


oleh Alam kusuma · 26 Bab
Ketika Aisyah terpaksa tinggal serumah dengan Sarah, wanita yang dianggap tanggung jawab suaminya, Sena, hidupnya berubah menjadi neraka. Perlakuan Sena yang lebih memprioritaskan Sarah dan Aurora, ditambah Bu Ningsih yang terang-terangan memojokkannya, membuat Aisyah merasa tak dihargai. Dari luka itu, Aisyah bangkit. Ia mengikuti lomba memasak, mengejar impiannya menjadi chef, dan meraih kesuksesan besar. Saat Aisyah mencoba membangun hidup baru, pengkhianatan Sena dengan Sarah menjadi titik akhir kesabarannya. Pergi membawa Almira, Aisyah memulai perjalanan baru yang penuh kemenangan. Namun, ketika rahasia kelam Sarah terbongkar, akankah Sena mampu merebut kembali hati Aisyah yang telah hancur?
Pagi itu, mentari baru saja menyembul dari balik perbukitan. Udara segar mengalir masuk melalui celah jendela kamar Aisyah.
Ia duduk di tepi ranjang sambil memakaikan sepatu kepada Almira, putrinya yang baru berusia tiga tahun. Bocah kecil itu sudah memakai gaun merah muda dengan pita kecil di pinggang. Senyumnya mengembang, matanya penuh semangat.
“Mama, kita mau ke mana? Ke taman bunga?” tanya Almira dengan mata berbinar.
“Iya, Sayang. Kita jalan-jalan ke taman. Kamu 'kan suka lihat bunga-bunga di sana,” jawab Aisyah sambil mencium pipi mungil putrinya.
Hari itu adalah hari yang sudah lama ditunggu Aisyah dan Almira.
Sebagai ibu rumah tangga, Aisyah jarang sekali mendapatkan waktu berkualitas dengan suaminya, Sena, yang sibuk dengan pekerjaannya.
Ini adalah momen yang sudah ia rencanakan matang-matang, berharap bisa membangun kembali keharmonisan keluarga kecilnya.
Namun, rencana itu buyar ketika sebuah suara nyaring memanggil dari ruang tamu.
“Aduh, kaki Sarah keseleo! Sena, tolong bantuin Sarah jalan!” Suara Bu Ningsih terdengar melengking, membuat suasana damai di pagi itu berubah seketika.
Aisyah menghela napas panjang. Ia tahu ini pertanda buruk.
Sena yang baru saja selesai bersiap keluar kamar dan langsung menuju ruang tamu.
Di sana, Sarah, wanita berambut panjang yang baru beberapa bulan terakhir tinggal di rumah mereka, duduk di sofa sambil meringis. Aurora, bayi lima bulannya, terlelap di boks kecil di sampingnya.
“Sarah, kenapa ini?” tanya Sena dengan nada penuh perhatian.
“Kakiku keseleo waktu mau ambil botol susu Aurora tadi. Sakit banget, Sena,” jawab Sarah sambil mengusap pergelangan kakinya.
Aisyah berdiri di ambang pintu kamar, menatap pemandangan itu dengan wajah yang sulit dibaca. Ia merasa dadanya sesak, tapi ia mencoba menahan diri.
“Mas Sena,” panggil Aisyah dengan nada datar. “Kita kan ada rencana jalan-jalan pagi ini. Almira udah nunggu dari tadi.”
Sena menoleh sebentar ke arah Aisyah, lalu kembali fokus pada Sarah. “Maaf, Sya, kayaknya jalan-jalannya harus ditunda. Aku nggak mungkin ninggalin Sarah dalam kondisi begini. Dia nggak bisa jalan sendiri.”
“Apa?” Suara Aisyah meninggi tanpa sadar. “Cuma keseleo, Mas. Itu bisa diurut. Kita udah lama banget nggak punya waktu bareng, dan sekarang kamu batalin cuma gara-gara ini?”
Sena menghela napas, berdiri, dan menghadap Aisyah kemudian melangkah ke arahnya. “Sarah itu sebatang kara. Dia butuh kita, Sya. Kamu nggak bisa lebih pengertian sedikit? Jalan-jalan itu bisa kapan saja.”
“Tapi Almira udah nunggu, Mas. Dia udah pakai baju rapi dari tadi. Kamu tahu 'kan, betapa dia nunggu waktu sama kamu? Kamu jarang ada buat dia.”
Perdebatan mereka terhenti ketika sebuah suara terdengar di antara mereka. “Kamu ini egois, Aisyah,” ujar Bu Ningsih yang yang sudah berdiri di belakang Sena. Wajahnya terlihat tidak senang.
“Sarah itu lebih butuh bantuan sekarang. Masa kamu lebih mementingkan jalan-jalan yang nggak penting?”
“Bu, ini bukan soal jalan-jalan nggak penting. Ini soal perhatian Sena ke anaknya sendiri. Almira itu juga butuh bapaknya,” balas Aisyah, kali ini nadanya lebih tegas.
“Tanggung jawab Sena bukan cuma ke Almira. Sarah dan Aurora itu juga bagian dari keluarga kita sekarang. Kamu tahu kan, Sarah ini seperti anak sendiri buat ibu. Jangan bikin suasana rumah makin buruk karena keegoisan kamu,” kata Bu Ningsih sambil menatap tajam ke arah Aisyah.
Aisyah menggigit bibirnya. Ini bukan pertama kalinya Sarah tiba-tiba kena sesuatu sehingga Sena menggagalkan acara dengannya dan Almira demi wanita itu.
Ia merasa matanya mulai panas, tapi ia tidak ingin menangis di depan mertuanya.
Ia tahu, Bu Ningsih sejak awal tidak pernah benar-benar menyukainya. Apa pun yang ia lakukan selalu salah di mata wanita itu.
“Kalau memang Sarah dan anaknya lebih penting, aku nggak akan ganggu. Aku pergi saja sama Almira. Kita bisa jalan-jalan sendiri,” ujar Aisyah dengan suara gemetar. Ia berbalik dan menggendong Almira yang bingung melihat suasana tegang antara orang tuanya.
Sena mencoba menahan langkah Aisyah, tapi ia menepis tangannya.
“Udah sana urus Sarah aja, Mas. Kalau kamu lebih peduli sama orang lain daripada keluargamu sendiri, aku nggak bisa bilang apa-apa lagi,” kata Aisyah sebelum keluar dari pintu.
Di luar, Aisyah berjalan cepat sambil menggendong Almira yang mulai merengek.
Ia berusaha keras menahan air matanya, tapi akhirnya ia tidak bisa lagi. Ia duduk di bangku taman di depan rumah, membiarkan air matanya mengalir.
“Mama, kenapa nangis?” tanya Almira polos, tangannya yang kecil mengusap wajah ibunya.
Aisyah memeluk putrinya erat-erat. “Mama nggak apa-apa, sayang. Kita tetap jalan-jalan, ya. Mama janji hari ini kita bersenang-senang.”
Sementara itu, di dalam rumah, Sena berdiri dengan perasaan bersalah. Ia tahu Aisyah terluka, tapi ia juga merasa tidak bisa meninggalkan Sarah dalam keadaan seperti itu.
“Sena, sudah nggak usah pikirkan istrimu itu. Dia memang egois, selalu mementingkan kesenangan sendiri,” kata Bu Ningsih sambil duduk di samping Sarah.
“Tapi, Bu, aku takut dia merasa aku nggak peduli sama dia dan Almira,” balas Sena sambil menghela napas panjang.
"Biarkan saja dia berpikir begitu. Kamu sekarang punya tanggung jawab lain yaitu menjaga Sarah dan Aurora. Semua itu wasiat dari orang tua Sarah dulu. Sekarang Sarah dan Aurora sebatang kara, jadi sudah seharusnya kita menjalankan wasiat itu dan menjaga Sarah serta Aurora dengan sebaik-baiknya," terang Bu Ningsih sambil mengelus lengan Sarah.
Sarah tersenyum tipis, tetapi dia berusaha menyembunyikan senyumnya itu. "Maaf, Mas Sena, Tante ... aku nggak bermaksud bikin onar tadi," katanya sambil meringis memegangi kakinya.
"Nggak papa, Sarah ... namanya juga musibah, siapa yang tahu. Aisyah memang harus belajar mengerti kalau Sena sekarang punya tanggung jawab lain selain dia dan anaknya itu," timpal Bu Ningsih menenangkan Sarah.
"Mas, aku minta maaf ya, tadi udah bikin Mas Sena dan Mbak Aisyah berdebat." Aisyah menatap Sena dengan pandangan memelas.
"Nggak papa, Sarah ... Ibu benar kok, Aisyah harus lebih pengertian lagi."
Bu Ningsih lalu menggendong Aurora yang menangis di box bayi. "Sena, kamu bawa Sarah ke kamarnya, biar ibu yang jagain Aurora."
Sena mengangguk. Dia lalu menggendong Sarah ke kamarnya. Di sana, dia membaringkan Sarah di atas tempat tidur. Namun, saat Sena hendak keluar, Sarah mengaduh sambil memegangi pergelangan kakinya.
"Aduh, sakit banget, Mas," rintihnya.
"Sebelah mana, biar aku pijit." Sena segera memegangi pergelangan kaki Sarah. Setelah wanita itu memberitahu bagian kakinya yang sakit, Sena segera memijitnya.
Sarah tersenyum senang. Dia ambil ponsel dan mengambil foto saat Sena mengurut kakinya.
Dengan bangga dia buat foto itu sebagai status di whatsapp miliknya dengan caption; terima kasih sudah selalu peduli, nggak tahu apa jadinya tanpa kamu.

Alam kusuma
7 Pengikut · 1 Novel