"Masa depanmu sudah diatur, Nola. Seorang istri perwira tinggi tidak akan memiliki waktu untuk bedah saraf. Kamu akan menjadi pendamping," ucap Jendral Suryo.
Kata-kata itu menghantam Nola seperti peluru yang dilapisi beludru. Suara ayah angkatnya, Jenderal Polisi Suryo, berat dan tak terbantahkan, seolah membacakan putusan pengadilan tertinggi di Mahkamah Agung.
Di ballroom hotel bintang lima yang mewah, kilauan lampu kristal dan kilap seragam militer seolah mengejeknya. Malam ini seharusnya menjadi puncak perayaan atas kelulusannya sebagai Sarjana Kedokteran terbaik. Ia memegang ijazah berbingkai emas, bukti empat tahun kurang nyenyak tidur dan perjuangan tanpa akhir. Kini, ijazah itu terasa seperti rantai yang siap mengikatnya.
"Aku tidak mau!" Nola meninggikan suaranya. Perhatian para tamu yang terdiri dari pejabat, perwira, dan tokoh elit, mulai tertuju pada mereka.
“Sayang, jaga ucapanmu, Nak.” Lia menghampiri, mencoba membujuk Nola. Sebagai seorang ibu, Lia merasa serba salah, antara kasihan pada putrinya, tetapi tidak bisa melawan kehendak suaminya.
"Bu, aku sudah belajar mati-matian, berdarah-darah demi menjadi seorang dokter, bukan untuk menuruti perjodohan! Aku ingin menyelamatkan nyawa, bukan sekadar menghadiri acara sosial!" Nola menunduk, air matanya mulai susah dibendung.
Tiga kakak angkatnya langsung mengepungnya. Mereka adalah Prasetya seorang Kapten TNI Angkatan Darat yang keras, Aditya seorang Letnan TNI Angkatan Laut yang diplomatis, dan Satria seorang Pilot TNI Angkatan Udara, yang paling vokal. Mereka adalah dinding pertahanan, didikan militer yang sempurna, dan kini mereka bertindak sebagai tim penahanan profesional.
"Nola! Kontrol dirimu! Ini acara penting! Jangan bikin malu Ayah dan Ibu!" Suara kakak tertuanya itu rendah, memancarkan peringatan keras dan ancaman terselubung.
"Nola, tenang. Ayah hanya ingin yang terbaik. Calon suamimu itu putra kolega Ayah. Dia baik, sukses, dan akan menjamin hidupmu penuh kenyamanan." Aditya mendukung kakak pertamanya.
"Kenyamanan apa? Kalian pikir aku mau ditukar dengan kenyamanan?" Nola membalas tajam. Matanya menyapu deretan seragam di sekitarnya.
“Nola … cukup!” ucap Suryo.
"Kalian yang membuatku malu! Kalian rampas masa depanku! Kalian menjadikan ijazahku hanya sebagai aksesoris untuk acara perjodohan!" Nola teguh pada pendiriannya, menolak perjodohan.
"Nola, Sayang. Jangan menolak takdir. Kami tahu kamu pintar, tapi pernikahan adalah investasi terbaik. Kamu akan bahagia. Semua sudah ayahmu persiapkan." Lia segera mendekat, wajahnya dipenuhi perpaduan antara kekecewaan dan kepanikan. Ia berusaha menggenggam tangan Nola, mencoba menenangkan.
"Aku tidak butuh kebahagiaan yang dipersiapkan, Bu. Aku butuh koas, aku butuh program spesialis!" Nola berseru, dan melanjutkan, "aku ingin menjadi seorang ahli bedah. Aku tidak pernah meminta warisan kehormatan ini!" Nola menolak sentuhan itu.
"Kamu sudah menjadi bagian dari kehormatan ini sejak Ayah dan Ibu mengangkatmu! Kamu tidak punya hak untuk membuang apa yang sudah Ayah berikan!" Kakak bungsunya menyuarakan kekecewaan yang paling menusuk, mengungkit status Nola sebagai anak angkat.
"Aku tahu, hanya anak angkat! Tapi aku juga manusia!" Nola membalas, suaranya bergetar, “aku berhak atas pilihan hidupku! Semua keahlian yang aku perjuangkan!" Lanjut Nola semakin menggebu-gebu mengeluarkan amarahnya.
"Cukup, Nola! Kamu akan mengikuti apa yang Ayah dan Ibu putuskan. Demi nama baik keluarga. Pengumuman ini akan tetap Ayah lakukan malam ini, dan kamu akan hadir di samping Ayah." Jenderal Suryo, yang selama ini dikenal tenang, akhirnya mencapai batasnya. Ekspresinya mengeras menjadi amarah yang dingin.
"Tidak, Ayah!" Nola menatap Jenderal Suryo. Di matanya, tak ada lagi air mata, hanya ada tekad yang membeku.
Tanpa menunggu balasan atau ancaman lebih lanjut, Nola berbalik. Ia berjalan cepat, menembus kerumunan tamu yang berbisik-bisik. Ia mendengar suara-suara sumbang.
"Putri Jenderal itu tidak tahu diri,"
"Dasar anak pemberontak."
Nola membiarkan cemoohan itu memacu langkahnya. Ia melewati deretan seragam yang kini terasa seperti bilah-bilah besi penjara yang siap mengunci mimpinya.
"Nola! Kembali! Ini perintah!" Teriakan Jenderal Suryo menggelegar di belakangnya. Suara derap langkah sepatu militer yang tegas menyusul. Nola tahu Prasetya dan Aditya sudah mulai mengejarnya.
Ia berhasil mencapai lobi hotel. Aditya mungkin sudah menelepon staf keamanan. Nola tidak punya waktu untuk itu. Ia melepas jam tangan mahal yang dihadiahkan ayahnya, cincin permata pemberian ibunya, dan ponselnya, melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Uang tunai adalah satu-satunya keamanannya sekarang.
Ia berhasil menghentikan taksi pertama yang ia lihat.
"Kemana, Non?" tanya sopir taksi itu, terkejut melihat gaun malam Nola yang mewah.
Nola menarik napas dalam-dalam. "Stasiun Gambir. Carikan kereta tercepat ke Surabaya!"
Perjalanan ke stasiun terasa seperti perlombaan melawan waktu. Nola tahu jaringan komunikasi militer dan polisi jauh lebih cepat daripada kereta eksekutif mana pun. Ia membuka tas tangannya yang kecil. Hanya ada ijazah berbingkai dan dompet tipis. Cukup untuk tiket dan beberapa hari hidup.
"Berapa harga kalung ini, Pak?" Nola bertanya pada sopir taksi.
"Mungkin puluhan juta, Non." Sopir itu terkejut.
"Tolong jual ini, ambil separuh untuk Bapak, sisanya berikan pada saya sebagai ongkos. Saya sedang lari dari masalah besar." Nola segera melepas kalung berliannya dan memberikannya kepada sopir itu.
Sopir itu, dengan wajah penuh kebingungan, akhirnya setuju, melihat keputusasaan Nola. Itu sama saja memberinya tambahan uang tunai yang sangat dibutuhkan.
***
"Cari. Dia tidak mungkin lari jauh. Prasetya, kamu kuasai pintu depan dan jalan raya. Hubungi semua pos jaga. Aditya, cek semua data penerbangan dan pelabuhan. Satria, hubungi intelijen udara, minta pemantauan jalur kereta api." Suara Jendral Suryo bergetar, tetapi tenang dengan nada paling mematikan.
"Siap, Ayah. Akan kubawa dia kembali dalam keadaan utuh." Prasetya langsung memberi hormat, matanya menyala.
"Dia tidak membawa ponsel. Dia pasti mengambil jalur darat atau kereta. Aku akan fokus pada transaksi tiketnya. Kami akan mencarinya sebelum pagi, Yah," jawab Aditya.
Ibu Lia mendekati Jenderal Suryo, air matanya mulai mengalir, bukan karena khawatir, melainkan karena malu yang tak tertahankan.
"Mas, apa yang harus kita katakan pada keluarga calon besan? Ini memalukan! Dia mempermalukan kita di depan umum!" lirih Lia.
"Katakan saja dia sakit mendadak. Kita tunda pengumuman itu. Yang penting sekarang kita temukan dia. Aditya! Dia itu anak angkat, dia tidak tahu diri! Dia tidak tahu kehormatan yang kuberikan padanya!" Jenderal Suryo menoleh pada istrinya dengan pandangan kosong.
"Ayah, ponselnya dimatikan. Tapi aku sedang melacak transaksi bank terakhirnya. Dia pasti menggunakan uang tunai dari perhiasan atau pinjaman." Aditya setengah berbisik, sambil mengetik di ponsel.
Di tengah kekacauan, Satria, kakak bungsu Nola, berdiri menyendiri. Ia adalah yang paling terluka secara pribadi oleh tindakan Nola. Ia ingat bagaimana selalu membela Nola di masa lalu. Saat Satria berbicara dalam hatinya, seorang gadis memanggilnya.
“Mas Satria ….”