"Risa, kamu mau jadi perawan tua kalau kerja lembur terus?"
Suara cempreng fiksi dari kepalanya sendiri lenyap saat Risa melempar tas kerja ke atas kasur busa kamar kosnya.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Sebagai budak korporat di ibu kota, lembur sudah menjadi makanan pokok sehari-hari.
Masalahnya, status jomlonya kini sudah memasuki tahun kelima. Rekan kerja seusianya sudah sibuk memikirkan biaya masuk sekolah anak, sedangkan Risa masih sibuk memikirkan cara merevisi laporan keuangan agar tidak diamuk bos esok hari.
Risa mengembuskan napas panjang. Dia merebahkan tubuh lelahnya ke kasur, lalu meraih ponsel yang layarnya menyala terang. Jari jemarinya mulai menggulir beranda media sosial tanpa arah, sebuah ritual pelarian sebelum tidur.
Sebuah unggahan video mendadak lewat di lini masanya. Video tersebut menampilkan tajuk yang provokatif dengan latar musik mistis yang sedang viral. “Ritual Memanggil Jodoh Masa Depan pada Malam Jumat Kliwon.”
Risa mendengkus geli.
"Zaman secanggih ini masih saja ada yang percaya takhayul," gumamnya.
Rasa penasaran mengalahkan logikanya. Dia mengetuk kolom komentar. Ratusan warganet bersaksi bahwa ritual itu berhasil. Ada yang mendadak ditembak oleh teman masa kecil, ada pula yang langsung dilamar oleh rekan kerja esok harinya. Kebetulan, malam ini adalah malam Jumat Kliwon.
Risa menatap langit-langit kamar kosnya yang berukuran tiga kali tiga meter. Rasa kesepian yang menahun berpadu dengan kelelahan mental akibat pekerjaan membuatnya bertindak impulsif.
"Ah, tidak ada salahnya mencoba. Toh, tidak ada yang melihat," bisik Risa menghibur diri.
Dia bangkit dari tempat tidur. Petunjuk dalam video itu sebenarnya cukup sederhana. Seseorang hanya membutuhkan sebuah cermin besar, sebatang dupa, dan sepotong lilin kecil.
Risa beruntung, atau mungkin sial, karena dia memiliki semua barang tersebut. Dupa itu adalah sisa oleh-oleh temannya dari Bali yang selama ini hanya tersimpan di laci meja kerja sebagai pengharum ruangan.
Risa mematikan lampu utama kamar kosnya. Seketika, kegelapan pekat menyelimuti ruangan. Dia menyalakan lilin kecil di depan cermin rias yang menempel pada lemari pakaian. Cahaya remang-remang memantulkan wajahnya yang tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata.
Dengan tangan sedikit gemetar, Risa membakar ujung dupa menggunakan api lilin. Asap putih tipis mulai mengepul, menyebarkan aroma wangi melati yang pekat dan menusuk hidung.
Suasana kamar kosnya mendadak berubah menjadi sangat dingin, jauh lebih dingin daripada suhu yang biasa dihasilkan oleh pendingin ruangan tua miliknya. Bulu kuduk Risa meremang.
Risa memejamkan mata, lalu merapalkan kalimat yang dia baca dari video viral tersebut dengan nada setengah berbisik.
"Wahai semesta, jika jodohku memang ada, tunjukkanlah wujudnya di hadapanku sekarang. Datanglah, jangan sembunyi lagi."
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Tidak terjadi apa-apa. Hanya ada keheningan malam yang sesekali dipecahkan oleh suara jangkrik dari luar jendela jala-jala besi kosnya. Asap dupa masih mengepul lurus ke atas.
Risa membuka matanya dan menatap pantulan dirinya di cermin. Dia tertawa kecil, menertawakan kebodohannya sendiri yang begitu mudah memercayai konten media sosial demi sebuah harapan semu tentang asmara.
"Benar-benar bodoh. Mana mungkin ada jodoh yang langsung muncul seperti sulap," rutuk Risa kesal pada diri sendiri.
Dia segera meniup lilin hingga padam. Kamar kosnya kembali gelap gulita. Tanpa membersihkan sisa dupa, Risa meraba-raba jalan menuju kasurnya dalam kegelapan.
Dia menarik selimut tebal sampai ke dada, memejamkan mata, dan membiarkan rasa lelah menarik kesadarannya ke alam mimpi. Wangi melati dari dupa yang masih membara samar-samar menemani tidurnya yang lelap.
Risa terbangun saat mendengar suara kokok ayam jantan milik tetangga sebelah kosan. Matanya mengerjap-ngerjap menatap cahaya matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden jendela. Dia meraba-raba area di samping kasur untuk mencari ponselnya, berniat memeriksa apakah dia kesiangan atau tidak.
Tangannya membeku di udara. Perasaan Risa mendadak tidak enak. Ada aroma yang tidak biasa di dalam kamarnya. Bau dupa semalam sudah hilang, digantikan oleh aroma wangi kayu cendana yang sangat menenangkan, tapi asing.
Bukan hanya itu, instingnya mengatakan bahwa dia tidak lagi sendirian di kamar kos berukuran sempit ini. Ada hawa kehadiran seseorang yang sangat kuat.
Risa membalikkan tubuhnya secara perlahan ke arah sofa lipat kecil yang terletak di sudut ruangan, tepat di samping meja belajarnya.
Jantung Risa serasa berhenti berdetak. Matanya membelalak sempurna, rasa kantuknya menguap dalam sekejap tanpa sisa.
Di atas sofa sempit itu, duduk seorang pria dengan posisi tegak dan sangat tenang. Pria itu memiliki postur tubuh yang jangkung dan tegap.
Wajahnya luar biasa tampan, dengan rahang tegas, hidung mancung, dan alis tebal yang tertata rapi. Kulitnya sawo matang bersih, memancarkan kesan berwibawa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Yang membuat Risa kehilangan kemampuan bicara adalah pakaian yang dikenakan pria itu. Dia memakai busana adat Jawa kuno lengkap.
Kain batik bermotif parang rusak melilit pinggangnya, sebuah beskap beludru hitam dengan sulaman benang emas membungkus tubuh tegapnya, dan sebuah blangkon bertengger rapi di kepalanya. Sebuah keris dengan hulu berukir indah terselip di pinggang bagian belakangnya.
Pria itu tidak bergerak. Dia hanya duduk diam sambil menatap Risa dengan sepasang mata elang yang tajam, tapi teduh.
Risa mencubit lengannya sendiri dengan keras. Sakit. Ini bukan mimpi.
Pikiran Risa langsung berputar liar mencari penjelasan logis. Apakah ini maling? Tapi mana ada maling yang memakai baju keraton lengkap sepagi ini? Apakah ini rekan kerja yang ingin menjahilinya? Tidak mungkin, tidak ada satu pun temannya yang memiliki wajah sekelas model papan atas seperti pria ini. Atau, apakah ini seorang cosplayer yang salah masuk kamar?
Risa menelan ludah yang terasa getir. Dia menarik selimutnya erat-erat hingga sebatas dagu, bersiap untuk berteriak meminta pertolongan warga kosan jika pria asing itu bergerak menyerangnya.
Pria berbaju adat keraton itu perlahan mengurai senyum tipis yang sangat menawan, lalu menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda penghormatan. Dia membuka suara, memecah keheningan pagi dengan vokal yang berat, dalam, dan bergaung aneh di dalam ruangan.
"Selamat pagi, Nyai. Aku datang memenuhi panggilanmu."