


oleh Nayanika · 10 Bab
Arutala Azzahra percaya cinta yang tulus akan bertahan menghadapi badai apa pun. Setelah lima tahun menikah dengan Sagara Mahendra, ia merasa hidupnya sempurna, hingga sebuah foto tanpa nama mengungkap perselingkuhan suaminya dengan Kiara Anindya, cinta pertama suaminya yang tiba-tiba kembali. Kebohongan demi kebohongan terbongkar. Sagara makin sering pulang larut, sementara Maya, ibu mertuanya, justru menyalahkan Arutala dan diam-diam mendukung Kiara. Ketika pengkhianatan itu akhirnya terbongkar di depan keluarga besar, Arutala memilih pergi. Kini ia bangkit menjadi perempuan yang lebih kuat. Saat Sagara datang membawa penyesalan, Arutala harus memilih. Membuka hatinya kembali, atau melangkah menuju masa depan tanpa bayang pengkhianatan.
Cahaya matahari pagi masuk lewat celah tirai. Aku membuka mata pelan-pelan. Sebelum aku benar-benar sadar, aku sudah merasakan tubuh hangat di sebelahku.
Sagara Mahendra. Suamiku.
Dia masih tidur. Napasnya teratur. Tangan kanannya melingkar di pinggangku, seperti biasa. Sudah tiga tahun kami menikah, dan dia selalu tidur sambil memelukku begitu. Aku bisa mencium bau sabunnya. Bau itu selalu membuatku merasa tenang.
Aku menatap wajahnya. Rahangnya yang biasanya terlihat tegas kini tampak lembut karena tidur. Alisnya tidak berkerut seperti saat dia memikirkan pekerjaan. Ada garis tipis di sudut matanya, yang hanya muncul kalau dia benar-benar bahagia.
Kalau orang luar melihatnya, mereka hanya tahu Sagara Mahendra sebagai CEO muda yang dingin dan tegas. Namun, aku tahu sisi lainnya. Dia suka mencuri gorengan dari piringku. Dia gugup waktu pertama kali menggendong bayi keponakan kami. Dia selalu memastikan kopiku sudah siap tiap pagi.
Aku menyisir rambutnya pelan-pelan, supaya dia tidak bangun. Dadaku terasa penuh rasa syukur. Tiga tahun lalu kami masih tinggal di apartemen kecil di Jakarta Selatan. Sekarang kami punya rumah besar di Pondok Indah, lengkap dengan taman belakang.
Orang sering bilang pernikahan itu kuburan cinta. Tapi menurutku, pernikahan kami justru membuat cinta kami makin dalam. Aku, Arutala Azzahra, arsitek interior. Dan Sagara, pria yang mengajariku bahwa struktur yang kuat sama pentingnya dengan tampilan yang indah.
"Aru ...." Suaranya serak, memecah lamunanku.
"Mas, kamu bangun?" bisikku sambil tersenyum.
"Masih ngantuk," katanya, membenamkan wajah ke leherku. "Jam berapa?"
"Jam enam kurang, Mas."
Dia tertawa kecil, lalu membuka matanya. Menatapku lama. Tatapan itu selalu bisa membuat aku lupa segalanya.
"Kamu cantik banget pagi ini," katanya, lalu mencium keningku, hidungku, dan terakhir bibirku. Ciuman singkat yang selalu jadi kebiasaan kami tiap pagi.
Dia bangun, duduk di tepi ranjang, meregangkan badan. "Hari ini penting. Ada meeting sama investor dari Singapura. Kalau berhasil, kita bisa buka cabang baru di Surabaya."
"Presentasinya sudah siap?" tanyaku.
"Sudah. Semalam aku revisi sampai jam dua. Makasih ya sudah selalu ingetin. Kamu partner terbaik yang aku punya."
Kata-kata itu sederhana, tapi buat aku artinya besar. Tidak semua suami menganggap istrinya sebagai partner, bukan cuma pendamping.
"Aku buatkan sarapan? Nasi goreng kampung?"
Dia menggeleng. "Nggak usah, Sayang. Aku takut kena macet. Aku sarapan di jalan saja. Kamu fokus saja ke desain rumah sakit itu. Aku tahu deadline-nya minggu depan."
Perhatian kecil seperti itu yang membuat aku merasa dihargai. Banyak teman-temanku bilang suami mereka menganggap pekerjaan istri cuma hobi. Sagara tidak begitu. Dia selalu bertanya soal pekerjaanku.
Setelah dia berangkat, rumah jadi sepi. Aku menghabiskan pagi di ruang kerja, menggambar sketsa lobi rumah sakit sambil mendengarkan musik jazz. Di sini aku merasa jadi diriku sendiri.
Jam sepuluh, ponselku bergetar. Maya Mahendra. Ibu mertuaku.
Aku menarik napas dulu sebelum mengangkat. "Halo, Bu Maya. Selamat pagi."
"Arutala. Sagara sudah berangkat?"
"Sudah, Bu. Ada meeting penting dengan investor."
"Bagus. Jangan buat dia repot dengan drama pagi-pagi. Kariernya sedang naik. Dia butuh istri yang mendukung, bukan yang jadi beban."
Kalimat itu sudah sering aku dengar. Seolah semua kesuksesan Sagara murni usahanya sendiri, tapi kalau ada masalah, pasti salahku.
"Saya selalu mendukung Mas Sagara, Bu," jawabku sopan.
"Bagus. Besok ada acara keluarga di rumah Nenek. Datang tepat waktu. Dan pakai baju yang sopan. Jangan yang model tanpa lengan lagi seperti kemarin. Bikin malu keluarga."
Aku menahan kesal. Baju itu sebenarnya sopan, tertutup di bagian dada, cuma tanpa lengan.
"Baik, Bu," jawabku singkat.
"Kamu beruntung masuk keluarga ini. Jaga sikapmu."
Telepon ditutup. Aku menatap layar ponsel lama, dadaku sesak. Bukan karena sedih, tapi karena capek merasa selalu dinilai, tidak pernah cukup baik.
Sore harinya aku rindu Sagara. Aku memutuskan mengantar bekal ke kantornya, soto ayam kesukaannya.
Gedung kantornya, Mahendra Tower, berdiri tinggi di Sudirman. Aku naik lift ke lantai 25. Biasanya Rina, sekretarisnya, akan menyambutku dengan senyum. Namun, hari ini dia terlihat gelisah.
"Nona Arutala," sapanya kaku. "Selamat siang."
"Siang, Rina. Aku mau ketemu Mas Sagara sebentar, bawa bekal makan siang."
Rina melirik ke pintu ruangan Sagara yang tertutup rapat. "Maaf, Nona. Tuan Sagara sedang meeting tertutup. Pesannya tidak boleh diganggu."
"Aku cuma sebentar kok," kataku, merasa ada yang aneh dari sikap Rina.
Belum sempat Rina menjawab, pintu terbuka. Seorang pria paruh baya keluar dengan wajah merah, tampak marah. Di belakangnya berdiri Sagara, dahinya berkerut.
Begitu melihatku, wajahnya berubah. Ada kilatan panik sebentar, sebelum dia kembali tenang.
"Aru? Ngapain kamu di sini?" Suaranya agak tinggi.
"Aku bawa makan siang buat Mas," jawabku, mencoba tersenyum meski hatiku mulai ragu.
Dia mendekat cepat, mengambil tas bekal dari tanganku. Sentuhannya dingin, tidak seperti biasa.
"Makasih, Sayang, tapi klien ini sensitif. Kehadiranmu bisa disalahartikan," katanya. "Pulang saja dulu, ya. Nanti malam aku telepon."
Disalahartikan? Oleh siapa?
Sebelum aku sempat bertanya, aku dengar suara dari dalam ruangan. Suara perempuan, tertawa kecil, lembut, terdengar akrab.
"Jangan khawatir, Sagara. Aku mengerti posisimu."
Jantungku seperti berhenti sesaat. Suara itu terlalu intim untuk sekadar rekan bisnis.
Rina cepat-cepat menutup pintu. "Silakan pulang, Nona. Tuan Sagara akan menghubungi Anda."
Aku terpaksa mundur, kembali ke lift. Pintu lift menutup, dan aku merasa terjebak sendirian.
Dalam hati aku mencoba berpikir tenang. Mungkin itu staf HRD. Mungkin asisten investor. Ada rasa curiga yang mulai tumbuh, kecil tapi tidak mau hilang.
Malam itu Sagara pulang lebih diam dari biasanya. Dia langsung ke kamar mandi, lalu tidur membelakangiku. Tidak ada ciuman selamat malam. Tidak ada pertanyaan tentang hariku.
Aku berbaring menatap langit-langit kamar yang gelap. Rasa aman yang aku rasakan tadi pagi kini berubah jadi cemas. Apakah pernikahan yang aku percaya selama ini benar-benar sekuat yang kukira?
Aku berdoa semoga kecurigaanku ini cuma pikiranku sendiri. Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa sendirian meski tidur di sebelah suamiku.

Nayanika
0 Pengikut · 1 Novel