


oleh Fitria Sulaeman · 44 Bab
Hanya kisah tentang seorang wanita bernama Siska. Kisah ini menjadi menarik, karena Siska seorang janda. Dan hal yang lebih menarik lagi, Siska dianggap sebagai seorang janda yang meresahkan.
"Hei, Siska! Keluar kamu!" Terdengar suara seseorang yang berteriak kasar dan nyaring.
Aku yang sedang tiduran di dalam rumah, dengan terpaksa harus bangkit dan melihat keributan yang terjadi di luar rumah.
"Aduh, apa lagi sih ini? Baru juga tiduran sebentar, sudah ada aja yang bikin kesel. Mana bahuku sakit sekali lagi. Ingin tiduran, malah dapat gedoran di pintu. Menyebalkan!"
Mulutku terus saja menggerutu saat hendak membuka pintu.
"Siska!!!" Teriakan itu kembali terdengar. Bahkan, dengan suara yang semakin keras. Tak menunggu lama, aku langsung mempercepat langkah menuju ke arah pintu.
"Ada apa sih, mbak Dewi ini, datang ke rumah aku, marah-marah begini."
Aku yang sudah membuka pintu, langsung bertanya pada intinya. ‘Heran deh, malam-malam begini, ada saja yang cari masalah denganku,’ pikirku dengan kesal.
Kulihat Mbak Dewi, seorang wanita cantik dengan dandanan menornya, datang bersama dengan kakak madunya.
"Tentu saja aku marah-marah. Dasar janda gatel kamu ya! Beraninya kamu godain suamiku. Udah gak tahan kamu, pengen rasain pisang tetangga!" ujarnya yang membuatku langsung naik pitam, hanya dengan sekali tuduhan saja.
Sosok kakak madu dari mbak Dewi terlihat manggut-manggut, menyetujui apa yang dikatakan oleh adik madunya kepadaku.
Enak aja menuduhku sembarangan. Walau aku ini seorang janda, aku gak pernah kegatelan. Apalagi, kegatelannya sama laki orang. Mana istrinya sudah tiga, lagi. Jangan sampai aku jadi istri keempat pula.
"Jangan sembarangan kamu Dewi. Siapa juga yang godain suami kamu?! Laki jelek gitu juga. Mana mau aku!" Aku bersedekap dada. Kupandang Dewi dengan wajah kesal dan geram. Tak lupa dengan wanita yang ada di sebelahnya. Memangnya, aku takut apa sama dia? Eh, sama mereka? Oh, tentu saja tidak!
Walau bibirnya semerah cabe rawit dengan level tertinggi, aku tak takut dengannya. Aku bahkan, bisa mengolah cabe itu, hingga jadi bahan makanan yang lezat. Lalu, akan aku lahap habis, sampai tak tersisa.
Lihat, lihat, bibirnya tertutup rapat. Tapi bisa kulihat, jika gigi yang berada di dalamnya sedang saling bergesekan satu sama lain. Pasti saking geramnya dengan perkataan yang aku katakan padanya.
Yah, beginilah kejujuran. Walau menyakitkan, tapi harus dikatakan bukan? Dan apa yang aku katakan ini 100% benar. Mas Jaka, suami dari Mbak Dewi ini memang jelek. Hanya saja, dia tajir melintir. Tentu saja Mbak Dewi ini takut kehilangannya. Pasti kakak madunya pun menakuti hal yang sama.
Sudah kuduga! Bisa mati gaya Mbak Dewi ini, kalau jatuh miskin. Oh, no! Mungkin itu isi pikirannya.
"Kurang ajar kamu! Sudah menggoda suami orang, pake ngatain jelek segala lagi." Dewi tak terima. Sekarang, ia menunjuk wajahku dengan sangar.
"Iya, mentang-mentang dia cantik, bisa ngatain suami kita sembarangan! Dasar janda gatel!" Mbak Rika, kakak madu dari mbak Dewi akhirnya ikut bersuara juga. Tak kusangka, suara yang keluar dari mulutnya tak kalah pedas dari suara yang keluar dari mulut adik madunya.
"Loh, itu kan memang kenyataannya. kalian aja yang gak sadar, punya laki jelek. Tapi, gayanya itu loh …. Bilangin sama laki kamu dan kamu yang sok kecakepan itu, jangan suka gangguin aku, kalau aku lagi jualan. Walaupun aku ini seorang janda, seleraku bukan dia."
Ini kenyataan. Walau si Mas Jaka itu kaya raya. Aku tak akan mau dengannya. Sudahlah beristri tiga, matanya masih aja suka jelalatan sama janda bohay kayak aku. Ih, ora sudi aku!
Semua bermula saat kemarin malam Mas Jaka itu membeli nasi goreng ke tempatku.
"Neng, nasi goreng berapa?" tanya seorang pria berperut buncit. Matanya berkedip sebelah. Senyumnya merekah saat aku langsung menoleh ke arahnya. Siapa lagi, kalau bukan mas Jaka, orang tajir melintir yang sukanya godain janda.
"Spesial apa yang biasa aja, Pak?" tanyaku dengan ramah. Wajarlah, aku bersikap demikian. Toh, aku ini seorang penjual, dan seorang pembeli datang menghampiriku bertanya.
"Yang spesial dong. Masa yang biasa aja." Pria buncit itu kembali membalas. Wajahnya masih sama, masam-mesem tak jelas. "Oh iya, jangan panggil pak, dong. Panggil mas aja, biar enak."
"Lima belas ribu, Mas." Aku memberitahu harganya dengan ramah, sambil mengganti nama panggilan untuk pelangganku ini.
"Murah amat, Neng."
"Ya udah, seratus lima puluh ribu aja. Mau gak?"
"Kok, mahal amat, Neng."
'Wush!'
Aku refleks menghindar saat laki buncit itu hendak menyentuh tanganku. Enak saja! Memangnya aku cewek murahan apa? Bisa dipegang seenaknya sana-sini.
"Jangan sembarangan ya, Mas. Ini banyak orang loh! Kalau aku teriak, Mas Jaka bisa habis!" ancamku dengan nada kesal. Bisa bisanya aku digoda di tempat jualanku sendiri. Dasar laki laki mata keranjang!
"Eh, eh. Kok marah sih. Mas Jaka yang kaya raya ini kan cuma bercanda!"
"Gak lucu, Mas!"
"Hehe, maaf ya ... jadi, berapa tadi harganya?"
Aduh, dia ini tuli atau apa sih?
"Lima belas ribu, Mas Jaka yang kaya raya." Dengan kesal aku kembali memberitahunya.
"Oh iya, mas Jaka lupa. Kok mahal amat, Neng?" Kembali pertanyaan yang sama terdengar.
"Katanya tadi murah!" Aku mencibir. Mas Jaka yang buncit itu malah garuk-garuk kepala. Pasti banyak kutunya tuh! Ih, geli.
"Jadi gak, nasi gorengnya? Yang spesial kan?" Aku bertanya kembali untuk memastikan. Jadi tidak, dia membeli? Kalau cuma mau godain aja, mending gak usah! Pergi aja sana!
"Kalau Neng Siska, harganya berapa?"
Aku melotot! Dia bilang apa barusan? Berapa hargaku?! Minta dihajar nih orang! Baju lengan pendek, aku naikkan lagi ke atas. Hingga memperlihatkan lengan dekat bahu yang begitu mulus dan kinclong.
Sial! Bukannya takut, laki buncit itu malah melongo lihat tanganku yang mulus dan kinclong ini. Niat hati ingin menghajar, dia malah dapat durian runtuh. Karena bisa melihat tanganku yang mulus.
"Bagus ya ... istri udah tiga, masih aja ganjen sama janda! Emang bener-bener ya, Abang ini. Gak cukup apa, Abang udah punya istri tiga. Masa Abang malah mau nambah lagi? Kurang lahan, Bang?!"
Tak kusangka dan tak aku duga. Aku yang sudah siap ingin menghajarnya, tiba-tiba saja di hentikan oleh seorang wanita dewasa dengan kerudung merah marun yang menutupi bagian kepalanya, lalu memarahi si Mas Jaka ini dengan cepat.
Tangannya terulur, lalu memegangi telinga si Mas Jaka dengan bringas. Hingga membuat si pemilik telinga itu meringis kesakitan minta dilepas.
"Aw, aw, aw!" Bisa aku dengar, Mas Jaka beberapa kali meringis kesakitan karena tangan yang menjewer telinganya begitu keras.
"Sakit ya, Bang?! Rasain! Ini akibatnya, karena Abang udah genit sama Neng Siska! Gak tahu diri! Udah tua, bukannya tobat, malah pengen bikin maksiat! Benar-benar ya, Abang ini!"
Wah, aku suka ini. Seorang istri datang memergoki suaminya yang sedang menggoda seorang janda, tanpa menyalahkan si wanita.
"Makanya Mas, jangan suka genit sama orang. Inget anak istri di rumah. Mana istrinya ada tiga lagi. Masa sih, mau nambah lagi. Aku sih ogah!" kataku yang terlihat puas saat melihat pemandangan di hadapanku.
Tak ayal, para pembeli yang sedang menikmati nasi goreng buatanku ikut menyaksikan drama rumah tangga, di mana sang istri datang melabrak sang suami yang sedang menggoda seorang janda.
"Iya nih. Udah tua, bukannya insyaf, malah makin menjadi," tambah istrinya yang aku lihat begitu cantik. Berbanding terbalik dengan suaminya yang memiliki paras tidak menarik. Sudah buncit, hitam, matanya jelalatan lagi! Hanya satu yang menarik darinya. Yaitu, hartanya.
Haduuuuh! Sabar bener yang jadi istri pertamanya ini.
"Ayo, Bang. Pulang! Kalo Abang masih genit aja, adek potong nanti pisangnya, biar gak bisa bercocok tanam. Mau?!"

Fitria Sulaeman
21 Pengikut · 3 Novel