Laisa melangkahkan kaki ke sekolah dengan ekspresi sedih. Dia berjalan sendiri tanpa ditemani siapa pun. Biasanya, di hari pertama sekolah, anak-anak yang lain ditemani orang tuanya. Namun, tidak untuk Laisa.
Ibunya sedang sibuk di pasar untuk berjualan. Sementara itu, sejak usia 8 tahun ia sudah ditinggal oleh ayahnya sehingga hanya hidup berdua dengan ibunya.
Setiap hendak berangkat sekolah, Laisa selalu berjalan kaki. Dahulu ketika masih duduk di bangku SMP, dia berjalan kaki sejauh 1 km, sekarang ia harus berjalan kaki sejauh 2 km. Di jalan menuju sekolah, banyak mobil dan kendaraan yang lewat menabrak genangan air hingga membasahi baju dan sepatu kusamnya.
“Huft, hari pertama kenapa begitu melelahkan,” gerutunya dalam hati.
Ia harus segera sampai ke sekolah dan membersihkan bajunya yang kotor, karena sebentar lagi bel tanda masuk berbunyi. Laisa juga tidak ingin di hari pertama masuk sekolah kejadian itu merusak mood-nya.
SMA Semesta merupakan sekolah elit yang berdiri megah di pusat kota. Butuh waktu sekitar 1 jam untuk Laisa menuju sekolah. Ia tidak punya kendaraan atau sepeda yang bisa mengantarkannya. Sesekali mungkin bersama teman atau sopir truk yang lewat di sekitar rumahnya, tapi itu tidak menentu, sehingga ia harus jalan kaki jika tidak ingin terlambat.
Butuh perjuangan keras untuk Laisa diterima di sekolah ini. Ia harus belajar siang dan malam agar lolos tes masuk, lalu mendapatkan beasiswa. Laisa bisa dibilang gadis yang pintar. Ia banyak mendapat juara ketika dulu sekolah SD dan SMP.
Ia bersyukur karena sekarang bisa bersekolah dengan pembiayaan gratis selama 3 tahun. Oleh karena itu, Laisa harus belajar lebih keras agar prestasinya tidak turun ketika kenaikan kelas nanti. Dari latar belakang keluarganya sendiri, Laisa merupakan gadis sederhana dari kalangan menengah ke bawah.
Baginya, diterima di SMA Semesta menjadi anugerah sekaligus musibah. Ia banyak memperoleh informasi bahwa di sekolah ini siswa banyak yang memilih keluar karena terpelanting oleh adanya sistem kasta. Kasta orang elit atau orang kaya yang mendominasi, sehingga banyak siswa dari kalangan menengah ke bawah tereliminasi satu per satu.
Sampai gerbang sekolah, Laisa bertemu dengan satpam sekolah. Ia mengucap salam pertamanya dan langsung masuk. Ketika masuk gerbang, tidak sengaja seorang pria bertubuh tinggi dan putih bernama Dema menabraknya.
Buk!
Laisa terjatuh. Ia tersungkur ke sisi lantai sekolah hingga membuat lututnya berdarah. Pria itu diam saja. Tidak membantu, malah memaki Laisa.
“Hei kau, kalau jalan lihat-lihat dong! Dipakai kaki dan matanya!”
Pria itu tanpa perasaan bersalah meninggalkan Laisa yang masih berada di bawah sembari memegang lututnya yang berdarah.
Laisa hanya bisa diam melihat pria arogan yang menabraknya. Karakternya membuat ia serba salah. Antara ingin membela diri dan takut jika ia sendiri yang sebetulnya salah, karena ia benar-benar menjaga diri dari orang asing apalagi belum ia kenal sama sekali.
Alhasil, dengan kaki yang lecet dan baju kotor, ia menuju kamar mandi untuk membersihkan bajunya. Lantas menuju UKS untuk mengobati luka itu.
Sudah pukul 07.30 WIB. Laisa terlambat masuk kelas. Luka kakinya cukup lebar sehingga butuh penanganan lebih. Wali kelasnya langsung meminta Laisa masuk dan duduk di samping pria menyebalkan yang arogan itu.
“Ibu, saya duduk dengan pria ini?”
“Iya, Nak. Karena tinggal tempat duduk itu yang tersisa.”
“Saya boleh minta izin ditukar dengan yang lain, Bu?” ucap Laisa memohon. Ia tidak ingin duduk di samping pria arogan itu.
Laisa tidak ingin mengambil risiko jika nanti akan muncul kesialan yang lain, apabila berdekatan dengan pria itu.
“Baik, Laisa. Anak-anak, apakah ada yang ingin bertukar tempat duduk dengan Laisa?”
“Saya, Bu! Saya, Bu!” teriak beberapa siswa meramaikan kelas.
Terhitung sekitar 15 siswa putri yang ingin duduk di samping Dema, si pria arogan. Maklum, dia tajir melintir, tampan, serta memiliki postur tubuh yang tinggi.
Banyak gadis yang berebut ingin duduk di samping pria keturunan konglomerat. Namun, pria itu malah tidak ingin duduk di samping para gadis kecuali Laisa. Menyebalkan memang. Laisa hanya bisa menerima hal tersebut tanpa berkata apa-apa. Ia tidak ingin menimbulkan masalah di kelas barunya itu.
Melihat Laisa berjalan menuju bangku, si pria arogan tetap bersikap sombong. Dia masih tidak merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa gadis itu.
Selama kelas berlangsung, Laisa diam. Tidak bicara apa pun dengan pria di sampingnya. Ia kesal dan marah.
Dema juga diam. Sampai akhirnya ketika kelas berakhir, ia memberi Laisa secarik kertas permohonan maaf.
Aku minta maaf atas kejadian tadi. Tidak ada maksud buat nabrak kamu. Sebagai gantinya, nanti mau nggak ke kantin sekolah? Aku tunggu di kantin ya. Maafin aku.
Seperti itu cuplikan isi surat dari Dema untuk Laisa.
Laisa tidak lantas membalas atau mengiyakan ajakan Dema. Ia memutuskan pulang ke rumah. Seperti biasa dengan jalan kaki. Karena kakinya pincang sebelah, ia harus ekstra keras berjalan sejauh 2 km.
Dema yang menunggunya di kantin sudah tidak sabar. Setengah jam lamanya ia menunggu, tapi yang ditunggu tak kunjung datang.
Si tuan muda tajir ini menuju ke kelas, tapi Laisa tidak ada. Putar ke ruang UKS, tetap tidak ada. Akhirnya ia memutuskan pergi ke area parkir untuk menemui sopirnya. Mau tidak mau, ia harus pulang karena hari kian sore.
“Tuan dari mana saja? Saya menunggu Tuan dari tadi. Anak-anak yang lain sudah pada pulang setengah jam yang lalu,” tanya Komang, sopir pribadi Dema.
“Sudah ya, Pak, jangan ditanya dulu. Saya masih capek seharian dikasih tugas sekolah.”
Dema menggerutu, padahal bukan itu masalah utamanya. Dia hanya kecewa dengan penolakan Laisa. Di saat para perempuan mengejar-ngejar Dema, Laisa sama sekali tidak menggubris. Padahal niatnya baik dan tidak aneh-aneh. Dema merasa dicampakkan.
Sudah hampir sejam Laisa berjalan, tapi tak kunjung sampai ke rumah. Ia sesekali istirahat di tepian jalan, berharap ada truk lewat yang memberinya tumpangan, tapi nihil. Laisa, gadis 16 tahun ini, harus tetap berjalan supaya bisa segera istirahat. Dema yang baru sekitar 15 menit perjalanan merasa melihat gadis angkuh yang tidak datang menemuinya.
“Coba berhenti dulu, Pak. Sepertinya itu teman saya.”
Sopir menepi. Dema yang melihat Laisa lantas turun dari mobil. Ia merasa iba dengan keadaan kaki Laisa yang pincang sebelah.
“Hey, gadis aneh. Ayo aku antar pulang. Kasihan kaki kamu nanti!”
Laisa hanya diam, seperti tidak mendengar apa pun. Ia lanjut berjalan.
“Hey, kamu dengerin aku nggak sih!”
Dema berteriak lebih keras. Dia mengalah, turun dari mobil. Mendekati dan berniat menggendong Laisa yang sangat keras kepala.
“Ada apa dengan kamu sebenarnya?” balas Laisa singkat dan berhenti berjalan.
Dema mendekatinya, memegang pundak agar Laisa berbalik.
“Aku minta maaf atas kejadian tadi pagi. Aku sudah ingin minta maaf sama kamu, tapi ….”
Laisa menunduk. Dia meneteskan air mata dan duduk di tepian jalan. Dema dibuat bingung dengan apa yang dilakukan Laisa.
“Kamu kenapa? Maafin aku ya. Aku merasa bersalah sama kamu. Jadi jangan marah sama aku, please!”
Dema akhirnya mengakui kesalahannya dan mengajak Laisa untuk pulang bersama. Kali ini Laisa menurut. Dia pucat sekali dan sudah tidak bisa menahan diri.
“Pak, tolong gendong teman ke mobil. Kakinya berdarah.”
“Baik, Tuan.”
Ia masuk ke dalam mobil dengan keadaan masih menangis. Kali ini dia merasa sangat kedinginan karena kehujanan dan tidak memakai jaket.
“Kamu pakai jaket aku dulu, ya. Kali ini kamu harus nurut. Jangan menolak,” ucap Dema spontan, saat Laisa menggeleng karena Dema ingin mengenakan jaketnya.
Laisa lantas tertidur di mobil itu. Cukup lama. Dema berada di sampingnya.
“Anak ini kalau lagi tidur aja kelihatan kalem, kalau udah bangun baru kayak singa,” ucap Dema sambil tersenyum kepada Laisa.