Aku selalu tahu bahwa dunia ini kejam.
Aku hanya tidak menyangka akan melihatnya menjelma dalam sosok pria yang dulu kuanggap sebagai cahaya.
Noah.
Idola semua orang. Dan aku tidak sedang melebih-lebihkan ketika dulunya menganggap senyuman pria itu telah menyelamatkan hidupku dari bencana.
Aku benci mengakuinya, tapi Noah terlalu tampan untuk jadi nyata. Tubuhnya tinggi menjulang, sementara bahunya tegap, dan ia seakan memang terlahir untuk menjadi pusat perhatian. Seakan dunia berputar di poros yang ia pilih. Sulit untuk tidak terpikat pada tubuh rampingnya yang proporsional, atau pada wajah yang seolah dilukis dengan garis sempurna.
Rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan ia punya bibir tipis yang bisa membuat seluruh dunia takluk hanya dengan lengkungan sempurnanya.
Itu, kuanggap sebagai anugerah tanpa cela dari para dewa. Yang sayangnya mengerikan.
Terutama matanya. Bagian yang paling berbahaya.
Mata biru gelap Noah bukan hanya sekadar indah. Dari layar kaca, aku selalu melihatnya sebagai tatapan karismatik—misterius, menawan, bahkan menghipnotis. Tapi di dunia nyata, dari jarak sedekat ini, aku sadar tatapan itu sama sekali bukan milik idola yang mengagumi ketenaran. Itu tatapan predator.
Bola mata itu seolah memiliki cakar yang siap menembus kulitku, membedahku hingga tak bersisa.
Noah adalah kebohongan terbesar yang pernah diciptakan kamera.
Di depan sorot lampu, dia tampak seperti dewa yang menebar pesona. Tak ada yang tahu—mungkin bahkan mereka yang tahu terlalu takut membuka fakta itu—bahwa dia adalah iblis yang dibungkus dengan tubuh sempurna.
Dan meskipun akalku berteriak untuk menjauhinya, sesuatu di dadaku justru bergetar dengan cara yang tak bisa kujelaskan.
Sekarang, dia berdiri hanya beberapa meter dariku. Kalaupun ia sempat tersenyum—dengan kemiringan sempurna yang bisa membuat gerombolan singa bertekuk lutut, maka, bisa dikatakan, senyum itu benar-benar sudah meninggalkan wajahnya.
Kini, yang ada hanyalah sepasang mata dingin—tajam, menusuk, dan penuh penghakiman. Mata milik seorang monster yang menyamar menjadi manusia.
Dan entah bagaimana, aku cukup bodoh untuk menantangnya.
“Hentikan,” kataku, sejenak membeku merasakan suaraku terdengar lebih mantap daripada yang kubayangkan.
Jantungku berdentum keras, tapi aku tidak menunduk. Aku menatapnya lurus-lurus, dan memutuskan untuk tidak menyesali perbuatanku.
Karena, untuk apa? Toh aku sudah secara impulsif masuk ke dalam lubang buaya.
“Hentikan apa pun yang kau lakukan!”
Noah menoleh perlahan, seakan kata-kata itu sekadar bisikan angin. Lalu matanya bertemu dengan mataku. Dan—ya Tuhan—di sanalah aku melihatnya. Mata itu begitu nyalang sampai aku tidak yakin apakah pernah berhadapan dengan makhluk sebengis ini sebelumnya. Seliar ini.
Walaupun begitu, aku sempat melihat kilatan keterkejutan dari mata Noah, yang begitu cepat padam, digantikan oleh senyum tipis yang lebih mirip sayatan pisau daripada lengkungan ramah.
Dia mungkin tidak menyangka ada orang bodoh yang berani menginterupsi titahnya.
Dan mungkin juga tidak menyangka bahwa orang bodoh itu tidak sempat berpikir panjang.
Di sudut ruangan, seorang staf laki-laki muda—mungkin lebih tua beberapa tahun dariku—tergeletak di lantai. Wajahnya tampak pucat, dengan keringat membanjiri tubuhnya. Tangannya bergetar hebat, mencoba menopang tubuh saat ia kembali menekuk siku.
Tolak angkat. Yang entah sudah ke berapa kali.
“Lanjutkan!” Noah menyandarkan punggung ke kursinya. Meskipun suara rendahnya terdengar malas, tapi hanya orang bodoh yang tidak bisa menangkap nada penuh ancaman dari kalimat itu. “Kau harus melakukannya dua ribu kali. Bahkan hitunganku belum mencapai seratus. Jangan pernah mencoba berhenti.”
Staf itu hampir menangis. Tubuhnya gemetar, dan demi Tuhan aku bisa mendengar ototnya menjerit. Napasnya begitu sesak sampai aku juga merasakan udara di sekelilingku menipis.
Monster, pikirku. Pria ini monster. Dan aku dengan bodoh pernah menyukainya layaknya orang tolol.
Atau aku memang tolol, dalam kasus ini. Persetan!
“Apa kau tidak melihatnya? Dia hampir mati!” Aku menegur lagi, kali ini dengan lebih keras.
Sekilas, beberapa kepala staf lain menoleh padaku dengan ngeri. Mereka memandangku seperti aku baru saja menandatangani surat kematianku.
Mungkin memang begitu.
Terutama kalau aku hanyalah seorang asisten manajer yang baru bekerja selama tiga bulan di sini.
Mari kita hitung dengan benar. Apakah 22 tahun merupakan waktu yang tepat untuk terbaring belasan meter di bawah tanah?
Noah mengangkat alis. Wajahnya tetap datar, meskipun matanya tidak menunjukkan tanda-tanda melunak. Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu mengharapkan ia akan berubah menjadi pria baik-baik hanya karena aku meneriakinya.
Siapalah aku? Hanya gadis naif yang tidak tahan menghadapi ketidakadilan.
“Lanjutkan,” katanya pada staf itu, seolah aku hanyalah lalat pengganggu yang bisa diabaikan.
Darahku pun mendidih. Hari ini aku belajar bahwa kesabaran bukan termasuk dari daftar keahlianku.
“Cukup, Noah!” Suaraku melengking tinggi. “Kalau kau tidak mau menggunakan otakmu, biar aku yang menggunakan milikku. Dia akan mati kalau kau terus memaksanya!”
Keheningan membuat udara seolah membeku.
Untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke ruangan itu, Noah benar-benar bangkit dari kursinya. Gerakannya tampak begitu anggun, dan bersahaja, bahkan nyaris seakan-akan ia terpaksa melakukannya hanya karena tidak ingin telinganya terganggu lebih lama. Tapi setiap inci tubuhnya memancarkan ancaman.
Kedua tangan pria itu terselip ke masing-masing saku celananya. Langkahnya begitu tenang, meskipun terkesan dramatis untukku. Rasanya seperti ia menancapkan paku di setiap kali kakinya mendekatiku.
Aku mundur selangkah tanpa sadar, meski mataku tetap menantang. Napasku bergetar, tapi aku memutuskan untuk tidak akan menyerah.
Aku tidak bisa.
Aku sudah terlanjur menandatangani kontrak kematianku sendiri. Dengan sukarela.
“Lari!” teriakku pada staf laki-laki itu. “Sekarang juga! Pergi!”
Pria malang itu menatapku dengan mata melebar, lalu, entah karena putus asa atau akhirnya mendapatkan keberanian, dia bangkit dengan sisa tenaganya dan benar-benar kabur keluar ruangan. Diikuti staf lain.
Bagus sekali. Aku baru saja menyalakan api yang tidak bisa dipadamkan.
Ketika akhirnya aku kembali melemparkan pandanganku pada Noah, ia ... tersenyum. Senyum menyeramkan yang bahkan bisa membuat tulangku gemetaran.
“Aku mulai penasaran,” ucapnya pelan, sementara ia mendekat, “apakah kau bodoh atau benar-benar gila.”
Dia berhenti hanya beberapa sentimeter di depanku. Dan aku baru sadar ia melakukannya semata-mata karena aku berhenti mengambil langkah mundur.
Sekarang, aku tidak bisa ke mana-mana. Kecuali aku punya palu Thor yang mungkin bisa kugunakan untuk menghancurkan dinding tempat aku bersandar, aku tidak bisa kabur.
Tangan kiri Noah terangkat, jari-jarinya menyentuh daguku seolah itu hal paling wajar yang bisa ia lakukan selain bernapas.
“Siapa kau?”
Aku bergeming.
“Kita tahu kau tidak bisu.” Ia mendekatkan wajahnya sampai aroma alkohol menyentuh pipiku. “Siapa. Kau.”
Aku menelan ludah. Mata pria itu mengunciku. Dan dengan menakjubkan, pria itu tidak membiarkanku berkedip satu kali pun.
“Seraphina,” jawabku, mencoba bersikap tenang. “Asisten—”
Lalu—dengan gerakan secepat kilat—dia mencengkeram rahangku. Dengan amat sangat menyakitkan, kalau boleh kutambahkan.
“Aku seharusnya marah,” katanya dengan nada rendah yang membuat bulu kudukku berdiri. “Tapi aku tidak ingin menunjukkan emosi berharga itu pada makhluk yang tidak kukenal.”
Matanya menelusuri wajahku, seperti predator yang meneliti mangsanya. Tiba-tiba, sebelum aku sempat bergerak, sebuah dorongan keras menghantam tubuhku.
Aku terjatuh dalam posisi telungkup ke lantai. Rasa sakit menjalar di lengan dan lututku. Ketika aku hendak bangkit, sesuatu menahan punggungku.
Aku menoleh—dan menyadari bahwa itu adalah sepatu Noah.
Sepatu hitamnya menekan punggungku, mencegahku bergerak. Dadaku terasa sesak, tubuhku bergetar antara rasa marah dan keterkejutan yang meluap-luap.
“Sekarang,” katanya, masih sama bengisnya seperti detik sebelumnya, “seharusnya kau yang menyelesaikan hukuman itu.”
Aku membeku. “A-apa?”
“Tolak angkat.” Tekanan kakinya makin kuat. “Hanya tersisa seribu sembilan ratus dua puluh tujuh. Tentunya tidak terlalu sulit untukmu. Benar, kan?”
“Kau—”
“Tutup mulutmu dan lakukan.”
Aku mencoba melawan dorongan di punggungku, tapi tubuhku terjepit. Napasku makin sesak.
Detik itu juga aku mulai menyadari: makhluk ini mengerikan. Dia bukan manusia. Dia tidak mungkin seorang manusia.
Dia buas.