


oleh Iday Iis · 15 Bab
"Dulu aku melarikan diri dari takhta ini, sekarang aku menyadari bahwa genangan darah adalah singgasana yang paling nyaman." Aora Denzor bukan lagi gadis "babu" yang bisa diremehkan. Sebagai pemimpin sah Denzor Group, ia berdiri di puncak kekuasaan, didampingi oleh sepuluh pilar pasukan khusus yang mematikan. Namun, Aora harus menghadapi kenyataan pahit: Herald, pria yang ia cintai menghilang. Di sisi lain, Marco tetap setia di sampingnya dengan kecemburuan yang membara, sementara Ren terperangkap dalam dilema moral antara hukum dan cintanya pada Aora. Saat musuh-musuh lama menuntut balas dan dendam masa lalu yang kembali, Aora menyadari menjadi pemimpin artinya siap untuk hancur.
Di dalam sebuah ruangan dengan dinding yang didominasi kaca, ada seorang gadis yang sedang mengayunkan pisau dengan brutal. Matanya membulat, senyumnya lebar menampakkan gigi putihnya yang menawan. Namun, ada sedikit bercak darah yang tidak sengaja memercik dan mengenai ujung bibirnya.
Di dekatnya, tergeletak seorang laki-laki yang merupakan salah satu kandidat pilar atau pemimpin tertinggi dari organisasi kriminal ternama, Denzor Group. Laki-laki itu bernama Guntur, yang baru saja dilantik dua hari lalu.
Proses pelantikan pilar dilakukan dengan cara pertarungan antara kandidat baru melawan pilar lama. Sebenarnya, yang terpilih awalnya adalah Johan. Namun, karena kata-kata kasar yang Johan lontarkan pada Aora, sang pemimpin Denzor Group, gadis yang terkenal sadis itu membunuhnya tepat saat acara pelantikan berlangsung.
Akhirnya, Guntur dipilih untuk menggantikan Johan. Tetapi, sifat Guntur ternyata sama saja; ia cenderung kasar dan sombong. Hal itu membuat Aora membunuh Guntur dengan cara yang sama tragisnya dengan Johan.
Di balik kaca, tepatnya di luar ruangan, berdiri sepuluh anggota pasukan khusus yang dibentuk Aora, yang lebih dikenal sebagai kelompok Silly and Psycho. Mereka adalah Rion, Rian, Zen, Morik, Maxine, Sophia, Samantha, Code 6, Ren, dan Marco.
"Dia melakukannya lagi! Hahaha. Denzor Group semakin lama semakin menyenangkan. Dalam waktu kurang dari seminggu, dua kandidat pilar sudah dibunuh oleh pemimpin kita, Aora!" Rion berseru senang sambil menatap ke arah ruangan tempat Aora sedang menggorok leher Guntur. Rion memiliki kegemaran yang sama dengan Aora; ia menyukai segala hal yang berbau darah.
"Dasar! Dia masih saja seenaknya dan bertindak ceroboh. Bagaimana nasib kita jika pemimpinnya saja seperti ini?" geram Rian, saudara kembar Rion. Berbeda dengan saudaranya, Rian lebih berhati-hati dalam bertindak. Segala hal yang ia lakukan harus sesuai dengan aturan.
"Tidak usah banyak lagak. Kau bahkan ketakutan berhadapan dengannya setelah dia mengancam akan membunuhmu waktu itu. Diam dan tonton saja!" maki Marco.
Marco menatap Rian tajam seolah ingin menghabisinya saat itu juga. Keduanya memang selalu bertikai, jadi wajar jika tidak ada yang memedulikan mereka saat beradu mulut.
"Dasar penjilat! Kau masuk ke Denzor Group hanya dengan memanfaatkan kedekatanmu dengan Aora, bahkan langsung menjadi anggota pasukan khusus yang isinya orang-orang hebat. Kau seharusnya tidak berada di sini! Kau harus merangkak dari bawah seperti yang lainnya," balas Rian menantang Marco.
"Seorang pengkhianat sepertimu tidak pantas membicarakan hal itu denganku," balas Marco kesal.
"Sialan! Kau ingin mati?" geram Rian. Ia hendak berjalan ke arah Marco, tetapi Ren segera mencegatnya.
"Jangan membuat suasana hati Aora semakin memburuk dengan perkelahian kalian. Jika ingin bertengkar, bertengkarlah di luar sana." Ren melerai mereka dengan tatapan mengintimidasi khas seorang polisi.
Ren memiliki alasannya sendiri mengapa ia harus bergabung dengan organisasi kriminal seperti Denzor Group. Tidak lain, alasannya adalah karena Aora.
"Ssst, Aora akan keluar!" ujar Morik dengan wajah yang sedikit panik.
Di antara sepuluh anggota pasukan khusus, hanya Morik yang tergolong normal. Ketika melihat aksi pembunuhan yang dilakukan Aora, hanya Morik yang ketakutan sampai mengeluarkan keringat dingin. Bukan hanya Morik, Rian pun diam-diam merasa takut ketika Aora berjalan mendekat ke arahnya. Ia kembali teringat akan ancaman Aora tempo hari. Rian berdiri tegak, tidak berani mengomentari tindakan egois sang pemimpin.
"Hah! Aku tidak percaya ini ... kenapa Guntur maupun Johan sangat lemah? Melawan wanita lemah sepertiku saja mereka tidak sanggup. Apa yang akan terjadi pada Denzor Group jika pemimpinnya saja tidak bisa mengalahkan seorang wanita?" Aora berujar dengan wajah kecewa. Ia menatap Rian dan yang lainnya secara bergantian.
"Aku mau kandidat yang menggantikan Guntur harus lebih kuat dan mempunyai tampang menakutkan. Tetapi, meski tampangnya menakutkan, sifat dan tutur katanya harus baik. Kurang lebih, carilah seseorang yang seperti Zen," tunjuk Aora pada Zen.
Zen yang mendengar hal itu hanya mengangguk datar. Dalam hatinya, Zen merasa senang karena Aora menyukainya. Zen adalah laki-laki dengan fisik dan wajah yang cukup sangar. Akan tetapi, hati dan tutur katanya sangat elok.
"Tentu! Akan kami lakukan! Dan, kuharap, kandidat berikutnya juga mati dengan cara yang sama," seru Rion dengan senyum lebar di wajahnya.
"Tergantung suasana hatiku," jawab Aora pendek.
Aora kemudian pergi meninggalkan Rian dan yang lainnya. Ia berjalan menuju ruangannya yang berada cukup jauh. Ruang pribadi Aora terletak di markas paling belakang, sedangkan ruangan eksekusi tadi berada di bagian depan, tidak jauh dari aula gerbang utama. Di belakangnya, Marco mengikuti seperti biasa.
"Kenapa kau bunuh juga kandidat baru itu? Jika kau mengharapkan orang yang baik dengan tutur kata santun, maka kau tidak akan menemukannya di tempat ini," ujar Marco menasihati Aora. Ia bicara dengan santai karena pada dasarnya mereka adalah teman lama sejak bangku sekolah menengah atas.
"Siapa bilang aku mencari orang baik? Aku hanya bilang mencari orang yang punya tutur kata baik meski hatinya busuk," Aora meluruskan pemahaman Marco.
"Terserah," jawab Marco pendek. "Kemarin seharian itu kau ke mana? Ponsel tidak kau bawa dan kau tidak memberi kabar sama sekali."
"Hehehe." Aora tertawa canggung mengingat apa yang ia lakukan bersama Herald tempo hari.
Hari itu adalah hari yang sangat spesial bagi Aora, karena ia dan Herald akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan. Kegalauan yang ia rasakan selama ini, perasaan ragu memilih antara Marco atau Herald, akhirnya menemui titik terang.
"Sebaiknya kau jangan mengetahui hal ini, Marco," ujar Aora lalu mempercepat langkah menuju ruangannya.
Marco yang ditinggal begitu saja merasa kesal. Namun, entah kenapa hatinya terasa perih melihat senyum yang diberikan Aora tadi. Marco menyadari bahwa Aora perlahan mulai menjauh darinya, dan ia sama sekali tidak menyukai hal itu. Marco mengepalkan tangannya dengan erat, lalu mengayunkannya sekeras mungkin ke udara untuk meluapkan kekesalan.
Marco berjalan kembali menuju tempat eksekusi tempat rekan-rekannya berada. Ia menghela napas panjang lalu kembali bersikap biasa. Ia menghampiri Rian dan yang lainnya yang tampak sedang berkumpul membicarakan sesuatu.
"Jika terus seperti ini, lambat laun kita akan kalah dari Killar King, musuh abadi kita. Baru saja kita mendapat kabar kalau performa Killar King semakin hari semakin baik. Bukannya memperkuat kekuasaan, kita malah disibukkan dengan pencarian kandidat pilar yang harus sesuai dengan kriteria Aora. Siapa lagi yang bisa dijadikan kandidat?" keluh Rian.
"Rian, jangan pesimis seperti itu. Aora ada benarnya. Jika pemimpin pilar saja tidak bisa mengalahkan Aora yang pada dasarnya adalah seorang perempuan, maka saat bertarung pun kita akan langsung kalah. Benar, kan?" bela Zen.
"Hahaha. Zen benar, Rian. Aku suka dengan cara Aora memperlakukan bawahannya," sahut Rion.
"Aku tidak perlu mendengar hal itu darimu, Rion. Kau sama saja dengan si sadis Aora. Yang ada dalam kepala kalian hanyalah membunuh dan membunuh," ketus Rian.
"Hahaha. Bukannya kita adalah organisasi pembunuh? Ya wajar, dong, Rian."
"Ah, sudah! Aku muak berdebat denganmu!"
Marco mendengarkan keluhan rekan-rekannya dengan cemas. Jika dibiarkan seperti ini, Killar King bisa saja membumihanguskan Denzor Group sebelum Aora sempat menunjukkan keahliannya pada dunia. Marco tidak ingin Aora berakhir begitu saja. Ia bertekad untuk tidak kalah melawan Killar King, karena di sana ada orang yang sangat ia benci, yaitu Herald Ki Larken. Sosok yang kemungkinan besar akan merebut Aora dari sisinya.
Marco tidak tahu bahwa Aora sudah jatuh ke tangan Herald. Ia tidak sadar bahwa orang yang paling berharga baginya telah dimiliki orang lain karena kesalahannya sendiri. Wajahnya yang datar dan sifatnya yang enggan menyatakan perasaan secara jujur telah membuatnya kehilangan Aora.

Iday Iis
9 Pengikut · 4 Novel