Hugo menyeret kopernya seraya berjalan di sekitar bandara. Hari ini dia akan terbang ke Inggris untuk membantu pekerjaan ayahnya di sana, sekaligus membangun perusahaan yang selama ini dia impikan.
Di belakangnya ada Airelle yang sejak awal mengikuti langkah Hugo. Wajahnya tampak murung dengan kepala yang tertunduk dalam. Terlihat jelas dia tidak menerima kepergian Hugo.
Pria itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah Airelle yang juga ikut berhenti.
“Aku harus pergi,” kata Hugo, pelan.
Tidak ada balasan. Bahkan Airelle tak mengangkat wajah untuk melihat pria itu. Dia tak mau menunjukkan ekspresi sedihnya saat ini.
“Maafkan aku,” imbuhnya, masih menatap Airelle dengan sabar. “Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk tetap berada di sini.”
Hening. Airelle tetap bungkam. Enggan membuka mulutnya.
“Ai, ayolah!” Hugo mengulurkan tangan ke arah Airelle.
Dengan cepat Airelle menjauhkan tangan Hugo sebelum menyentuhnya. Bersamaan dengan kepalanya yang mulai terangkat, menatap tajam pria di depannya ini.
“Kapan kau akan kembali?” tanyanya, ketus.
Hugo menggeleng. “Aku tidak tahu. Ayahku benar-benar membutuhkan aku di sana. Aku juga ragu bisa kembali secepatnya.”
Airelle menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. “Jika satu hari saja kau tidak menghubungi aku, akan kupastikan kau tak akan dapat kabar dariku lagi.”
Senyuman tipis mengembang di wajah Hugo. Dia menaruh telapak tangannya di atas kepala wanita ini. “Tenang saja. Bahkan akan kuhubungi kau sejam sekali.”
“Sungguh?”
“Ya.”
“Serius?”
“Iya, Ai.”
“Baiklah.” Airelle pun menyerah. Dia menarik lengan Hugo agar menjauh dari kepalanya. Namun, dia tak melepaskan genggamannya pada tangan besar pria itu.
“Aku harap kau segera kembali secepatnya. Dengan begitu, aku tak akan kesepian lagi.”
“Kau tidak kesepian. Masih ada teman-teman wanitamu, orang tua dan juga Elger, kekasihmu.”
Bibir Airelle cemberut. “Tapi, mereka bukan sahabatku. Kau adalah sahabat satu-satunya yang dekat denganku dan tahu segala hal. Aku banyak merahasiakan sesuatu dari mereka, tapi tidak denganmu. Kau tahu semuanya.”
Hugo melebarkan senyumannya. “Baiklah. Sahabatmu ini akan kembali dalam waktu dekat, tapi tidak janji.”
Alih-alih membalas, Airelle malah semakin cemberut. Hal ini membuat Hugo tertawa pelan. Karena jadwal pesawat sebentar lagi akan berangkat, Hugo pun kembali berpamitan dengan Airelle. Mereka sempat berpelukan, barulah setelah itu Hugo menarik kopernya dan melangkah menjauh.
Sebelum benar-benar pergi, Hugo sempat melambaikan tangan kepada Airelle. Wanita ini membalasnya. Dia menatap punggung temannya itu yang semakin lama semakin menjauh. Hingga akhirnya, mengilang di dalam kerumunan orang-orang.
“Aku harap kau kembali secepatnya, Hugo.”
***
Lima tahun kemudian.
Airelle memandangi sebuah nisan yang baru saja basah akibat hujan yang mengguyur area pemakaman. Wanita ini tidak peduli tubuhnya basah kuyup, bahkan payung yang semula dia pegang sengaja dijatuhkan begitu saja. Membiarkan air hujan menghantam dirinya.
Matanya terus menatap nisan bertuliskan Elger Vernier. Bahkan, badannya sampai menggigil kedinginan. Sayangnya, dia enggan beranjak dari sana.
“Airelle, ayo kita kembali. Kau sudah sangat basah. Nanti kau sakit.” Seorang pria menegur Airelle. Memintanya agar kembali ke rumah.
“Biarkan aku sendiri, Levin!” balas Airelle tanpa menoleh. “Biarkan saja aku sakit. Dengan begitu, aku akan menyusul suamiku.”
Levin—pria yang sejak tadi berada di sisi Airelle—terlihat mendengkus. Dia tidak mau wanita itu sakit, dia berusaha untuk mengajaknya pergi dari sana. Namun, Airelle tampak keras kepala.
"Airelle, ayo kita pulang! Kau bisa sa—"
“PERGI!” pekik wanita itu sambil mendorong Levin dengan kasar hingga terjatuh.
Levin memaksa, bahkan sampai mengangkat tubuh Airelle. Membawanya pergi dari sana. Tentu saja tak mudah baginya karena wanita tersebut terus memberontak. Meski begitu, dia tak menyerah.
Setibanya di mobil, Levin mendudukkan Airelle di jok belakang dan dia duduk di sebelahnya. Levin langsung menyuruh supir pribadinya agar pergi dari area pemakaman. Bersamaan dengan itu, isak tangis Airelle semakin keras dan terdengar memilukan. Levin hanya bisa memeluknya, mencoba menenangkan wanita yang sedang terpuruk ini.
“Aku tahu hal ini berat untukmu, Airelle, tapi kau tak bisa seperti ini terus. Elger akan sedih melihatmu,” kata Levin, masih berusaha membujuk agar Airelle tak menangis.
"Aku sangat mencintainya. Aku tak rela dia pergi secepat ini. Padahal baru lima bulan kami menikah, tapi kenapa dia harus pergi? Kenapa, Levin?” isak wanita itu.
Levin terdiam, dia tak bisa menjawab pertanyaan Airelle karena dia sendiri pun tak tahu jawabannya.
“Tuhan tidak adil. Kenapa harus Elger yang pergi? Kenapa tidak aku saja?”
“Sssttt. Jangan bicara begitu. Bagaimanapun juga, semua sudah terjadi.”
Airelle tidak membalas. Wanita itu masih saja menangis di pelukan pria ini.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Airelle berhenti merengek. Dia tertidur seraya menyandar ke jok. Levin hanya tersenyum melihat betapa tenangnya Airelle saat tidur. Dia bisa bernapas lega karena wanita ini tidak lagi menangis seperti tadi.
“Akhirnya dia berhenti menangis,” gumam Levin sembari mengusap pelan rambut Airelle. Dirinya merasa sangat kasihan, apalagi wanita di sampingnya itu terus menangis tiada henti. Levin sampai kebingungan sendiri untuk menenangkannya.
Elger Charlize mengidap penyakit mematikan selama beberapa tahun belakangan ini. Elger menyembunyikan penyakit tersebut dari semua orang, terutama dari istrinya sendiri. Saat itu, Airelle membangunkan Elger yang sedang tidur di sofa. Namun, ketika dibangunkan berulang kali, Elger tak bergerak.
Menyadari ada yang aneh, Airelle memeriksa napas dari hidungnya. Rupanya Elger telah tiada. Hal inilah yang membuat dia menjadi sangat terpukul.
Setelah dua bulan ditinggal oleh sang suami, Airelle tampak depresi. Dia terus mengurung diri di dalam kamar, tanpa makan dan minum, menyebabkan tubuhnya menjadi kurus. Padahal ada janin di dalam perutnya yang kini sudah menginjak dua bulan.
Beruntung Levin Friedrich mau membantu serta membujuk, hingga Airelle bisa pulih secara perlahan. Namun hari ini, wanita tersebut melarikan diri dari rumah, dia pergi mengunjungi makam suaminya karena rindu yang tak tertahankan.
Sesampainya di rumah bertingkat dua, Levin membawa wanita itu masuk ke dalam kamar dan membaringkannya. Dia meminta seorang pembantu yang ada di sana untuk mengurusi Airelle, sedangkan dirinya memilih untuk turun ke lantai bawah dan berganti pakaian.
Beberapa jam kemudian, Airelle terbangun dari tidur. Dia terkejut ketika melihat dirinya sudah berada di kamar dan pakaian yang dikenakannya berbeda dari sebelumnya. Wanita ini turun dari ranjang, dia keluar kamar.
“Levin!” seru Airelle ketika melihat Levin sedang duduk di ruang tengah.
Levin menoleh. “Sudah merasa lebih baik?” tanyanya.
Airelle mengangguk pelan, lalu duduk di sofa tunggal. “Siapa yang membawaku ke kamar? Kau?”
“Maaf. Aku lancang telah membopongmu tanpa izin.” Levin terlihat merasa bersalah. “Dan maaf juga karena sembarangan memakai pakaian suamimu karena pakaianku basah.”
Wanita itu menggeleng. “Justru aku yang minta maaf karena sudah merepotkanmu, Levin.”
“Tidak apa-apa. Aku memakluminya.”
Mendengar hal itu, Airelle hanya tersenyum tipis. Dia sempat mengucapkan kata terima kasih karena Levin memaklumi perasaannya.
Karena tak ada yang ingin dibicarakannya lagi, Levin pun berpamitan. Selepas kepergian pria itu, Airelle kembali ke kamar. Dia tampak kesepian, tak ada yang mengajaknya bicara lagi di rumah itu. Airelle kembali bersedih, dia merindukan sosok yang selama ini menemaninya di rumah.
Sayang, sosok itu telah tiada. Hanya menyisakan kenangan yang menyakitkan. Meski begitu, dia tak mau berlarut-larut. Daripada memikirkan hal itu, ada hal lain yang dia pikirkan mengenai kebaikan Levin.
Pria tersebut cukup baik baginya, padahal mereka tak begitu dekat. Keduanya saling kenal setelah suami Airelle memperkenalkan mereka tujuh bulan lalu. Itu pun mereka tidak sering bertemu.
Hadirnya Levin di hidupnya saat ini memberinya sedikit ketenangan. Walau di sisi lain dia sendiri merasa tak enak hati karena sudah merepotkan pria itu. Dan dia merasa bahwa perhatian Levin saat ini adalah bentuk dari rasa simpatinya.
Bersambung.