


oleh Iday Iis · 98 Bab
Diputusin pacar keenam kalinya? Biasa saja bagi Aora. Dirayain pakai terompet sama teman-teman laknatnya? Itu sudah jadi tradisi. Aora hanya ingin tahu satu hal. Bagaimana rasanya jatuh cinta tanpa harus berpura-pura? Pencariannya berujung pada sebuah suara di internet yang terdengar seperti psikopat tapi romantis. Aora pikir ia telah menemukan jawaban atas hatinya yang beku. Namun, ia tidak sadar bahwa di dunia nyata, cinta tidak selalu berakhir dengan pelukan. Kadang, ia berakhir dengan kepemilikan yang mematikan.
Aku bisa mendengar suara angin menyapa rambutku dengan kasar. Sayup-sayup, kudengar suara burung yang seolah mencemooh dan merendahkanku. Aku bisa mendengar detak yang patah. Sayup-sayup, kudengar aliran darah memenuhi dadaku. Begitu sesak, dan ... sakit!
Kutatap punggungnya yang perlahan menjauh. Hanya kutatap saja. Aku tidak punya keinginan untuk mengejarnya. Yang ingin pergi akan kubiarkan pergi tanpa dicegah. Tidak. Aku tidak akan melakukannya lagi!
"Ini bukan cinta! Kebersamaan kita ini tidak bisa disebut cinta," ucapnya tajam. "Ini hanyalah aku yang berada di sisimu dan mencintaimu dengan sangat, tapi kau hanya bertindak seolah-olah mencintaiku. Kau tidak benar-benar mencintaiku, Aora. Kau hanya berbuat baik padaku."
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Apa kau tidak sadar, cinta yang seperti ini memberikanku luka? Sebuah luka yang tidak akan pernah terpikirkan olehmu. Luka samar, karena walaupun kita bersama, cintaku tetap tidak terbalas."
Begitulah katanya. Kata-kata terakhirnya untukku. Apa salahnya berbuat baik? Apa salahnya mencoba membahagiakan seseorang yang mencintai kita? Hah! Sudahlah! Aku tidak mengerti manusia.
Namaku Aora. Aku adalah gadis yang tidak pernah memiliki hubungan bertahan lama; kisahku selalu berakhir mengenaskan. Katanya, hatiku seperti batu. Katanya, senyumku kaku. Mereka bilang aku tidak tulus menjalin hubungan, bahwa aku hanyalah makhluk yang penuh sandiwara.
Ah, sial! Padahal aku hanya ingin berbuat baik.
Aku sudah mencoba beberapa kali untuk membuka hati kepada orang baru, tetapi orang-orang itu tidak mau bersabar. Bukankah butuh waktu lama untuk bisa mencintai seseorang? Setahun atau dua tahun hanyalah waktu yang sebentar, bukan? Haha! Orang-orang menganggapku bukan manusia karena itu. Aku tidak tahu di mana salahnya.
Ini sudah keenam kalinya aku ditinggalkan secara sepihak. Sudahlah, aku juga bosan. Aku tidak akan memulai hubungan dengan seseorang yang tidak aku cintai dari awal. Besok-besok, harus aku yang mencintainya terlebih dahulu.
Saat ini aku masih berdiri di depan rumah. Sudah 30 menit berlalu sejak aku diputuskan oleh Adit. Kupikir, jika aku berdiri di sini, aku akan terlihat seperti orang yang patah hati. Jadi, aku memutuskan akan berdiri 30 menit lagi agar genap satu jam.
Aku dapat melihat warna jingga mengenai rambut cokelatku. Sebagai orang pribumi, rambutku memang tidak hitam legam. Kakiku sudah terasa kaku, aku ingin segera duduk dan memijatnya. Namun, aku harus bertahan. Sebagai pengorbanan terakhir, aku harus terlihat sesedih mungkin. Aku tidak suka menangis, jadi diam mematung adalah bentuk rasa sedihku.
"Tadaa! Selamat atas diputuskannya teman bodoh kita yang bernama Aora ini! Teman-teman, berikan selamat padanya!"
Aku terkejut mendapati Giva, Chaterine, dan Sophia menyambutku dengan tiupan terompet dan mainan yang diambil dari kamarku. Mereka mengelilingiku seolah aku baru saja memenangkan lotre. Dasar teman laknat! Bukannya dihibur, mereka malah merayakannya.
"Selamat, teman cerobohku yang cantik," ujar Chaterine seraya mengulurkan tangannya.
"Selamat, Bodoh!" timpal Giva.
"Selamat, Sayangku yang malang," sambung Sophia.
Aku memutar bola mata malas. Namun, tetap menyambut uluran tangan mereka satu per satu. Teman-temanku ini memiliki kehidupan percintaan yang jauh lebih "normal" dibanding diriku.
Chaterine sudah pacaran selama tiga tahun dengan Deril; mereka terlihat saling mencintai. Giva adalah laki-laki populer yang sering diajak kencan banyak gadis. Meskipun dia tidak pernah serius, setidaknya dia selalu terlihat bahagia.
Aku sempat berpikir Giva tidak pacaran karena menyukai salah satu di antara kami, tetapi ternyata salah. Dia hanya tidak ingin terikat; dia ingin wanita-wanita selalu mengerubunginya tanpa ada yang melarang. Sedangkan Sophia sedang masa pendekatan dengan Ketua OSIS. Mereka terlihat saling suka, hanya butuh waktu untuk meresmikan hubungan.
Hah! Aku menghela napas, lalu mencari posisi duduk yang enak. Biasanya aku akan langsung mengempaskan tubuh di atas kasur, tetapi gara-gara teman-temanku yang tidak berperikemanusiaan ini, kamar dan kasurku berantakan.
Aku melangkah menuju jendela dan duduk di bingkainya. Pemandangan dari sini adalah favoritku. Kupejamkan mata, membiarkan angin yang mulai mendingin membelai wajah. Dadaku terasa kosong lagi. Biasanya ketika punya pacar—meskipun aku tidak mencintainya—hatiku tidak terasa sekosong ini.
Kutatap ketiga temanku. "Bagaimana caranya agar aku bisa jatuh cinta?"
Ucapanku membuat mereka menyeringai aneh.
"Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga .... Hai, begitulah kata para pujangga ...."
Giva tiba-tiba menarik tangan Sophia dan Chaterine. Mereka berputar-putar sambil menyanyikan lagu milik "Abang" Rhoma Irama. Aku menghela napas kasar. Apakah mereka benar-benar anak SMA yang seumuran denganku? Mereka terlihat begitu bodoh. Aku geleng-geleng kepala; untung hanya aku yang waras di sini.
"Jadi bagaimana, Guru? Caranya agar Ananda bisa jatuh cinta?" ujarku sambil bersujud dramatis ke arah mereka. Namun, sebelum kepalaku menyentuh lantai, tangan Giva menahanku. Dia menatapku nanar. "Sudahlah, Nak. Tidak perlu sampai seperti itu. Kami akan membantu apapun agar kamu bisa mendapatkan cintamu," ujarnya, membuatku sedikit tersentuh.
Setelah itu, mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sophia menyalakan laptopku tanpa izin, Giva asyik mencari sesuatu di ponselnya, sedangkan Chaterine membongkar tasnya. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Daripada pusing melihat tingkah mereka, lebih baik aku memperhatikan gerombolan itik yang berjalan bersama di bawah sana.
Apakah sebaiknya aku menjadi itik saja? Hidup bebas tanpa beban pikiran. Manusia itu lemah, dan yang paling lemah adalah aku. Aku tidak bisa merasakan kebahagiaan. Aku begitu kesepian.
Padahal aku dikelilingi orang yang mengasihiku: teman yang lucu, mama yang baik. Namun, tetap saja tidak cukup. Hatiku masih beku. Mungkin kegagalan rumah tangga orang tuaku adalah penyebabnya. Kesepian ini membunuhku. Orang-orang akan menjauh karena aku hanya bisa menunjukkan kebahagiaan palsu. Seseorang yang tidak bisa merasakan sakit, tidak akan mengerti penderitaan orang lain. Aku merasa seperti makhluk hina.
"Nah, ini dia caranya!" ujar mereka berbarengan, membuyarkan lamunanku.
Mereka meletakkan tiga benda di atas kasur. Aku mengernyit. Apakah aku harus memilih salah satu? Aku mengetukkan jari di dagu, mencoba berpikir keras.
"Aku pilih ini saja!" ujarku menunjuk ponsel Giva. "Aku tidak mau novel, ini harganya murah. Laptop ini memang sudah punyaku sedari awal. Jadi, ponsel Giva satu-satunya yang menguntungkan."
Aku tersenyum lebar, sementara mereka serempak menepuk jidat.
"Siapa juga yang mau memberikan ponsel ini untukmu, Bodoh!" sentak Giva kesal. "Kami memberikan cara agar kamu bisa jatuh cinta. Saran dariku adalah ini: komik romantis yang bisa melelehkan siapa pun."
Giva memperlihatkan layar ponselnya. Cover komik itu membuatku jengah.
"Eitss! Cara dariku lebih ampuh," potong Chaterine. "Taraa! Film terbaik sepanjang masa. Dilan dan Milea!"
"Jangan dengarkan mereka. Lebih baik novel cinta. Di sini kamu bisa belajar 'tata cara' mencinta dengan jelas," timpal Sophia.
Aku mendadak pusing. Aku suka novel, komik, dan film, tapi aku tidak pernah menyentuh genre romantis. Aku tidak ingin merasa iri. Ujung-ujungnya pasti akan berakhir menyedihkan lagi.
"Aku tidak mau semua itu," ujarku lalu menghempaskan diri ke kasur yang berantakan. Kututup mataku rapat-rapat. Mungkin aku akan menemukan caranya di dalam mimpi saja.
"Astaga! Apa yang terjadi dengan rumahku ini? Bangun! Apa-apaan kalian tidur berempat di atas kasur anak saya!"
Suara lengkingan Mama membangunkan kami.
Melihat urat-urat di wajah Mama mulai muncul, aku segera berlari ke arah pintu dan menutupnya dengan cepat. Hampir saja kupingku panas.
Segera kuambil "earphone" dan memutar audio dari ponsel dengan volume maksimal agar suara ocehan Mama atau protes teman-temanku tidak terdengar. Ternyata, aku tidak sengaja memutar sebuah "podcast" dari akun bernama "Shy_Ko".
Suaranya membuat hatiku meleleh.
Apakah perasaan ini namanya cinta? Apakah perasaan senang ini yang namanya bahagia? Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengetikkan komentar pada postingan itu.
"I Love You, Shy_Ko!"
Aku tidak pernah menduga bahwa satu komentar itu akan mengubah drastis hidupku. Membawaku pada sisi gelap di sudut dunia yang tak pernah terjamah sebelumnya.

Iday Iis
9 Pengikut · 4 Novel