"Tapi secara logika, Bu, aturan panjang kaus kaki itu tidak ada korelasinya sama sekali dengan nilai kognitif siswa. Apa kalau kaus kaki saya di bawah mata kaki, otak saya mendadak menyusut sepuluh persen?"
Suara lantang Keandra Kalaluna membelah keheningan kelas Sosiologi yang biasanya hanya diisi suara dengkur halus siswa di barisan belakang. Di depan kelas, Bu Ratna, guru senior dengan kacamata yang bertengger di ujung hidung, tampak menarik napas panjang. Wajahnya sudah memerah, tanda tensinya mulai naik.
"Keandra, ini masalah kedisiplinan. Aturan sekolah sudah baku. Kamu mau jadi pembangkang?" tanya Bu Ratna dengan nada yang mulai meninggi.
Kea menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, melipat tangan di dada dengan gaya yang sangat menantang. "Bukan pembangkang, Bu. Saya cuma kritis. Kedisiplinan itu harusnya soal ketepatan waktu dan integritas akademik, bukan soal lima sentimeter kain di pergelangan kaki. Ibu tahu sendiri, nilai Sosiologi saya selalu tertinggi di angkatan, ya walaupun kaus kaki saya seringkali dianggap 'kriminal' oleh OSIS."
"Duh, mulai deh si Ratu Debat," bisik Gibran dari kursi sebelah kanan, suaranya cukup keras untuk didengar separuh kelas.
Kea menoleh cepat, tatapannya setajam silet. "Gibran, kalau kamu nggak punya argumen yang lebih cerdas daripada sekadar nyinyir, mending lanjut tidur atau pura-pura baca buku yang kebalik itu."
Vespera, yang duduk tepat di belakang Kea, menyenggol bahu sahabatnya itu sambil terkekeh pelan. "Sikat terus, Ke! Jangan kasih napas."
"Keandra, cukup!" bentak Bu Ratna sambil memukul meja dengan penggaris kayu. "Keluar dari kelas saya sekarang. Silakan kamu berdebat dengan tiang bendera di lapangan sampai jam pelajaran selesai!"
Kea tidak terlihat terkejut apalagi takut. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang membuat Bu Ratna semakin geram. Dengan tenang, ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas ransel hitamnya.
"Dengan senang hati, Bu. Lagi pula, sirkulasi udara di lapangan jauh lebih baik daripada di kelas yang penuh dengan dogma kaku begini. Permisi, Bu," ucap Kea santai, lalu melangkah keluar kelas dengan kepala tegak.
Vespera segera mengangkat tangan. "Bu! Saya izin ke toilet ya? Perut saya mendadak melilit lihat drama barusan."
Tanpa menunggu jawaban Bu Ratna yang masih syok, Ves langsung melesat keluar mengejar Kea. Di koridor yang sepi, Ves merangkul bahu Kea dengan semangat.
"Gila kamu, Ke! Berani banget. Taruhan besok namamu masuk catatan hitam lagi di ruang BK," seru Ves sambil tertawa.
"BK itu rumah keduaku, Ves. Kayak nggak tahu aja," sahut Kea sambil mengibaskan rambutnya. "Lagian Bu Ratna itu perlu dikasih paham sesekali. Hidupnya terlalu kaku kayak kerupuk kaleng kelamaan di luar."
"Tapi beneran deh, argumenmu soal kaus kaki tadi emang 'masuk Pak Eko' banget. Aku juga heran, kenapa sih guru-guru hobi banget ngurusin hal nggak penting?"
"Karena mereka nggak punya kuasa sama hal-hal yang lebih besar, makanya cari validasi lewat hal-hal kecil yang bisa mereka kontrol. Klasik," balas Kea dengan nada sarkas yang kental.
Mereka berdua berjalan menuju kantin yang masih sepi. Namun, langkah mereka terhenti di depan mading sekolah saat seorang cowok tinggi dengan seragam yang sangat rapi, lengkap dengan atribut OSIS yang mengilat berdiri di sana.
"Wah, ada Pak Ketua OSIS kesayangan guru-guru," bisik Ves. "Nandana Arsa. Si malaikat tanpa sayap tapi punya banyak fans."
Nanda menoleh saat mendengar langkah kaki mereka. Ia memberikan senyum yang sangat ramah, tipe senyum yang bisa membuat cewek-cewek satu sekolah pingsan berjamaah.
"Baru jam segini udah di luar kelas, Kea? Bolos lagi?" tanya Nanda dengan suara baritonnya yang lembut dan tenang.
Kea memutar bola matanya malas. "Bukan bolos, Na. Aku diusir secara terhormat sama Bu Ratna. Ada perbedaan mendasar di situ."
Nanda terkekeh pelan, melangkah mendekati Kea. "Diusir secara terhormat? Bahasa kamu selalu aja unik. Apa lagi yang kamu debatin tadi? Masalah teori Karl Marx atau masalah atribut sekolah lagi?"
"Dua-duanya kalau perlu. Kenapa? Mau laporin ke pembina OSIS?" tantang Kea, menatap lurus ke mata Nanda yang teduh.
"Nggak perlu lapor. Aku kan udah dengar sendiri barusan dari koridor. Suaramu itu punya frekuensi yang unik, Kea. Tegas, tapi sebenarnya penuh pertahanan diri," ucap Nanda sambil menyunggingkan senyum misterius yang sulit diartikan.
Ves berdehem keras-keras. "Ehem! Dunianya serasa milik berdua ya? Aku cuma penonton bayaran di sini?"
"Eh, hai juga, Vespera," sapa Nanda sopan. "Kalian mau ke kantin? Titip belikan minum untuk anak-anak basket bisa? Kami mau latihan sebentar lagi."
"Dih, emang kami kurir ojek online?" semprot Kea cepat.
Nanda tidak marah. Ia justru merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu. "Bukan kurir. Aku cuma minta tolong sebagai teman. Sisanya buat kalian jajan es jeruk. Bagaimana?"
Kea menatap uang itu, lalu menatap Nanda. "Aku nggak butuh uangmu, Na. Tapi karena lagi haus dan Ves kayaknya butuh asupan gula, oke. Tapi jangan harap kita bakal jadi pengikutmu yang hobi puja-puji itu ya."
"Aku nggak pernah minta dipuja, Kea. Cuma mau kita bisa berteman baik tanpa kamu harus keluarin duri setiap kali aku lewat," tutur Nanda lembut, sangat lembut sampai-sampai Kea merasa ada sesuatu yang aneh berdesir di dadanya.
"Duriku cuma buat orang yang sok suci, Na," balas Kea, meski nadanya sedikit melunak.
"Kalau begitu, aku bakal usaha buktiin kalau bukan salah satu orang yang sok suci itu," ucap Nanda sambil mengedipkan satu matanya sebelum berlalu pergi menuju lapangan basket.
Kea terdiam di tempatnya selama beberapa detik. Ves langsung menyenggol lengan Kea dengan wajah penuh godaan.
"Ciyeee, Ratu Sarkas kita mendadak kaku kayak kanebo kering? Kamu lihat nggak tadi? Dia ngedipin kamu, Ke!"
"Apaan sih, Ves. Itu pasti ada debu masuk matanya," bantah Kea cepat, meski ia merasa wajahnya sedikit memanas.
"Halah, alasan! Nanda itu pinter banget ya kalau ngomong. Tutur katanya itu lho, sopan banget tapi kerasa banget 'sesuatu'-nya. Kamu beneran nggak baper?"
"Baper sama cowok kayak dia? Big no. Dia tuh terlalu sempurna buat jadi nyata, Ves. Dan biasanya, yang terlalu sempurna itu nyimpen bangkai yang baunya paling busuk," cetus Kea sambil melangkah menuju kantin, berusaha menutupi rasa gugupnya yang mendadak muncul tanpa izin.
Ves tertawa lebar mengikuti langkah sahabatnya. "Oke, kita lihat aja nanti. Apa benteng pertahananmu bakal runtuh sama senyuman malaikat itu, atau emang kamu beneran punya hati dari batu."
"Batu aja bisa pecah, Ves. Tapi prinsipku nggak akan pernah, never," tegas Kea, mencoba meyakinkan dirinya sendiri di tengah debaran jantung yang mulai tidak sinkron dengan logika sarkasnya.