingin cepat tahu.
“Toxicology screening untuk memastikan zat asing. GC-MS menentukan jenisnya dan histopatologi untuk melihat bagaimana zat itu merusak jaringan.”
“Wah, aku tidak menyangka akan sebanyak itu. Apa tidak bisa dipercepat lagi?”
Alea melayangkan tatapan kesal pada Aditya, untung saja mereka berteman. Kalau tidak, sudah dari tadi pisau bedah miliknya mengenai pria itu.
“Screening mungkin keluar besok. GC-MS tiga hari. Histopatologi butuh sedikit lebih lama,” jawab Alea dengan mata melotot.
“Hehe, kau memang sahabat terbaikku,” sahut Aditya memberikan gestur cinta dengan tangannya.
Setelah selesai, mereka akan lanjut diskusi dalam ruangan Alea. Namun, baru saja Aditya membuka pintu ruang autopsi, sudah ada seseorang yang menunggu dengan gestur tidak suka. Siapa lagi kalau bukan Reynald, suami posesifnya Alea.
“Sudah selesai?” Reynald berdiri dengan menyandarkan punggungnya ke dinding sembari bersedekap dada.
“Hai, kawan. Sepertinya kau sering ke sini,” sapa Aditya masih bisa bercanda, dan langsung mendapat tatapan tajam dari Reynald. “Jangan melihatku begitu, aku jadi takut.” Ia melindungi dadanya dengan menyilangkan kedua tangan, seolah berpura-pura ngeri.
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di dalam sana? Semuanya sangat jelas karena kaca pembatas terlalu bening untuk dilihat dari luar,” ucap Reynald menyindir. “Beraninya kau menyenggol lengan istriku dan memberikan tanda cinta padanya.”
“Tanda cinta apanya? Itu sarung tangan lateks, bukan gelang pasangan,” balas Aditya mengelak.
“Tetap saja, kau menyentuhnya.” Reynald maju selangkah.
Merasa situasi tidak aman, Aditya mengambil ancang-ancang untuk kabur. Baru beberapa langkah, Reynald lebih dulu menangkap tubuhnya dari belakang. Posisi mereka seperti pasangan yang sedang berpelukan.
“Hei, kau mau apa? Aku masih normal!” teriak Aditya berusaha melepaskan kukungan Reynald.
“Diam kau!” Reynald mengangkat pria itu dengan mudah, lalu mengayunkan tubuhnya ke sembarang arah.
“Lepas! Kalau kau mau main drama sinetron, sama istrimu sana,” ujar Aditya. Padahal ia detektif terlatih, tapi sulit sekali untuk membuka kuncian tangan Reynald.
Saat keduanya sibuk tarik-menarik, seorang petugas kebersihan melewati tempat di mana kedua laki-laki itu sedang bergulat. Ia mematung beberapa detik dan mengerjapkan matanya agar tidak melihat adegan yang cukup intim.
“Hem, maaf. Saya tidak akan mengganggu,” ucapnya langsung pergi.
Aditya bisa melihat kalau petugas itu mengedikkan bahunya seperti jijik. Saat ia melihat ke pintu kaca, ternyata posisi mereka sudah seperti adegan drama dengan rating 18+. Reynald melilit pinggangnya menggunakan kaki, lalu tangan panjangnya tidak sengaja masuk ke area paling terlarang.
Aditya langsung merinding dari ujung rambut sampai jempol kaki.
“Reynald. Tangan!” Aditya menjerit seperti disetrum.
Reynald pun baru sadar dan membelalak. “Astaga, ini bukan kesengajaan. Aku cuma mau menahan.”
“Menahan dari apa, hah!” teriak Aditya.
“Kalau kau tidak kabur, posisinya tidak akan begini,” ucap Reynald. “Jangan goyang-goyang.”
“Siapa yang goyang? Kau yang melilitku seperti gurita posesif.”
“Kau kira aku mau posisi begini?” Reynald malah semakin mengeratkan pelukannya.
Rasanya Aditya ingin pingsan sekarang juga, belum selesai menghadapi kelakuan Reynald yang aneh. Harga dirinya semakin hancur saat Alea yang baru menyelesaikan pekerjaannya sudah berdiri di ambang pintu. Wanita itu mengerutkan kening saat mendapati keduanya bertingkah lagi.
“Alea, suruh dia melepaskanku,” ucap lirih Aditya memohon.
Mendengar nama istrinya disebut, Reynald langsung mendorong Aditya dari pelukannya, lalu menghampiri sang istri dan membersihkan lengan baju Alea yang sempat terkena oleh pria itu di ruang autopsi.
Sementara Aditya sudah terduduk lemas di lantai. Lain kali, ia akan jaga jarak lima meter dengan Alea agar suami posesifnya tidak se-agresif ini.
“Kalian sedang apa?” Alea menatap mereka bergantian.
Aditya menatap pilu ke arah lantai. Ekspresi wajahnya sangat mendalami untuk seseorang yang baru saja kehilangan kesuciannya.
“Alea, aku telah ternodai secara mental dan emosional,” adu lirih Aditya sesenggukan. “Aku tidak mau membahasnya.” Ia memalingkan wajah layaknya seorang gadis.
“Cih.” Reynald malah geli dengan reaksi Aditya yang berlebihan. “Aku tidak sengaja.”
“Tidak sengaja? Kau mengunciku seperti naga pencari harta karun, dan tangan itu.” Aditya terhenti sembari menunjuk ke arah Reynald. “Masuk ke zona terlarangku,” lanjutnya merasa tersakiti.
Alea menutup mulut menahan tawa. “Kalian ini kenapa, sih?”
“Lain kali, kalau kita bekerja sama lagi, tolong beritahu dia, aku bukan objek fantasi kecemburuannya,” ucap Aditya penuh dramatis. Ia berdiri sembari memperbaiki kaus oblong dan jaket kulit hitam detektifnya yang berantakan.
Alea memberi kode pada Reynald agar meminta maaf pada Aditya, nanti pria itu malah enggan untuk datang ke sini kalau ada kasus lagi.
“Maaf, aku menyesal.” Reynald mengatakannya karena terpaksa.
“Menyesalnya diterima. Masalah traumatis, kita bicarakan lagi saat konseling nanti.”
Reynald mengangkat sebelah alisnya. “Konseling?”
“Ya, konseling mental. Antara korbannya aku, dan kau pelaku pelecehan emosi.”
Setelah mengatakannya, Aditya mengangguk sebentar lalu pergi dari ruangan itu. Ia bahkan mengabaikan tatapan Reynald yang seperti ingin mencekiknya.