“Kau dengar itu, Lucky? Suara gesekan sol sepatu di atas lantai kayu yang memburu, suara bola yang membentur lantai dengan irama yang presisi, dan teriakan-teriakan penuh ambisi, tetapi kenapa kau malah berdiri di sini, memegang pel, membiarkan dirimu terjebak dalam rutinitas membersihkan lantai, bukannya memegang bola itu sendiri?”
Lucky Wijaya menoleh perlahan. Di ambang pintu gimnasium sekolah yang mulai meredup, berdiri Pak Baskoro. Ia adalah guru olahraga yang dikenal paling disiplin, memiliki aura otoriter, dan jarang sekali melontarkan gurauan kepada siswanya.
Lucky, pemuda dengan perawakan jangkung yang tampak sedikit membungkuk, seolah ingin menyembunyikan tinggi badannya, hanya tersenyum tipis. Ia meletakkan pelnya, lalu mengusap keringat yang membasahi dahi dengan punggung tangan.
“Lantai ini harus bersih, Pak. Kalau licin, nanti teman-teman yang latihan di tim voli sekolah bisa cedera saat melakukan pivot atau melompat. Saya tidak ingin itu terjadi pada siapa pun,” jawab Lucky dengan nada yang tenang dan datar, seolah ia sedang membacakan fakta yang sangat lumrah.
Pak Baskoro mendengkus, melangkah masuk ke dalam gimnasium yang luas. Bau khas keringat, kapur, dan karet bola menyambutnya.
Ia menatap Lucky dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Kau punya tinggi badan yang sempurna untuk seorang outside hitter, Lucky. Namun, kau menghabiskan waktu tiga tahun terakhir sebagai sukarelawan kebersihan gimnasium. Apa kau tidak bosan menjadi penonton di balik jaring itu? Apa kau tidak merasa bahwa kau sebenarnya memiliki tempat di dalam sana, di antara deru pertandingan?”
Lucky terdiam. Pertanyaan itu menghujam tepat di ulu hatinya, di tempat yang selama ini ia coba sembunyikan rapat-rapat dengan dalih tanggung jawab sebagai petugas kebersihan. Ia tidak segera menjawab.
Ia justru mengambil bola voli yang tergeletak di dekat tiang jaring, memutar-mutarnya dengan telapak tangan yang kasar karena sering terpapar bahan pembersih lantai.
“Voli itu bukan sekadar olahraga, Pak,” ujar Lucky pelan, matanya menatap bola itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Bagi banyak orang, ini hanya tentang memasukkan bola ke daerah lawan. Namun, bagi saya, ini adalah sebuah simfoni. Ada ritme, ada tempo, dan ada harmoni yang sangat rumit. Jika salah satu pemain tidak selaras, seluruh musiknya akan sumbang, dan permainannya akan berantakan. Saya merasa belum menemukan orkestra yang tepat. Saya takut, jika saya memaksakan diri masuk, saya justru akan merusak harmoni yang sudah ada.”
“Orkestra tidak akan datang kepadamu, Lucky. Kau harus mencarinya, atau justru membangunnya sendiri. Besok sore, latihan seleksi tim inti dimulai. Banyak posisi yang masih bisa diisi oleh orang yang memiliki visi sepertimu. Jika kau berani, datanglah dengan pakaian olahraga, bukan pakaian petugas kebersihan yang lusuh itu.”
Setelah mengatakan hal itu, Pak Baskoro membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan Lucky sendirian dalam keheningan yang semakin menyesakkan.
Lucky berdiri mematung. Kata-kata Pak Baskoro terus berdenging di kepalanya seperti alarm yang sudah lama mati, kini dipaksa berbunyi dengan volume maksimal. Selama ini, ia memang selalu berada di pinggir lapangan.
Ia mengamati setiap pergerakan, setiap set yang melengkung indah menuju spiker, setiap spike yang menghantam lantai dengan suara yang memuaskan. Ia mempelajari semuanya, bukan dari instruksi pelatih, melainkan dari pengamatan tajamnya selama bertahun-tahun. Ia tahu persis kapan seorang setter akan melepas bola, dan ke mana arah pertahanan lawan akan goyah.
Ia berjalan ke tengah lapangan. Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan sorot cahaya remang dari jendela besar yang menembus debu-debu beterbangan. Lucky berdiri di garis depan, tepat di depan jaring. Ia memosisikan kakinya, mengambil napas dalam-dalam, dan melakukan ancang-ancang untuk melompat.
Satu, dua, lompat.
Tubuhnya seolah melawan gravitasi. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di titik tertinggi. Tangannya terayun sempurna, membayangkan ada bola yang melayang di hadapannya. Ia memukul udara dengan kekuatan yang ia simpan selama bertahun-tahun.
Buugh!
Suara pukulan tangannya memecah kesunyian malam, bergema seperti cambukan di dalam ruangan kosong.
Ia mendarat dengan mulus, kakinya terasa sedikit bergetar. Lucky menatap tangannya sendiri. Ada getaran aneh yang menjalar dari ujung jari hingga ke bahunya.
Selama ini, ia selalu berpikir bahwa ia hanyalah seorang siswa biasa yang tidak memiliki tempat di tim, saat ini, sesuatu dalam dirinya berteriak untuk keluar, mendesak untuk menantang dunia yang selama ini hanya bisa ia lihat dari balik pagar.
Ia tahu, besok bukan sekadar hari biasa. Besok adalah garis demarkasi antara kehidupan lamanya sebagai “si petugas kebersihan” dan awal dari perjalanan yang belum pernah ia bayangkan. Namun, ia juga sadar akan risiko yang mengintai. Menjadi pemain voli berarti siap untuk dikalahkan, siap untuk terjatuh, dan siap untuk menghadapi tekanan yang luar biasa dari orang-orang yang merasa superior.
Saat ia berbalik untuk mengambil tasnya, langkahnya terhenti. Di pintu gimnasium yang tadi sudah tertutup, kini terbuka sedikit. Seseorang berdiri di sana, mengawasinya dari kegelapan. Orang itu tidak bergerak, hanya berdiri diam, memperhatikan Lucky dengan tatapan yang sangat tajam, seolah sedang menganalisis setiap gerakan yang baru saja ia lakukan.
Lucky menyipitkan mata.
“Siapa di sana? Keluar jika memang punya nyali!”
***
Tidak ada jawaban yang segera muncul. Sosok itu perlahan melangkah keluar dari bayang-bayang, memperlihatkan siluet tubuh yang tegap dengan tinggi yang bahkan melebihi rata-rata siswa di sekolah itu.
Lampu koridor menyinari separuh wajahnya, menampilkan bekas luka tipis di alis kiri yang tampak sangat menonjol. Dia adalah kapten tim voli sekolah yang paling arogan, rival yang selalu menganggap rendah siapa pun yang tidak berada di levelnya, seseorang yang sering menyebut dirinya sebagai raja di gimnasium ini.
“Lompatan yang cukup bagus untuk seorang petugas kebersihan.” Suara berat itu memecah kesunyian, dingin dan merendahkan. “Jangan berharap bisa mengulanginya besok saat kau berada di bawah tekanan net yang sebenarnya, Lucky Wijaya. Kau hanya seorang yang kebetulan lewat, dan sebaiknya kau tetap pada posisimu sebagai pengelap lantai yang setia.”
Lucky mengeraskan rahang. Ia tahu, seleksi besok bukan hanya tentang membuktikan diri kepada pelatih, tetapi tentang bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan tim yang penuh dengan ego.
Tanpa peringatan, sosok itu melempar sebuah bola voli ke arah Lucky dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sengaja mengarahkannya ke ulu hati.
Lucky refleks mencoba menangkapnya, bola itu meluncur dengan putaran yang sangat liar dan menghantam dadanya dengan telak. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak, sementara sosok kapten itu hanya mendengkus sinis sebelum berbalik pergi ke dalam kegelapan koridor.
Lucky berusaha bangkit, sebuah bayangan lain muncul di depannya. Kali ini bukan kapten, melainkan sosok yang jauh lebih menakutkan, Pak Baskoro kembali, berdiri tepat di atas Lucky dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.
“Apa kau benar-benar siap untuk hancur besok, Lucky?” tanya Pak Baskoro dengan nada yang merendahkan, “Atau kau akan lari sebelum pertandingan pertama dimulai? Karena di lapangan ini, tidak ada tempat untuk mereka yang tidak memiliki mental baja.”
Lucky menatap mata pelatihnya, dadanya masih sakit akibat lemparan bola tadi, dan kepalanya berdenyut karena benturan. Namun, ia merasa inilah saatnya. Ia perlahan berdiri, mengabaikan rasa sakit itu, dan menatap Pak Baskoro dengan sorot mata yang penuh tekad.
“Saya akan ada di sana, Pak,” jawab Lucky dengan suara yang sedikit bergetar dan tegas. “Saya tidak akan lari ke mana pun. Saya akan menunjukkan apa yang bisa saya lakukan.”
Saat Pak Baskoro baru saja akan berbalik, ia berhenti dan memberikan satu kalimat terakhir yang membuat Lucky terdiam seribu bahasa. “Itu bagus, tetapi ingat, Lucky, ada rahasia di balik tim ini yang bisa menghancurkan kariermu bahkan sebelum ia dimulai. Rahasia yang membuat pemain berbakat menghilang tiba-tiba. Apa kau yakin ingin membongkar kotak pandora itu dan mempertaruhkan segalanya?”