


oleh Rara Qumaira · 70 Bab
Keluarga Putri selalu menghina suaminya miskin. Mereka tidak tahu jika sebenarnya suami Putri menyembunyikan identitas aslinya. Bagaimana respon keluarga Putri saat tahu siapa Ezza sebenarnya?
"Putri, segera urus perceraianmu dengan Ezza! Tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan dengan pria miskin seperti dia!" ujar Sekar penuh tekanan.
"Ibu sudah menyiapkan calon suami yang jauh lebih pantas untukmu. Jangan membuat malu keluarga ini dengan terus hidup susah bersama lelaki tak berguna itu!” lanjutnya.
Aisya Putri terpaku di tempatnya. Dadanya bergemuruh hebat seolah petir menyambar tepat di atas kepalanya di siang bolong. Kata-kata sang Ibu tak ubahnya cambuk yang mencabik-cabik harga dirinya. Sakit. Lebih menyakitkan dari luka fisik mana pun.
“Jadi maksud Ibu, aku dijodohkan dengan pria lain? Apa Ibu masih waras? Di mana hati nurani Ibu, Bu?” tanya Putri beruntun.
Putri berdiri dari kursinya, matanya mulai berkaca-kaca. Ia tak mampu lagi menahan emosi yang meletup dalam dadanya.
“Aku ini anak Ibu. Bukan barang dagangan yang bisa dipindahtangankan seenaknya. Hidupku bukan papan catur yang bisa Ibu atur sesuka hati!”
“Putri!” bentak Sekar. Wajahnya memerah karena emosi.
“Sampai kapan pun, aku tidak akan meninggalkan Mas Ezza!” ujar Putri dengan suara lantang.
“Aku bahagia bersamanya. Dia mungkin tidak kaya, tapi dia menghargai aku dan mencintaiku dengan tulus. Itu jauh lebih berarti daripada semua harta di dunia ini!”
Belum sempat Sekar membalas, suara lain memotong. “Aku benar-benar tak habis pikir dengan keras kepalamu ini, Put!” sahut Vania, kakaknya, yang sejak tadi duduk memperhatikan dengan pandangan sinis.
“Ibu ingin kamu menikah dengan Tuan Baskoro supaya masa depanmu terjamin. Dia pemilik kios grosir terbesar di kota. Hidupmu akan sejahtera. Kamu tidak akan kekurangan apa pun."
Putri terpaku. Ia menelan ludah, perlahan mendongak menatap wajah ibunya dan kakaknya secara bergantian. “Tuan Baskoro?” ucapnya pelan.
Desir tidak nyaman menyelinap ke dalam hati. Bukankah dia itu rentenir kejam yang sering menekan masyarakat kecil dengan bunga utang mencekik? Bukankah dia juga dikenal sebagai pria tua bermulut manis yang punya banyak istri dan kabarnya juga simpanan di mana-mana?
"Kamu kaget, kan?" Vania menyeringai. "Mau tidak mau, kamu harus menerima lamarannya. Ibu tidak mungkin menolaknya, apalagi setelah dia banyak membantu keluarga kita."
"L-Lamaran?" Putri tergagap.
"Ya, Tuan Baskoro sudah melamarmu. Jadi, urus segera perceraianmu dengan Ezza. Setelah masa iddah selesai, kamu bisa langsung menikah dengannya," ujar Sekar menegaskan tanpa ekspresi.
Putri menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak akan pernah setuju. Aku tidak peduli seberapa kaya dia, aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang punya banyak istri. Dia juga seorang rentenir tamak yang hanya peduli pada uang. Aku lebih baik mati daripada menikah dengannya!" serunya dengan suara lantang.
Sekar yang sejak tadi menahan emosi akhirnya kehilangan kesabaran. Dengan cepat, ia mengangkat tangannya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Putri, membuatnya terhuyung dan merasakan perih yang membakar wajahnya Sekar menatapnya dengan sorot mata tajam dan penuh amarah.
"Berani sekali kamu membantah Ibu hanya karena laki-laki miskin itu! Jika kamu masih berani melawan, Ibu tidak akan sudi menganggapmu sebagai anak lagi!" sergah Sekar dengan suara bergetar karena emosi.
Putri memejamkan mata sejenak, mencoba menahan rasa mual yang mendadak muncul. “Ibu. Kak Vania. Kalian benar-benar tega. Kalian lebih memilih menjual aku demi uang dan status, padahal yang aku butuhkan hanya satu, penghargaan atas pilihanku sendiri.”
Dia mengangkat wajahnya, kali ini dengan mata yang tajam. “Kalau Ibu dan Kakak berpikir aku akan tunduk, kalian salah besar. Aku mencintai Mas Ezza dan tak satu pun dari kalian bisa memaksaku meninggalkannya!”
Sekar terdiam, wajahnya kaku. Vania mendengkus keras, tapi tidak berkata apa-apa lagi. Suasana di ruang tamu itu berubah tegang, udara terasa berat, seakan seluruh rumah sedang menahan napas menunggu ledakan berikutnya.
"Dengar ucapan Ibu baik-baik, Putri! Jangan menyesal nanti kalau hidupmu berakhir menyedihkan karena kebodohanmu sendiri!" Vania ikut menimpali.
Dengan wajah dingin, keduanya berbalik dan meninggalkan Putri yang masih berdiri mematung di tempatnya. Namun, sebelum mereka benar-benar pergi, ancaman terakhir yang terlontar dari mulut mereka sukses mengguncang pertahanannya yang selama ini sudah rapuh.
Putri menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan tangis yang hendak pecah. Untuk kesekian kalinya, ia kembali merasa sendirian.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
**
Malam mulai larut. Langit di atas sana dihiasi bintang-bintang redup yang seolah ikut bersedih bersama seorang perempuan yang tengah duduk termenung di halaman belakang rumahnya. Angin malam berhembus pelan, menyentuh wajah Putri yang sudah basah oleh air mata.
Ia memeluk lututnya erat-erat, menyandarkan dagunya di atas lutut. Sorot matanya kosong, menatap tanah yang gelap tanpa benar-benar melihat. Hanya keheningan dan sesekali desah napas berat yang terdengar dari mulutnya yang gemetar. Dalam gelap, isakan lirihnya terdengar lebih menyayat.
"Kenapa, Tuhan?" suaranya nyaris seperti bisikan, pelan dan parau. “Kenapa aku harus menghadapi semua ini? Aku hanya ingin hidup bahagia bersama orang yang kucintai. Apakah itu terlalu berlebihan?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari hati yang penuh luka. Putri merasa seperti berada di persimpangan yang tidak ia pilih, didorong oleh ambisi dan ego orang-orang terdekatnya. Hatinya masih terasa panas dan perih mengingat ucapan ibunya.
Ibu yang selama ini ia patuhi, yang selama bertahun-tahun diharapnya akan mencintai dan menerima dirinya apa adanya, ternyata tak pernah benar-benar melihat hatinya.
Sejak kecil, ia belajar untuk diam dan tidak membantah. Ia selalu patuh pada ucapan ibunya. Ia pikir, dengan begitu, ibunya akan menyayanginya. Tapi kenyataannya, hari ini justru membuktikan betapa sedikit arti dirinya di mata sang Ibu. Sekali lagi, ia dijadikan pion dalam permainan hidup yang bukan miliknya.
Langkah kaki terdengar mendekat dari balik pintu belakang, tapi Putri terlalu larut dalam luka untuk menyadarinya. Suara lembut yang sangat familiar tiba-tiba menghapus keheningan.
“Dek, kamu kenapa?”
Putri tersentak. Ia mendongak perlahan,dan menemukan Ezza berdiri di hadapannya. Wajah pria itu tampak lelah, tapi sorot matanya penuh kekhawatiran. Lampu kuning dari teras belakang membuat siluetnya terlihat hangat, membuat hati Putri mencelos.
Alih-alih menjawab, Putri buru-buru menunduk. Ia menghapus air matanya dengan telapak tangan seolah berharap bisa menyembunyikan semua kesedihan yang sudah telanjur tumpah.
Namun, Ezza tidak tinggal diam. Ia berlutut di hadapan istrinya, meraih kedua bahu perempuan itu dengan lembut, membuat mereka saling berhadapan.
“Ibu dan Kak Vania datang lagi?” tanyanya lembut.
Putri hanya menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata, tapi usahanya gagal.
Tangis yang tadi lirih kini pecah begitu saja. Ia tak sanggup lagi menahannya. Tubuhnya bergetar saat semua rasa sakit dan kecewa meledak keluar.
Melihat itu, Ezza langsung menarik Putri ke dalam pelukannya. Ia mendekap istrinya erat-erat, memberikan kehangatan yang selama ini tak bisa diberikan oleh orang lain. Tangan kirinya mengusap lembut punggung Putri, seolah ingin meredam semua luka yang tengah mengamuk di dada perempuan itu.

Rara Qumaira
8 Pengikut · 2 Novel