


oleh Nenghally · 27 Bab
Setelah pengalaman pahitku sebelumnya, aku mencoba peruntungan baru sebagai asisten rumah tangga di kota lain. Awalnya, semuanya terasa biasa saja, hingga Isabelle, putri majikanku, mulai bercerita tentang kemampuannya yang bisa melihat makhluk tak kasat mata. Awalnya, aku menganggapnya angin lalu, sampai aku sendiri mulai merasakannya. Bayangan yang dulu samar kini mulai berinteraksi, bahkan menyusup ke dalam mimpiku. Mereka tidak hanya mengawasi, mereka ingin berkomunikasi. Aku mencoba berpaling, tapi semakin aku menghindar, semakin kuat mereka menarikku ke dalam dunia mereka. Apakah aku bisa lari?
Setelah pengalaman kerjaku di Jakarta sebelumnya yang penuh liku dan meninggalkan kenangan pahit, aku akhirnya memutuskan untuk kembali mencoba peruntungan di luar kota.
Aku tahu, keputusan ini tidak mudah bagi ayah dan ibu. Mereka mungkin khawatir melepas anak perempuannya lagi ke tempat yang jauh, apalagi setelah apa yang sudah kulalui. Tapi aku tak bisa terus-menerus bergantung pada hasil tani mereka yang pas-pasan.
"Yakin kamu mau kerja lagi di luar kota?" tanya ayah dengan nada berat, tatapannya lekat seolah ingin memastikan keputusanku sudah bulat.
Aku mengangguk, mencoba menahan rasa takut dan ragu yang sebenarnya masih ada. "Aku yakin, Yah. Di sini mungkin aman, tapi aku ingin mandiri. Aku ingin bantu Ayah sama Ibu juga."
Ibu tersenyum kecil, meski di balik senyumnya aku bisa melihat ada kecemasan. "Kalau itu keputusanmu, Nak, kami akan dukung. Tapi hati-hati, ya. Ingat yang kemarin ...."
Aku meraih tangan ibu, menguatkan diri dan mencoba meyakinkan mereka, juga diriku sendiri. "Aku janji akan jaga diri, Bu, Yah. Kali ini aku akan lebih hati-hati."
Akhirnya, aku kembali bekerja, sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah besar di daerah perumahan di Kabupaten Tangerang. Kehidupan di sini terasa begitu berbeda dengan yang pernah kujalani sebelumnya.
Setiap pagi, aku sudah sibuk sejak fajar menyingsing, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan, hingga mengurus berbagai keperluan keluarga yang kuhadapi sehari-hari.
Meski pekerjaan ini tidak mudah dan sering membuat tubuhku lelah, ada kepuasan tersendiri. Setidaknya, aku bisa sedikit membantu meringankan beban keluarga di kampung.
Namun, bekerja di sini juga bukan tanpa tantangan. Rumah ini terkadang terasa sepi dan dingin, meski penuh barang mewah dan fasilitas. Ada saat-saat di mana aku merasa asing, seperti seorang tamu di dunia orang lain.
Majikanku adalah seorang dokter yang sangat sibuk. Suaminya, seorang pengusaha sukses, sering bepergian keluar kota untuk urusan bisnis. Mereka memiliki seorang putri bernama Isabelle, anak tunggal yang cerdas dan manis, tapi sering kesepian.
Isabelle kini duduk di kelas 5 SD, seorang gadis yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu. Sering kali, sepulang sekolah, Isabelle akan menghampiriku dan bercerita tentang hari-harinya. Dia menceritakan teman-teman sekolahnya, pelajaran favoritnya, dan sesekali, kekesalan kecilnya terhadap guru.
"Mama sama Papa pulang malam lagi ya, Mbak?" tanyanya suatu sore, sambil menatapku.
Aku tersenyum dan mencoba menghiburnya. “Mereka pasti pulang, kok, cuma sedang sibuk.”
Isabelle hanya mengangguk kecil. Di balik senyumku, aku bisa merasakan betapa ia merindukan kehadiran orang tuanya. Dari waktu ke waktu, aku bukan hanya menjadi pengasuhnya, tapi juga teman dan pendengar yang setia untuk semua ceritanya.
Kadang, aku ikut tersenyum atau tertawa bersama, meski di dalam hati ada perasaan simpati yang mendalam untuknya.
Seiring berjalannya waktu, sikap Isabelle semakin aneh. Dia sering tampak gelisah dan mudah terkejut, seolah ada sesuatu yang terus mengganggunya.
Suatu sore, saat aku sedang menemaninya mengerjakan PR, Isabelle tiba-tiba berbisik, "Mbak, setiap malam aku dengar suara langkah kaki di dapur."
Aku menatapnya dengan kening berkerut. "Langkah kaki? Mungkin cuma suara tikus atau kucing di atap."
Isabelle menggeleng, wajahnya serius dan sedikit pucat. "Bukan, Mbak. Suaranya berat ... seperti orang dewasa yang berjalan pelan-pelan, bolak-balik di dapur."
Aku mencoba menenangkan diri, meskipun bulu kudukku mulai meremang. Isabelle bukan tipe anak yang mudah takut, jadi melihatnya setegang ini membuatku mulai berpikir.
Mungkinkah ada sesuatu yang benar-benar mengganggu Isabelle setiap malam?
Perasaan gelisah itu mulai menjalar dalam diriku, perlahan namun pasti. Aku berusaha keras menepisnya, meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah imajinasiku saja.
Namun, setiap kali aku mencuci piring di dapur saat malam menjelang, rasa itu kembali muncul. Seolah ada seseorang berdiri di belakangku, mengawasi dalam diam.
Aku mencoba fokus pada tugas-tugas rumah, menciptakan suara dari piring dan gelas yang kutata. Tapi tetap saja, bayangan yang tak terlihat itu terasa begitu nyata. Sesekali, aku memberanikan diri untuk menoleh cepat, tetapi hanya menemukan ruangan kosong di belakangku.
"Mungkin hanya angin," bisikku pada diri sendiri, tetapi hatiku menolak untuk percaya.
Setiap langkah yang aku ambil menuju kompor dan wastafel seolah diiringi oleh kehadiran yang tidak terlihat, membuatku merasa semakin tertekan.
Aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Dengan cepat, aku menutup pintu dan menguncinya, berharap bisa menghalau rasa takut yang mencekam.
Dalam kegelapan kamar, aku duduk di tepi tempat tidur, mencoba menenangkan diri. Nafasku terengah-engah, dan pikiranku melayang kembali pada cerita Isabelle tentang suara aneh dan bayangan yang ia lihat di rumah ini.
Kepalaku penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini? Dan siapa yang menghantui kami?
"Lagi dan lagi, aku tidak pernah benar-benar bisa bebas dari mereka," kataku pelan, suara penuh ketidakpastian.
Dengan penuh harapan, aku mencoba mengalihkan diri dengan bermain ponsel, scrolling feed media sosial dalam upaya mengalihkan pikiranku dari kegelapan yang mengintai.
Namun, tiba-tiba, suara keras dari plafon membuatku tersentak. Seolah ada sesuatu yang jatuh atau mungkin seseorang yang berlari di atas atap.
Hatiku berdegup kencang, jantungku seolah ingin melompat keluar dari dada. Dengan ragu, aku menatap plafon, menunggu suara itu terdengar lagi.
Saat hening, hanya ada detak jantungku yang menggema dalam kesunyian.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. "Mungkin hanya kucing yang terjebak di atap," bisikku pada diri sendiri, tetapi suaraku penuh ketegangan.
Apakah aku akan mampu menghadapi apa pun yang mengintaiku selama ini?

Nenghally
88 Pengikut · 18 Novel