


oleh Put_Putri · 70 Bab
Dian adalah seorang ibu yang sangat menyayangi kedua putranya dan juga suaminya walaupun banyak kekurangan. Awal pernikahan Dian baik-baik saja, hingga suatu hari Dian dipaksa oleh ibunya untuk menikah dengan seorang laki-laki yang kaya raya. Alex, sang suami, ingin mempertahankan keluarga kecilnya tapi naas Dian sudah menerima pernikahan yang tidak ia inginkan. Dian pergi meninggalkan Alex dan membawa salah satu putranya yaitu Kiki adiknya Raki. Inilah awal perpisahan si kembar.
"Sayang, kamu pasti bisa. Mas selalu ada di sisi kamu, Sayang," ucap Alex yang setia mendampingi sang istri yang hendak melahirkan anak pertamanya.
Dengan susah payah Dian mengatur napasnya yang memburu disertai rasa sakit yang tak karuan di bagian perutnya. Dian tak ingin menjalani operasi sesar. Ia memutuskan untuk menjalankan persalinan secara normal.
"Ayo, Bu, tarik napas dalam-dalam, keluarkan perlahan dan dorong, ya Bu," ucap sang dokter perempuan yang membantu persalinan.
"Hnggghhh!" Dian mencoba mengatur napasnya, mengikuti arahan dari sang dokter dengan susah payah dan disertai keringat yang bercucuran. Tak luput, Dian juga berteriak karena merasakan rasa sakit.
"Aaaagghh, sakit Mas!" teriakan Dian menggema di seluruh ruangan. Ia juga menggenggam erat tangan suaminya.
"Bertahan, ya Bu! Saya sudah bisa melihat kepala bayinya. Ayo, tarik napas lagi, Bu!" ucap sang dokter.
Di samping dokter sudah ada suster yang bersiap menerima bayi yang akan keluar dari rahim Dian.
Dian tak menyerah begitu saja demi bayinya, dan kembali mengikuti perkataan sang dokter.
Tak lama kemudian, terdengar tangisan bayi yang baru saja lahir ke dunia.
"Alhamdulillah, sudah keluar, Pak. Tapi sepertinya masih ada lagi," seru sang dokter.
Dan bayi yang digendongnya langsung diberikan kepada sang perawat untuk dibersihkan.
"Sayang, anak kita kembar,” ucap Alex yang tak lepas dari senyumannya ketika mendengar ucapan dari dokter.
Dan kini Alex memeluk tubuh istrinya dan mencium keningnya. Tak lupa, Alex juga memberikan dukungan untuk istrinya tercinta.
Dian kembali mengatur napasnya sebelum mendorong bayinya yang kedua. Tak butuh waktu lama, akhirnya Dian berhasil melahirkan bayi keduanya.
Dokter kembali menggendong bayi kedua yang baru lahir dan membawanya untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada sang ibu.
"Pak, Bu, bayinya saya bersihkan dulu, ya,” ucap sang dokter.
Tali pusar kedua bayi itu sudah dipotong, begitu juga dengan ari-arinya. Pak Alex disuruh mengubur ari-ari kedua bayinya.
Sesudah si kembar laki-laki dibersihkan dari darah yang menempel di tubuhnya, sang dokter menyerahkannya kepada orang tuanya.
Beberapa saat kemudian
"Sayang. Mas pamit sebentar, ya. Mau mengubur ari-ari anak kita. Nanti mas minta tolong ke Ibu buat jagain kamu sementara, nggak apa-apa, kan?” tanya Alex.
"Iya Mas, jangan lama-lama, ya Mas," jawab Dian.
"Iya," ucap Alex yang kini berlalu meninggalkan istri dan orang tuanya serta mertuanya.
Sebelum Alex meninggalkan istrinya, ia terlebih dahulu meminta sang ibu menemani istrinya. Setelah diiyakan, akhirnya Alex memutuskan untuk segera pulang seperti yang dikatakan tadi.
"Bu, lihat cucu Ibu, ganteng kan Bu?" ucap Dian yang sedang menyusui sang adik sedangkan sang kakak sedang tidur nyenyak di pangkuan neneknya.
"Iya, lihat dulu, siapa bapaknya," sela Bu Ratna, ibunya Alex.
"Hahaha, Ibu nih bisa aja," kata Dian
Sehari hari kemudian, Dian sudah pulang dari rumah sakit.
"Sayang, mereka berdua mau dikasih nama siapa, ya? Mas bingung nih,” ucap Alex sembari menggendong salah satu bayinya.
"Aku udah mikirin soal ini sejak di rumah sakit kemarin, Mas. Kakaknya mau aku kasih nama Raki Alexandra, adiknya Kiki Ardiansyah. Nama itu aku ambil dari nama kamu sama nama aku. Gimana, Mas menurut kamu?” tanya Dian yang mencoba memastikan disetujui atau tidaknya oleh suaminya.
"Wah, bagus sekali namanya, ya. Udah, kita pake nama itu aja, Sayang," ucap Alex sembari mencium kening sang kakak, yaitu Raki.
**Flashback on**
Empat bulan sebelumnya, Alex mendampingi Dian untuk melakukan pemeriksaan USG di Rumah Sakit Aditama.
"Silakan, Pak Bu masuk dulu. Dokter Ayu sedang menangani pasien lain. Tolong tunggu sebentar,” kata perawat tersebut.
Perawat itu menatih keduanya ke ruang tunggu tamu khusus yang sudah ada janji kepada dokter tersebut.
"Iya, Sus. Ayo, Yang," ucap Pak Alex yang menuntun istrinya.
Waktu itu, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke enam. Pak Alex ingin istrinya menjalani tes USG, dan Dian setuju karena rasa penasaran dengan bayi yang ada di dalam perutnya.
Dian merasa deg-degan saat memasuki ruang USG. "Mas, aku kok tiba-tiba ngerasa deg-degan gini ya?” tanya Dian, yang memegang erat jari telunjuk suaminya.
“Istriku yang cantik, jangan takut. Suamimu ada di sini. Apapun yang terjadi, kita akan melaluinya bersama, ya,” kata Alex, memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ih, apaan sih, gombal deh,” ucap Dian sembari tersenyum malu-malu.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki dari luar ruangan. Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh.
“Pak dan Bu, silakan ikuti saya. Dokter Ayu sudah menunggu di ruangan USG,” kata perawatnya.
Alex dan Dian kemudian mengikuti perawat ke ruangan Dokter Ayu. Dian menjalani pemeriksaan dengan mengikuti arahan dokter untuk berbaring di kasur.
Sementara itu, Alex menemani istrinya, sedangkan Dokter Ayu dan perawat menjalankan tugasnya.
“Pak, sepertinya Anda akan mendapatkan bayi kembar,” kata Dokter Ayu, yang masih memeriksa hasil USG.
Tidak salah lagi, Bu Ayu telah memastikan beberapa kali, dan hasilnya Dian memang mengandung anak kembar.
“Sayang, kita akan memiliki anak kembar!” kata Alex, gembira sekali. Lalu, ia mencium pipi istrinya atas kebahagiaan itu.
**Flashback off**
Alex dan Dian memutuskan memberi nama Raki dan Kiki kepada anak kembar mereka.
Alex menatap Raki yang sedang menatapnya dan sesekali mencium pipinya. Saat itu, Alex teringat perkataan atasannya.
"Oh, iya. Sayang, besok aku mulai kerja. Tidak enak jika aku ambil cuti lebih lama lagi,” katanya kepada Dian yang sedang menyusui Kiki.
Dian menyusui Raki dan Kiki secara bergiliran. “Iya, Mas. Jangan lama-lama cutinya. Aku masih butuh banyak nutrisi untuk menyusui mereka berdua.”
Alex bertanya dengan lembut, “Sayang, malam ini kamu mau makan apa?”
Sebelum Dian menjawab sepatah kata pun, suara ketukan pintu terdengar.
“Dian, ini ibu, Nak! Ibu ingin lihat cucu ibu,” kata Bu Maya.
“Iya, Bu, sebentar!” jawab Alex sambil beranjak dari posisi rebahannya dan menuju pintu.
"Kok lama banget, Lex, buka pintunya?” kata Bu Maya dengan nada kesal.
Alex menghampiri mertuanya. “Tumben banget, Ibu, nggak bilang dulu ke aku. Kan aku bisa jemput Ibu.”
Dian menimpali, “Benar, Bu. Ibu tumben banget. Apakah Ibu ada masalah?”
Kira-kira ada apa ya dengan Bu Maya?

Put_Putri
33 Pengikut · 2 Novel